
Arkana sampai di rumahnya namun langsung kaget karena melihat sang papa masih duduk di ruang tamu. Ia pun segera berjalan untuk ikut duduk bersama papanya.
“Papa belum tidur?” tanya Arkana sambil merangkul sang papa.
“Tadi papa sudah tidur, hanya saja papa bermimpi sampai terbangun” jawab papanya sambil menatap sang anak dan tersenyum.
“Mimpi apa pa?” selidik Arkana.
“Papa mimpi mamamu” jawabnya kemudian menunduk.
“Mama?” tanya Arkana.
“Ya, mamamu meminta papa untuk segera menikahkanmu” jawab papanya.
“Oh kebetulan pa, besok orang tua Qania meminta papa untuk datang menentukan kelanjutan hubungan kami pa” cerita Arkana dengan penuh rasa bahagia.
Namun papanya segera berdiri dan menyilangkan kedua tangannya di atas dada. Ia menghembuskan napas panjang, seperti ingin menyampaikan sesuatu yang cukup membebani pikirannya.
“Ada apa pa?” tanya Arkana yang juga ikut berdiri.
“Hmm, bagi papa Qania memanglah wanita yang paling cocok dan terbaik untukmu. Tapi maafkan papa, karena sebenarnya kamu sudah di jodohkan sejak masih dalam kandungan mamamu dengan anak kerabat kami. Papa hampir saja lupa kalau mamamu tidak mendatangi papa dalam mimpi” cerita papanya.
“Tidak pa, tidak mungkin seperti ini. Arka nggak mau pa, Arka cuma sayang dan cinta sama Qania pa” tolak Arkana.
“Papa tahu nak, semua ini kesalahan papa yang begitu sibuk bekerja dan melupakan perjodohanmu yang merupakan amanat terakhir dari mamamu” sesal papanya.
“Tapi pa, Arka nggak mau tahu besok kita ke rumah Qania” bantah Arkana.
“Papa akan menemanimu kesana besok, tapi berjanjilah kamu juga akan menemui gadis pilihan mamamu dan setelah itu terserah kamu maunya seperti apa” tawar papanya.
“Baiklah pa” Arkana menyetujuinya dengan berat hati. “Aku ke kamar dulu pa, papa juga kembalilah tidur” ucap Arkana kemudian berjalan meninggalkan papanya.
“Maafkan papa nak” gumam papanya.
___
__ADS_1
Arkana sangat malas untuk beranjak dari tempat tidurnya karena semalaman ia susah untuk tidur memikirkan perkataan papanya. Bagaimana ia akan menjelaskan ini pada Qania dan kedua orang tuanya. Ia sibuk dengan pikirannya hingga ia tak sadar bahwa Qania sudah meneleponnya beberapa kali serta mengirimi beberapa pesan.
“Dasar menyebalkan” umpat Qania kemudian melemparkan ponselnya keatas tempat tidur.
Pukul sebelas siang Arkana baru menghentikan pergulatan dengan dirinya sendiri. Ia kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah berganti pakaian Arkana langsung mencari ponselnya yang ternyata berada di bawah bantalnya.
“Ah sial, dia pasti kesal lagi” Arkana menarik rambutnya saat melihat beberapa panggilan tak terjawab dan pesan dari Qania.
Dengan cepat Arkana langsung menghubungi Qania, ia mengurungkan niatnya untuk turun ke lantai bawah, padahal tadi ia sudah sangat kelaparan.
“Dari mana saja hemm?” tanya Qania saat menerima telepon dari Arkana.
“Maaf sayang, aku baru bangun” jawab Arkana mencari alasan.
“Ya ampuun, untung saja acaranya nanti malam. Kalau diadakan siang kamu pasti telat dan gagal dapat restu” omel Qania.
“Hehe maaf sayang” ucap Arkana sambil berjalan keluar menuju lantai bawah.
