Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Gugup


__ADS_3

“Udah kenyang sayang?” tanya Arkana saat melihat Qania menghabiskan minumannya.


“Sudah, makasih banyak ya sayang. Kamu paling tahu apa yang aku suka” jawab Qania dengan manjanya.


“Ayo pulang, udah larut nih” ajak Arkana.


“Aku masih ingin denganmu” rengek Qania.


“Besok kita akan bersama seharian, aku akan meminta izin pada kedua mertuaku” ucap Arkana sambil melempar senyum genit pada Qania.


“Hmm baiklah” jawab Qania lemas.


“Tidak baik memulangkan anak gadis selarut ini” ucap Arkana kemudian berdiri dan langsung pergi untuk membayar makanan mereka.


Qania menuruti Arkana dengan senang, senyuman terus tergambar di wajahnya sedari tadi.


“Bagaimana pria menyebalkan ini bisa selalu membuatku terkagum-kagum dan bahkan selalu membuatku tak bisa mengendalikan diriku. Terima kasih Tuhan sudah mengirimkan dia untukku” batin Qania, ia kemudian berjalan menghampiri Arkana.


 


Arkana menghentikan motornya ketika sudah memasuki halaman rumah Qania, disana pintu terlihat terbuka membuat keduanya heran. Keduanya pun bergegas turun dari motor dan berjalan masuk.


Saat keduanya masuk ke rumah, di ruang tamu sudah ada mama dan papa Qania yang tengah menunggu keduanya.


“Duduk” perintah papa Qania dengan tatapan yang begitu membunuh pada keduanya.


Arkana dan Qania duduk dengan perasaan gugup karena mendapat tatapan seperti itu.


“Jam berapa sekarang?” tanya papa Qania dengan suara yang begitu lantang membuat Qania dan Arkana tersentak seolah genderang perang dibunyikan tepat di telinga keduanya.

__ADS_1


“Hampir jam dua belas malam pa” jawab Qania gugup.


“Dan kamu Arkana, apakah kamu tahu bagaimana aturan membawa anak gadis orang hah?” bentak papa Qania membuat Arkana sedikit gemetar.


“Ma..maaf om, bukan maksud saya membawa Qania pergi sampai selarut ini. Saya benar-benar meminta maaf om dan saya janji tidak akan mengulanginya lagi dan kalau pun saya ingin menghabiskan waktu bersama Qania, kami akan di rumah saja om” ucap Arkana dengan sangat gugup.


“Besok, lusa atau kapan pun itu sama saja. Saya tidak mau tahu, besok bawa orang tua kamu datang kesini dan kita harus memperjelas hubungan kalian” tegas papa Qania.


“Baik om” jawab Arkana.


“Sekarang kamu pulang dan kamu Qania, masuk ke kamar sekarang” perintah papanya.


Arkana berpamitan kemudian Qania juga turut masuk ke dalam kamarnya. Setelah tinggal kedua orang tua Qania disana, kedua tertawa geli.


“Mama lihat raut wajah kedua anak itu?” tanya papa Qania sambil memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa.


“Mama benar, kita memang sebaiknya melakukan ini dari awal, memperjelas hubungan keduanya agar tidak terjadi hal seperti sekarang ini. Meski pun menurut papa sebenarnya Ghaisan juga baik untuk Qania, selain sudah memiliki pekerjaan tetap, dia juga bisa melindungi Qania dan juga dia sudah cukup dewasa untuk menikah. Tapi janji pada Ayu..” ucapan papa Qania terpotong saat teringat akan mama Arkana.


“Ayu siapa pa?” tanya mama Qania heran.


“Ayu ma, istrinya Setya” jawab papa Qania.


“Kak Ayumi?” tanya mama Qania lagi mencoba mengingat.


“Iya ma” jawab papa Qania.


“Ada apa dengan almarhumah pa?” selidik mama Qania.


“Oh papa belum cerita ya ma, Arkana itu anaknya Ayu sama Setya” cerita sang suami.

__ADS_1


“Hah papa yang benar pa?” mama Qania begitu terkejut.


“Papa juga kaget saat tahu ternyata Arkana itu anaknya Ayu ma. Tanpa kita pertemukan ternyata ikatan cinta mereka sedari masih janin itu sudah terjalin dan tanpa kita atur pun Allah sudah memiliki rencananya sendiri” ucap papa Qania sambil mengenang sosok Ayumi.


“Papa benar, mama sampai tidak percaya dengan kebenaran ini pa. Memang ya, kalau jodoh itu pasti tidak akan lari kemana” sambung istrinya membenarkan.


“Ya, tapi bagaimana dengan rencana tetangga kita yang berharap bisa menjodohkan Ghaisan dan Qania ma?” tanya papa Qania kembali bimbang.


“Maka dari itu kita sesegera mungkin meminta Arkana melamar Qania dan mengikat keduanya dengan pertunangan agar nantinya tidak akan menimbulkan kesalahpahaman. Ya meski pun sebenarnya mama jadi tidak enak sama jeng Tiara dan pak Daffa, mereka sangat berharap Qania bisa jadi menantu mereka” ungkap mama Qania merasa tak enakan.


“Papa juga ma, tapi hati tidak bisa di paksakan ma. Apalagi kita juga sudah punya janji sama Ayu ma” timpal sang suami.


“Iya pa, tentu saja sejak awal Ayu pasti sudah tahu tentang hubungan kedua anak kita diatas sana dan dia pasti saat ini sangat bahagia. Apalagi jika kita meneruskan perjodohan yang kita buat dulu, jiwanya pasti sangatlah senang dan bisa lega karena kita mewujudkan keinginan terakhirnya pa” kenang mama Qania.


“Iya ma, kita tunggu saja besok reaksi Setya saat melihat kita berdua” ucap papa Qania.


“Haha iya pa, pasti sangat menyenangkan melihat reaksinya” sambung mama Qania.


“Kalau begitu ayo tidur ma” ajak papa Qania.


“Ayo pa” turut mama Qania.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2