
Tristan menghentikan motornya di parkiran pantai, ia membawa Qania ke salah satu pantai yang terkenal di kota Y. Qania yang begitu menyukai pantai pun langsung bersorak dan segera berlari ke bibir pantai. Tristan yang melihatnya tiba-tiba saja merasa de javu, ia pun segera menyusul Qania yang tengah bermain ombak kecil sambil tersenyum senang.
“Sesenang itu kah hanya karena aku membawamu ke pantai?” Ledek Tristan, Qania hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya.
“Kalau begitu aku akan sering-sering mengajakmu ke pantai,” imbuhnya.
Qania mengangguk antusias. “Aku sangat suka pantai.”
“Aku bisa melihatnya. Qania lihat sini,” ucap Tristan mengarahkan kamera ponselnya.
Qania yang tersenyum langsung terkejut begitu ia menoleh ternyata Tristan memotretnya.
“Cantik,” ucap Tristan sambil memperhatikan hasil jepretannya.
Qania mendengus, ia tidak marah jika orang memotretnya. Hanya saja ia tadi dalam keadaan tidak siap.
“Jangan marah, aku ambil ini agar di ponselku juga ada wajahmu. Biar kalau rindu bisa aku pandangi terus,” tutur Tristan kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
“Aku tuh nggak marah kalau kamu mau foto aku. Lain kali kalau mau ngambil foto ya bilang dulu, supaya aku bisa bergaya.” Ucap Qania membuat Tristan tergelak.
“Ini udah cantik kok. Ayo kita foto berdua,” uap Tristan ragu-ragu.
“Boleh, tapi setelah ini belikan aku ice cream,” kekeh Qania.
“Gampang.”
Keduanya pun asyik berfoto dengan berganti-ganti gaya kemudian melihat hasilnya. Semua hasil jepretan itu membuat Qania berteriak heboh karena ia terlihat sangat menarik. Diam-diam Qania menatap Tristan yang sedang sibuk melihat foto di ponselnya.
Qania tersenyum tipis, ia seolah melihat sisi Arkana pada diri Tristan yang sekarang. Tristan yang bersamanya ini bukan lagi pria arogan saat pertama kali ia bertemu dengannya. Ingatan tentang pertemuan pertamanya dengan Tristan melintas di benaknya, sampai saat mereka beberapa kali beradu mulut pun membuat bibir Qania tersungging.
“Qania, lihat ini hasilnya sangat ba … gus.” Ucapan Tristan terhenti saat mendapati Qania yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
“Aku tahu aku ini tampan,” ledek Tristan, ia dengan jahilnya meniup wajah Qania hingga membuat Qania tersadar dari lamunannya.
“Arkanaaaaaa jangan mulai deh,” teriak Qania kesal.
Tristan yang tadinya ingin tertawa mendadak bungkam dengan wajah merah padam. Ia tidak menyangka nama itu yang keluar dari mulut Qania.
“Qania, tunggu disini sebentar. Aku ingin membelikan ice cream,” ucap Tristan menahan amarahnya.
‘Gue kira Qania itu dari tadi natap gue, eh ternyata dia sedang menatap suaminya itu lewat wajah gue. Sialan nih muka, pingin gue ganti aja kalau gini ceritanya. Tapi apa Qania masih mau natap gue kalau wajah gue udah berubah. Hahhh … seraba salah gue,’ gerutu Tristan dalam hati sambil berjalan meninggalkan Qania.
Qania terkejut, ia baru sadar bahwa yang tadi ia marahi adalah Tristan dan ia menyebutnya Arkana. Qania menggigit bibir bawahnya, ia merasa sesal sudah membuat Tristan marah. Tapi kali ini ia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk menyebut nama suaminya itu. qania pun memutuskan untuk mencari tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari bibir pantai. Ia duduk di bawah pohon yang lumayan bisa menahan terik mentari karena saat ini waktu masih menunjukkann pukul empat belas lewat.
Qania merutuki dirinya sendiri, ia juga merasa kasihan melihat wajah Tristan tadi. Harusnya ia bisa mengendalikan dirinya, namun ia terbuai dengan kebersamaannya bersama Tristan yang sudah lama tidak ia lakukan bersama Arkana.
__ADS_1
Sementara itu, Tristan yang baru saja membeli dua buah ice cream langsung kembali menemui Qania, ia bahkan tidak sadar ada sepasang mata yang sedang mengamatinya.
Tristan mengedarkan pandangannya hingga orang yang ia cari tertangkap oleh indera penglihatannya. Dengan menguatkan hati ia berjalan mendekati Qania. Ia melihat Qania sedang menatap lurus ke pantai seperti sedang melamun.
