
Qania tenggelam dalam pikirannya, ia khawatir karena sosok baru yang mengincar tunangannya bahkan sampai menyogok dosen demi menjatuhkannya.
“Kalau dipikir-pikir, apa untungnya buat dia ngejatuhin aku kayak gini? Kalau alas an dia suka sama Arkana, kenapa nggak langsung ke orangnya aja ya? Kayaknya ada unsure lain deh, soalnya selama sama Arkana aku nggak pernah lihat dia bahkan nggak pernah juga Arkana cerita tentang si Laras itu” cerita Qania, membuat focus mereka teralih pada Qania.
“Iya juga ya, kalau suka ya deketin orangnya bukan jatuhin pacarnya. Bahkan ini lewat nilai, yang sama sekali nggak berpengaruh sama hubungan kalian. Gue rasa ini ada sesuatunya nih” timpal Cika.
“Lo udah tanyain soal Laras sama Arkana belum Qan?” Tanya Abdi.
“Belum sih, ntar pulang baru mau nanya” jawab Qania.
“Nanti kalau ada info dari tunangan lo baru kita ambil langkah buat si Lara situ” sambung Abdi.
“Gini deh, kita fokus dulu sama rencana besok karena ini masalah internal kampus. Ini menyangkut diskriminasi dan nepotisme di kampus” kata Qania mengalihkan.
“Benar juga, jadi besok kita ngumpul di himpunan jam berapa, biar gue ngabarin ke semuanya?” Tanya Cika.
“Kita ngumpul jam delapan aja di sini, tapi kalau ke kampusnya kita tunggu info dari Emeli dulu” jawab Prayoga.
“Jangan lupa kasih tahu pakai PDH” sambung Abdi.
“Emang boleh gitu kita demo pakai PDH?” Tanya Risti.
“Kita aja berani pakai almamater kampus kalau demo di luar kampus, kenapa PDH enggak. Kita tunjukin tuh ke mereka kalau kita itu solid dan punya himpunan yang ngurusin mahasiswa. Kan buat mereka yang Cuma tahu kita dari luar mereka pikir kita itu anak urak-urakan, pkoknya bagi mereka anak teknik itu nggak ada bagus-bagusnya. Kadang gue kesal sama mereka yang suka nyinyir kita” ungkap risti berapi-api.
“Gue juga kesal sama mereka, apalagi anak-anak yang sok cakep, mereka belum tahu gimana sulitnya mata kuliah kita dan tugas-tugasnya. Mereka kan pernah kalah sama lo Qan waktu pertukaran mahasiswa waktu itu” sambung Baron yang baru saja menyimpan perlengkapan mereka di ruangannya.
“Ah aku ingat sekarang, si Laras itu kan yang kalah sama aku waktu itu” ucap Qania setelah mendapatkan ingatannya.
“Yang benar lo Qan? Bukannya dia udah gugur di tiga besar ya?” Tanya Cika bingung.
“Kalian lupa si Laras itu anaknya rector kita, dia waktu itu minta papanya buat mendiskualifikasi aku dengan alasan yang nggak masuk akal. Di ruangan lalu semua dekan dan prodi serta rector dan jajarannya hadir ditambah aku sama Suwitno dari fakultas pertanian. Gila, dia ngejelekin aku karena maunya dia yang menang dengan tameng papanya. Tapi sayang, papanya nggak bisa berkutik karena ini mengatasnamakan kampus dan dia harus adil dalam mengambil keputusan. Semua dekan dan prodi pro ke aku, eh nggak, Cuma dekan dan prodi fakultas mipa yang nggak pro ke aku. Aku nggak bisa bayangin pak Bramantio akan malu dua kali karena anaknya” cerita Qania membuat mereka tercengang.
“Lo nggak pernah bahas ini sebelumnya Qan” ucap Baron sambil geleng-geleng kepala.
“Waktu itu kita diminta buat tutup mulut” jawab Qania kemudian menghembuskan napas kasar.
“Ternyata ada skandal yang kita nggak tahu” gumam Risti tak kalah kagetnya.
“Eh bukannya dia udah pindah ke universitas di luar kota ya?” Tanya Prayoga.
“Cie.. tau aja kamu” ledek Abdi.
“Ih rese lo” umpat Prayoga kesal namun Abdi malah tertawa.
“Jadi yang benar itu dia dapat ultimatum dari kampus untuk tidak kuliah dulu alias cuti untuk menutupi kejadian ini, sebenarnya dia waktu itu terancam drop out” cerita Qania membuat mereka membeo.
“Berarti ini sebenarnya bukan soal Arkana, tapi misi balas dendam” kata Cika menarik kesimpulannya.
“Sepertinya begitu” sahut Qania.
“Pantas saja bu Lira mendukung kamu sampai segininya Qan, rupanya pernah ada kejadian ini toh” ucap Risti sambil menepuk bahu Qania mencoba menyemangati.
“Hehehe, bu Lira emang terbaik” puji Qania.
... ...
...…....
