
Arkana saat ini sedang senyam-senyum melihat Qania yang lahap memakan bakso setelah dirinya di berikan perawatan dari Qania karena lukanya.
Flash back on…
Arkana menelepon Qania saat dirinya sudah sampai di dekat rumah Qania. Ia memantau dari jauh dan melihat pak Roni sedang mengobrol dengan satpam di rumah Elin.
“Kamu lewat belakang aja sayang, kamu manjat tembok pagar rumahku. Nanti aku bakalan kasih tali buat naik ke kamarku”,.
Begitulah perintah Qania yang membuat Arkana tertawa masam, masa iya dia harus seperti itu untuk menemui Qania. Namun akhirnya ia menuruti juga keinginan Qania dan mulai memanjat tembok di belakang rumah Qania yang jalannya menuju ke kebun kecil milik orang tua Qania itu.
Setelah sampai di seberang, Arkana langsung menghubungi Qania lewat pesan. Tak lama berselang, lampu di balkon kamar Qania menyala dan nampak Qania keluar sambil memegang banyak kain. Qania memberi kode pada Arkana agar mendekat, kemudian Qania mengikat kain yang sudah ia sambung-sambung itu ke pagar balkonnya dan menjatuhkannya ke bawah.
Arkana mengikatkan bungkusan bakso itu pada kain yang sudah Qania berikan dan meminta Qania untuk menariknya lebih dahulu. Setelah Qania berhasil mendapatkan bakso tersebut, ia melenggang masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan Arkana yang saat ini tengah kesulitan memenjat dengan memegangi kain.
Arkana masuk ke kamar Qania dan melihat disana Qania sudah mempersiapkan baksonya di baskom yang dari tadi sudah ia persiapkan memang.
“Ckckck, suami dicuekin” sindir Arkana yang kemudian duduk di samping Qania.
“Hehe, makasih sayang” kekeh Qania.
Cup…
Qania dengan cepat mencium bibir Arkana bahkan Arkana saja terkejut dibuatnya.
“Sayang ulang” rengek Arkana.
“Nggak ada, aku mau makan dulu. Sebaiknya kamu tidur gih sana” ucap Qania sambil menunjuk tempat tidurnya tapi matanya menatap lapar pada bakso yang sedang ia aduk-aduk itu.
“Beneran aku tidur disini?” tanya Arkana menahan rasa senangnya.
“Iya, tapi jangan macam-macam. Kita nikahnya bentar lagi” tegas Qania kemudian menyendok satu suapan bakso ke mulutnya, “wah sangat enak” pekiknya girang
“Hanya satu macam kok sayang. Baksonya enak ya? Aku tadi beli tiga porsi loh, dua buat kamu dan satu buat aku. Suapin” ucap Arkana sambil membuka mulutnya”.
“Aaaaa”,.
Qania menyuapi Arkana dengan bersemangat, namun baru saja Arkana akan mengunyah daging bulat itu ia malah meringis kesakitan.
“Awwwhhh” ringis Arkaana sambil memegangi sudut bibirnya.
Qania yang tengah menikmati makanannya itu langsung menoleh dan melihat Arkana yang tengah memegangi sudut bibirnya. Qania terkejut karena disana ternyata ada memar dan bekas darah yang sudah mengerik. Sontak saja Qania langsung menjatuhkan sendoknya tapi untung saja jatuhnya masi di kaki Qania sehingga tidak menimbulkan keributan.
“Astagfirullah sayang, kau kenapa sampai luka seperti ini?” pekik Qania cemas.
“Ini demi baksomu, tadi aku melawan preman yang hendak memalak uang penjual bakso itu” jawab Arkana dengan nada penuh belas kasihan.
Hal yang tak pernah di duga Arkana, Qania malah menagis tersedu-sedu sambil memegangi pipi Arkana membuat Arkana jadi bingung apakah kekasihnya ini akan marah atau sedang iba padanya.
“Kemarikan wajahmu” pinta Qania yang masih sesenggukan.
Arkana pun mendekatkan wajahnya dan Qania langsung menghujani ciuman di seluruh wajah Arkana. Qania juga menciumi berkali-kali memar di wajah Arkana itu. saat Qania kan mencium sudut bibir itu lagi, dengan cepat Arkana menggeser kepalanya dan alhasil keduanya pun malah berciuman dan Arkana langsung *****@* bibir Qania, mengabsen seluruh bagian di dalam mulut Qania dengan lidahnya hingga keduanya kehabisan pasokan udara di dalam tubuh mereka barulah ciuman itu berakhir.
“Hah, hah, kau gila” ucap Qania yang masih terengah-engah.
“Terima kasih untuk pujianmu sayang” kekeh Arkana kemudian menarik tengguk Qania dan mengecup setiap inci di wajah Qania dan meletakkan bibirnya cukup lama di dahi Qania.
“Rindukan aku jika tidak bersamamu” ucap Arkana setelah menyudahi acar cium-ciumannya.
