
Keheningan menemani kedua insan yang tengan melepas kerinduan satu sama lain. Kerinduan yang begitu besar bahkan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.
Cika membenamkan kepalanya di dada bidang milik Fero, meresapi aroma tubuh lelaki itu. Lelaki yang selama ini selalu menghiasi mimpinya. Lelaki satu-satunya yang mampu mengisi hatinya. Lelaki yang bahkan sudah lama ia coba lupakan namun ia tak berdaya untuk melawan hatinya.
"Aku tahu ini salah Tuhan, tapi biarkan aku memilikinya untuk sesaat. Biarkan aku memeluknya erat, mendekap tubuhnya meskipun aku harus sesak napas. Aku tidak ingin bangun dari mimpiku. Setelah aku tidur selama tujuh tahun, baru mimpi inilah yang paling indah. Aku mohon Tuhan biarkan sesaat untuk tetap seperti ini" isak Cika, hatinya begitu pilu.
Air mata Cika membasahi baju Fero, namun ia enggan untuk melepaskan pelukannya. Fero yang menyadari Cika masih menangis mencoba melepaskan pelukannya.
"Biarkan, biarkan sesaat seperti ini. Aku belum ingin bangun, sudah tujuh tahun aku tidur tapi mimpi inilah yang paling indah. Biarkan aku tidur sejenak, jangan bangunkan aku" lirih Cika masih memeluk erat tubuh Fero.
Air mata Fero kembali menetes mendengar penuturan Cika.
"Aku juga tidak ingin bangun jika ini hanya mimpi" Fero menjeda ucapannya, berusaha melawan deras air matanya yang berusaha tumpah.
"Sudah tujuh tahun aku pun memimpikanmu, tapi hari inilah mimpi terindah dari semua malam yang kulalui tanpamu. Hari ini lah saat terindah yang pernah kujalani tanpa kehadiranmu" menghela napas, menghapus air mata yang terus saja tumpah.
"Kau tahu sayang, aku seperti orang gila saat tahu kau telah meninggalkanku. Kau begitu kejam meninggalkanku tanpa memberitahu dan tanpa meninggalkan jejak untukku. Bagaimana aku akan mencarimu? Dimana aku bisa menemukanmu? Kau membawa pergi hatiku beserta kuncinya, sehingga aku tidak bisa membuka hatiku untuk orang lain. Kau tau Cika, kau begitu kejam" ungkapan hati Fero yang selama ini ia pendam akhirnya tersampaikan.
Setelah Fero mengucapkan hal ini, air mata Cika tak berhenti menetes, ia menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala kesedihan yang ia pendam selama ini.
Semakin erat, semakin erat ia mendekap tubuh yang teramat dirindukannya itu, begitu posesifnya ia seakan jika pelukannya merenggan akan membuat lelaki itu pergi, pikirnya.
Fero tak kalah eratnya mendekap gadis yang selama tujuh tahun ia nantikan kedatangannya juga ia cari keberadaannya. Ia merasapi aroma tubuh gadis kecil dan imutnya yang kini sudah menjadi gadis dewasa yang cantik dan manis juga masih seimut tujuh tahun lalu.
Keduanya larut dalam pikiran dan perasaan masing-masing, hingga adzan subuh terdengar dari masjid di dekat mereka menyadarkan kembali pikiran dan perasaan keduanya.
"Aku antar kamu pulang" ajak Fero.
"Aku masih ingin denganmu" lirih Cika yang masih membenakan kepalanya di dada bidang Fero.
"Jalan-jalan mau?",.
"Kemana?",.
"Terserah",.
"Asalkan bersama kamu, aku mau",.
Keduanya saling melepaskan pelukan, lalu saling berpandangan. Fero mengecup kening Cika begitu lama, barulah setelah itu keduanya pergi ke motor sambil berpegangan tangan.
"Kita kemana neng?" Tanya Fero saat keduanya sudah berada di atas motor.
"Kemana aja deh kang" jawab Cika terkekeh.
"Pegangan atuh neng, nanti jatuh akangnya bisa gila" canda Fero.
