
Elin berlari ke luar kamar dengan terburu-buru sampai menabrak Prayoga, untung saja Prayoga sigap dan langsung menangkap tubuh Elin yang hampir jatuh ke lantai.
“Ekhhmmm” Witno membuyarkan tatapan Elin dan Prayoga yang masih betah dengan posisi mereka.
“Eh maaf ya Yog, gue nggak hati-hati tadi” ucap Elin malu-malu.
“Iya, santai aja. Lagian lo kenapa lari-lari kayak gitu?” Tanya Prayoga.
“Gue ngejar Qania sama Manda yang mau jalan-jalan” jawab Elin kemudian bergegas pergi meninggalkan Prayoga yang masih menatapnya.
“Kayaknya ada yang bakalan cinlok nih” goda Witno kemudian pergi menyusul Elin.
“Apaan sih lo Wit” Prayoga ikut menyusul Witno yang sudah berjalan bersama Elin.
Sementara Qania dan Manda sudah berada kira-kira seratus meter dari rumah pak kadus. Qania terus saja menggoyang-goyangkan ponselnya berharap menemukan signal.
“Udah dapat Qan?” Tanya Manda sambil melirik kearah Qania.
“Belum” jawab Qania lemas.
“Ya udah nanti aja” hibur Manda namun ia terus mengunci Qania dalam tatapannya.
Saat Qania melirik dengan ekor matanya, ia mendapati Manda yang terus menatapnya dengan tatapan aneh. Otak Qania langsung bekerja, ia menerka-nerka seperti apa kira-kira watak dari Manda ini.
“Bagus ya, aku Cuma cuci muka dua menit kamu udah ninggalin aku Qan” teriak Elin yang berpura-pura merajuk.
Qania menatap Elin yang datang bersama Witno dan Prayoga, Qania tersenyum lalu berjalan menghampiri Elin.
Bughhhh…
Qania jatuh tersungkur di tanah yang berkerikil saat berlari kearah Elin yang tengah berjalan kearahnya juga.
“Awww” pekik Qania.
“Qaniaaaa” teriak Elin, Witno dan Prayoga bersamaan.
“Astaga Qan, maafin gue. Gue nggak sengaja nabrak elo” panik Manda yang langsung menbantu Qania berdiri.
Elin menepis tangan Manda yang terulur untuk membantu Qania.
“Apaan sih lo Man, udah bikin Qania jatuh eh malah sok-sokan mau nolongin” sungut Elin. “Ayo Qan” Elin membantu Qania berdiri meski pun agak kesulitan.
“Biar gue aja yang gendong Qania” ucap Witno menawarkan diri.
“Nggak, gue nggak ngizinin elo. Biar gue aja” ucap Prayoga yang berjalan mendekati Qania dan Elin.
“Lah emang apa bedanya sama gue?” celetuk Witno.
“Gue saudaranya” jawab Prayoga cuek kemudian berjongkok di depan Qania.
“Nggak usahlah Yog, kasihan kamunya” tolak Qania tidak enak hati.
Prayoga berdiri dan membisikkan sesuatu di telingan Qania.
“Baiklah” akhirnya Qania menurut juga dan naik ke punggung Prayoga.
“Hati-hati Yog” pinta Elin.
“Oke baby” sahut Prayoga sambil mengedipkan sebelah matanya.
Blushhh..
Pipi Elin merona saat Prayoga menatapnya dengan tatapan menggoda.
__ADS_1
“Awwwhhh, sakit Qan” ringis Prayoga saat Qania menjewer telinganya.
“Makanya jangan kegenitan, yuk jalan” ucap Qania terkekeh.
Elin mengikuti Prayoga dan Qania sambil menatap sinis kearah Manda, dan dibalas tatapan bengis oleh Manda. Sementara Witno hanya diam saja saat melihat Qania digendong oleh Prayoga dan pergi meninggalkan mereka.