“Brrrrrr ….” Tristan tertawa melihat Qania terkejut saat ia menempelkan ice cream tersebut di pipi Qania.
“Tristaaaaannn ….”
Tristan terus tertawa, ia ikut duduk di samping Qania sambil membukakan pembungkus ice cream lalu memberikannya kepada Qania.
“Oh sudah ingat rupanya, aku kira masih terbawa suasana,” sindir Tristan.
Qania tersedak, ucapan Tristan membuatnya tertohok.
“Maaf,” cicit Qania.
“Ya, dimaafkan.”
Qania tertawa mendengar jawaban Tristan barusan, secepat itu ia dimaafkan. Biasanya jika Arkana, maka pria itu akan membalas mengerjai atau bakalan marah cukup lama padanya.
‘Ih, apa sih Qania. Ingat dia Tristan dan jangan buat dia marah lagi.’
Keduanya kini terdiam, sibuk menghabiskan ice cream mereka masing-masing sambil menatap lurus ke depan. Sepasang mata yang tadi mengamati Tristan turun mengikutinya dan terus memantau apa yang sedang Tristan lakukan, hanya saja ia tidak bisa melihat siapa yang sedang bersama Tristan karena terhalang oleh pohon.
Tristan menatap Qania yang sudah menghabiskan ice creamnya, ia tersenyum lucu karena Qania begitu cepat menghabiskannya sementara miliknya saja baru ia makan setengah.
“Ya iyalah, kamu sih belinya cuma satu doang. Coba belinya tiga, ya pasti masih ada nih sekarang,” sungut Qania membuat Tristan tergelak.
“Banyak amat,” kekeh Tristan.
“Tristan, itu cokelat yang di bagian bawahnya kasih ke aku ya,” pinta Qania sambil menatap ice cream milik Tristan.
“Oke,” ucap Tristan yang langsung memasukkan sisa ice creamnya dan segera menyodorkan bagian ujung bawahnya yang berisi cokelat.
“Makasih,” ucap Qania, dengan cepat ia memasukkan potongan ice cream tersebut ke dalam mulutnya membuat Tristan terkekeh.
“Qania,” panggil Tristan sambil menoleh pada Qania yang baru saja menoleh padanya.
“Ada apa?”
“Bisa ceritakan sedikit tentang Arkana? Sudah lama aku penasaran dengannya, apakah benar wajah kami semirip yang kamu katakana?” Tanya Tristan dengan menatap lekat kedua mata Qania.
Qania tersenyum, kemudian ia mengangguk. Qania mengambil ponselnya dari dalam tas kecilnya kemudian memberikannya pada Tristan. Tristan pun menerimanya dan langsung menatap gambar wallpaper ponsel tersebut. Ia membelalakkan matanya, menggeleng, kemudian mengusap wajahnya berulang kali untuk memastikan apa yang ia lihat itu adalah nyata. Wallpaper tersebut memperlihatkan wajah Qania dan Arkana yang sedang tersenyum manis. Qania yang melihat ekspresi Tristan menyunggingkan senyuman.
“Sulit dipercaya,” gumam Tristan kemudian mengembalikan ponsel Qania.
__ADS_1
“Makanya waktu pertama kali lihat kamu saat seminar itu aku langsung pingsan. Gimana nggak kaget akunya saat melihat suamiku yang sudah meninggal tiba-tiba berada di depanku dengan keadaan sehat gitu,” celetuk Qania.
“Maaf selama ini sudah menyebutmu wanita gila,” cicit Tristan.
“Iya, aku maklum kok. Lagian kamu sama Arkana juga beda dari segi usia, dia dua bulan lagi akan berusia dua puluh enam tahun dan kamu sudah tiga puluh. Jadi tuaan kamu lah,” ledek Qania.
“Heeemmm … oh iya, kenapa dia bisa sampai meninggal?” Tanya Tristan mulai tertarik membahas masalah rumah tangga Qania.
“Dia berhenti bernapas jadi meninggal,” gurau Qania membuat Tristan memelototkan matanya.