Dua menit kemudian..
"Kok belum jalan?" Tanya Cika.
"Kamunya belum pegangan" jawab Fero menggulum senyuman.
"Emang harus ya?" Tanya Cika malu-malu.
"Kamu mau aku to the point atau pakai modus?" Tanya Fero menyeringai.
"Maksudnya?" Tanya balik Cika tidak mengerti perkataan Fero.
"Ya kamu maunya yang mana, aku to the point nyuruh kamu pegangan atau ntar aku modusin pas di jalan aku tiba-tiba aja ngerem supaya kamu langsung meluk aku? Pilih yang mana?"
Pernyataan Fero membuat Cika tercengang.
"Bagaimana bisa ada orang mau modus tapi bilang-bilang, kasih pilihan pula. Ini mah namanya keuntungan sebelah pihak. Eh ralat kita sama-sama untung karena aku masih ingin memeluknya".
Dengan malu-malu Cika melingkarkan kedua tangannya dengan pipi yang merah merona.
"Oh jantung gue... Tolong kondisiin dong, jangan ajep-ajep gini daah" pekik dalam hati.
"Gadis pintar" puji Fero kemudian melajukan motornya.
🍀
"Loh kok berhenti?" Tanya Cika saat Fero menghentikan motornya di depan masjid di dekat taman itu.
"Kewajiban hamba ke Tuhannya" jawab Fero turun dari motor kemudian menatap Cika dengan senyuman yang membuat jantung Cika ingin berdisko.
"Kamu nggak..?" Tanya Fero sambil melirik kearah masjid.
"Harusnya tamu bulanan hari ini udah pergi" jawab Cika malu-malu.
"Oh, ada tamu toh" kekeh Fero.
"Ya udah cepetan masuk" Cika mendorong pelan tubuh Fero yang masih tersenyum menggodanya.
"Jangan kemana-mana, oke" tegas Fero.
"Hu'um",.
🍁
🍁
"Loh kamu ngapain di depan masjid? Emang nggak shalat?" Tanya bapak-bapak yang akan masuk masjid.
"Enggak pak" jawab Qania tersenyum ramah.
__ADS_1
"Cantik-cantik kok nggak shalat" bapak itu geleng-geleng kepala.
"Lah terus kamu ngapain disini?" Tanyanya lagi.
"Saya lagi datang bulan pak, saya disini lagi nungguin teman" jawab Qania sopan.
"Wah cantiknya nambah tuh neng. Ya sudah, saya masuk dulu" pamitnya.
"Iya pak" jawab Qania tersenyum ramah.
Beberapa saat kemudian Arkana keluar dari masjid dan tersenyum kearah Qania duduk menunggunya di tangga teras masjid.
"Kamu ngantuk sayang? Atau capek?" Tanya Arkana saat keduanya sedang berjalan menuruni anak tangga.
"Capek sih sedikit, kalau ngantuknya enggak" jawab Qania.
"Kamu mau..."
Drrtt..
Drrtt..
"Papa nelpon" kata Arkana saat melihat ponselnya.
"Ya udah langsung di jawab aja teleponnya" ucap Qania.
"Assalamu'alaikum pa?"
"Wa'alaikum salam. Kamu dimana?"
"Di jalan pa, ada apa?"
"Bisa pulang sekarang, penting?"
Arkana melirik Qania, dan Qania mengangguk.
"Oh iya pa"
Tut..
Tut..
Tut..
"Gimana sayang? Kamu mau aku antar dulu atau ketemu papa dulu di rumah?" Tanya Arkana setelah panggilan tersebut berakhir.
"Ke rumah kamu aja deh sayang, kalau kamu antar aku dulu kita harus putar balik dan lumayan jauh. Sementara rumah kamu nggak begitu jauh dari sini" putus Qania.
"Oke my beloved girl" ucap Arkana kemudian memakai helmnya. Tanpa Arkana sadari Qania sudah merona oleh ucapannya tadi.
"Udah, bismillah dulu",.
"Bismillahirrahmanirrahiim",.