“Tentu saja” ucap Qania kemudian menghambur ke pelukan Arkana.
Setelah beromantisan ria, Arkana menyuruh Qania untuk kembali makan agar baksonya tidak keburu dingin. Sesekali Qania menyuapi Arkana juga.
__ADS_1
Flash back off…
Qania dan Arkana saat ini tengah berbaring di atas tempat tidur Qania sambil saling memandang. Arkana yang melihat wajah teduh Qania menjadi tidak tega untuk meniduri kekasihnya itu, ia hanya mencium tangan Qania dari tadi yang ia genggam itu.
“Sayang, jika kau mengecewakanmu apa kau akan mencari penggantiku?” tanya Arkana memecah kebisuan diantara mereka.
“Kenapa?” tanya Qania.
“Jawab saja”,.
“Kenapa bertanya seperti itu?” selidik Qania, “Apa kau ingin mengkhianatiku?” tandas Qania.
“Tentu saja tidak, hanya kau satu-satunya gadis yang yang kucintai seumur hidupku, sampai aku menutup mata” janji Arkana membuat Qania terharu dan langsung memeluk Arkana.
“Aku tidak akan menggantikanmu dengan siapapun kecuali itu duplikat dirimu” jawab Qania tegas.
Cup…
Arkana mengecup kening Qania dengan lembut dan mesra.
“Tidurlah, aku akan menemanimu” bisik Arkana.
Qania mengangguk dan langsung berbaring menyamping dan Arkana memeluk Qania dari belakang.
*
*
Sudah tiga malam berturut-turut Arkana menginap di kamar Qania dengan menyelinap dan pulang diwaktu Qania sudah tertidur lelap sekitaran pukul tiga subuh. Arkana selalu mengecup seluruh wajah Qania dan perut Qania juga yang entah mengapa ia sangat suka menciumi perut putih mulus milik Qania itu sebelum ia pulang.
Arkana juga selalu siaga dua puluh empat jam jika Qania sedang menagiskan sesuatu. Ia bahkan sampai meminta nomor telepon pak Manto agar supaya bisa memesan bakso kapan saja.
Setelah malam pertama Arkana menginap di kamar Qania itu, malam berikutnya Arkana menolak dan hasilnya Qania tidak ingin bicara padanya selama dua hari.
Itulah bahasa yang selalu dikeluarkan oleh Qania selama dia merajuk dua hari. Dan akhirnya Arkana pun menyetujuinya, padahal pernikahan mereka tinggal lima hari lagi.
*
*
Arkana meninggalkan Qania yang sedang duduk di sofa bersama Fero sambil menikmati jus alpukatnya. Biasanya Qania paling suka jus mangga tapi sudah hampir sebulan ini ia selalu mengonsumsi jus alpukat setiap hari. Arkana mendapat telepon dari Rizal yang mengatakan bahwa ada yang menantang Arkana balapan malam ini.
“Oh jadi ada yang menantangmu balapan” ucapan Qania mengagetkan Arkana yang tengah berbicara sambil berbisik-bisik di telepon di dalam ruangannya.
“Sayang, sejak kapan kau disini?” tanya Arkana gugup.
“Sudahlah tidak perlu, sekarang cepat katakana pada Rizal kalau kau setuju ikut balapan” ujar Qania.
“APPPAAAA?”,.
“Sayang kau mau memecahkan gendang telingaku hah?” ketus Qania.
“Apa kau tidak salah bicara sayang?” tanya Arkana dongkol.
“Tidak, tapi aku ikut ya, please…” rengek Qania sambil mengguncang-guncangkan lengan Arkana.
“Sayang kau tahu kan itu berbahaya” Arkana menekankan setiap kata-katanya.
“Aku tahu, karena itu berbahaya aku sangat ingin mencobanya. Ayolah sayang, aku sangat ingin merasakan balapan bersamamu. Aku yakin kau akan menjaga keselamatanku, kan?” rengek Qania tapi kali ini dengan air mata yang membuat Arkana tidak tega.
‘Kau memang benar juniorku’,.
Arkana bingung harus marah, gemas atau lucu dengan keinginan Qania ini. Pantas saja dari dua hari yang lalu ia selalu meminta Arkana untuk membawanya kebut-kebutan di jalan dengan menaiki motor balap Arkana.
“Ya sudah Zal, aku setuju. Aku akan kesana sekarang” ucap Arkana pada Rizal di telepon kemudian memutus panggilan tersebut.
__ADS_1
“Sudah puas nyonya?”,.
“Sangat puas daddy” kekeh Qania kemudian menggandeng tangan Arkana lalu mereka keluar dari ruangan itu dan bergegas meninggalkan kafe setelah berpamitan dengan Fero.
Dan disini lah Qania dan Arkana, di taman tempat biasa Arkana mengikuti balapan liar. Semua mata memandang ke arah Arkana yang membawa boncengan di garis start balapan sementara Qania cuek saja dan terus tersenyum senang karena ia bisa merasakan balapan bersama Arkana.
