
..Maaf ya baru up dan hanya satu episode, soalnya beberapa hari yang lalu lagi sibuk buat skripsi tapi akan ip lagi buat kalian readersku tercinta 😊😊🙏🏻🙏🏻
__________________
Tanpa terasa sudah sebulan Qania menjalani perkuliahan di kampus tersebut dan tentu saja karena teman-teman sekelasnya sudah tahu statusnya sebagai single parent ada saja yang suka mencibirnya, menjadikannya bahan bullyan dan juga ada yang mendekatinya untuk maksud tertentu.
Selain berparas cantik, Qania juga memiliki otak yang cerdas sehingga tidak sedikit yang mendekatinya untuk menjadi kekasihnya ataupun mendapat bantuan mengerjakan tugas darinya. Terhitung sudah lebih dari sepuluh orang yang Qania tolak dari beberapa jurusan yang ada di kampus tersebut, termasuk Calvien yang ternyata dari dulu sudah menyukai Qania.
Saat ini Calvien sedang menyelesaikan tugas akhirnya karena sudah mendekati masa drop out sebab ia hanya berbeda satu tingkatan di bawah Qania dulu. Mendapat penolakan dari Qania membuat Calvien mengubur perasaannya karena tidak bisa memaksakan perasaan Qania terlebih mereka berada di keyakinan yang berbeda juga. Itulah alasan Qania menolaknya, tanpa Calvien tahu sebenarnya Qania memang mengunci hatinya hanya untuk Arkana.
Seperti saat ini, dosen mata kuliah yang harusnya masuk malah tidak hadir karena ada suatu hal yang tidak bisa ia tinggalkan. Qania yang sedang membereskan buku-bukunya dan hendak pulang pun tangannya ditahan oleh Rosa teman sekelasnya yang selalu cari gara-gara padanya.
“Yoo kita lihat si janda muda ini sedang bersiap pulang? Ini mau pulang atau mau cari calon suami baru” ledeknya membuat beberapa orang yang pro ke Rosa tertawa.
“Rosa kamu apa-apaan sih” bentak Julius, lelaki tampan dan menjadi salah satu mahasiswa tertampan di kampus.
“Julius apa dia menggodamu dan memberikan sesuatu padamu hingga tiap hari kau membelanya begini?” tanya Rosa, dalam hati ia sangat kesal karena Julius tidak pernah meliriknya padahal ia termasuk junior most wanted di kampus.
“Gue nggak perlu kasih lo penjelasan soal gue yang selalu belain Qania. Dan lo harus jaga mulut lo karena gue sama Qania nggak sedekat itu, gue Cuma belain orang yang selalu jadi bahan bullyan kalian dan dia nggak pernah balas kalian” jawab Julius dengan melipat tangannya di atas dadanya.
Rosa berdecih kemudian menatap jijik pada Qania yang hanya duduk saja menyaksikan ia sedang berdebat dengan Julius, bukan hanya kali ini saja melainkan hampir tiap hari jika ada kesempatan Rosa datang mengejek Qania dan Julius selalu pasang badan. Terkadang Qania merasa bahwa Julius menyimpan perasaan lebih padanya namun karena status Qania maka Julius tidak mendekatinya seperti yang lainnya, entahlah.
“Sebaiknya lo balik deh Qan, gue udah mau balik juga. Gue duluan ya” ucap Julius kemudian mengenakan tasnya lalu berjalan dengan langkah besar keluar dari kelas.
Rosa menyeringai ketika Julius sudah keluar, kemudian tanpa peringatan sedikit pun ia langsung menjambak rambut Qania yang terurai itu.
“Lepasin tanganmu dari rambutku” ucap Qania dingin.
“Kalau gue nggak mau lo mau apa hah? Dasar janda kegatelan” umpatnya semakin menguatkan jambakannya di rambut Qania.
“Terserah ya kamu mau ngomong apa yang jelas aku mau pulang sekarang” ucap Qania masih mencoba menahan rasa kesalnya.
“Eits tunggu dulu, jangan harap lo bisa keluar dari kelas ini dengan tenang sebelum gue puas ngebully elo” ucap Rosa diirngi senyum penuh ejekan.
