Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Rencana yang Sama


__ADS_3

Qania memarkirkan mobilnya di halaman rumah setelah tadi berhenti sejenak karena Elin turun dari mobil dan langsung masuk ke rumahnya. Ia pun turun dengan membawa beberapa paper bag dan sudah tidak lagi melihat mobil mertuanya. Qania melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia pun langsung masuk setelah pak Roni membukakan pintu rumah.


“Makasih Pak,” ucap Qania.


“Iya Non,” balas pak Roni kemudian kembali menutup pintu rumah saat Qania sudah berada di dalam.


Qania membuka pintu kamarnya, ia pun langsung melihat anaknya yang sudah terlelap di dalam selimut. Kemudian ia edarkan pandangannya dan mendapati adiknya yang sedang duduk di sofa dan terlihat sedang serius dengan ponselnya. Dalam hati Qania bisa menebak kalau adiknya itu pasti tengah asyik bermain game.


“Nih,” ucap Qania menyerahkan satu paper bag kemudian ia ikut duduk di samping adiknya.


“Hahh … lelahnya,” ucap Qania sambil merenggangkan ototnya.


Syaquile pun meletakkan ponselnya dan melihat isi dari paper bag tersebut. “Kok beda sih sama yang aku pesan?” tanya Syaquile yang melihat ternyata isinya adalah burger.


“Ya kakak lupa tadi kamu mesannya apa,” jawab Qania simpel.


Dengan malas Syaquile mengabil isinya kemudian mulai memakannya. Qania pun mengambil ponselnya dari dalam tas. Ada banyak pesan masuk dari Raka dan juga Tristan. Qania memutuskan untuk membuka pesan dari Raka terlebih dahulu.


Qania lo dimana?


Qan, gue dapat kabar kalau Elin sama Yoga bakalan nikah.


Qan, jangan bilang kalau sekarang lo lagi nggak di rumah orang tua lo?!


Qania lo kok nggak angkat telepon gue?


Qania balas dong?


Qania pun langsung membalas pesan dari Raka.


^^^Iya, aku di rumah di kota kita. Aku pulang emang sengaja karena mau menghadiri pernikahan Elin sama Yoga.^^^


Tak lama kemudian Raka langsung membalas pesan dari Qania.


Akhirnya lo balas juga pesan gue Qan. Gue kira lo udah ilang di kota kita.


^^^Haha, sorry Raka. Tadi aku tuh abis jalan sama Elin keliling mall.^^^


Pantesan. Oh iya, sampaiin salam gue sama mereka berdua ya. Gue nggak bisa datang soalnya hari pernikahan mereka itu hari wisudah gue.


^^^Ya ampun sayang sekali lho Rak.


^^^


^^^Aku juga jadi nggak bisa hadir di acara wisudah kamu.^^^


Iya. Hmm. Padahal gue ingin lo bisa nemenin gue.


^^^Maaf ya Rak.


^^^


^^^Oh iya, aku capek banget abis nemenin calon pengantin mengukur luas mall.


^^^


^^^Aku tidur duluan nggak apa-apa kan?^^^


Iya, nggak apa-apa kok.


Selamat istirahat Qania.


Dan Qania tidak lagi membaca pesan dari Raka. Ia bahkan lupa kalau masih ada pesan dari seseorang yang begitu merindukannya. Dan di tempat berbeda pun Raka tengah tersenyum kecut karena Qania sudah tidak lagi membalas pesannya. Padahal dari tadi ia tengah kegirangan karena Qania masih mau membalas pesannya. Sambil berkirim pesan ia tak henti-hentinya tersenyum. Walaupun terkadang ia kembali teringat akan penolakan Qania yang terakhir kalinya lewat surat.


“Hmmm, sudah tidur kayaknya,” gumam Raka kemudian membenamkan wajahnya di atas bantal.


