Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Pulang dan Tunanganlah


__ADS_3

Meskipun enggan tapi Qania membiarkan saja Tristan memboncengnya dengan motor Arkana. Tentu saja saat ini Qania terus merasa deja vu. Bagaimana tidak, saat ini ia seolah sedang mengulang kebersamaannya dengan Arkana mengukur jalan dengan motor ini. Ingin rasanya ia peluk pria di depannya namun ia ragu. Ia tetap memilih egonya daripada harus memenuhi keinginan hatinya.


Saking asyiknya dengan lamunannya, Qania sampai lupa mengarahkan kepada Tristan jalan menuju ke kafe.


"Qania, aku harus lewat jalan yang mana?" tanya Tristan setelah ia menepikan motornya.


"Eh ... maaf. Kita lurus aja ntar sampai masuk di jalur dua. Perempatan pertama di jalur dua belok kiri. Lurus terus ada taman, disana ada kafe yang paling besar. Nah itu dia tempatnya," jawab Qania menjabarkan.


"Oke," ucap Tristan. "Pegangan dong biar nggak jatuh," lanjutnya.


"Nggak!!"


Tristan terkekeh mendengar penolakan keras dari Qania. Ia pun mulai menjalankan motor tersebut. Namun langsung terbesit ide di otaknya. Ia melajukan motor tersebut dengan kecepatan tinggi dan langsung mengerem mendadak sehingga mau tidak mau Qania yang kaget langsung memeluknya erat.


"Nah gini kan enak. Coba dari tadi nurut, aku nggak perlu modusin kamu," ucap Tristan kemudian meletakkan satu tangannya di atas tangan Qania karena ia sangat yakin kalau Qania pasti akan melepaskan pelukannya.


Qania mendengus kesal, "Dasar modus," cibirnya namun Tristan tidak peduli. Ia terus saja menjalankan motor ke arah yang sudah disebutkan oleh Qania tadi.


Jantung Qania berdebar kencang dengan kedekatannya saat ini dengan Tristan. Dulu pernah, namun di motor yang berbeda. Tapi kali ini, sungguh ia seperti sedang bersama dengan Arkana di motor yang sama dengan posisi yang sama. Karena hanyut akan perasaannya, Qania pun menyandarkan wajahnya di punggung Tristan.


Sebenarnya Tristan tahu kalau saat ini Qania pasti teringat akan Arkana, ia tersenyum getir. Namun ia memanfaatkan saja momen ini. Ia begitu merindukan wanita pujaan hatinya ini. Jadi Arkana pun tak masalah untuknya.


Tristan menghentikan motor tetap di depan kafe yang kini membuatnya terbengang. Ia saat ini merasa seolah sedang memandang kafenya sendiri.


"Qania, kita sedang di kota T, kan?" tanya Tristan mencoba menyadarkan dirinya.


Qania tanggap akan pertanyaan Tristan, ia pun turun dari motor dan langsung melenggang masuk tanpa memperdulikan Tristan yang sedang bingung di atas motor.


Rupanya kedatangan mereka sudah diperhatikan oleh Rizal dan Fero. Mereka sangat hafal akan suara motor Arkana sehingga begitu mereka mendengarnya, mereka pun langsung bergegas menuju ke pintu depan kafe.


"Qania sama siapa?" tanya Rizal kepada Fero.


"Ya gue nggak tahu. Orangnya pakai kacamata hitam dan masker gitu," jawab Fero.


"Tapi ini aneh. Qania nggak mungkin naik motor itu sama cowok lain," ucap Rizal.


"Noh orangnya udah dekat, tanyain langsung aja," ujar Fero.


"Hai ... apa kabar kalian? Lama nggak jumpa, kangen," sapa Qania dengan senyuman manis tergambar di bibirnya.


"Kabar kita baik. Oh iya, Lo sama siapa tuh?" tanya Rizal yang memang sangat penasaran.


Qania menoleh kebelakang melihat Tristan yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Oh dia itu pengemis yang aku pungut di jalanan tadi," jawab Qania asal sehingga membuat Tristan kesal.


"Becanda Lo nggak lucu Qan," dengus Fero.


"Hahaha ... eh pesananku tadi udah siap belum? Aku udah lapar nih. Aku ke ruangan dulu, aku tunggu di dalam ya Sekalian sama camilan buat kita ngobrol," ucap Qania dengan nada sedikit manja. "Kamu ikut saya," ucap Qania kepada Tristan.


Fero dan Rizal saling pandang dengan keheranan begitu Qania masuk bersama pria asing itu. Sesaat kemudian mereka pun langsung menuju ke dapur untuk mengecek pesanan Qania tadi.