“Kamu maunya apa sih? Bilang saja kalau kamu iri saya lebih pintar dari kamu dan Julius selalu membelaku, jangan kira aku nggak tahu kalau kamu itu suka sama Julius” gertak Qania membuat Rosa geram.
“Berani lo ngomong kayak gitu” geram Rosa.
Plaakkk…
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi mulus Qania sehingga meninggalkan bekas lima jari yang memerah di sana dan membuat pipi Qania tertoleh berlawanan arah.
Suara tawa terdengar dari beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang menyaksikan Rosa menampar Qania dengan wajah puas Rosa saat ini.
Qania menatap datar pada Rosa dan tengah tersenyum puas setelah berhasil menamparnya.
Plakkkk…
Tanpa aba-aba Rosa yang tengah tersenyum puas itu tidak menyangka bahwa ia akan mendapat tamparan lebih keras dari Qania padahal baru saja ia melihat Qania yang tidak menatap sengit padanya namun dengan seketikanya ia sudah mendapat tamparan dari Qania.
Rosa yang kepalanya tertoleh berlawanan arah langsung meluruskan pandangannya kepada Qania dan menatap sengit pada Qania dan..
Plakkk…
Satu tamparan keras lagi mendarat ke pipi Rosa sehingga air mata Rosa menetes saking sakitnya.
“Kurang ajar” geramnya kemudian mengangkat tangannya namun dengan cepat Qania menangkap tangan Rosa dan mencengkramnya dengan kuat.
“Gue diam bukan berarti gue nggak bisa ngelawan elo. Gue Cuma ngasih kesempatan ke elo buat berhenti ngusik gue tapi lo malah makin menjadi hari ini. Dan lo udah lihat sekarang gimana gue balikin perlakuan lo itu dua kali lipat dari yang lo lakuin ke gue. Jadi jangan macam-macam dan jangan bangunkan singa yang sedang tidur” ucap Qania dengan sorot mata bagai elang menatap pada Rosa yang menatap Qania dengan penuh kemarahan.
“Lepasin tangan gue brengsek!” teriaknya dan Qania pun langsung menghempaskan tangan Rosa dengan kasar membuat Rosa meringis kesakitan.
“Gue bakalan laporin lo ke kantor polisi atas tuduhan penganiayaan. Lo bakalan di hukum karena bokap gue Kapolsek” ancam Rosa diiringi seringai licik di wajahnya.
“Silahkan lo laporin gue nggak takut. Mau bapak lo Kapolsek atau Kapolri sekalian gue nggak takut. Walaupun elo nyogok semua yang ada di kelas ini gue nggak takut” ucap Qania lantang tanpa gentar.
“Hahaha lo nantangin gue, oke fine” tawa devil Rose menggema di ruangan itu.
Rosa pun langsung mengambil ponselnya dari dalam tas kemudian menelepon seseorang.
“Hallo papi, hikss Rosa dianiaya pi” adunya saat panggilannya tersambung.
“Siapa yang menganiayamu nak?” terdengar suara lelaki yang sangat cemas.
“Teman sekelas Rosa Pi. Papi harus hukum dia” ucap Rosa mendramatisir keadaan.
“Baiklah kau tunggu di sana Papi akan datang dan membawa surat penangkapan untuknya” ucapnya dengan terburu-buru mematikan panggilan telepon tersebut.
__ADS_1
“Hahaha lo yang nantangin gue Qania jadi lo harus terima akibatnya sudah berani menantang seorang Rosa Kiandra Segara” tawa Rosa diikuti oleh teman-temannya.
“Dan oh ya Guys, kalau lo semua pro ke gue nanti gue traktir lo semua selama seminggu di kantin” imbuhnya membuat sebagian besar yang ada di ruangan itu bersorak dan bertepuk tangan, hal itu semakin membuat Rosa berada di atas angin.
Di ruangan tersebut hanya Julius lah yang tidak ada disana karena sudah pulang lebih dulu. Teman-teman Qania yang biasa bercengkrama dengannya tidak bisa berkata apa-apa jika berurusan dengan Rosa karena mereka takut terkena dampaknya.
“Lo tenang aja, gue tungguin polisi datang nangkep gue” seru Qania lalu melempar senyum sinis pada Rosa.