“Gue selalu saja mencintai Qania walaupun gue tahu cinta gue nggak berbalas. Dan dulu saja, andai tidak ada Tristan diantara kami, pasti gue sama Qania sekarang udah jadian. Gue masih ingat waktu Qania dengan tegasnya dan tanpa paksaan mengatakan bahwa dirinya bakal membuka hatinya buat gue. Dan tiba-tiba saja si brengsek berwajah Arkana itu hadir di tengah-tengah hubungan kami yang mulai berbunga. Belum mekar bunga gue, eh malah udah berguguran. Tapi syukur juga sih karena Qania juga menolaknya. Ya tapi gue nggak bisa jamin juga sih sampai kapan Qania bakalan bisa menolak Tristan yang secara orang itu mirip banget sama Arkana. Dan sampai saat ini pun gue masih yakin kalau dia itu memang adalah Arkana.”


Raka berbalik badan kemudian menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya begitu sibuk menerka-nerka siapakah gerangan Tristan Anggara itu.


“Gue yakin dia itu Arkana. Dan karena gue yakin maka kali ini gue emang harus ngelepas perasaan gue ke Qania. Toh percuma jug ague mati-matian ngejar dia nah orangnya nggak mau gue kejar dan bahkan nggak bisa gue jangkau. Lama-lama gue capek juga sih kayak gini. Berharap yang nggak pasti. Dari Arkana masih hidup sampai udah meninggal pun Qania tetap setia padanya. Dan lagi sekarang ada Tristan, gue yakin gue semakin berada di luar jangkauannya Qania. Apalah gue, hanya kekasih bayangan.”


Raka menghela napas panjang, “Oke Raka, mulai malam ini lo harus kubur dalam-dalam perasaan lo buat Qania. Ada Arkana Wijaya, lo bukan apa-apa. Dan untuk membuktikan semua itu, gue harus cari tahu siapa itu Tristan Anggara dan keluarga Alvindo. Harus! Demi pujaan hati gue, gue rela berkorban. Toh cinta nggak selamanya bisa saling memiliki. Kalau dia nggak bisa gue jangkau, itu tandanya Tuhan nggak ngejodohin kami berdua. Dan gue yakin Tuhan pasti udah nyiapin seseorang buat gue. Tinggal tunggu waktunya aja, cepat atau lambat pasti akan bertemu juga.”


Raka pun tersenyum, ia merasa lega karena bisa menasehati dirinya sendiri walaupun ia belum yakin apakah ia bisa mengimplementasikan kata-katanya tersebut.


“Gampang sih ngomongnya. Tapi gue nggak tahu gimana hasil praktiknya,” gumam Raka, ia terkekeh sendiri mengingat ucapan sok bijaknya.


.... . ....


Syaquile menatap Qania yang sedang termenung. Ia baru saja menghabiskan satu burger dan langsung merasa kenyang begitu melihat kakaknya melamun.


“Kak, kenapa melamun? Tadi kakak chat aku dan bilang kalau ada sesuatu yang ingin Kakak bicarakan. Ada apa Kak? Apa menyangkut rencana kita waktu itu?” tanya Syaquile. Jujur saja ia merasa sedih jika mendapati kakaknya terkadang tengah melamun. Sebagai saksi perjalanan cinta Qania dan Arkana, Syaquile merasa sangat sedih dan iba pada nasib kakaknya.


Qania pun berbalik menatap Syaquile, “Dek, tahu nggak tadi kakak ketemu sama siapa?” tanya Qania dengan raut wajah antusias namun juga sosot matanya terlihat tidak tenang.


“Siapa Kak? Tristan Anggara?” tebak Syaquile asal-asalan.


“Ck … ya kali kakak ketemu dia. Kakak tuh tadi ketemu sama Dennis,” jawab Qania.

__ADS_1


“Dennis? Siapa Dennis?” tanya Syaquile penasaran.


Dennis? Siapa? Kenapa Kakak seperti tegang saat mengucapkan nama itu? batin Syaquile.


“Dia itu sahabatnya Arjuna Wilanata,” jawab Qania.


Mata Syaquile terbelalak. Pantas saja kakaknya terlihat antusias sekaligus tegang saat mengatakan bertemu dengan orang itu. Rupanya orang itu adalah sahabat dari orang yang sudah merenggut kebahagiaan kakaknya.