“Lo suka ya sama Qania?” Tanya Manda sambil berjalan menghampiri Witno yang tengah menatap punggung Qania yang mulai menjauh.
“Eh apaan sih lo, gue Cuma kasihan aja tadi” elak Witno.
“Oh”,.
Manda berjalan menyusul rombongan Qania begitu pun dengan Witno, mereka berdua hanya berjalan saja tanpa mengobrol apapun.
“Ya ampun Qan,lo kenapa?” teriak Baron histeris.
Saat Qania sampai, di teras rumah ada Baron, Abdi, Ikhlas dan Raka yang tengah asyik bernyanyi dengan Abdi yang memainkan gitar yang entah mereka dapatkan dari mana. Sementara Banyu tidak berada disana, kemungkinan ia sedang tidur.
“Jatuh tadi” ucap Prayoga mewakili Qania.
Prayoga berjongkok untuk menurunkan Qania dari punggungnya, sementara Elin memapah Qania untuk duduk di kursi yang ada di teras saat Baron berdiri untuk mempersilahkan Qania.
“Kenapa bisa?” Tanya Abdi.
“Tadi itu, anu em..” Elin bingung harus mengatakan apa karena Qania terus menatapnya agar tidak memberitahukan alasan kenapa ia bisa jatuh kepada Abdi.
“Kenapa?” Tanya Abdi menatap Elin dengan sebelah alisnya terangkat ke atas.
“Nggak apa-apa, akunya aja yang nggak hati-hati” jawab Qania menengahi.
“Emang lo dari mana sih Qan?” Tanya Baron.
“Nyari signal, hehe” kekeh Qania.
Qania hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil mengangguk.
“Ya ampun jangan nekat deh Qan, lo itu tanggung jawab kita selain kita juga sebagai saudara tapi dia juga udah nitip lo ke kita” tegur Abdi.
“Iya, maaf” cicit Qania.
“Besok pagi kita jalan, kalian masuk aja dulu ke kamar atau bantuin tuh bu Karni yang lagi nyiapin makan malam” ucap Abdi kemudian memainkan gitarnya lagi.
“Satu lagu dulu deh Di, please” pinta Qania seimut mungkin.
“Nggak, yang ada lo nanti malah mewek disini. Udah Felin, lo ajak deh teman lo yang kepala batu itu masuk” tolak Abdi.
“Iya, iya” kesal Qania kemudian meminta Elin memapahnya ke kamar.
Qania dan Elin pun masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar mereka untuk mengobati luka di lutut Qania yang kebetulan Qania membawa kotak P3K atas permintaan Arkana tadi pagi.
“Temenin gue yuk cari warung” ajak Prayoga sambil menarik tangan Baron.
“Eh apaan nih, main tarik-tarik aja. Lo kira gue kambing” celetuk Baron.
“Emang, udah ah nggak usah ngebantah”,.
Prayoga melihat Witno dan Manda yang memasuki halaman rumah pak kadus saat ia dan Baron akan keluar. Prayoga bertatapan dengan Witno sesaat sebelum Baron menariknya untuk segera ke warung karena waktu mendekati magrib.
“Kok berhenti disini? Mana warungnya?” Tanya Baron saat Prayoga berhenti di pos ronda yang tak jauh dari rumah pak kadus.
“Gue bukan mau ke warung” ucap Prayoga dingin.
“Lah terus?” Tanya Baron merasa kesal karena dibohongi Prayoga, namun saat ia menatap Prayoga yang duduk sambil berpikir itu ia pun ikut duduk. “Ada apa?” Tanya Baron yang mengerti situasi.
__ADS_1
“Gue lagi curiga” ucap Prayoga singkat.
“Jelasin, nggak usah berbelit-belit” sela Baron, karena ia tahu Prayoga tipe orang yang suka berbelit-belit saat berbicara.
