
Qania memasukkan bunga tersebut kedalam tasnya dan bergegas keluar kelas bersama Yani. Saat mereka berada di depan ruang kelas ada seorang mahasiswi yang mendekati Qania lalu menyodorkan setangkai bunga mawar putih lagi.
"Qania maafin ya, katanya dia cinta kamu" ucap mahasiswi tersebut sambil menyodorkan bunganya.
"Ini dari siapa?" tanya Qania sambil meraih bunga tersebut.
Namun yang ditanya hanya tersenyum dan pergi begitu saja.
"Hei tungguu..." teriak Qania, namun lagi-lagi tidak dipedulikan.
Sepanjang perjalanan Qania terus mendapatkan bunga mawar putih baik dari mahasiswa maupun mahasiswi. Ucapan yang mereka berikan juga sama, "Qania maafin ya, katanya dia cinta kamu".
"Oke fix ini udah nggak benar ya, udah hampir lima puluh tangkai bunga mawar putih dan hampir lima puluh ucapan yang sama dari mereka. Ini kerjaan siapa sih?" kesal Qania.
"Aku juga jadi penasaran Qan" sambung Yani.
"Nggak ada satu pun dari mereka yang mau ngasih tahu siapa yang nyuruh mereka, sial" umpat Qania.
"Kita keluar aja yuk Qan, mungkin saja diluar sana kita bisa nemuin jawabannya" usul Yani.
"Semoga aja Yan, yuk" ucap Qania sambil memegang puluhan bungan mawar putih itu.
Keduanya berjalan kearah parkiran, mereka sangat terkejut karena melihat banyak mahasiswa dan mahasiswi berbaris memegangi bunga mawar putih di kedua tangan mereka. Qania dan Yani menghentikan langkahnya karena semakin bingung dengan situasi tersebut.
Sekitar sepuluh orang yang berbaris memanjang kesamping itu menghampiri Qania dan memberikan bunga mawar tersebut dan masih dengan ucapan yang sama.
"Maafin ya Qania, dia cinta kamu katanya" ucap mereka serentak kemudian pergi berlalu.
Tidak hanya itu, setelah mereka berlalu ternyata masih ada delapan orang di belakang mereka yang berbaris memanjang sambil memegang spanduk bertuliskan.
"QANIA SALSABILA AKU MINTA MAAF, AKU CINTA KAMU"
Qania semakin penasaran dan juga malu karena sudah menjadi pusat perhatian bahkan ada beberapa dosen dan staf kampus yang menyaksikan hal tersebut, dan ada pula yang mengabadikan momen tersebut.
Kemudian kedelapan orang tersebut pergi dan ternyata masih ada lima orang lagi di belakang mereka yang memegang bunga mawar putih. Kemudian kelima orang tersebut berjalan satu per satu mendekati Qania, hingga terlihat seorang pria yang memakai kaca mata hitam, jaket jeans, dan celana panjang jeans hitam yang tidak lain adalah Arkana.
"Arkana" ucap Qania sambil menjatuhkan puluhan bunga di tangannya.
Arkana berjalan mendekati Qania dengan membawa sebuket bunga mawar putih yang sudah ditata rapih dan cantik. Arkana mendekati Qania dan berhenti tepat di depan gadisnya kemudian ia berlutut.
"Qania Salsabila, maafin aku. Aku tahu aku salah, hukum aku sepuasmu. Tapi jangan tinggalkan aku, aku cinta kamu" ucap Arkana dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Qania bingung harus mengatakan apa, dalam hatinya sebenarnya ia sudah meleleh dengan keromantisan Arkana namun pikirannya yang egois seolah berkata "apaan sih, norak tahu", hehehe dasar Qania.
"Kamu berdiri dong, jangan buat aku malu" tutur Qania mengalihkan.
"Tidak sebelum kamu maafin aku dan janji nggak akan ninggalin aku" tandas Arkana.
"Dasar Arkana, dia memang paling bisa kalau soal memaksa" gerutu Qania dalam hati.
