Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Proyek Menjaga Tunangan


__ADS_3

Qania seakan tidak percaya dengan cerita Arkana tentang kebusukan Fadly, ia menjadi sangat kasihan kepada sahabatnya yang memilih setia dan berusaha menekan perasaannya agar tidak jatuh hati pada saudaranya Prayoga. Qania bahkan meneteskan air mata, ia tidak menyangka kejadiannya kembali terulang pada sahabatnya itu.


Arkana yang melihat raut kesedihan dan air mata di wajah kekasihnya itu langsung mendekap tubuh Qania untuk memberikan semangat kepada kekasihnya.


“Aku harus kasih tahu Elin sayang, harus” ucap Qania penuh penekanan.


“Sayang, aku bukannya ingin halangi kamu ya tapi kamu ingat ini kalian lagi jauh dari kota dan bagaimana perasaan Elin jika tahu soal ini. Apa kamu nggak mikirin kalau sampai dia stress dan nekad untuk nyusul Fadly ke kota? Aku lebih memilih diam dan membiarkan Elin tahu dengan sendirinya. Kamu juga bisa bantuin dia biar dekat dengan Yoga atau Yoga yang kamu bantuin buat dekatin si Elin” usul Arkana.


“Kenapa Yoga?” Tanya Qania mendongakkan kepalanya menatap Arkana yang juga menatapnya.


Cup..


Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Qania membuat pipinya merona.


“Kenapa tanya aku, bukannya kamu paling tahu siapa Yoga?” Arkana membalikkan pertanyaan Qania.


Qania menyeringai, ia sangat tahu seperti apa Prayoga dan ia pun setuju dengan rencana Arkana. Ia tidak ingin sahabatnya itu bersedih karena ia merasa ia turut andil dalam kesedihan Elin nanti karena ia lah yang sudah mengenalkan mereka.


“Pulang yuk sayang, udah sore banget dan udah mau magrib. Kita kan mau malam mingguan bareng pasangan baru itu” ajak Arkana.


“Yuk”,.


Keduanya pun berjalan meninggalkan sungai itu, tanpa mereka ketahui ada seseorang yang sedari tadi mendengar percakapan mereka, orang itu pun menyeringai puas dan meninggalkan tempat itu.


 


Malam pun tiba, banyak warga yang berada di dekat rumah pak kadus turut hadir di acara bakar-bakar jagung itu. Awalnya hanya sekarung jagung yang di bawa oleh Arkana, tetapi karena Banyu sangat senang bisa jadian sama Manda akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke pusat desa untuk memborong sekarung jagung dan sekarung ubi jalar serta banyak ikan segar.


Semuanya terlihat sangat senang, mereka begitu menikmati acaea makan-makan itu dengan Abdi yang bergantian dengan Arkana memainkan gitar dan mereka pun juga turut bernyanyi.


Qania yang tidak ingin kehilangan momen ini pun juga terus mengabadikan lewat kameranya, sehingga Manda dan Elin begitu antusias untuk di foto. Dan lagi-lagi Prayoga harus menjadi korban Qania untuk menggantikannya mengambil gambar saat ia juga ingin di foto.


 


Sementara itu, di kediam dua pria bujang itu saat ini Denis tengah memperhatikan Juna yang terus bercermin sambil tersenyum, ia geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu.


“Lo kesurupan Jun?” cibir Denis sambil berjalan memasuki kamar itu.


“Gue udah ganteng nggak?” bukannya menjawab, ia malah balik bertanya membuat Denis semakin menggelengkan kepalanya.


“Lo mau kemana Jun?” Tanya Denis.


“Malam minggu, gue mau ngajalin Qania kencan mencari kunang-kunang” jawabnya masih terus tersenyum sambil memakai jam tangannya.


“Ck,ck,ck, terus lo mau ninggalin gue gitu?” Denis berkacak pinggang.


