Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Beautiful in White


__ADS_3

“Terima kasih sayang, lagi dan lagi kau selalu ada” ucap Qania begitu manis.


“Ekhmmmm..” Syaquile berdehem.


“Apaan sih dek” Qania jadi salah tingkah.


“Jangan buat aku jadi nggak selera makan deh kak dengan adegan-adegan kalian yang menodai mata polosku ini. Jiwa jombloku meronta-ronta” ucap Syaquile berpura-pura kesal.


“Hahaha, makanya Syaq cari pacar” Arkana membela Qania.


“Ah kalian sama saj, lebih baik aku makan saja” Syaquile langsung menyantap hidangan di depannya.


Setelah hening, mereka sibuk dengan makanannya masing-masing. Sesekali Arkana terlihat meringis, wajar saja karena lebam di wajahnya dan bibirnya yang tadi berdarah pasti terasa perih saat makan. Qania menatapnya dengan iba, membuat Arkana meliriknya.


“Sepertinya wajahku lebih menarik daripada makananmu” sindir Arkana sambil mengunyah.


“Percaya diri banget sih” cibir Qania.


“Lantas ngapain lihat-lihat?” tanya Arkana masih fokus dengan makanannya, bahkan Syaquile yang melihatnya sempat berpikir bahwa calon kakak iparnya ini sangat kelaparan.


“Aku hanya sedang membayangkan besok akan bertunangan denga pria yang wajahnya penuh memar, aah rasanya aku ingin kabur saja” kata Qania bergidik ngeri padahal dalam hati ia sengaja meledek Arkana.


“Astagaa… Aku baru ingat. Gawat kalau wajahku seperti ini, bisa malu aku besok. Aku harus perawatan kayaknya setelah ini” kata Arkana panik sambil meraba-raba wajahnya.


Qania dan Syaquile tertawa melihat gelagat Arkana yang begitu lucu bagi mereka, kemudian melanjutkan makannya.


Saat ini mereka tengah bersiap di parkiran untuk pulang, Qania bersama Syaquile dan Arkana sendirian di motornya.


“Aku akan mengawal kalian dari belakang sampai di rumah” ucap Arkana yang sudah menghidupkan mesin motornya.


“Oke” jawab kakak beradik itu kompak membuat Arkana terkekeh.


Selanjutnya mereka mulai melajukan kendaraan mereka di hari yang sudah senja ini.


….


 


Mentari pagi mulai menyapa, menerpakan sinarnya ke bumi. Wangi tumbuhan dan kicauan burung terdengar merdu di telinga, namun tak berlangsung lama karena berganti dengan suara bising kendaraan yang berlalu lalang dengan tujuan masing-masing.


Arkana mengerjapkan kedua matanya, berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang perlahan masuk ke indera penglihatannya itu. Ia bangun dan berjalan ke arah cermin sambil memegangi wajahnya.


“Syukurlah memarnya sudah tersamarkan berkat salep semalam, kalau nggak gue nggak yakin akan melangsungkan pertunangan dengan wajah babak belur” Arkana masih berdiri di depan cermin.


“Rasanya tak sabar menunggu malam nanti” ia tersenyum. “Qania tunggu aku, aku akan mengikatmu dan menandaimu sebagai milik Arkana Wijaya selamanya” lanjutnya kemudian bergegas mandi.


Arkana sudah berpakaian santai, ia juga sudah selesai sarapan lebih tepatnya baru saja beralih dari meja makan dan saat ini sedang menonton tv di ruang keluarganya.


“Bosan bangeeeett..” gerutunya sambil menekan tombol on/off pada remot tvnya.


Ia merogoh sakunya, mengambil ponselnya untuk menelepon Qania dan lebih tepatnya ia melakukan panggilan video via whatsapp.


Qania yang tengah melakukan perawatan tubuh di salon melirik ponselnya yang berbunyi di samping bantalnya.


“Arka video call?” gumamnya. Ia bergegas menjawab panggilan tersebut.


