Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Utusan Pak Erlangga


__ADS_3

Asisten Revan yang kebetulan bertugas untuk menggantikan Pak Handoko dan Qania bertemu klien dengan tergesa-gesa memasuki gudang karena mendapat telepon bahwa bossnya terkapar pingsan di dalam gudang sebab dipukuli oleh dua orang sekaligus.


Saat itu ia tengah memulai rapatnya namun ponselnya berdering dan salah satu staf kepercayaannya menelepon dan memberikan kabar tentang Pak Handoko yang dikeroyok di dalam gudang. Ia sebagai asisten yang sudah berjanji akan mengabdikan dirinya kepada pak Handoko pun langsung membatalkan rapatnya dan segera kembali ke kantor.


Dan disini lah ia, sedang berteriak-teriak meminta para karyawan untuk membantu mengangkat tubuh Pak Handoko yang sudah babak belur dan juga kemejanya sudah terlepas dari tubuhnya dan hanya menyisahkan kaus gandeng dan juga celana pendek.


Dua orang karyawan datang dan langsung mengangkat tubuh pak Handoko dan membawanya ke dalam mobil milik bos mereka tersebut.


“Minta supir untuk mengantarkan ke rumah sakit, saya masih harus menyelidiki kejadian ini,” ucap asisten Revan dengan suara lantang.


“Baik Pak.”


Setelah memastikan pak Handoko masuk ke dalam mobil, asisten Revan segera berlari ke ruang cctv. Ia mendorong petugas cctv dan langsung duduk untuk mencari rekaman di gudang.


“Sial! Bagaimana bisa tidak ada rekaman di gudang?!” teriak asisten Revan geram.


“Tidak mungkin Pak, cctv di gudang juga baik-baik saja,” Sanggah petugas penjaga ruang cctv.


“Bodoh! Jelas-jelas disini cctv bagian gudang mati. Apa saja kerjamu hah? Sampai-sampai kau tidak tahu ada yang menyabotase di ruangan ini!” sungut asisten Revan kemudian ia segera keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan sangat marah.


Ia kemudian mencari pak Leri, karyawan bagian gudang. Karena sekarang masih jam makan siang maka ia tak bisa menemukan pak Leri di kantor. Akhirnya asisten Revan bertanya pada karyawan kepercayaannya yang tadi meneleponnya. Ia menemukan karyawan tersebut berada di ruang kerjanya setelah ia mengirim pesan.


“Jelaskan kejadiannya!” ucap asisten Revan tanpa basa-basi begitu ia berhadapan dengan karyawan bernama Herman.


“Saya tidak tahu dengan jelas kejadiannya. Yang saya tahu bos dipukuli hingga babak belur oleh karyawan magang yang bernama Julius dan satu pria yang bukan karyawan kantor ini. Juga saya melihat Julius menggendong Qania yang pingsan dengan di tubuhnya penuh dengan luka lebam dan darah yang mengalir serta yang sudah kering,” cerita pak Herman.


“Apa?!! Kenapa dengan Qania?” tanya kaget asisten Revan.


“Untuk yang terjadi dengan Qania saya tidak tahu Pak. Tapi sepertinya bos telah melakukan kekerasan fisik padanya sampai gadis itu pingsan,” jawab Pak Herman.


“Ohh ****! Bos dalam masalah besar jika sampai ada saksi mata yang melihat perbuatannya. Kau awasi kantor dan usahakan kejadian ini jangan menjadi buah bibir para karyawan yang lain. Saya mengandalkanmu saat ini. Saya harus pergi mengecek keadaan bos dulu,” ucap asisten Revan kemudian ia segera pergi.


Setelah kepergian asisten Revan, Pak Herman langsung mengubah ekspresi wajahnya. Wajah yang tadinya begitu tegang kini berubah menjadi berseri-seri.


“Kau keluarlah, dia sudah pergi,” ucapnya tanpa melirik ke lain arah, ia segera duduk di sofa yang berada di ruangannya.


Pak Herman  merupakan pimpinan di salah satu bidang di kantor tersebut. Ia dipercayai karena selalu membuat bangga perusahaan mereka dan juga sering menemukan para pengkhianat kantor dan juga masih banyak lagi jasa-jasa yang ia berikan pada perusahaan ini.


Yang dipanggil pun keluar dan langsung duduk di sofa.


“Kau memang sangat berbakat dalam memainkan peran Bro. Kenapa tidak jadi artis saja,” kekeh Pak Leri.


“Tidak selamanya pandai bermain peran harus menjadi aktor,” dengus Pak Herman.


“Ya, ya brother. Kau benar. Dan sekarang kita tinggal menunggu hasil akhir dari bos kita itu. Aku harap dia belum mati agar bisa merasakan indahnya jeruji besi,” ucap pak Leri sembari menyandarkan kepalanya di sofa.


“Apakah kau yakin? Bagaimana kalau Qania justru yang dalam keadaan sulit saat ini?” tanya Pak Herman yang memang belum bisa tenang mengingat kondisi Qania tadi.


“Kau tahu, ternyata Qania tidak segampang yang kita pikir. Claraku memang tidak secerdas dirinya dan akhirnya berujung kesengsaraan padanya. Tapi gadis ini, pilihan tuanmu memang yang terbaik,” puji Pak Leri.


“Maksudnya bagaimana?” tanya pak Herman penasaran.