Lagi dan lagi Tristan dibuat tercengang dengan kafe ini. Ia benar-benar merasa berada di kafenya sendiri. Namun keterpanaannya berlangsung singkat karena Qania langsung menariknya masuk ke dalam ruangannya.


"Gila, kafe ini sama persis sama kafe gue," ucap Tristan setelah masuk ke dalam ruangan Qania. Ia melepas kacamata dan maskernya.


"Kamu yang meniru kafe ini," tuding Qania yang kini duduk di kursi kebesarannya sambil berputar-putar.


"Mana ada. Kamu yang meniru kafeku. Kamu kan sempat nyanyi di kafe aku," elak Tristan yang kini duduk di sofa panjang.


"Kafe ini itu udah ada dari sepuluh tahun yang lalu kalau kamu mau tahu," ucap Qania mematahkan tuduhan Tristan.


"Tapi kenapa bisa sama sih?" gumam Tristan.


"Ya karena yang merancang kafe ini dan kafe itu adalah orang yang sama," lirih Qania namun tidak terdengar oleh Tristan.


Pandangan Tristan menangkap satu titik di lemari kaca transparan dimana ada banyak piala dan juga foto berbingkai disana. Ia pun berdiri dan berjalan ke lemari tersebut. Qania pun hanya membiarkan saja apa yang dilakukan oleh Tristan namun matanya tetap mengawasi.

__ADS_1


Di lemari tersebut Tristan bisa melihat beberapa piala milik Arkana yang ia dapatkan dari perlombaan balap. Ada foto mesranya bersama Qania, pria dewasa yang Tristan ketahui adalah Setya Wijaya dan juga foto-foto bersama teman-temannya. Tristan tersenyum melihat foto tersebut. Ada juga foto bayi sendiri dan juga bayi yang digendong oleh Qania bersama seorang wanita paruh baya dan dua orang pria paruh baya yang ia tahu itu adalah Arqasa dan keluarga Qania.


Ceklekk ...


Pintu terbuka dan muncullah Fero dengan membawa nampan berisi camilan.


"Qan, tadi pesanan banyak jadi punya Lo baru di buatin dan sekarang gue bawain elo camilan biar Lo nggak kelapar--"


Prangggg ...


Nampan berisi camilan itu terjatuh di lantai saat Fero dan Tristan saling berpandangan. Tristan yang tadinya sibuk melihat isi lemari itu tiba-tiba menoleh ketika melihat Fero datang dan Fero pun tak sengaja menoleh ke arah Tristan dan jadilah mereka saling berpandanga.


"Ar-Ar-Arka," lirih Fero dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ro, kenapa Lo bego banget numpahin makanan sih?" sungut Rizal yang baru saja datang.


Rizal menjadi bingung karena Fero tidak bersuara dan justru tak berkedip memandang ke depan sehingga membuat Rizal mengikuti arah pandang Fero.


Deggg ...


Rizal speechless. Ia ingin bersuara namun tidak mampu. Seolah ada yang mencekat di tenggorokannya. Hanya tatapan sendu dari matanya yang bisa mengartikan perasaannya saat ini.


Fero dan Rizal membeku di tempat mereka berdiri saat ini begitu pun dengan Tristan. Ia menatap sendu pada dua pria yang kini tengah mematung menatapnya. Hanya Qania yang bisa menguasai situasi saat ini. Ia pun mendekat ke arah Fero dan Rizal.


"Dia bukan Arkana, dia Tristan Anggara," ucap Qania menepuk bahu Fero dan Rizal.


"Bu-bukan Arka?" tanya Fero yang kini tersadar dan mengalihkan pandangannya pada Qania.


Qania mengangguk pasti. "Mari kita duduk di sofa. Dan kamu Tristan, tolong pakai kembali kacamata dan maskermu. Aku akan memanggil pelayan untuk membersihkan ini. Aku tidak ingin ada yang pingsan saat melihatmu," ucap Qania kemudian menuntun Fero dan Rizal menuju ke sofa sementara Tristan langsung mengikuti arahan Qania. Ia kembali duduk di sofa di bagian ujung dimana Qania dan Rizal berada di tengah-tengah.


"Aku tinggal dulu. Kalian berkenalanlah dulu," ucap Qania yang sebenarnya sedang menghindar. Ia tadinya sempat ingin menangis saat melihat reaksi Rizal dan Fero saat bertatapan dengan Tristan namun ia bersikap sok tegar dan biasa-biasa saja agar tidak mengundang perhatian dari Tristan, Fero dan Rizal.