“Hehehe … jadi Arkana itu meninggal karena kecelakaan mobil hampir lima tahun yang lalu. Hari dimana harusnya kami menikah justru menjadi hari dimana kami dipisahkan untuk selama-lamanya. Baru juga aku mau mandi buat siap-siap dihias untuk acara akad eh malah dapat telepon kalau Arkana sudah tiada. Aku pikir itu hanya mimpiku saja mengingat seberapa sering aku memimpikannya meninggal. Hahh … tapi itu nyata. Dan dia meninggalkanku tepat di hari yang paling kami nantikan dan dia juga meninggalkan aku dan anakku yang masih dalam kandungan yang baru berusia dua bulan,” cerita Qania, ia sama sekali tidak menitikkan air mata, bahkan bibirnya terus tersenyum saat menceritakan hari terkelam yang pernah ia lalui dan itu membuat Tristan tidak mengalihkan pandangannya pada Qania yang terus tersenyum seolah ia sedang menceritakan kisah yang manis.
“Jadi kau sudah mengandung sebelum menikah?” Pertanyaan itu lolos dari mulut Tristan karena dari cerita Qania tadi, hal itu yang membuatnya terganggu.
Qania menatap Tristan dengan lekat kemudian ia tersenyum manis, bahkan ia terkikik geli.
“Kenapa tertawa?” Tanya Tristan heran.
“Jadi aku tuh sama Arkana udah nikah dua bulan sebelum hari pernikahan kami, hahaha ….” Qania tertawa teringat bagaimana ia menikah sebelum waktunya dan bahkan ia ingin sekali memberi ucapan terima kasih kepada Arjuna Wilanata yang sudah merencanakan pernikahan mendadak untuknya, meskipun yang sebenarnya bukan itu yang diinginkan oleh Arjuna.
“Maksudnya?” Tristan mengernyit, ia semakin bingung.
“Hahh … jadi gini, ada pria bernama Arjuna Wilanata. Dia menyukaiku tapi aku menolaknya dan menurut rumor yang aku dengar kalau aku adalah wanita pertama yang menolaknya. Itu terjadi saat aku melaksanakan KKN di salah satu desa di perbatasan kabupaten kota asalku. Dia tidak terima aku menolaknya hingga akhirnya dia merencanakan penculikan kepadaku dan ingin melakukan pelecehan terhadapku. Untung saja ada kak Ghaisan yang menolongku, hah aku jadi merindukan guru Ghai itu ….”
“Terus karena rencananya waktu itu gagal, dia pun membuat acara reuni di sekolahku padahah itu bukan sekolahnya dengan tujuan menjebakku dengan memasukkan obat perangsang pada minumanku. Utung saja Arkana dan adikku datang tepat waktu untuk membawaku pergi, kalau nggak aku nggak tahu lagi harus gimana ….”
“Arkana panik, ia tahu seperti apa efek dari obat itu dan meminta adikku untuk menikahkan aku dengannya agar kami tidak sampai berbuat dosa nantinya. Dan memang jalan Tuhan, di tengah jalan kami bertemu dengan seorang penghulu yang sedang diserang preman. Akhirnya dia menikahkan kami malam itu juga dengan adikku sebagai wali nikah. Nggak cuma itu saja, Arkana bahkan tidak tega menyentuhku padahal aku sudah menjadi hak miliknya. Dia terus memandikanku mencoba menghilangkan efek obat tersebut, hingga akhirnya kami menyerah dan terjadilah malam pertama dadakan itu ….”
Tristan menghembuskan napas lega, ia tadi sempat mengira kalau Qania sempat terjerumus pergaulan bebas.
“Lalu bagaimana reaksi orang tuamu saat itu?”
“Mereka semua terkejut. Aku juga tahu aku hamil nanti di hari ketiga Arkana meninggalkanku untuk selama-lamanya. Waktu itu yang aku ingat aku di kamar sedang menangis setelah mengenakan pakaian pengantinku dan mengurung diri di kamar selama tiga hari. Dan saat aku sadar aku sudah berada di rumah sakit dan pemandangan yang aku lihat itu wajah Papa yang menatapku seolah ingin menelanku hidup-hidup saat tahu aku hamil dan belum menikah dan orang yang sudah menghamiliku justru sudah tiada. Tapi adikku menjelaskannya pada mereka hingga akhirnya mereka mengerti,” cerita Qania.
Tristan tersenyum mengangguk, ia cukup miris mendengar cerita Qania dan juga sebagian kecil hatinya merasa tergelitik dengan kisah cinta Qania yang menikah diam-diam.
Qania kemudian menceritakan tentang bagaimana dia dan Arkana diam-diam tidur bersama di kamarnya. Tristan yang mendengarnya justru tertawa lebih keras dibandingkan Qania, ia merasa begitu lucu seolah dirinyalah yang melakukan hal tersebut.
Qania menatap Tristan yang sedang menyeka air matanya karena tertawa. Tatapan mata yang sulit di artikan.
‘Semoga apa yang aku yakini adalah benar. Dan jika memang iya maka aku akan melakukannya.’
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