“Apa?! Terus dia ada apa-apain Kakak nggak?” tanya Syaquile panik.


“Ya enggak lah Dek, orang Dennis itu baik kok. Kakak tadi nggak sengaja tabrakan sama dia. Kakak sempat ngobrol sama dia dan sepertinya dia pun punya rencana yang sama kayak kita Dek,” jawab Qania


“Maksud Kakak dia juga mau –“


“Ya,” jawab Qania memotong ucapan Syaquile.


“Hahh … kok bisa gitu sih Kak?” tanya Syaquile yang kini semakin serius mendengarkan kakaknya bercerita.


“Jadi gini ….”


Flash back on …


“Emang di kota Y makanannya gimana Qan?” tanya Elin sambil berjalan bersama Qania menuju ke food court.


“Ya nggak gimana-gimana sih. Kan selera orang berbeda-beda. Kita orang Sulawesi kan kebanyakan sukanya makanan pedas, kan. Sementara disana aku agak ngurangin level pedas karena menyesuaikan dengan selera orang disana. Level pedas kita kan beda-beda. Dan ada juga sih, bahkan banyak makanan yang gue sukai disana. Setiap daerah punya ciri khas sendiri, kan. Dan aku paling suka tuh makan ay—“


Bugghhh …


“Aw,” ringis Qania.


“Gimana sih kamu, jalannya hati-hati dong. Lihat nih teman saya sampai jatuh dan belanjaannya berserakan dimana-mana,” gerutu Elin sambil membantu Qania memunguti belanjaannya.


Pria tersebut pun turut membantu karena merasa bersalah sebab ia tadi berjalan sambil memainkan ponselnya.


“Maaf, gue nggak sengaja,” ucapnya kemudian mengulurkan paper bag milik Qania.


“Dennis!” pekik Qania.


“Qania!” balas Dennis tak kalah terkejutnya.


“Kak Dennis,” sentak Elin, ia pun turut terkejut.


“Eh … ka-kalian apa kabar?” tanya Dennis merasa canggung.


“Baik kok,” jawab Elin ramah.


Qania menatap Dennis dengan tatapan yang sulit diartikan. Bahkan tatapannya tersebut sukses membuat Dennis salah tingkah karena gugup.


“Baik kok, kita baik-baik aja. Bahkan kita udah nikah dan punya anak,” jawab Qania penuh penekanan.


Raut wajah Dennis terlihat sangat terkejut, “Be-benarkah?” tanya Dennis tak percaya.


“Ya,” jawab Qania singkat padat jelas.


“FELIIIINNN ….”


Teriakan empat gadis tersebut sukses membuat ketiganya terkejut.


“Ya ampun, Sena, Mita, Ilfa, Kinan, kalian ngagetin aja sih,” gerutu Elin.


“Ya habisnya kita kaget ngelihat calon pengantin berkeliaran di mall,” jawab Kinan.


“Lo kira gue binatang apa berkeliaran,” sungut Elin membuat Qania tertawa begitu pun dengan Dennis yang hanya bisa menahan tawanya dengan tersenyum tipis.


“Ya sorry. Eh lo sama Qania ya, si putri kampus angkatan kita?” tanya Kinan begitu melihat Qania tertawa.


“Wah iya, lo makin cantik aja sih Qan,” timpal Sena.


“Hahaha, biasa aja sih. Kamu juga tambah cantik dan terlihat sangat modis,” puji Qania.


“Qan, lo nggak usah muji-muji si Sena. Entar dia jadi jerapah,” ucap Ilfa.


“Benar tuh Qan,” timpal Mita.


“Ye … iri bilang bos,” sungut Sena.


“Hahaha, kalian ini. Aku lihat kalian makin cantik emang, tapi nggak kalah cantik aku dong,” ucap Qania bercanda.


“Dih, ternyata dia lebih narsis dari yang gue kira selama ini,” ucap Mita tidak menyangka Qania yang terlihat tegas, berkharisma dan dingin itu mempunyai sifat narsis juga.