Sepeninggalan Qania, ruangan tersebut mendadak sepi. Kecanggungan terjadi diantara ketiganya. Tristan yang bingung harus bicara apa begitu pun Fero dan Rizal yang masih terkejut melihat keberadaan Tristan.


"Kenalin, gue Tristan Anggara. Panggil aja Tristan," ucap Tristan memecah kebisuan.


"Gu-gue Rizal dan dia Fero," balas Rizal canggung.


"Lo nggak usah pakai kacamata sama masker kalau lagi sama kita. Nanti kalau datang pelayan buat bersihin itu baru Lo pasang masker Lo," ucap Fero berusaha sok akrab padahal yang sebenarnya adalah ia masih ingin menikmati wajah itu.


"Oh emang nggak apa-apa?" tanya Tristan.


"Santai aja bro," jawab Rizal.


"Lo benar bukan Arkana Wijaya yang membucin tingkat langit sama Qania itu?" tanya Fero memastikan.


Tristan terkekeh mendengar pertanyaan Fero. "Gue Tristan yang sama membucinnya pada Qania Salsabila," jawab Tristan.


"Apa? Jadi Lo suka sama Qania?" pekik Fero dan Rizal bersamaan.


"Hehe, iya dan gue juga nggak tahu kenapa. Lo tahu gue bahkan sampai jadi penguntit dulu hanya untuk mengetahui keberadaannya beserta kabarnya. Istilahnya gue menyukai dia dalam diam. Itu karena kesan pertama gue ketemu sama dia agak nggak mengenakkan sih. Eh kok gue malah curhat ya, sorry ya," ucap Tristan keki, ia juga heran kenapa bisa seleluasa ini bercerita tentang perasaannya pada dua orang asing.


"Lo nguntit si Qania?" tanya Rizal kaget.


"Ya gitu deh," jawab Tristan malu-malu.


Fero dan Rizal pun saling berpandangan dengan tatapan penuh maksud yang keduanya saling paham.


"Kok bisa sama ya?" tanya Fero memancing.l, ia rasa orang di ini adalah Arkana yang hanya mengerjai ia dan Rizal saja.


"Maksudnya?"


"Dulu Arkana juga gitu. Gue sama Rizal dan yang lainnya sampai harus ngikutin kegilaannya si Arka buat nguntit dan ngintilin si Qania kemana aja. Bahkan gue sampai kesal karena kemanapun Qania pergi kita harus ada di sekitarnya. Bahkan ngintipin si Qania pacaran sama si brengsek itu pun kita lakuin bersama-sama Arka. Gila, gue nggak habis pikir aja caranya si Arka buat dapetin Qania lagi. Jadian pertamanya aja sangat nggak waras. Dia minta kita semua gebukin dia kalau Qania nggak mau nerima cintanya. Babak belur dia sampai di rawat di rumah sakit karena habis kita gebukin. Untung Qania terima," cerita Fero panjang lebar untuk memancing reaksi Tristan.


Bukannya cemburu justru Tristan tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar. Fero dan Rizal pun kembali berpandangan. Keduanya saling mengangguk untuk melanjutkan aksi mereka.


Jangan becandain kita bro. Lo nggak tahu gue sangat ingin meluk Lo sekarang, batin Rizal.

__ADS_1


"Kalau Lo emang gitu ke Qania?" tanya Rizal.


"Ya Lo lihat sendiri gue bahkan jauh-jauh datang dari pulau Jawa hanya untuk mengejar Qania. Gue datang untuk menunggu jawabannya. Besok gue bakalan tunangan dan gue harap Qania bakalan batalin pertunangan gue itu," ucap Tristan yang kini sedikit kesal karena teringat akan hari pertunangannya.


"Jadi Lo bakalan tunangan?" tanya Rizal syok.


"Hmmm ... tapi kalau Qania bilang dia cinta sama gue, gue bakalan batalin tuh pertunangan dan bahkan hari ini juga gue lamar si Qania. Cuma dia nggak mau," ucap Tristan lesu.


"Kalau Lo udah punya pacar, kenapa Lo ngejar si Qania?" cecar Fero.