"Kamu ambil bunga ini jika iya dan kamu boleh pergi jika tidak" ucap Arkana memberi pilihan.
"Maafin dooong" teriak mereka yang ada disana.
"Uuh so sweet bangeet" teriak yang lainnya.
Karena sudah merasa jadi bahan tontonan gratis, Qania langsung mengambil bunga tersebut dan membuat Arkana langsung berdiri kegirangan, padahal Qania sebenarnya masih belum bisa memaafkan Arkana.
"Aku rasanya ingin meluk kamu tapi aku sadar ini area kampus, nggak akan baik untuk nilai dan citra kamu disini" bisik Arkana.
"Syukurlah kalau kamu sadar" ketus Qania.
"Aku tahu kamu masih marah sebenarnya, aku hutang penjelasan sama kamu. Sebaiknya kamu ikut aku sekarang, aku akan jawab apapun yang akan kamu tanyakan" ajak Arkana sambil menarik lembut tangan Qania.
"Tapi..." Qania ingin menolak namun Arkana langsung memotong pembicaraannya.
"Oh dia ngambil kesempatan lewat mama papa rupanya, dia memang punya seribu satu cara. Arkana sialan" maki Qania dalam hati.
"Aku tahu aku memang punya banyak cara" ledek Arkana seolah membaca pikiran Qania.
"Apa dia bisa baca pikiran ya?" pikir Qania yang merasa heran mengapa Arkana seolah tahu isi pikirannya.
"Aku nggak bisa baca pikiran sayang" sambung Arkana.
"Arkanaaaaaaa" teriak Qania kesal namun Arkana justru tertawa melihat ekspresi kesal Qania.
"Duh seolah dunia milik berdua, gue nyamuk kali ya" sindir Yani yang sedari tadi melihat keduanya beromantis ria.
"Eh Yani nggak kok" sanggah Qania.
"Maaf ya, oh iya sebagai gantinya kamu boleh ajak teman sekelas buat makan di kafe ntar malam dan semua makanan gratis" ucap Arkana.
"Serius Ar?" tanya Yani yang terkejut bercampur senang.
__ADS_1
"Tentu, tapi gue minjam Qania dulu ya. Lo nggak apa kan pulang sendirian?" tanya Arkana.
"Nggak apa kok" jawab Yani senyum.
"Berarti kita bakalan makan-makan dong nanti malam"teriak Baron dari belakang dan berjalan mendekati mereka bertiga.
Ternyata sedari tadi teman-teman sekelas Qania juga menyaksikan drama pasangan tersebut dari belakang. Mereka semua mendekati Qania, Yani dan Arkana.
"Tentu" jawab Arkana serius.
"Wah pacar kamu baik banget Qan" ucap Baron.
"Iya nih" sambung Imran.
"Nanti malam jam delapan ya guys" sambung Yani.
"Oke" jawab mereka serempak.
"Kalau begitu gue sama Qania duluan ya" pamit Arkana.
"Hati-hati ya, jagain Qania" ucap Rey.
"Pasti" jawab Arkana.
"Pamit ya guys" ucap Qania yang tengah kesal dan juga malu.
"Da..." ucap mereka.
Qania dan Arkana berjalan menuju kearah mobil Arkana, kemudian Arkana membukakan pintu dikursi penumpang dan Qania masuk kemudian diikuti oleh Arkana.
"Eh ada Rizal?" tanya Qania kaget saat melihat Rizal sudah duduk di kursi kemudi.
"Tentu tuan dan nyonya. Hari ini saya menjadi supir kalian, jadi kita akan kemana tuan?" tanya Rizal meledek.
"Ke rumah gue aja" ucap Arkana.
"Eh ngapain kesana?" tanya Qania heran.
"Aku belum sembuh total sayang, jadi kita di rumah aja" jawab Arkana.
"Oh iya" ucap Qania.
__ADS_1
"Baiklah kita berangkat" ucap Rizal kemudian melajukan mobil tersebut dengan kecepatan sedang.
_______