Rosa pun duduk di dekat pintu untuk menunggu kedatangan polisi. Benar saja, sekitar sepuluh menitan dua orang pria berseragam polisi datang menuju ke kelas mereka diikuti oleh rector dan dekan Fakultas Hukum serta beberapa orang staf kampus yang ikut penasaran dengan kedatangan anggota kepolisian tersebut ke kampus mereka.
Melihat papinya semakin dekat, Rosa segera menangis dan berlari memeluk papinya dengan air mata palsunya.
“Papi hiks, dia menampar wajahku dua kali” adunya membuat sang papi geram.
“Mana orangnya?” tanya papi Rosa geram.
“Di dalam pi” jawab Rosa sambil menyeret papinya masuk.
Kedua polisi tersebut masuk bersama dengan Dekan, Rektor, para dosen dan juga beberapa mahasiswa yang tak sengaja mendengar berita itu ikut mengintip di jendela dan di depan pinut.
“Itu dia Pi yang udah nampar Rosa” tunjuk Rosa pada Qania yang sedang duduk dengan santai dan menatap datar pada mereka yang berdiri di depan ruang kelas itu.
“Qania?” pekik pak Agus Setiawan, dosen wali Qania.
Qania tersenyum kepada dosen walinya itu namun si dosen wali justru cemas memikirkan nasib Qania yang dia sangat unggulkan meskipun perkuliahan baru berjalan sebulan.
“Apakah benar dia menamparmu?” tanya pak Dekan yang bernama Dr. Erlangga, SH., MH.
“Benar pak dekan, bapak lihat saja wajah saya masih memerah” jawab Rosa dengan membuat ekspresi seolah ia sedang tertindas.
“Benar begitu?” tanya pak Erlangga pada para mahasiswa.
“Benar pak” seru beberapa orang dari mereka, hanya ada dua orang yang tidak bersuara yang merupakan teman Qania.
“Sangat disayangkan Qania” ucap pak Erlangga menggelengkan kepalanya.
“Tapi seharusnya masalah dalam kampus tidak perlu sampai ke kantor polisi, kita bisa menyelesaikannya di dalam kampus dengan kepala dingin dan meskipun kamu anak seorang polisi” tukas pak Halim selaku rector kampus dengan penuh penekanan dan menatap sengit pada Rosa.
“Ini tindakan penganiayaan pak dan Rosa anak saya. Tentu saya juga akan menyerahkan kasus ini pada pihak berwajib agar tidak terjadi lagi tindak kekerasan di kampus ini dan juga pembullyan” sanggah pak Segara, papi Rosa.
Sejenak suasa di ruangan hening, berbeda dengan suasana di luar ruangan.
“Gue lebih nggak nyangka, gue lihatnya dia pendiam tapi kok dia bisa jadi aniaya si Rosa”,.
“Ah kok gue nyesek kagum sama Qania ya”,.
“Ah gue malah makin kagum ternyata Qania bisa sadis, makin cinta gue”,.
“Idiiihhh”,.
Begitulah suara-suara yang terdengar dari luar kelas yang Qania tanggapi dengan senyuman miris.
“Jadi bagaimana pak Dekan dan pak Rektor, apa kasus ini bisa saya masukkan ke kantor polisi?” tanya pak Segara.
Semua dosen saling menatap dan kembali menatap iba pada Qania, namun yang sedang ditatap justru terlihat santai.
“Karena anda orang tua dari Rosa maka kami tidak bisa menahan keinginan anda” ucap pak Halim lirih.
“Baik, pak Bian tolong bawa pelaku itu bila perlu borgol saja tangannya” perintah pak segara dengan raut wajah kesal.
Melihat wajah panik Qania membuat Rosa tertawa dalam hati, ia terus menatap Qania dengan tatapan penuh ejekan.
“Saya akan berjalan sendiri kesana pak. Dan ya, kata bapak tadi tindak kekerasan dan pembullyan harus segera dihentikan, jadi apakah bapak sebagai pihak kepolisian akan menghukum pelaku pembullyan di kampus ini tanpa membeda-bedakan status?” tanya Qania dengan raut wajah penasaran.
“Tentu” jawab pak Segara dengan suara lantang.
“Baiklah, saya harap anda adalah aparat Negara yang bisa memegang omongannya” ucap Qania menyeringai membuat Rosa merinding menatap Qania.