Arkana langsung melajukan motornya menyusuri aspal di waktu subuh menuju ke rumahnya, berdua dengan sang pujaan hati tentu saja.
🍁
🍁
Arkana dan Qania berjalan masuk ke rumah yang pintunya sudah terbuka itu, karena di jam setengah enam seperti saat ini bi Ochi pasti sedang membersihkan rumah.
"Eh nak Arka. Ada nak Qania juga" sapa Bibi yang sedang menyapu di ruang tamu.
"Hai bi Ochi" sapa Qania sembari tersenyum manis.
"Papa dimana bi?" Tanya Arkana.
"Oh tuan di kamarnya, tadi tuan berpesan kalau nak Arka datang langsung disuruh kesana" jawab bi Ochi.
"Oh iya, makasih bi. Yuk sayang" Arkana menarik tangan Qania.
"Aku disini aja dulu sayang, sama bi Ochi" tolak Qania.
"Kamu gangguin bi Ochi kerja" ucap Arkana.
"Nggak kok nak, bibi juga udah mau selesai" elak bi Ochi.
"Hmm, ya udah deh aku ikut kamu" Qania mengalah karena melihat ekspresi Arkana yang tidak ingin berjauhan darinya.
"Ayoo.." Arkana menarik tangan Qania, keduanya menaiki tangga.
"Aku bukannya nggak mau kamu sama bi Ochi sayang. Tapi aku tuh maunya kamu istirahat di kamar aku aja, aku tahu kamu cape" ucap Arkana saat mereka berada di depan pintu kamar Arkana.
"Humm manisnyaa" goda Qania membuat Arkana terkekeh.
"Ya udah kamu masuk, istirahat. Aku ke papa dulu" ucap Arkana kemudian mengelus rambut Qania dengan sayang.
"Iya bawel" Qania segera masuk dan Arkana pun pergi ke kamar papanya.
🍁
🍁
Setelah menunaikan kewajibannyw, Fero mengajak Cika untuk menikmati udara di pagi hari sebelum mengantarkan Cika pulang. Saat ini mereka tengah menyusuri jalan menggunakan motor sport milik Fero.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, mereka sampai di tempat yang menjadi saksi bisu kisah mereka dahulu.
"Hei, kau mengajakku kesini?" Tanya Cika sambil turun dari motor.
"Ya, tentu saja" Fero mengikuti Cika yang sedang berjalan kearah jungkat-jungkit.
Cika mengedarkan pandangannya ke area TK tersebut, air matanya menetas kala memori tujuh tahun lalu berputar di ingatannya.
"Jangan meninggalkanku lagi, aku gila karena kau pergi tanpa memberitahuku" ucap Fero yang memeluk Cika dari belakang.
Air mata Cika semakin deras mengalir, ia membiarkan Fero memeluknya sementara ia larut dalam ingatan masa lalunya.
“Kau tahu Cika, aku sering datang kesini dan berharap ada gadis yang aku rindukan sedang bermain ayunan sambil menungguku untuk menaiki jungkat-jungkit itu”,.
“Aku sadar bahwa apa yang aku harapkan itu adalah mustahil tapi aku tetap datang kesini di jam yang sama seperti dulu kita menghabiskan waktu pulang sekolah”,.
“Apa kau tahu Cika, hatiku begitu sakit saat melihat anak-anak SMA yang keluar dari sekolah kita itu dengan pasangannya. Hatiku ngilu melihat kebersamaan mereka, sementara aku masih berdiri di masa laluku yang semakin hari semakin menyiksaku, tapi aku menikmati setiap detiknya”,.
“Setiap kali aku datang ke tempat ini, senyum dan tawa bahagiamu menjadi pengobat rasa sesak di dadaku, meskipun hanya bayanganmu saja yang terlintas di benakku”,.
“Ro aku..”,.
“Sstt, biarkan aku mengungkapkan isi hatiku. Semua yang ingin ku katakan ketika aku berhasil membawamu kembali ke tempat ini lagi. Kau cukup diam dan dengarkan aku” sela Fero.
Cika akhirnya diam, ia membiarkan Fero terus berbicara dengan posisi Fero yang masih memeluknya dari belakang.