“Tadi itu Qania jatuh bukan karena nyari signal, tapi saat dia mau nyamperin si Felin tiba-tiba si Manda jalan dan mencegat kaki Qania sampai dia kesandung dan jatuh. Tuh lututnya berdarah” cerita Prayoga sambil mengelus-elus dagunya.
“APPAA?” sentak Baron membuat Prayoga terkejut.
“Lo biasa aja dong, nggak usah lebay” hardik Prayoga.
“Y ague kaget aja. Terus menurut lo gimana?” Tanya Baron juga ikut pusing.
“Lo awasin tuh si Manda, sementara gue awasin si Witno” jawab Prayoga sambil mengedarkan pandangannya, ia khawatir ada telinga yang menguping.
“Nah sekarang apa hubungannya sama si Witno, Yog? Jangan bikin gue makin puyeng nih”,.
“Emang lo lupa sama Witno? Dia kan dulu datengin kita di himpunan buat cari tahu tentang Qania. Si Witno kan putra kampus waktu itu, dia ngejar-ngejar si Qania tapi kita halangin. Lo nggak ingat sama si macan Arkana itu, lo mau disalahin kalau sampai Qania kenapa-napa?” Tanya Prayoga sambil mendesah frustasi.
“Astaga Yog, jadi Witno ini yang dulu nantangin kita Cuma karena kita nggak ngizinin dia dekat sama Qania” pekik Baron sambil menepuk dahinya.
“Iya oon. Dia emang pintar dan ganteng, tapi lo tahu kan dia itu play boy dan juga penjahat kel*min” Prayoga meremas rambutnya, ia menjadi bingung sendiri.
“Terus kita harus gimana?” Tanya Baron geram.
“Lo awasin aja tuh si Witno, jangan lupa kasih tahu sama Abdi. Kita nggak boleh lengah, Qania itu berlian kita” ucap Prayoga memperingatkan.
“Iya, awasin juga tuh si Manda. Kayaknya dia ada sesuatunya” timpal Baron.
“Iya, ntar kita bahas sama Abdi. Jangan lupa kasih tahu juga sama Qania” seru Prayoga sambil berdiri.“Jangan dulu kasih tahu Qania, kita lihat dulu si jenius itu. Siapa tahu dia bisa baca situasi” cegah Baron menyeringai.
“Oh iya, gue setuju aja deh” ucap Prayoga sambil mengangkat kedua bahunya.
“Yuk balik, udah mau magrib” ajak Baron.
Keduanya pun berjalan untuk kembali ke rumah pak kadus. Saat sampai disana, mereka tidak melihat siapa pun di teras. Di kamar pun tidak ada siapa-siapa sampai akhirnya mereka berjalan ke dapur dan disana ada bu Karni, Qania, Elin dan Manda yang sedang membantu bu Karni menyiapkan makan malam.
“Yang lain pada kemana?” Tanya Baron.
“Ke sungai, mandi” jawab Qania.
“Wih kok nggak ngajak-ngajak sih?” celetuk Prayoga.
“Lo berdua yang dari mana, malah nyalahin orang nggak ngajak” ketus Manda.
Baron dan Prayoga hanya menatap datar kearah Manda yang menatap mereka dengan sinis.
“Kalian mandi di kamar mandi aja, udah mau magrib nih” seru Qania yang sedang memotong sayur pakis.
“Siap boss” ucap keduanya membuat Qania tertawa.
“Dasar” dengus Manda.
Baron dan Prayoga kompak untuk tidak meladeni apapun ucapan Manda selagi tidak membahayakan Qania. Sementara Qania yang melihat dua saudaranya yang tidak bereaksi itu menjadi bingung, karena tidak biasanya. Ia pun melirik kearah keduanya lalu melirik kearah Manda yang tengah menatap sinis pada dua saudaranya itu.
“Kita mandi dulu, bye” ucap Prayoga yang melihat kecurigaan Qania.
“Masak yang enak ya” timpal Baron.
“Iya bawel” kekeh Qania.
‘Pasti ada sesuatu’ batin Qania.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
__ADS_1