“Kalian semua dengar, termasuk Rektor yang terhormat, bapak Dekan dan para dosen yang saya hormati serta dosen wali saya yang sangat saya sayangi. Kalian semua sudah mendengar ucapan dari pihak kepolisian, sekarang saya ingin menagih ucapan dari polisi ini” ucap Qania dengan sangat serius, aura dingin terpancar dari wajahnya.
“Jangan bertele-tele Qania, udah salah juga” sungut Rosa.
Qania tersenyum pada Rosa, kemudian berjalan ke depan ruangan mendekati pak Agus, dosen walinya.
“Yoo kita lihat si janda muda ini sedang bersiap pulang? Ini mau pulang atau mau cari calon suami baru” ,.
“Hahahaha”,.
__ADS_1
“Rosa kamu apa-apaan sih”,.
“Julius apa dia menggodamu dan memberikan sesuatu padamu hingga tiap hari kau membelanya begini?” ,.
“Gue nggak perlu kasih lo penjelasan soal gue yang selalu belain Qania. Dan lo harus jaga mulut lo karena gue sama Qania nggak sedekat itu, gue Cuma belain orang yang selalu jadi bahan bullyan kalian dan dia nggak pernah balas kalian” ,.
“Ciihh”,.
“Sebaiknya lo balik deh Qan, gue udah mau balik juga. Gue duluan ya” ,.
“Lepasin tanganmu dari rambutku”,.
“Kalau gue nggak mau lo mau apa hah? Dasar janda kegatelan”,.
“Terserah ya kamu mau ngomong apa yang jelas aku mau pulang sekarang” ,.
“Eits tunggu dulu, jangan harap lo bisa keluar dari kelas ini dengan tenang sebelum gue puas ngebully elo”,.
“Kamu maunya apa sih? Bilang saja kalau kamu iri saya lebih pintar dari kamu dan Julius selalu membelaku, jangan kira aku nggak tahu kalau kamu itu suka sama Julius”,.
“Berani lo ngomong kayak gitu”,.
Plaakkk…
“Hahahahahaha”,.
Plakkkk…
Plakkk…
“Kurang ajar”,.
“Gue diam bukan berarti gue nggak bisa ngelawan elo. Gue Cuma ngasih kesempatan ke elo buat berhenti ngusik gue tapi lo malah makin menjadi hari ini. Dan lo udah lihat sekarang gimana gue balikin perlakuan lo itu dua kali lipat dari yang lo lakuin ke gue. Jadi jangan macam-macam dan jangan bangunkan singa yang sedang tidur”,.
“Lepasin tangan gue brengsek!”,.
“Gue bakalan laporin lo ke kantor polisi atas tuduhan penganiayaan. Lo bakalan di hukum karena bokap gue Kapolsek” ,.
“Silahkan lo laporin gue nggak takut. Mau bapak lo Kapolsek atau Kapolri sekalian gue nggak takut. Walaupun elo nyogok semua yang ada di kelas ini gue nggak takut”,.
“Hahaha lo nantangin gue, oke fine”,.
“Hallo papi, hikss Rosa dianiaya pi ,.
“Teman sekelas Rosa Pi. Papi harus hukum dia”,.
“Hahaha lo yang nantangin gue Qania jadi lo harus terima akibatnya sudah berani menantang seorang Rosa Kiandra Segara”,.
“Hahahaha”,.
“Dan oh ya Guys, kalau lo semua pro ke gue nanti gue traktir lo semua selama seminggu di kantin”,.
Prokk..
Prookkk..
“Horee’
“Yesss”,.
“Rosa terbaik”,.
“Lo tenang aja, gue tungguin polisi datang nangkep gue”,.
Qania menghentikan rekaman suara yang sudah ia rekam sedari awal Rosa datang menghampirinya sambil tersenyum penuh kemenangan kepada Rosa.
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
Terima kasih sudah membaca 😊😊🤗🤗
Kalau boleh tinggalkan jejak, like, komen, rate. Tenang author nggak minta divote🤣🤣 Tapi kalau mau author sangat berterima kasih 😊😊😊
🥀Cari author di social media
_Fb : Vicka Villya Ramadhani
__ADS_1
_IG : Vivillya