Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
bab 3


__ADS_3

Suara alarm membangunkan Sastra dari tidurnya,


dilihatnya kedua sisinya telah kosong. Sastra tidak menemukan keberadaan kedua


orang tuanya. Akh.. mungkin mereka meninggalkanku ketika aku sudah terlelap


batinnya.


Dengan sigap Sastra bangkit dari tempat tidurnya


lalu membereskan tempat tidurnya, meskipun banyak pekerja dirumahnya Sastra


mengerjakannya sendiri. Sastra melarang pembantu untuk memasuki kamarnya, hanya


papa dan mamanya yang mempunyai akses bebas untuk memasuki kamar pribadinya.


Setelah selesai mandi, ia  menggunakan pakain yang rapi lalu segera


bergegas menuju ruang makan disana sudah ada papa bagas dan mama lisa yang


sudah menungguinya untuk sarapan bersama.


“selamat pagi papa, selamat pagi mama” Sastra


mencium kedua pipi orang tuanya.


“selamat pagi anak kesayangan papa dan mama yang


gantengnya tak tersaingi” canda mama sambil mencubit gemas kedua pipiku.


“tuh kan merah jadinya, ihh,, mama mah kebiasaan cubit-cubit”


kesal Sastra sambil mengusap pipinya yang sudah terlihat merah.


 “sudah-sudah


tidak apa-apa, ayo kita sarapan. Kamu mau roti atau nasi?” tanya Bagas melihat


kearah anaknya yang sedang kesal.


“roti aja pa, lagi gak pengen nasi” jawab Sastra.


“biarin aku buat sendiri aja, gak usah papa. Aku tuh


udah gede” lanjut Sastra ketika melihat papanya sibuk mengolesi roti dengan


selai ciklat kesukaan anaknya.


“ sudah diam aja, kamu tinggal duduk manis lalu


makan roti buatan papamu” ujar bagas sambil meletakkan dua potong roti yang


sudah beroleskan selai coklat.


“dan juga tidak lupa minum susu coklat kesukaan mu,


biar cepat besar” lanjut mama meletakkan segelas susu coklat didepanku.


Aku hanya menerimannya dan melahapnya, mau berdebat


pun tidak ada gunanya. Dimata papa dan mamanya Sastra akan tetap putra kecil


mereka yang menggemaskan.


Setelah selesai sarapan Sastra berpamitan kepada

__ADS_1


papa dan mamanya untuk berangkat kerja.


Tidak butuh yang lama, cuman 10 menit saja Sastra


sudah tia dikantor milik papanya.


Setelah masuk dalam ruangannya, Sastra duduk dikursi


kebesaran milik papanya dulu yang kini sudah menjadi miliknya.


“Faris tolong antarkan jadwalku ke meja kerjaku”


perintah Sastra dari ujung telepon.


Tak lama setelah menelepon, Faris memasuki ruangan


dan menunjukkan sebuah tab dan terlihat di layar tab jadwal Sastra untuk satu


hari ini.


“tidak begitu padat, hanya ada satu pertemuan . kau


boleh pergi”


“baik pak, saya permisi” Faris pun meninggalkan


Bosnya, sejujurnya Faris sedikit deg-degan berhadapan dengan Sastra,


mungkinkarna belum terbiasa..


Setelah selesai memeriksa beberapa dokument, Sastra


segera mengajak Faris untuk menemui klien. “Faris temani aku rapat dengan


perusahaan x di restoran x, sekalian makan siang” perintah sastra.


“apa benar ini rapatna diadakan disini?” tanya


Sastra kurang yakin dengan tempat tersebut.


“pihak klien yang memintanya untuk bertemu disini


tuan” sahut Faris.


“berhenti memanggilku tuan, ayolah jangan terllau


formal ini sudah diluar kantor . lagi pula umurmu lebih tua dua tahun dariku”


protes Sastra melihat Faris yang terlalu formal.


Faris hanya tersenyum “ ini masih jam kerja tuan,


jadi saya akan tetap menghormati anda sebagai atasan saya”


“ya sudah terserahmu saja, tapi tidak usah terlalu


formal padaku”


Lalu keduanya memasuki restoran mewah tersebut. Dari


luar memang terlihat seperti sebuah restoran mewah, namun ketika sudah didalam


restoran tersebut tidak ubahnya seperti sebuah ruangan yang menjajakan berbagai


perempuan cantik.

__ADS_1


Sastra merasa tidak nyaman berada diruangan itu,


apalagi melihat perempuan-perempuan yang mereka lewati menatap mereka dengan


tatapan seolah ingin menelanjangi.


Setelah Faris menanyakan seorang pegawai restoran,


mereka pun dibawa kedalam sebuah rungan private.


“halo selamat siang, maaf sudah membuat anda


menunggu” Sastra menyapa klien nya dengan sopan, lalu duduk disofa kosong yang


sudah disispkan untuknya dan Faris.


“akh.. iya selamat siang. Anda tidak perlu sungkan.


Silahkan duduk”  Andri menyambut uluran


tangan Sastra dan asistennya. Andri adalah CEO muda perusahaan travel yang


sudah terkenal.


Bisnis perhotelan jik digabungkan dengan travel


tentu akan menjadi sebuah kerjasama yang menarik dan akan memberi keuntungan


kedua belah pihak. Setelah menemukan kesepakatan keduanya sepakat untuk


menjalin kerjasama, mereka lalu menyantap makan siang yang sudah terlebih


dahulu dipesan Andri.


“apakah anda sendirian?” tanya Sastra disela obrolan


mereka.


“tadinya aku datang bersama sepupuku, tetapi dia


mendapat kabar bahwa ibunya masuk rumah sakit. Jadi dia pulang untuk menemani


ibunya” jelas Andri


“maaf jika tempatnya kurang nyaman, kupikir ini


betulan restoran mewah. Aku merasa terjebak ternyata mewah hanya diluar saja”


lanjut Andri


“oh tidak apa-apa, lain kali kita bisa atur


pertemuan ditempat yang lebih baik. Jujur aku juga merasa kurang nyaman” lirih


Sastra dengan hati-hati takut klien nya tersinggung.


“tuan besok siang anda harus meninjau langsung


proyek pembangunan hotel di Medan” ujar Faris setengah berbisik.


“Pak Andri saya rasa pembahasan kerja sama kita ini


bisa kita lanjutkan di pertemuan selanjutnya, jika tidak ada hal yang dibahas


lagi kami pamit undur diri dulu” Ujar Sastra dengan sopan.

__ADS_1


“baik pak, terimaksih untuk kerja samanya. Pertemuan


kita selanjutnya akan saya kabari selanjutnya” jelas Andri.


__ADS_2