“Lo aja yang baru tahu,” ucap Elin.


“Hmm … eh kita makan bareng yuk,” ajak Ilfa.


“Yuk, kita juga mau makan emang,” sahut Elin.


Qania menatap Dennis, ia bisa melihat ada banyak hal yang sedang pria itu pendam terhadapnya.


“Kak Dennis ada yang mau dibicarain?” tanya Qania.

__ADS_1


“Eh .. i-iya,” jawab Dennis terkejut.


“Guys, kalian duluan aja. Aku masih ada urusan,” ucap Qania.


“Jangan lama-lama,” ucap Elin dan Qania pun mengangguk.


Elin beserta teman-temannya pun masuk ke salah satu food court, sementara Qania dan Dennis masih berdiri di tempat itu.


“Ada apa?” tanya Qania.


“Hah?”


“Ada apa?” ulang Qania.


“Ada apa?” tanya Dennis kembali yang sebenarnya sedang bingung. Entah mengapa ia merasa terintimidasi oleh tatapan Qania.


“Aku tahu Kak Dennis ada yang ingin dibicarakan denganku, bukan. Ya sudah ayo bicara,” ucap Qania dengan suara lembut namun bagi Dennis itu adalah sebuah peringatan.


“Em … bisa kita bicara sambil duduk?” tanya Dennis sambil mengedarkan pandangannya. “Kita ke sana, kita duduk disana,” ucap Dennis lagi menunjuk ke foof court yang terlihat sepi dengan sedikit pengunjung.


Tanpa menjawab Qania langsung berjalan lebih dulu. Ia tidak merasa takut sama sekali, justru di belakangnya Dennis lah yang sedang merasa gugup. Ia terus menggesekkan kedua telapak tangannya.


Qania duduk bersama Dennis, mereka hanya memesan minuman dan tak butuh waktu lama pesanan mereka pun datang.


“Minum,” ucap Qania.


“Hah?”


“Minumlah, Kakak terlihat sangat gugup. Untuk meminimalisir kegugupan coba minum dulu. Tenang aja, aku nggak makan orang,” ucap Qania sambil tersenyum manis.


Sial! Dia sangat pandai membuat orang jatuh mental. Oh iya gue lupa, dia menantunya Setya Wijaya, pengacara hebat dan dia pun sekarang bukannya tengah menempuh pendidikan sebagai calon Sarjana Hukum, batin Dennis.


Dennis pun meraih menumannya lalu menyeruputnya beberapa kali berharap minuman dingin itu dapat mendinginkan pikirannya. Mendapat tatapan datar dari Qania membuatnya semakin ciut. Namun ia tetap memilih untuk bersama Qania di tempat itu.


“Udah segar, kan. Sekarang ayo ngomong, anak sama suamiku nungguin di rumah,” ucap Qania.


“Su-suami?” beo Dennis.


Qania tersenyum kecut, “Aku tahu kok kalau Kakak pasti sudah tahu tentang Arkana,” ucap Qania dengan suara yang terdengar begitu dingin.


“Emm … i-itu, a-anu.” Dennis terbata, ia bingung harus bicara apa.


“Apa aku sangat menyeramkan sampai Kakak seperti ketakutan melihatku?” tanya Qania.


Sangat Qania, sangat!! Batin Dennis.


“Qania, aku mau ngomong serius,” ucap Dennis kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Dennis pun menatap Qania yang sedang menatapnya sambil menunggu ucapan selanjutnya.


“Iya, kamu benar kalau aku tahu Arkana sudah tiada. Tapi ada hal yang sebenarnya sudah sangat lama ingin aku sampaikan ke kamu. Aku sendiri kurang yakin sampai akhirnya aku mengirim orang untuk memata-mataimu. Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya penasaran saja dengan sesuatu hal.”


Dennis terlihat ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Bahkan ia pun sangat bingung harus mulai dari mana. Semua yang berusaha ia ucapkan seolah tertahan. Qania pun tidak menyela atapun bersuara sedikitpun. Ia tetap dengan posisinya untuk menyimak cerita Dennis.