“Hah kok gitu sayang?” tanya Arkana menahan tawanya karena merasa aneh dengan permintaan calon mertuanya.
“Nggak ngerti deh, pokoknya papa pesannya gitu” jawab Qania yang juga merasa heran.
“Ya sudah aku mau makan dulu, setelah itu aku bakalan nyari baju seperti itu deh” ucap Arkana menyetujui.
“Oh oke sayangku, sana gih makan” jawab Qania.
“Iya sayangku, kamu matiin deh teleponnya” ucap Arkana sambil tersenyum.
“Daa..” ucap Qania kemudian memutus panggilan tersebut.
___
Waktu tak terasa kini sudah menunjukkan pukul enam sore, Arkana baru saja selesai mandi dan bergegas menuju ke kamar papanya sambil membawa kantung belanjaan. Ia kemudian mengetuk pintu kamar papanya.
__ADS_1
“Masuk” sahut papanya dari dalam.
“Pa, ini untuk papa” ucap Arkana sambil menyodorkan kantung belanjaan.
“Ini apa?” tanya papanya sambil menerima barang tersebut.
“Ini papa pakai, sebentar lagi kita akan ke rumah Qania. Jangan sampai terlambat ya pa” ucap Arkana kemudian pergi tanpa menunggu pernyataan sang papa.
Saat Arkana pergi papanya langsung memeriksa barang pemberian Arkana. Ia mengeluarkan kemeja dan celana panjang hitam sambil duduk diatas tempat tidurnya.
“Kemeja? Celana hitam? Aku seperti teringat sesuatu, tapi apa ya?” Setya mencoba mengingat sesuatu.
“Haiih entahlah. Tapi demi anakku satu-satunya aku akan mengalah” gumamnya kemudian bersiap mengganti pakaiannya.
Kini kedua pria beda generasi itu sudah dalam perjalanan menuju rumah Qania, keduanya masih bersikap dingin karena masalah perjodohan yang belum bisa Arkana terima itu. Papanya juga tidak ingin merusak suasana hati anaknya sehingga ia memilih sibuk dengan ponselnya, mengecek pekerjaannya lewat alat elektronik tersebut.
Sekitar setengah jam mereka sampai di halaman rumah Qania, Arkana merasa begitu degdegan karena akan melamar sang kekasih. Ia melupakan perjanjian bersama sang papa semalam untuk menemui gadis yang sudah dijodohkan dengannya. Baginya hanya Qania lah yang cocok bersanding dengannya.
“Ayo pa kita turun, kita sudah sampai” ajak Arkana yang mengemudikan mobil tersebut.
Mereka sengaja tidak membawa supir agar tidak membuat orang lain menunggu dalam acara mereka.
“Ayo” jawab papanya sambil melepas sabuk pengamannya.
Di dalam rumah Zafran dan Alisha sudah menyiapkan semua keperluan makan malam dan sudah membayangkan pertemuan mereka kembali setelah sekian lama.
“Pa kira-kira mas Setya masih ingat kita nggak ya? Setelah mbak Ayu meninggal dia kan jadi gila kerja dan pindah ke luar kota. Aku baru tahu kalau ternyata mas Setya sudah kembali lagi kesini” Alisha begitu memikirkan pertemuan mereka sampai ia terus saja mondar-mandir di dalam kamar.
“Ya ma, belasan tahun dia mencoba mengasingkan diri dari kenangan kita bersama Ayu dan akhirnya dia memberanikan diri untuk kembali lagi kesini. Dan tanpa disangka Tuhan memiliki rencananya sendiri untuk anak-anak kita” sahut Zafran kemudian mengajak sang istri untuk keluar. “Yuk ma kita keluar, sepertinya itu mobil Arkana” ajaknya saat mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah mereka.
“Iya pa” turut Alisha sambil menggandeng tangan sang suami begitu mesra.
___
Maaf ya lama tidak update, semoga kalian masih suka dengan ceritanya.
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir dan membaca 😊😊😊