“Kalau bokap lihat gue dipeluk cowok kayak gini, bisa-bisa Fero abis ditembak. Bapak, putri kecilmu jatuh cinta lagi dengan orang yang sama” pekik batin Cika.
“Jantung Cika, oh ibu jantung Cika ajep-ajep bu. Tolongin Cika, jantung Cika mai lompat ini”,.
“Cika” panggil Fero.
“Iya?”,.
“Aku cinta kamu, dari dulu sampai saat ini”,.
“Hah?”,.
“Mau kah kau melanjutkan kisah kita yang tertunda dulu? Mau kah kau mengganti waktu yang telah berlalu, denganku? Mau kah kau untuk kedua kalinya menyerahkan hatimu padaku? Mau kah kau memulai kisah denganku, membuka lembaran baru denganku? Mau kah kau...”,.
“Kau terlalu banyak bicara” sela Cika yang sudah ajep-ajep jantungnya mendengar semua pertanyaan Fero.
“Gue bisa mati mendadak karena jantungan dengar dia bicara semanis itu, huaaa ibu, bapak anakmu jatuh cintaaaaa”,.
“Sudah ku bilang diam dan dengarkan aku bicara” protes Fero.
“Iya, tapi cepatlah” ketus Cika.
“Hei kau kenapa?” tanya Fero, ia takut jika Cika sebenarnya sudah tidak menyukainya.
“Kau terlalu lama bicara, aku sudah ingin bermain jungkat-jungkit, tau nggak” kesal Cika.
Fero menghembuskan napas lega karena kekhawatirannya itu tidak terjadi, dalam hati ia sangat bersyukur.
“Ekhmmm” dehem Fero.
“Ekhmm juga” Cika mengikuti.
“Sudah ku bil..”,.
“Iya aku akan diam dan mendengarkan, puas?” potong Cika membuat Fero terkekeh.
“Cika Anastasya Hemanto”,.
“Iya aku. Eh kamu masih ingat nama lengkapku?” tanya Cika terkejut.
“Hmmm”,.
“Hehe peace” Cika tersadar jika ia membuat Fero mulai kesal.
“Cika Anastasya Hermanto, jangan memotong ucapanku. Aku cinta kamu, aku sayang kamu dan kamu mau kah kembali menjadi kekasihku? Mau kah kembali mengisi hati dan hariku? Aku cinta kamu Cika” ungkap Fero dengan sungguh-sungguh, ia berusaha melawan degupan jantungnya yang begitu kencang.
Cika tercengang mendengar ungkapan Fero, ia terharu dan ia tidak tahu kata apa yang harus ia ucapkan untuk membalas ungkapan Fero.
“Cika?” panggil Fero karena Cika hanya diam saja.
“Eh iya saya” Cika kaget saat Fero memanggilnya dan hal tersebut membuat Fero terkekeh.
“Saya Cika Anastasya Hermanto menerima pernyataan cinta kamu” jawab Cika tegas, ya seperti itulah dirinya.
Cika seorang gadis yang polos dan tegas. Tidak centil dan terkesan manja pada orang yang dekat dengannya. Cika yang merupakan anak satu-satunya begitu dimanjakan dan selalu dibuat seolah dia masihlah putri kecil bapak dan ibunya, makanya sifatnya seperti itu. Dan karena ia anak tentara, sifat tegas juga tertanam di dirinya.
“Ja..jadi kamu menerimaku Cik?” tanya Fero masih belum percaya.
“Iya, cepatlah tidak usah terkejut dan drama gitu. Aku sudah ingin sekali bermain itu” ucap Cika membuat Fero mengeratkan pelukannya.
“Sakit Ro, kamu mau bunuh aku?” tuduh Cika.
“Eh maaf sayang, makasih banyak sudah menerima aku. Ayo kita main” ajak Fero.
Fero melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Cika ke mainan jungkat-jungkit itu. Keduanya terlihat seperti dua remaja yang baru saja merasakan jatuh cinta. Mereka bermain jungkat-jungkit dengan penuh canda tawa.
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...
__ADS_1