“Qania, ak-aku tidak yakin seratus persen sih. Tapi bisakah kau melakukan tes DNA pada mayat yang ada di kuburan Arkana?” tanya Dennis dengan membuang segala keraguannya.


Jantung Qania seolah berhenti berdetak. Napasnya tercekat dengan matanya yang terbelalak. Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin Dennis memintanya melakukan hal yang memang sudah ia rencanakan bersama Syaquile saat mereka masih di kota M.


“Tes DNA? Untuk apa?” tanya Qania berusaha menormalkan ekspresinya. Bagaimanapun ia tidak ingin ada orang yang tahu tentang rencananya bersama Syaquile.


“Ya. Aku kurang yakin kalau itu adalah Arkana, justru aku sepertinya merasa itu adalah … Arjuna,” ucap Dennis begitu lirih saat menyebut nama sahabatnya itu.


Qania kembali terbelalak kaget, ia tidak menyangka akan mendengar ucapan Dennis yang sama persis seperti kecurigaan Syaquile.


“Hahaha, omong kosong!” ucap Qania mengelak, padahal dalam hati ia pun berharap hal yang sama dengan apa yang dikatakan oleh Dennis.


“Tidak Qania, apa salahnya dicoba dulu. Coba saja kau pikir, semenjak Arkana tiada Juna pun ikut tiada. Sampai saat ini Juna pun tiada kabarnya. Ia hilang entah kemana. Apakah hal ini tidak mengganjal di hatimu?” ucap Dennis penuh keyakinan, ia menatap lekat kedua mata Qania, berharap Qania akan mendengarkan ucapannya.


“Ya mungkin saja dia berada di suatu tempat untuk bersembunyi,” ucap Qania terus mengelak. Ia sebenarnya ingin mengatakan iya saja pada Dennis, namun dari cara Dennis yang terus berusaha meyakinkannya, Qania merasa masih ada hal yang diketahui oleh Dennis.


“Tidak Qania, tidak! Kau tidak tahu saja tuan Setya Wijaya dan tuan Zafran Sanjaya terus berusaha mencari keberadaan Juna sampai saat ini. Dan apa hasilnya, sama sekali tidak ada jejak,” ucap Dennis mendesah pasrah.


Qania menaikkan sebelah sudut alisnya, ia benar-benar baru tahu bahwa kedua Papa-nya itu masih menyelidiki kasus Arkana.


“Apa yang membuat Kakak yakin begitu kalau mayat itu adalah Juna? Memangnya Kakak menyaksikan langsung kecelakaan waktu itu?” tanya Qania dengan santainya.


“Aku memang tidak menyaksikannya Qania. Tapi aku tahu memang kalau malam itu Juna berniat menghabisi Arkana. Dia bahkan sudah menunggu Arkana sejak sore hari sampai malam dimana Arkana berpesta bersama teman-temannya. Aku udah cegah, aku bahkan sampai dipukuli olehnya karena terus berusaha mencegahnya. Tapi aku tidak bisa mencegah Juna hingga akhirnya aku mendengar berita itu, berita tentang Arkana Wijaya yang tewas akibat kecelakaan mobil,” ucap Dennis menceritakan kejadian malam itu.


Qania nampak tenang, namun jika dilihat kedua bola matanya bergerak gelisah. Bahkan benaknya terus menerka-nerka kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.


“Dan ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan padamu, ini sangat berguna untukmu. Hanya saja aku tidak akan mengatakannya saat ini. Aku menunggu hasil kerjamu atas apa yang aku sarankan tadi. Aku akan menghubungimu jika kau sudah mendapatkan hasilnya,” ucap Dennis kemudian melangkah pergi meninggalkan Qania yang sedang diliputi beribu tanda tanya besar di benaknya.


Flash back off …


...………………………………...


Terima kasih sudah membaca 🤎🤎🤎


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


...

__ADS_1


__ADS_2