“Ya enggak lah, gue bakalan bawa lo tapi gue titip di rumah pak kadus. Di sana kan rame” jawabnya membuat Denis menyikutnya.


“Tega lo”,.


“Lah terus lo mau jadi nyamuk gitu?” Juna berjalan meninggalkan kamar diikuti oleh Denis yang langsung menutup pintu kamar tersebut.


“Ya enggak mau lah” tolaknya.


“Itu lo tahu diri, ya udah yuk” ajak Juna membuat Denis membuang napas kasar, mau tidak mau ia harus ikut.


*


*


Mobil Juna tidak bisa masuk ke halaman rumah pak kadus karena di halaman itu sangat ramai sehingga ia memutuskan untuk memarkir mobilnya di luar pagar pak kadus. Ia keluar bersama Denis, tak lupa ia juga langsung memasang senyum termanisnya sambil menyapa warga dan membalas sapaan warga.


“Qan, penggemar lo datang noh” bisik Elin.


Qania menoleh ke arah pandang Elin, ia memutar bola matanya jengah melihat Juna yang tengah tebar pesona kepada warga.


“Kita bakalan nonton pertunjukkan seru nih” bisik Raka kepada Baron yang juga melihat Juna datang.


“Maksud lo?” Tanya Baron yang sibuk membakar jagung.

__ADS_1


“Lo lihat noh penggemar Qania yang muka tembok itu datang”  ucap Raka sambil menunjuk ke arah Juna dengan dagunya.


Baron tersenyum masam melihat Juna yang tengah tebar pesona, entah mengapa ia merasa bahwa lelaki itu akan mengancam hubungan percintaan Qania dengan Arkana. Ia juga melirik Raka yang seolah cuek-cuek saja dan kembali membakar ubi.


‘Gue tahu lo bakalan merhatiin gue Ron, maaf gue harus menyembunyikan perasaan gue supaya gue nggak ngerusak apa yang sudah baik-baik saja’ lirih batin Raka.


Juna menghampiri pak kadus dan menyalaminya begitu pun dengan Denis, ia tidak jadi merasa kesal karena di sini sangat ramai dan juga ada acar bakar-bakar membuatnya antusias. Ia langsung bergabung bersama tim pak kadus yang tengah membakar ikan dan melupakan keberadaan Juna.


“Nak Juna silahkan bergabung, anak-anak lagi ngadain acara bakar-bakar” ajak pak kadus.


“Iya pak, terima kasih” jawabnya masih dengan senyum lebar namun matanya tak henti mencari keberadaan pujaan hatinya.


Mata Juna tak sengaja bertatapan dengan Qania yang tengah duduk di lantai teras bersama Elin dan Manda, ia langsung berpamitan pada pak kadus dan berjalan mendekati Qania.


Abdi dan Arkana yang berada di samping rumah pak kadus tidak melihat kedatangan Juna karena tempat mereka pencahayaannya kurang, begitu pun Juna yang tidak bisa melihat mereka dengan jelas sehingga ia dengan santainya berjalan ke arah Qania.


“Hallo Qania” sapa Juna dengan senyum sejuta watt di wajahnya.


“Hmm” balas Qania cuek.


“Eh guys gue ngambil jagung bakar dulu ya” ucap Manda kemudian berjalan ke arah Abdi dan Arkana.


“Di, si Juna datang” bisik Manda kepada Abdi kemudian pergi mendekati Banyu.


Abdi melirik ke arah Qania yang tengah duduk sambil menatap Juna yang tengah berdiri, ia tersenyum kecut melihat sikap Qania yang selalu saja cuek.


“Bro, tuh cewek lo lagi digombalin orang” ucap Abdi pelan sehingga Arkana menghentikan permainan gitarnya.


Arkana melirik Qania yang tengah menatap malas ke arah pria yang baru saja duduk di depannya itu, ia tidak berniat untuk mendekati mereka. Ia cukup mengintai saja dan melihat seperti apa sikap Qania saat ada pria menggodanya.