“Sayaang… kangeeenn” pekiknya saat melihat wajah Qania terpampang di layar ponselnya.

__ADS_1


“Husshh lebay” dengus Qania.


“Orang kangen dibilang lebay” ucap Arkana lesu. “Eh, kamu lagi dimana nih? Nggak pake baju lagi” tanya Arkana saat memperhatikan Qania.


“Aku tuh tadi di paksa sama mama buat perawatan ke salon padahal aku nggak mau. Tapi ya tahu kan gimana mama, dan akhirya aku ada di sini lagi luluran” curhat Qania menampilkan wajah kesalnya.


“Hahaha, mama benar sayang. Supaya tunangan aku nanti malam terlihat segar dan paling cantik” kata Arkana kemudian mengunyah keripik kentang yang di ambil dari atas meja.


“Tapi kamu tahu kan kalau aku nggak suka yang berlebihan” cicit Qania.


“Aku tahu sayang, tapi nanti malam kan kamu pemilik acara. Masa kamu mau terlihat biasa aja” kata Arkana membujuk.


“Iya juga sih. Oh ya, gimana wajahmu?” tanya Qania mengalihkan.


“Aman sayang aman. Wajah tampanku yang kamu sukai ini sudah baik-baik saja” kata Arkana menggoda Qania.


“Dasar percaya diri tinggi” cibirnya namun Arkana justru tertawa.


“Ya sudah, lanjutin deh acara perawatannya. Dandan yang cantik dan harus wangi, biar aku nempel terus kayak prangko nanti malam” Arkana terbahak, di tambah lagi ia sudah melihat aura kesal di wajah Qania, dengan cepat ia mengakhiri panggilan tersebut sebelum Qania makin kesal.


“Arkanaaa.. pria menyebalkan, resee..” teriak Qania.


“Tapi mbak sayangkan” goda mbak-mbak yang melulur Qania.


“Sayangnya mbak benar sih” ketus Qania karena heran dengan perasaannya, si mbak malah terkekeh.


…..


 


Qania sudah bersiap di salon dengan di bantu beberapa pekerja di sana, saat ini ia tinggal menunggu jemputan.


“Sangat cantik” puji pemilik salon tersebut pada Qania.


“Terima kasih nyonya” balas Qania.


Ia hanya tersenyum sambil memperhatikan kalau ada yang kurang di tubuh Qania.


Tak berselang lama mobil papanya sudah terparkir di depan salon, Syaquile keluar untuk menjemput sang kakak.


“Wahh.. ini kakakku yang jarang mandi itu?” tanya Syaquile terpana namun tanpa sadar ia meledek Qania.


“Awas tu mata mau copot, kamu muji atau mencibir hah?” Qania mencubit lengan adiknya.


“Ih kak sakit tahu, ya sudah ayo nanti telat” kata Syaquile kemudian menggandeng tangan Qania.


Setelah berpamitan dengan pemilik salon dan pekerja yang membantunya bersiap, Qania pergi bersama Syaquile. Tak berbeda dengan Syaquile, mama papa dan supirnya juga terpana akan penampilan Qania, namun Qania hanya merasa biasa saja padahal ia juga sedikit malu namun pandai menutupi.


Mobil Zafran kini sudah memasuki hotel tempat mereka akan melangsungkan pertunangan putri mereka. Semuanya turun termasuk supirnya yang di paksa Zafran harus turut hadir di sana karena di dalam bi Eti dan pak Roni sudah lebih dulu datang. Zafran akan selalu melibatkan anggota keluarganya tanpa terkecuali ARTnya dalam momen bahagia mereka.


Qania dan keluarganya berjalan ke arah ballroom, di sana sudah banyak tamu undangan dan juga sudah berdiri Arkana dengan jas putih senada dengan celananya, dasi kupu-kupu menghiasi lehernya serta memakai dalaman berwarna hitam.


