
Suara alarm membangunkan Sastra dari tidurnya,
dilihatnya kedua sisinya telah kosong. Sastra tidak menemukan keberadaan kedua
orang tuanya. Akh.. mungkin mereka meninggalkanku ketika aku sudah terlelap
batinnya.
Dengan sigap Sastra bangkit dari tempat tidurnya
lalu membereskan tempat tidurnya, meskipun banyak pekerja dirumahnya Sastra
mengerjakannya sendiri. Sastra melarang pembantu untuk memasuki kamarnya, hanya
papa dan mamanya yang mempunyai akses bebas untuk memasuki kamar pribadinya.
Setelah selesai mandi, ia menggunakan pakain yang rapi lalu segera
bergegas menuju ruang makan disana sudah ada papa bagas dan mama lisa yang
sudah menungguinya untuk sarapan bersama.
“selamat pagi papa, selamat pagi mama” Sastra
mencium kedua pipi orang tuanya.
“selamat pagi anak kesayangan papa dan mama yang
gantengnya tak tersaingi” canda mama sambil mencubit gemas kedua pipiku.
“tuh kan merah jadinya, ihh,, mama mah kebiasaan cubit-cubit”
kesal Sastra sambil mengusap pipinya yang sudah terlihat merah.
“sudah-sudah
tidak apa-apa, ayo kita sarapan. Kamu mau roti atau nasi?” tanya Bagas melihat
kearah anaknya yang sedang kesal.
“roti aja pa, lagi gak pengen nasi” jawab Sastra.
“biarin aku buat sendiri aja, gak usah papa. Aku tuh
udah gede” lanjut Sastra ketika melihat papanya sibuk mengolesi roti dengan
selai ciklat kesukaan anaknya.
“ sudah diam aja, kamu tinggal duduk manis lalu
makan roti buatan papamu” ujar bagas sambil meletakkan dua potong roti yang
sudah beroleskan selai coklat.
“dan juga tidak lupa minum susu coklat kesukaan mu,
biar cepat besar” lanjut mama meletakkan segelas susu coklat didepanku.
Aku hanya menerimannya dan melahapnya, mau berdebat
pun tidak ada gunanya. Dimata papa dan mamanya Sastra akan tetap putra kecil
mereka yang menggemaskan.
Setelah selesai sarapan Sastra berpamitan kepada
__ADS_1
papa dan mamanya untuk berangkat kerja.
Tidak butuh yang lama, cuman 10 menit saja Sastra
sudah tia dikantor milik papanya.
Setelah masuk dalam ruangannya, Sastra duduk dikursi
kebesaran milik papanya dulu yang kini sudah menjadi miliknya.
“Faris tolong antarkan jadwalku ke meja kerjaku”
perintah Sastra dari ujung telepon.
Tak lama setelah menelepon, Faris memasuki ruangan
dan menunjukkan sebuah tab dan terlihat di layar tab jadwal Sastra untuk satu
hari ini.
“tidak begitu padat, hanya ada satu pertemuan . kau
boleh pergi”
“baik pak, saya permisi” Faris pun meninggalkan
Bosnya, sejujurnya Faris sedikit deg-degan berhadapan dengan Sastra,
mungkinkarna belum terbiasa..
Setelah selesai memeriksa beberapa dokument, Sastra
segera mengajak Faris untuk menemui klien. “Faris temani aku rapat dengan
perusahaan x di restoran x, sekalian makan siang” perintah sastra.
“apa benar ini rapatna diadakan disini?” tanya
Sastra kurang yakin dengan tempat tersebut.
“pihak klien yang memintanya untuk bertemu disini
tuan” sahut Faris.
“berhenti memanggilku tuan, ayolah jangan terllau
formal ini sudah diluar kantor . lagi pula umurmu lebih tua dua tahun dariku”
protes Sastra melihat Faris yang terlalu formal.
Faris hanya tersenyum “ ini masih jam kerja tuan,
jadi saya akan tetap menghormati anda sebagai atasan saya”
“ya sudah terserahmu saja, tapi tidak usah terlalu
formal padaku”
Lalu keduanya memasuki restoran mewah tersebut. Dari
luar memang terlihat seperti sebuah restoran mewah, namun ketika sudah didalam
restoran tersebut tidak ubahnya seperti sebuah ruangan yang menjajakan berbagai
perempuan cantik.
__ADS_1
Sastra merasa tidak nyaman berada diruangan itu,
apalagi melihat perempuan-perempuan yang mereka lewati menatap mereka dengan
tatapan seolah ingin menelanjangi.
Setelah Faris menanyakan seorang pegawai restoran,
mereka pun dibawa kedalam sebuah rungan private.
“halo selamat siang, maaf sudah membuat anda
menunggu” Sastra menyapa klien nya dengan sopan, lalu duduk disofa kosong yang
sudah disispkan untuknya dan Faris.
“akh.. iya selamat siang. Anda tidak perlu sungkan.
Silahkan duduk” Andri menyambut uluran
tangan Sastra dan asistennya. Andri adalah CEO muda perusahaan travel yang
sudah terkenal.
Bisnis perhotelan jik digabungkan dengan travel
tentu akan menjadi sebuah kerjasama yang menarik dan akan memberi keuntungan
kedua belah pihak. Setelah menemukan kesepakatan keduanya sepakat untuk
menjalin kerjasama, mereka lalu menyantap makan siang yang sudah terlebih
dahulu dipesan Andri.
“apakah anda sendirian?” tanya Sastra disela obrolan
mereka.
“tadinya aku datang bersama sepupuku, tetapi dia
mendapat kabar bahwa ibunya masuk rumah sakit. Jadi dia pulang untuk menemani
ibunya” jelas Andri
“maaf jika tempatnya kurang nyaman, kupikir ini
betulan restoran mewah. Aku merasa terjebak ternyata mewah hanya diluar saja”
lanjut Andri
“oh tidak apa-apa, lain kali kita bisa atur
pertemuan ditempat yang lebih baik. Jujur aku juga merasa kurang nyaman” lirih
Sastra dengan hati-hati takut klien nya tersinggung.
“tuan besok siang anda harus meninjau langsung
proyek pembangunan hotel di Medan” ujar Faris setengah berbisik.
“Pak Andri saya rasa pembahasan kerja sama kita ini
bisa kita lanjutkan di pertemuan selanjutnya, jika tidak ada hal yang dibahas
lagi kami pamit undur diri dulu” Ujar Sastra dengan sopan.
__ADS_1
“baik pak, terimaksih untuk kerja samanya. Pertemuan
kita selanjutnya akan saya kabari selanjutnya” jelas Andri.