“Gue datang bawain cokelat buat lo” ucap Juna sembari menyodorkan dua bungkus cokelat yang diikat dengan pita berwarna merah muda.


“Makasih” ucap Qania sambil menerima cokelat itu membuat Juna tersenyum senang.


“Qan, malam mingguan yuk. Jalan-jalan ke desa sebelah, sekalian kita menangkap kunang-kunang” ajak Juna membuat Elin menahan tawanya.


‘Gila, udah gede kok ngajak nangkap kunang-kunang. Ya Allah kuatkan Felin, Felin nggak bisa nahan tawa’,.


“Nangkap kunang-kunang?” ulang Qania sambil mengernyit.


“Iya, kalau di kota kita bisa jalan-jalan keliling kota atau main ke taman, kafe, mall atau nonton bioskop, tapi ini kan di desa. Biasanya yang paling romantis itu kita nyari kunang-kunang dan nangkap terus masukin ke botol” ucap Juna mencetuskan idenya.


Arkana dan Abdi tergelak mendengar ajakan Juna, sementara Qania dan Elin berusaha untuk tidak tertawa.


“Gimana Qan?” Tanya Juna.


“Kamu aja deh” tolak Qania.


“Ya udah, gue disini aja deh nemanin elo” ucapnya sambil menatap malu-malu ke arah Qania.


Qania merasa risih dengan keberadaan Juna di dekatnya, ia menatap Arkana yang tengah menatapnya juga. Arkana mengerti sorot mata itu yang meminta bantuan, namun Arkana hanya mengangguk pelan dan meminta Qania untuk tenang.


“Qania” panggil Juna dengan lembut.


“Ya?”,.


“Lo kok nyuekin gue sih, bahkan lo nggak pernah ramah ke gue?” Tanya Juna.


“Oh, maaf kalau kamu merasa di cuekin. Aku hanya sedang mencoba menjaga hati seseorang yang tengah menjaga hatinya buat aku” jawab Qania.


“Maksud lo?” perasaan Juna menjadi resah, ia takut kalau ternyata yang dikatakan oleh Denis bahwa Qania sudah menikah itu benar.


“TIDAAAAKKKK…” jerit Juna membuat Qania dan Elin terkejut.


“Lo kenapa?” Tanya Elin kaget bercampur kesal.


“Eh sorry, gue Cuma lagi ada banyak pikiran” jawab Juna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


‘Ah bisa-bisanya gue kelepasan, sial’ umpat Juna.

__ADS_1


Sementara teman-teman Qania terkikik mendengar teriakan Juna dan itu membuat Denis merasa malu sebagai sahabat Juna. Tiba-tiba saja terbesit ide di pikiran Denis untuk membakar kepala Juna saja mengganti ikan-ikan yang ada di depannya itu.


“Kalau lagi banyak pikiran sebaiknya kamu istirahat atau nyari udara segar supaya pikiran kamu jadi fresh” celetuk Qania.


“Eh boleh deh, ayo” ajak Juna sumringah sambil menarik tangan Qania.


‘Bohong kalau gue bisa nahan diri. Gue Arkana Wijaya yang cemburunya over dosis, gue nggak bisa melihat tunangan gue di sentuh orang asing apalagi itu laki-kali’,.


Arkana berjalan mendekati Qania dan Juna, sementara teman-teman Qania sudah fokus melihat adegan itu. Denis yang heran melihat Ikhlas dan Witno yang tengah menatap ke teras pun ikut penasaran.


‘Kok gue kayak kenal sama laki-laki yang berjalan di belakang Juna?’ pikir Denis.


“Ekhmm” Arkana berdehem dengan keras membuat Juna kaget dan menoleh ke samping dimana seorang pria baru saja datang dan duduk di samping Qania.


“Saya seperti mengenal anda sebelumnya” ucap Juna tanpa melepaskan tangannya dari tangan Qania.


