
"Perfect," ucap Marsya setelah memoles lipstik di bibirnya.
Ia pun mengambil tas dan langsung keluar dari kamarnya. Ia sudah meminta Tristan untuk menunggunya di kafe rahasia milik Tristan yang kini sudah diketahui oleh Marsya. Dengan perasaan membuncah Marsya menuruni anak tangga, ia berharap pertemuannya dengan Tristan kali ini tidak akan membuatnya kecewa.
Setelah kejadian kemarin malam di restoran, Tristan sama sekali tidak menghubunginya. Namun setelah ia memaksa baru akhirnya Tristan setuju untuk bertemu dan mereka akan makan malam di kafe tersebut. Marsya sudah bertekad untuk membahas masalah pertunangan mereka, dan apabila Tristan menolak atau menundanya lagi maka ia tidak segan-segan untuk memaksakan kehendaknya kali ini.
"Sudah cukup gue bersabar dan menunggu selama ini, kali ini kau harus berkata iya Tris," ucap Marsya, kemudian ia menekan kunci mobilnya, dan langsung membuka pintu mobilnya dan bergegas masuk.
"Baiklah, Marsya. Mari kita taklukkan si pria keras kepala dan berhati dingin itu. Gunakan saja jurus paling ampuh untuk membuatnya berkata iya," tekad Marsya.
Marsya pun mengemudikan mobilnya, meninggalkan pekarangan rumahnya dan melaju dengan santai di atas aspal jalan raya. Sesekali ia bersenandung mengikuti lagu yang ia putar dari mobilnya. Suasana hatinya cukup senang sehingga ia tidak memusingkan saat macet sedikit menghalangi jalan dan menunda waktunya untuk bertemu pria pujaan hatinya tersebut.
Berbeda dengan Marsya, Tristan saat ini justru sedang melamun di dalam ruangan kecilnya di dalam kafenya tersebut. Tempat dimana ia selalu merenungi kehidupannya, melepas penatnya dan jadi pusat tempat dimana ia mengontrol bisnisnya yang lain. Ia sama sekali tidak menunggu kedatangan Marsya, ia hanya tidak ingin menambah masalahnya dengan Marsya sehingga ia setuju saja saat Marsya mengajaknya untuk bertemu.
"Haahh ...," helaan napas itu dari tadi terus terdengar di dalam ruangan, tidak ada sepatah katapun setelah tadi ia menjawab telepon dari Marsya.
Semenjak kejadian malam itu, ia tidak berhenti merutuki kebodohannya yang sudah menghina Qania, menghina seorang perempuan yang mana hal tersebut sangat ia hindari namun naas justru itu malah terjadi dan juga malah berbalik membuatnya dipermalukan di depan banyak orang.
"Qania maafin saya," gumam Tristan.
Setelah menuturkan kalimat tersebut mata Tristan terbelalak.
"Oh ****! Kenapa gue terus saja memikirkan wanita gila yang nyata-nyata sudah membuat gue malu di depan banyak orang. Come on Tristan, jangan jadi pria bodoh. Bersikaplah seperti biasanya, lupakan kejadian itu dan lupakan saja kalau wanita gila itu pernah bertemu dengan Lo dan anggap saja Lo nggak pernah tahu dan kenal dengan wanita itu," bujuk Tristan pada dirinya sendiri.
Tristan menghembuskan napas beberapa kali, ia berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak merasa bersalah lagi kepada Qania. Ia pun tak sengaja melirik jam dinding yang ada di dalam ruangannya.
"Eh, Marsya belum juga sampai rupanya. Mungkin dia terjebak Macet," gumam Tristan.
"Sebenarnya apa yang ingin dibahas oleh Marsya? Tapi emang gue yang salah karena sudah mendiamkannya dari kemarin malam, satu hal yang nggak pernah gue lakuin selama ini. Argghh, kenapa justru gue melampiaskannya kepada Marsya yang nggak salah apa-apa? Semoga dia mau maafin kesalahan gue dan nggak marah atau merajuk. Dan jangan sampai dia memutuskan hubungan kami karena seringnya gue buat dia kecewa dan parahnya kali ini gue sama sekali nggak minta maaf kepadanya ...."