Arkana baru saja sampai di himpunan setelah Qania menghubunginya kalau rapat sudah selesai. Qania dan yang lainnya juga tengah duduk di bangku di depan himpunan sambil bernyanyi ria, Arkana berjalan menghampiri mereka. Kalau tadi ia sangat malas, sekarang dia justru bersemangat karena semakin akrab dengan teman-teman Qania.
Bagi Arkana, semakin banyak teman Qania mengenalnya maka mereka juga semakin tahu bahwa Qania adalah miliknya. Di sisi lain, Arkana juga senang Karen Qania dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya dan bisa melindunginya.
“Malam semua” sapa Arkana.
“Malam juga” balas mereka.
“Sini sayang gabung” ajak Qania.
Arkana ikut bergabung bersama mereka, mengobrol dan bercanda. Namun tidak ada sama sekali pembahasan tentang aksi demo besok karena Qania sudah berpesan kalau Arkana jangan sampai tahu
#Flashback on…
Qania baru saja sampai di himpunan setelah Arkana mengantarnya, Arkana langsung kembali ke kafe sementara Qania yang sudah melihat Arkana pergi langsung melenggang masuk ke dalam himpunan.
“Malam semua” sapa Qania.
“Malam juga Qan, lo bareng siapa kesini?” Tanya Cika yang sedang sibuk dengan properti untuk demo besok.
“Di antar Arkana” jawab Qania ikut duduk di lantai langsung berbaur dengan yang lainnya.
“Oh iya Qan, Arkana sudah tahu soal ini?” Tanya Andi.
“Nggak, aku nggak mau ngasih tahu dia ntar nambah masalah aja. Aku minta tolong ya nanti kalau Arkana datang, jangan sampai ada yang bahas masalah ini. Aku nggak mau dia sampai nyari tahu si Laras dan berujung hal-hal yang nggak diinginkan” pinta Qania dengan wajah memelas.
__ADS_1
“Oke Qan, kita bakalan tutup mulut” sahut Risti.
#Flashback off…
Saat tengah asyik berbincang, ponsel Arkana berdering. Ia segera melihat siapa yang meneleponnya dan begitu tahu itu panggilan dari Rizal, ia segera menjawabnya.
“Hallo Zal, ada apa?” Tanya Arkana.
“Ada gadis aneh yang nyariin elo di kafe, lo masih lama?” kata Rizal sambil berbisik, ia sekarang berada di ruangan Arkana.
“Emang aneh banget ya?” Tanya Arkana meledek Rizal, ia terkekeh mendengar Rizal yang berbicara sambil berbisik.
“Sialan lo ngetawaiin gue. Pokoknya sekarang lo harus balik, gue nggak mau tahu titik” ucap Rizal kesal kemudian mematikan panggilannya, karena Arkana tidak berhenti menertawakannya.
“Ya ampun nih cowok, diam aja cakep, apalagi ketawa kayak gini. Ahh makin cakeeeppp. Ehh apaan sih ni otak, sadar woi dia itu milik Qania, udah tunangan pula. Haahh jiwa jomblo gue meronta-ronta” histeris Cika, tapi dalam hati.
Lamunan Cika terhenti karena ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk.
✉ Civil Risti
“Hayoo, awas tu mata ntar jatuh”
….
Cika melirik ke arah Risti yang tengah tersenyum penuh arti padanya.
✉ Civil Cika
“Hehe, hanya sedang mengagumi ciptaan Tuhan”
….
✉ Civil Risti
“Awas ntar yang punya ngamuk”
…
✉ Civil Cika
“Hehe, kan gue bilang hanya sebatas mengagumi. Gue nggak berani untuk yang lebih, apalagi itu milik Qania, takut gue”
…
✉ Civil Risti
…
✉ Civil Cika
“Ya kali”
…
Risti dan Cika saling pandang kemudian mereka sama-sama tersenyum penuh arti, hanya keduanya yang tahu dan untung saja tidak ada yang memperhatikan mereka.
“Rizal kenapa sayang?” Tanya Qania.
“Ada masalah di kafe sayang, balik ke kafe yuk” jawab Arkana sembari sekaligus Qania pergi.
“Ya sudah ayo” turut Qania.
“Semuanya, kita balik dulu ya” pamit Arkana.
“Guys balik dulu ya, sampai ketemu besok” sambung Qania.
“Oke, hati-hati” jawab mereka serempak.
...………....
Arkana dan Qania baru saja sampai di kafe, keduanya bergegas ke arah ruangan Arkana dimana Rizal sedang menunggu mereka. Dari sudut kafe, seorang gadis tengah tersenyum saat melihat kedatangan Arkana, namun ia tidak melihat gadis yang datang bersamanya.
“Mana orangnya Zal?” Tanya Arkana mengagetkan Rizal.
“Bisa nggak lo nyapa dulu kek, salam dulu kek, jangan ngagetin kayak gini” gerutu Rizal.
Qania hanya tertawa melihat kedua lelaki itu saling berdebat tidak jelas.
“Sayang ngapain berdiri aja, sini duduk” panggil Arkana yang sudah duduk bersama Rizal.
Qania langsung menyusul ke tempat Arkana dan Rizal duduk.