"Gue sama dia udah pacaran lama sejak SMA. Dia adik kelas gue dulu. Hubungan gue baik-baik aja sama dia sampai akhirnya beberapa tahun yang lalu gue kecelakaan dan meregang nyawa. Setelah itu pun hubungan gue sama dia itu berjalan biasa aja. Sampai akhirnya gue ketemu sama Qania di kegiatan seminar. Waktu pertama kali gue lihat Qania, gue ada debaran aneh ke dia. Mendadak perasaan gue sama pacar gue jadi hambar gitu. Gue pingin ngedeketin Qania tapi gue nggak tahu caranya. Yang ada tiap kali kita ketemu selalu saja saling adu mulut dan ucapan Qania itu lho, sangat pedas di telinga gue. Nggak ada kata manis tiap kali bertemu, selalu saja gue diumpat olehnya.


"Tapi setelah dapat kesempatan gue dekat sama dia, gue ngerasa nyaman gitu meskipun tiap saat Qania selalu berkata ketus ke gue. Herannya, gue justru menyukai kata-kata kasarnya itu. Makin lama gue makin ngerasa kalau gue itu emang udah jatuh cinta ke Qania sampai akhirnya gue lupa kalau gue punya dia. Gue bahkan lupa gimana perasaan gue ke pacar gue. Yang sekarang gue harap Qania mau bantu gue buat ngegagalin pertunangan itu," cerita Tristan panjang lebar.


Fero dan Rizal kembali berpandangan. Mereka tiba-tiba merasa kejadian ini sama seperti saat Qania membatalkan pernikahan Arkana dan Susan. Benar-benar sebuah kebetulan ataukah ada sesuatu hal.


"Pulang dan bertunangan lah!" seru Qania yang baru saja masuk dengan membawa makanan. Ia menutup kembali pintu ruangannya.


Qania berjalan mendekat ke sofa lalu meletakkan nampan berisi makanan itu ke atas meja. "Makanlah, aku sudah makan," ucap Qania kepada Tristan.


"Qania, bukan itu yang aku mau. Kamu kenapa nggak bisa melihat sih perjuanganku datang menyusul mu karena aku mengharapkan yang lebih darimu?" keluh Tristan.


"Aku tidak akan merubah keputusanku," ucap Qania kemudian duduk di kursi kebesarannya.


"Dasar keras kepala," gerutu Tristan kemudian mengambil makanannya karena memang ia sangat lapar.


"Aku tahu dan aku tidak peduli," sahut Qania.


Suasana menjadi hening, hanya suara kunyahan Tristan yang terdengar di ruangan tersebut.


Tokk ... tokk ... tokk ...


"Masuk!" seru Qania.


Pintu terbuka, "Kak aku udah selesaiin dan sekarang kita tinggal menunggu has--" ucapan Syaquile terpotong karena kaget melihat pria yang sedang menikmati makanannya- "Kak Tristan?" kaget Syaquile.


"Hai Syaquile," ucap Tristan melambai kemudian melanjutkan makannya.


Syaquile pun langsung duduk di sebelah Fero.


"Lo tahu dia siapa Syaq?" bisik Fero.


Syaquile mengangguk, "Nanti aku ceritain Kak," balas Syaquile berbisik.


Tak lama kemudian Tristan pun sudah menghabiskan makanannya. Ia menjadi keki saat mendapati semua mata tertuju padanya.


"Kau sudah makan dan sekarang aku akan mengantarmu ke hotel lalu kau akan ikut penerbangan malam ke kota Y," ucap Qania tegas dan dengan wajah datar.


"Qan, bukan ini yang aku harapkan dari kamu. Tolong mengertilah," rengek Tristan.


"Kan hanya sekadar bertunangan. Pulang dan tunanganlah dulu. Kan masih tunangan belum nikah, gimana sih," gerutu Qania.


"Ja-jadi maksud kamu ada kemungkinan kalau meskipun aku bertunangan dengan Marsya, aku nggak bakalan nikah sama dia dan bakalan nikah sama kamu, gitu?" tanya Tristan harap-harap cemas.


Qania memutar bola matanya jengah, "Terserah Lo mau ngartiin gimana bahasa gue. Yuk kita pergi. Dek, tolong kamu bahas itu dengan Rizal dan Fero. Aku pamit dulu ya, ntar balik lagi," ucap Qania seraya berdiri dari kursinya dan berjalan lebih dulu.


"Gue pamit ya bro. Kak Tristan pamit dulu ya, adik ipar," ucap Tristan dengan mengedipkan sebelah matanya sebelum kembali memakai kacamata dan maskernya.


"Iya, hati-hati bro. Nanti datang lagi ya," ucap Rizal.


"Tentu," sahut Tristan kemudian berlari menyusul Qania yang sudah berada di luar.


"Ceritain," ucap Fero kepada Syaquile.


Syaquile hanya tersenyum tipis melihat wajah penasaran Rizal dan Fero.


.... . . . . ...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2