“Hallo tuan Arjuna Wilanata” sapa Arkana.


“Ah, Arkana Wijaya” ucapnya sumringah saat berhasil mengingat pria di depannya itu.


“Ya, rupanya anda masih mengingat saya” ucap Arkana tersenyum sinis.


“Saya tidak akan melupakan anda karena urusan kita belum selesai” hardik Juna.


“Oh ya, ada urusan apa anda disini?” Tanya Arkana.


“Saya ada proyek di desa ini, proyek yang saya katakan pada pertemuan kita hari itu. Apakah anda juga ada proyek di daerah sini?” Tanya Juna.


“Ya” jawab Arkana singkat.


“Wah, dimana? Setahu saya tidak ada pembangunan di daerah ini selain proyek saya” ucap Juna meremehkan.


“Di rumah ini” jawab Arkana dingin.


“Maksud anda?”,.


“Proyek saya menjaga tunangan saya agar tidak ada yang macam-macam atau mendekatinya” jawab Arkana penuh penekanan dan menatap sengit pada Juna.


“Oh hahaha, rupanya proyek hati. Lalu dimana tunangan anda?” Juna tertawa sambil merilik sana-sini mencari gadis yang di maksud Arkana sebagai tunangannya.


“Yang sedang anda pegangi tangannya” ucap Arkana sambil menarik tangan Qania dan menarik lembut kepala Qania lalu mengecup mesra puncak kepala Qania.


“Nggak mungkin” Juna masih syok dengan apa yang ia lihat begitu pun dengan Denis.


“Maaf” cicit Qania kemudian berdiri dan menarik tangan Arkana untuk meninggalkan Juna.


Elin yang tidak ingin duduk berdua dengan Juna pun bergegas meninggalkan pria yang masih syok itu.


“Teman-teman ada yang mau cokelat nggak?” teriak Qania sambil mengangkat kedua cokelat pemberian Juna.


Denis yang merasa iba dengan sahabatnya yang masih terdiam di teras itu langsung berdiri dan mendekati Juna. Ia membantu Juna berdiri dan menatap sinis pada Qania yang terlihat cuek dengan keadaan Juna.


‘Maaf Juna, bukannya dari awal aku sudah menolakmu. Bukan salahku jika tunanganku menghancurkan hatimu, dia juga melakukan itu karena tidak ingin ada orang lain menghancurkan hubungan kami. Dan aku juga sudah berjanji untuk setia kepadanya, seandainya kau datang lebih awal mungkin saja tidak seperti ini’,.


Sangat bohong jika Qania tidak merasa bersalah dan iba kepada Juna, ia justru merasa menjadi orang paling tega saat ini. Namun ia juga harus menjaga perasaan Arkana, ia berusaha cuek padahal hatinya sesak setelah melakukan hal tersebut kepada Juna.


Terlebih lagi ketika ia melihat Juna yang masih syok dan tidak bisa berdiri kalau bukan Denis yang membantunya. Perasaan bersalah itu semakin membuatnya sesak, namun ia berusaha biasa saja di depan Arkana dan teman-temannya.


‘Ini yang gue takutin jika berterus terang pada Qania, gue juga nggak mau bernasib sama seperti Arjuna itu’ batin Raka.


“Lo udah lihat sendiri gimana si Juna setelah mendapat syok terapi dari tunangan Qania, lo jangan sampai jadi Juna kedua deh” bisik Ikhlas.


“Ngeri gue, patah hati emang kayak gitu ya?” Tanya Raka berbisik pada Ikhlas.


“Ya seperti yang lo lihat. Gimana masih mau lo mendekati Qania atau lo mau nembak sekarang nih? Gue panggilin Qania?” ledek Ikhlas.


“Kartu As, lo mau ngerasain one kill gue?” geram Raka.


“Ogah” Ikhlas langsung bergegas meninggalkan Raka yang tengah kesal kepadanya.

__ADS_1


 


...****...


__ADS_2