Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Tanggapan mama


__ADS_3

Semua terdiam saat mendengar ucapan Qania tadi, mamanya sangat terkejut terlebih Arkana. Ia tidak bisa menahan emosinya lagi, sehingga ia mengepalkan kedua tangannya memperlihatkan urat-uratnya.


"Jelasin Qania" ucap Arkana gemetar.


"Apa yang harus di jelaskan, bukannya kamu sudah dengar sendiri" ketus Qania.


"Jangan bercanda nak" sambung Alisha.


"Maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud menyela pembicaraan kalian. Sebelum kesalah pahaman ini terlalu jauh, biar saya yang akan menjelaskan. Nama saya Ghaisan dan saya bukan suami dari Qania, kami hanya tidak sengaja bertemu di bus. Saya hanya ingin mengantar Qania pulang dengan selamat dan memastikan ia aman sampai di rumah. Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya" ungkap Ghaisan yang merasa tidak enak hati.


Arkana dan Alisha bernapas lega mendengar penuturan Ghaisan, namun tidak dengan Qania.


"Ghai nggak seru ah" keluh Qania dalam hati.


"Ghai mau kemana? Rumahnya yang mana?" tanya Qania mengabaikan mama dan pacarnya itu.


"Tuh di depan" jawab Ghaisan sambil menoleh ke arah rumah Elin.


"Di rumah Elin?" tanya Qania.


"Iya" jawab Ghaisan sembari tersenyum tipis.


"Ghai saudaranya Elin?" tanya Qania lagi, ia begitu bersemangat.


"Ia, mama saya dan papa Elin saudaraan. Saya pamit dulu ya, nanti kita bicara lagi. Permisi semua" pamit Ghaisan, kemudian pergi meninggalkan rumah Qania.

__ADS_1


Setelah Ghaisan pergi, barulah Alisha meminta penjelasan dari Qania. Qania menceritakan dari awal papanya yang pergi mendadak dan Arkana yang juga pergi tanpa memberitahu, kejadian di bus, kejadian saat mencari angkot dan perampokan pada dirinya tak lupa ia melebih-lebihkan kisah pertemuannya dengan Ghaisan, agar Arkana merasa bersalah dan juga merasa tidak enak serta yang paling utama bagi Qania adalah agar Arkana merasa cemburu.


"Mama tidak menyangkah kamu akan mengalami hal seburuk ini nak" ucap mamanya kemudian memeluk tubuh Qania sambil berderai air mata, membayangkan apa yang menimpa putrinya hari ini.


Sementara Arkana terdiam merasa bersalah dan juga merasa tidak berguna untuk menjaga Qania, ia merasa gagal menjadi pacar yang baik dan merasa tidak becus menjaga Qania.


"Mari sini mama obati lukamu nak" ajak mamanya ke kamar.


"Saya permisi dulu tante, nanti saya balik lagi. Qania sepertinya butuh istirahat" ucap Arkana yang kemudian berdiri.


"Maaf ya nak, kamu jadi tidak bisa mengajak Qania keluar" ucap Alisha sambil menatap miris pada Arkana.


Arkana tersenyum kemudian berpamitan pulang pada mama Qania.


"Kamu istirahat ya sayang, nanti aku kesini lagi" ucap Arkana sembari membelai rambut Qania.


"Maafkan aku, bukan maksudku membuatmu seolah tidak berguna. Aku hanya terlanjur kesal padamu dan pada nasibku hari ini. Aku harap kamu tidak membenciku atas ucapanku tadi. Aku sungguh mencintaimu" ucap Qania dalam hati sambil menatap nanar kepergian Arkana.


Dengan dibantu mamanya, Qania masuk ke kamarnya dan mamanya meminta bibi untuk mengambil kotak obat. Setelah bibi datang memberikan kotak obat itu, ia langsung pergi meninggalkan Qania dan mamanya.


"Ma" panggil Qania.


"Hmm" jawab mamanya yang masih serius mengobati luka Qania, sebelum bibi datang tadi Qania sudah mengganti celananya dengan celana pendek di atas lutut.


"Menurut mama tadi Qania kelewatan sama Arkana nggak sih ma?" tanya Qania sambil mengingat wajah pujaan hatinya itu.

__ADS_1


"Yang mana kamu maksud nak?" tanya mamanya sambil memasangkan perban di lutut Qania.


"Soal bilang tadi Ghaisan suami Qania" ucapnya kikuk.


"Kalau menurut mama ya kamu memang agak berlebihan nak. Toh bukan sepenuhnya salah Arkana juga, disisi lain papanya butuh dia dan kamu juga butuh dia. Sebenarnya menurut mama yang salah sih papa kamu, kenapa coba nggak dicek dulu si Arkana udah pulang atau belum. Akhirnya jadi gini deh" ungkap mamanya yang baru saja selesai memasang perban.


"Hmm, mama benar juga. Arkana emang nggak salah sih, kan seharusnya Qania pulangnya sama papa juga. Aduh Qania jadi nggak enak ma sama Arkana" ucap Qania, matanya mulai berkaca-kaca.


"Makanya dipikir dulu sebelum bertindak, coba kamu pikir deh, kalau sebelumnya kamu ngasih tahu Arkana kalau papa nggak ada, kira-kira apa yang bakalan dia lakuin buat kamu?" tanya mamanya.


"Qania rasa dia pasti akan datang menjemput Qania ma, karena selama ini Arkana nggak akan ngebiarin Qania sendiri dan ketakutan" jawab Qania sambil mengingat semua perlakuan Arkana padanya.


"Nah kamu sendiri tahu jawabannya. Nanti minta maaf sama dia" ucap mamanya kemudian pergi meninggalkan Qania.


___


Di tempat lain, Arkana tengah menyalahkam dirinya sendiri atas apa yang menimpa Qania. Ia terus menghajar pohon yang ada di dekatnya sebagai pelampiasan. Saat ini ia berada di dekat danau, ia berteriak dan melampiaskan isi hatinya disana.


"Gue emang nggak guna, gue nggak bisa jagain orang yang gue sayang. Gue emang bodoh, bodoh, bodoh" teriak Arkana memaki dirinya sendiri.


Tangannya kini berlumuran darah akibat terus-terusan meninju pohon itu. Ia terduduk dan bersandar pada pohon yang sedari tadi ia sakiti itu sambil menatap lurus kearah danau.


"Maafin aku Qania, maafin aku" lirihnya.


"Gue bahkan nggak punya nyali buat melihat mata indahmu yang selalu menjadi penyemangatku".

__ADS_1


Arkana meneteskan air matanya, ia begitu merasa lemah saat ini. Ia malu jika harus menemui Qania, namun ia juga khawatir dengan keadaan kekasihnya itu.


"Semoga kamu baik-baik saja" ucapnya.


__ADS_2