Tristan terdiam setelah mengatakan kata minta maaf, ia tersadar bahwa ia sama sekali belum meminta maaf kepada Marsya. Dan satu hal yang juga membuatnya bertanya-tanya, kenapa ia bisa lupa akan Marsya, padahal selama ini tidak sekalipun Tristan melewatkan hari tanpa menemui atau pun menghubungi kekasihnya itu.
"Ada yang aneh dengan diri gue," gumamnya.
Lama Tristan merenung dan mencoba mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya sampai akhirnya lamunannya terhenti begitu manegernya mengetuk pintu ruangannya.
"Siapa?" Tanya Tristan.
"Maaf Pak, di luar ada nona Marsya," sahut maneger tersebut dari luar.
"Suruh dia langsung ke ruanganku," titahnya.
Maneger tersebut bergegas untuk keluar dan mengajak Marsya berjalan menuju ke ruangan Tristan.
"Silahkan nona, pak Tristan menunggu anda di dalam," ucapnya sembari membukakan pintu untuk Marsya.
Marsya hanya menjawab dengan senyuman, kemudian ia berbalik menatap pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menatap laptopnya dengan serius. Marsya masuk setelah menutup kembali pintu, ia melangkah dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
__ADS_1
"Tris, kau sibuk sekali. Bahkan kau mengacuhkan aku yang baru datang. Kau tidak ingin menyuruhku duduk atau ...." Protes Marsya namun raut wajahnya sama sekali tidak menggambarkan kalau ia sedang marah.
Tristan menutup laptopnya, kemudian ia mendongak untuk menatap Marsya yang sedang berdiri di sebelah meja kerjanya. Ia pun tersenyum manis kepada Marsya, berusaha menutupi kebohongannya yang sebenarnya ia tidak sibuk dengan laptopnya sama sekali, bahkan ia belum memeriksa pekerjaannya karena sibuk merenungi sikapnya pada Qania. Ia hanya berpura-pura saja mengutak-atik laptopnya padahal ia sama sekali tidak mengerjakan sesuatu.
"Kau sudah datang sayang, maaf aku tidak menyambutmu. Pekerjaanku sangat banyak ditambah lagi pekerjaan proyek jalan yang Papamu berikan kepadaku," ucap Tristan dengan ekspresi wajah semeyakinkan mungkin.
"Hihihi, mungkin Papa ingin menyiksamu sayang," ledek Marsya.
"Hmm, sepertinya begitu. Dan apakah kau ingin berdiri saja disitu? Kau tidak ingin duduk di sofa saja?" Tanya Tristan.
"Aku ingin tapi aku masih menunggu pemilik tempat ini menyuruhkuh," sindir Marsya.
"Ya sudah ayo kita duduk di sana," ucap Tristan seraya berdiri, ia berjalan beriringan dengan Marsya menuju ke sofa yang ada di dalam ruangannya.
"Mau makan apa, hm?" Tanya Tristan.
"Makanan paling enak disini," jawab Marsya.
"Ya sudah aku keluar dulu untuk memesankan makanan untuk kita berdua," ucap Tristan.
Setelah diangguki oleh Marsya, Tristan bergegas keluar untuk memesan makanan yang diminta oleh Marsya dan juga pesanan makanan untuk dirinya sendiri.
"Tristan masih begitu manis kepadaku, dia bahkan melayani aku dengan baik. Mungkin dia hanya sedang sibuk dengan pekerjaannya yang begitu banyak sehingga tidak sengaja mengabaikanku," ucap Marsya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi ruangan.
"Menarik. Kafe ini sangat menarik dan bagaimana bisa Tristan merahasiakan tempat ini dariku?" Tanya Marsya pada dirinya sendiri.
"Beberapa menit lagi makanan kita akan siap," ucap Tristan setelah ikut duduk di samping Marsya.
Marsya mengangguk. "Oh ya sayang, kamu kenapa nggak ngomong ke aku kalau kamu pemilik kafe ini?" Tanya Marsya yang sudah lama sangat penasaran.
"Aku bukannya nggak mau ceritain soal kafe ini, aku hanya belum sempat aja ngasih tahu ke kamu Sya. Kamu tahu sendiri waktu kita begitu terbatas dan kalau kita jalan berdua kita nggak ngebahas masalah pekerjaan," jawab Tristan.
"Iya juga sih," ucap Marsya membenarkan.