__ADS_1
“Sekarang lo ceritain siapa orang aneh itu” pinta Arkana saat suasana sudah tenang.
“Tuh orangnya masih di luar” kata Rizal menunjuk dengan dagunya.
“Siapa?” Tanya Qania penasaran.
“Ada tuh cewek entah dari mana datangnya langsung buat kehebohan. Datang sendirian, ngaku-ngaku pacar pemilik kafe, sama gue dan Fero lagi ngakunya. Rasanya pengen gue beri tu orang” cerita Rizal kesal.
“Terus Fero mana?” Tanya Arkana.
“Lagi nganter pesanan online” jawab Rizal.
Semenjak Fero ikut bergabung di kafe mereka melayani pesan antar dari kafe dan juga kafe sudah buka mulai pukul sebelas sampai pukul dua puluh empat. Hanya saja para pelayan yang bekerja di shift malam itu adalah teman-teman Arkana sendiri, sehingga bebas melayani dan mengantar kemana pun pikir Arkana.
“Aku jadi penasaran, siapa gadis itu” gumam Qania, sepertinya ia curiga pada seseorang.
“Yuk kita lihat” ajak Arkana.
“Sebaiknya kamu sama Rizal saja deh yang lihat, aku mau nonton aja dari sudut sana” kata Qania cengengesan.
“Ya sudah, ayo kita mulai filmnya” ajak Arkana sambil menarik lengan Rizal dengan semangat.
“Cari mati” kata Rizal kemudian tertawa.
Arkana dan Rizal berjalan menghampiri gadis tersebut, Qania yang duduk di sofa bagian sudut kanan kafe langsung menyeringai. Kecurigaannya terbukti, gadis itu memang benar Larasati Devana Bramantio.
“Tidak ku sangka anak rector ternyata dongkol, bisa-bisanya dia menyeret dirinya sendiri masuk ke kandang macan” gumam Qania sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara Rizal dan Arkana..
“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” Tanya Arkana dengan suara dibuat semanis mungkin.
“Eh kamu Arkana ya?” Tanya Laras malu-malu.
“Loh bukannya tadi lo bilang lo pacaran sama Arkana, kenapa sekarang lo nanya lagi?” ketus Rizal.
“Gue nggak ngomong sama lo, sana husshh” usirnya pada Rizal.
“Beraninya lo..” Rizal hampir saja menonjok Laras karena sudah amat kesal, namun langsung dicegah oleh Arkana.
“Udah lo lanjut kerja sana” pinta Arkana sambil mengedipkan sebelah matanya.
Rizal menatap kesal ke arah Laras, kemudian pergi meninggalkan mereka. Ia bergabung bersama Qania dan Fero yang baru saja datang.
“Silahkan duduk” ucap Arkana mempersilahkan Laras, ia juga ikut duduk di hadapan Laras.
“Terima kasih” sahut Laras dengan wajah dan suara diimut-imutkan.
“Kok gue ngerasa risih dan jijik ya sama suaranya” batin Arkana.
“Mau pesan apa?” Tanya Arkana.
“Oh enggak, aku tadi udah mesan pasti bentar lagi di anterin ke sini” jawab Laras, ia terus menatap Arkana dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.
“Duh dari dekat kok makin ganteng ya, uhh wajahnya itu, senyumnya, bodynya. Gue nggak bisa berhenti buat natap bahkan berkedip pun gue enggan” batin Laras histeris memikirkan Arkana.
“Ada apa?” Tanya Arkana.
“Hah..?” Laras tersadar dari lamunannya.
“Iya, ada apa? Kenapa lihatin saya seperti itu?” Tanya Arkan seolah malu-malu karena terus ditatap.
“Eh enggak, maaf kalau kamu risih” kata LAras kemudian menunduk.
”Uh jantung gue, tolong dong kondisiin” pekiknya dalam hati.
“Oh nggak sama sekali. Oh iya kata karyawan saya tadi kamu kesini buat nyari saya, terus katanya kamu ngaku jadi pacar saya. Emang benar?” Tanya Arkana memasang wajah seakan ia tertarik dengan gadis di depannya ini.
“Eh itu ng… maaf” cicit Laras.
“Nggak apa-apa, saya tersanjung” kata Arkana sembari tersenyum manis.
Sementara Arkana dan Laras saling mengobrol, Qania, Fero dan Rizal sedang tertawa geli menyaksikan Arkana yang tengah tersiksa dan juga menertawakan gadis yang tak tahu malu dan juga sudah begitu memasang wajah yang terlihat sangat memuja Arkana.
“Lo ketawa mulu, emang nggak cemburu gitu?” Tanya Fero.
“Ya enggak lah, aku tahu Arkana. Dan aku juga tahu siapa perempuan di depannya itu” jawab Qania kemudian wajahnya berubah datar saat melihat ke arah Laras.
“Lo kenal Qan?” Tanya Rizal penasaran.
“Kenal” jawab Qania singkat, namun sorot matanya menatap Laras begitu tajam.
Rizal dan Fero yang menyadari aura berbeda dari gadis di sebelah mereka ini langsung diam dengan pikiran diselimuti berbagai pertanyaan.
__ADS_1
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...