Awalnya ruangan tersebut masih terdengar perbincangan para tamu dengan rekan-rekan mereka, namun saat Qania dan keluarganya masuk langsung terdengar lantunan musik sehingga suasana menjadi hening. Qania yang di gandeng oleh Syaquile berjalan pelan memasuki ruangan dengan kedua orang tuanya berserta supir di belakangnya.


Dan pada saat ia masuk ke ruangan tersebut, Arkana yang tengah memegang mic langsung bernyanyi bersama lantunan musik tersebut..


Not sure if you know this

__ADS_1


But when we first met


I got so nervous


I couldn’t speak


In that very moment


I found the one and


My life had found it’s the missing piece


 


So as long as I live I love you


Will have and hold you


You look so beautiful in white


And from now ‘till my very last breath


This day I’ll cherish


You look so beautiful in white


Tonight


….


Qania yang mendapat sambutan romantis dari Arkana pun sangat terharu dan juga begitu terpana akan kekasihnya itu. Pipinya saat ini menampilkan semburat merah, tak kalah dengan Arkana yang terpana melihat gadis cantik di depannya yang setiap hari hanya berdandan ala kadarnya atau bahkan tidak bisa di sebut berdandan. Dan yang kini ada di hadapannya begitu cantik dan mempesona, ia mengunci tatapannya pada Qania hingga sang papa menyadarkannya.


“Dia memang sangat cantik” ucap papanya sambil menepuk bahu Arkana.


Arkana menggulum senyum saat bertatapan dengan Qania. Sahabat-sahabat Arkana pun terlihat sangat bahagia menyaksikan acara tersebut.


Elin sebagai sahabat Qania merasa senang sekaligus sedih karena tidak bisa membuat Qania bersama Ghaisan. Dan ia juga kesal karena Fadly tidak menemaninya di acara tersebut sehingga ia datang bersama kedua orang tuanya.


Teman-teman Qania pun tak kalah hebohnya di acara tersebut sambil terus menggoda Qania.


Saat ini acara tukar cincin tengah di langsungkan, dengan giliran Arkana yang pertama menyematkan cincin di jari Qania.


“Aku akan membahagiakanmu, menjagamu dan selamanya mencintaimu Qania Salsabila. Aku akan membuatmu menjadi wanita terbahagia di dunia. Maukah kamu menjadi tunanganku, menikah denganku dan hidup denganku sampai kita menua dan menutup usia?” Arkana dengan lembut namun terdengar begitu romantis bagi Qania dan para pendengarnya di ruangan tersebut.


Qania mengangguk sambil menitikkan air mata bahagianya.


Cincin dengan cepat tersemat di jari Qania, dan saat ini gilirannya.


“Kau selalu membuatku kesal, tapi kau juga selalu melindungiku dari segala sesuatu yang buruk yang ingin menimpaku. Kau membuatku kagum serta kesal dalam waktu yang bersamaan. Tapi aku sadar, rasa sayangku lebih besar dari rasa kesalku, dan aku mengakui bahwa aku Qania Salsabila sangat amat mencintaimu dan akan menemanimu sampai kita menua dan menutup usia” balas Qania tak kalah romantis, kemudian ia menyematkan cincin di jari Arkana.


Semua tamu bertepuk tangan, terlihat air mata bahagia bercampur haru dari orang tua kedua pasangan.


“I do love you Qania Salsabila” bisik Arkana dan di jawab senyuman manis oleh Qania.


Selanjutnya mereka melangsungkan acara dansa, dimana dansa di awali dari pasangan yang tengah berbahagia itu. Arkana meminta pengatur musik untuk memainkan lagu Westlife yang berjudul Beautiful In White sebagai pengiring dansa mereka.


Setelahnya yang lain ikut bergabung ke lantai dansa.

__ADS_1


“Siaall…” pekik Fandy kemudian meninggalkan ruangan tersebut dengan rasa sakit hati. Ia sedari tadi berada di sana berbaur dengan para undangan dengan tangan mengepal keras.


__ADS_2