"Tris ...." Panggil Marsya ragu-ragu, ia ingin membahas masalah hubungannya dengan Tristan.
"Iya," sahut Tristan kemudian menatap Marsya.
"Aku ingin membahas tentang hubungan kita Tris," ucap Marsya pelan.
"Kita akan membahasnya setelah makan malam. Aku rasa kamu nggak lupa dengan kebiasaanku untuk makan dulu sebelum membahas sesuatu," ucap Tristan dingin.
"Ya," lirih Marsya.
Tak lama kemudian pintu ruangan diketuk dan Tristan langsung membukakan pintunya dan mempersilahkan pelayannya untuk meletakkan makanan di atas meja.
Setelah melakukan tugasnya kedua pelayan tersebut pun keluar dan tidak lupa kembali menutup pintu ruangan boss mereka.
__ADS_1
"Makanlah," ucap Tristan datar.
Marsya merasa sesak di dadanya namun ia tetap menuruti perintah Tristan, ia pun mengambil makanannya dan keduanya makan dalam diam.
Setelah menghabiskan makanan tanpa sepatah kata pun, Tristan akhirnya mencoba mengajak Marsya bicara dengan baik. Ia tahu tadi kekasihnya itu sedikit sakit hati dengan ucapannya yang cukup menohok.
"Nah, karena makanannya udah habis, mari kita membahas masalah yang ingin kau bicarakan tadi Sya," ucap Tristan dengan lembut dan tak lupa ia juga tersenyum manis kepada Marsya.
Meskipun sedikit terkejut dengan sikap Tristan yang tiba-tiba melembut, Marsya tetap menganggukkan kepalanya. Marsya memang adalah sosok yang sangat penurut dengan apa yang diucapkan oleh Tristan dan itulah yang selalu membuat Tristan tak tega dan semakin menyayanginya.
"Tris, aku hanya ingin memperjelas ikatan hubungan diantara kita berdua. Aku ingin kejelasan Tris, bukankah malam itu kau mengatakan ingin bertunangan denganku? Hanya saja karena insiden waktu itu maka rencana manis itu gagal total, bukan?" Tanya Marsya yang sudah memantapkan hatinya. Ia terus meremas ujung bajunya, ia sedikit takut membahas masalah ini, namun lebih tepatnya ia khawatir akan di tolak.
"Kau ini kenapa Marsya? Sudah pasti kita akan bertunangan. Hanya saja belum sekarang, tunggu aku menyelesaikan proyek jalan dari Papamu ya, kita akan secepatnya bertunangan," ucap Tristan yang mana membuat hati Marsya begitu lega.
'Dan entah mengapa gue nggak ingin proyek itu cepat selesai,' batin Tristan.
"Ak-aku pikir kau akan melupakan rencana itu, Tris," ucap Marsya yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Sya," ucap Tristan dengan lembut, namun jika Marsya memperhatikan kedua mata Tristan maka ia akan menemukan kegelisahan disana. Tapi sayangnya karena terlalu bahagia ia tidak memperdulikan hal lain lagi.
"Iya Tris, maaf ya," ucap Marsya.
Tristan berdehem untuk menjawab ucapan permintaan maaf dari Marsya.
"Ya udah yuk pulang," ajak Marsya.
"Pu-pulang? Jadi kau jauh-jauh datang kesini hanya untuk menanyakan itu, lalu pergi?" Tanya Tristan sedikit terkejut.
"Hehehe ... dan untuk sekedar melihat wajah tampan kekasihku ini," tawa Marsya.
"Dasar gadis nakal."
"Ya udah yuk pulang, Tris."
"Kamu pulang aja dulu ya, Sya. Pekerjaanku masih sangat banyak," tolak Tristan halus.
"Hmmm ... baiklah. Tapi anterin aku ke depan," pinta Marsya.
"Tentu."
Marsya dan Tristan pun berjalan keluar dan Tristan kembali masuk setelah mobil Marsya meninggalkan halam kafenya.
Tristan kembali duduk di kursi kerjanya sembari meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya.
"Maaf Sya, aku nggak maksud untuk mengulur waktu. Hanya saja aku perlu tahu penyebab kenapa aku bisa merasa tidak ingin mengikatmu dengan hubungan yang lebih serius lagi," gumam Tristan dengan mata terpejam.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