“Kita harus menang sayang” bisik Qania dengan sangat bersemangat.
Arkana menyeringai, setelah peluit panjang dibunyikan dan bendera di kibarkan Arkana langsung menarik gasnya dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Qania yang diboncengi itu berteriak heboh sambil terus menyuruh Arkana menambah kecepatan motornya. Arkana menurut saja sambil tersenyum dengan celotehan Qania di belakangnya.
“Sial, dia membawa Qania bersamanya. Apa dia tahu kalau gue yang merencanakan balapan ini? Arghh gue jadi nggak bisa bunuh dia sekarang dan menggantikannya di pelaminan” umpat Juna saat melihat Arkana datang bersama Qania dan bahkan mengajak Qania balapan.
Kembali ke aspal, Arkana dan Qania saat ini sudah sangat dekat dengan garis finish dan tentu saja Qania terus berteriak heboh bahkan Rizal saja sampai geleng-geleng kepala karena suara teriakan Qania itu sangat besar dan terdengar oleh mereka.
Pria yang menjadi rival Arkana itu tadinya diminta untuk melukai Arkana namun karena Juna melihat keberadaan Qania, maka ia menggagalkan rencananya dan hasilnya pria itu hanya balapan biasa dengan Arkana tanpa melukai Arkana.
“Yeeeyyyy kita menang” teriak Qania yang sudah berdiri di atas motor.
“Sayang hati-hati, itu bahaya” tegur Arkana dan Qania langsung duduk kembali.
Arkana menepikan motornya dan turun bersama Qania untuk bergabung bersama rekan-rekannya. Lutfi yang menjadi rival Arkana langsung datang dan bersalaman dengan Arkana sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat berisi sepuluh juta yang merupakan perjanjian jika ia kalah balapan.
Arkana menyambutnya dan kemudian Lutfi berpamitan begitu pun dengan Juna yang juga pergi dari tempat pengintaiannya dari tadi dengan hati kesal.
“Teman-teman uangnya buat kalian saja, gue mau nganterin bini gue pulang dulu. Besok dia mau wisudahan” ucap Arkana kemudian menyalakan mesin motornya dan meninggalkan taman tersebut.
Sesampainya di rumah Qania, Arkana langsung menahannya untuk turun dari motor.
“Sayang, bisakah malam ini aku tidur bersamamu?” tanya Arkana serius sambil menatap lekat mata Qania.
Qania tersenyum lembut, matanya juga mulai berkaca-kaca mendengar pertanyaan Arkana.
“Sudah tiga malam kita tidur bersama, mengapa malam ini tidak. Aku akan sangat senang jika bisa tidur bersamamu, maafkan aku. Harusnya kita ti..”,.
“Sssttt, biarkan saja. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan orang banyak” potong Arkana, ia meletakkan jari telunjuknya di bibir Qania.
Keduanya saling menatap, hanya mata mereka yang saling berbicara.
“Sayang kamu masuk dan aku bakalan datang lagi lewat tempat biasa” ucap Arkana sambil memeluk Qania.
Qania membalas pelukan Arkana dengan erat, sampai mereka tidak sadar kalau mama Qania sedang mengamati mereka dari ambang pintu.
“Ck,ck,ck, pernikahan empat hari lagi masih saja menempel. Harusnya kalian itu sudah dipingit, pamali calon pengantin bertemu terus seperti ini” decak Alisha.
Qania dan Arkana melepaskan pelukan mereka kemudian turun dari motor dengan wajah memerah menahan malu. Keduanya pun berjalan ke arah mama cantik itu sambil bergandengan tangan.
“Ya ampun nggak aka nada kendaraan yang bakalan nabrak kalian, emang kalian mau nyebrang sampai tuh tangan gandengan terus kayak truk” ledek Alisha membuat mereka bertiga tertawa.
“Mama, Arka pulang dulu ya. Tolong jagain Qania buat Arka ya ma. Jangan buat dia menangis dan jangan buat dia kesal. Aku akan marah loh kalau Qania sampai sedih, janji ya ma” ucap Arkana membuat Qania dan mamanya melongo.
“Iya iya mama jagain. Kamu juga jaga diri dan cepatlah pulang dan jangan lupa besok acara wisudahan Qania, jangan sampai nggak datang nanti anaknya ngambek” ledek Alisha membuat Qania mengerucutkan bibirnya dan Arkana terkekeh.
“Ya sudah Arka pamit ya ma, assalamu’alaikum” ucapnya kemudian mencium tangan Alisha.
“Wa’alaikum salam” balas Alisha dan Qania bersamaan.
“Aku balik ya sayang” ucap Arkana kemudian mengelus rambut Qania dengan sayang.
Setelah Arkana pergi, Qania dan mamanya masuk. Belum lama mereka berada di dalam rumah, papa Qania pun sampai juga di rumah.
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
Terima kasih sudah membaca 😊😊😊
__ADS_1