“Tadi aku penasaran kenapa Julius datang ke gudang dan mencari hal yang tidak penting. Gerak-geriknya cukup mencurigakan. Aku memutuskan untuk mengintai. Tapi aku tidak tahu apa yang dia lakukan lalu aku mengikutinya begitu dia keluar dari gudang ternyata dia pergi ke ruangan cctv. Aku bingung dong dengan apa yang dilakukan anak magang itu. Lalu aku kembali ke gudang dan mencari tahu, ternyata dia memasang kamera di beberapa sisi yang ternyata sangat pas pada posisi Qania dan bos tadi.


“Awalnya aku bingung, kamera di gudang untuk apa? Konten mungkin, gue pikir dia lagi buat konten mereka kejadian di gudang pada malam hari gitu, eh nggak tahunya sejam sebelum jam makan siang Qania datang ke gudang lalu keluar membawa kardus dan masuk lagi. Disusul bos masuk dan aku diam-diam mengintai. Bos ngunci pintu gudang dan ya kejadiannya aku nggak tahu lagi. Tapi yang aku yakin Qania punya bukti kejadian itu. Karena pas aku cek ke gudang, kamera itu sudah tidak ada lagi. Pasti Julius sudah mengamankannya,” cerita panjang lebar pak Leri.


“Jadi maksudnya kejadian di gudang tadi itu sudah direncanakan?” tanya Pak Herman yang dijawab anggukan oleh pak Leri.


“Luar biasa. Kejadian seperti itu pasti sudah dipikirkan oleh Qania sebelumnya. Dia pasti sudah memperhitungkan sampai ke titik ini. Dia benar-benar mengambil langkah berani, gila! Ini sungguh gila. Gadis sepertinya benar-benar berani. Pak Erlangga tidak salah memilih orang,” puji pak Herman.


“Ya. Kita lihat saja, sebentar lagi Clara akan mendapatkan keadilan. Adikmu juga akan mendapatkan keadilan begitupun dengan adik pak Erlangga. Semoga pengorbanan Qania tidak sia-sia,” ucap pak Leri sambil mengenang wajah Clara, tatapannya berubah sendu kala mengingat saat ini kekasihnya itu sedang berada di rumah sakit jiwa.


Jorgi, sebentar lagi Abang bisa membalas perbuatan orang-orang yang sudah membunuhmu dan Pak Angga. Mereka akan mendapatkan balas beribu kali lipat dari yang pernah kalian alami. Pak Erlangga, Anda sangat beruntung menemukan orang yang memiliki cara luar biasa untuk mengungkap kasus ini. Bukan hanya mengungkap kasus saja, bahkan tindakannya ini juga sudah bisa menjerat pak Handoko masuk ke jeruji besi dengan kasus penganiyaan dan juga pelecehan. Jorgi, Pak Angga, kalian akan tersenyum di atas sana, batin Pak Herman.


Tidak ada yang tahu di kantor tersebut jika Pak Herman adalah utusan dari Pak Erlangga. Dia adalah seorang kakak yang pernah datang meminta bantuan keadilan untuk adiknya yang bernama Jorgi yang tidak lain adalah asisten pribadi adik dari Pak Erlangga dan Bu Maharani. Pak Erlangga waktu itu benar-benar memberinya akses untuk masuk ke perusahaan pak Handoko dengan segala kemampuannya ia membantu Pak Herman menjadi begitu cerdas dan cekatan dengan berbagai hal mengenai Hukum.


“Kau tidak ingin pergi melihat bos?” tanya Pak Leri.


“Nanti saja. Aku masih ada urusan di kantor. Kau tidak dengan tadi kalau asisten Revan menyuruhku menjaga kantor,” jawab pak Herman.


“Seperti akan hilang saja,” kekeh pak Leri.


“Tapi aku kasihan pada asisten Revan, dia kan baru beberapa tahun ini bekerja untuk pak Handoko. Dia tahu tidak ya catatan gelap bosnya itu?” ucap Pak Herman yang juga langsung membuat Pak Leri berpikir.


“Dia pasti tahu lah, buktinya dia saja membela Pak Handoko dari kasus Clara waktu itu. Dia bahkan memberikan uang tutup mulut pada keluarga Clara agar mereka tidak membeberkan kasus ini. Aku saja tidak bisa berbuat apa-apa karena keluarga Clara takut dengan ancaman Pak Handoko. Maklumlah, keluarga menengah kebawah tidak memiliki kekuatan hukum,” ujar Pak Leri.

__ADS_1


“Ya, kau benar juga. Biarlah mereka saja yang mengurusnya. Kita tinggal menunggu hasil saja,” ucap Pak Herman.


“Ya sudah, aku balik dulu ke ruangan ku,” pamit pak Leri dan pak Herman hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.


Setelah pak Leri pergi, pak Herman kembali ke kursi kerjanya. Ia berpikir kira-kira kardus apa yang tadi Qania bawa dan meminta ojol untuk mengantar kardus itu dan dibawa kemana.


“Orang secerdas Qania tidak mungkin membawa aset berharga pulang ke kontrakannya. Dia pasti sudah memikirkannya jika ia ketahuan pasti akan digeledah. Aku yakin benda itu tidak berada di tempatnya,” gumam pak Herman.


 


. . .


 


Di rumah, sambil menunggu waktu penerbangan yang masih satu jam lagi, Syaquile memutuskan untuk menghubungi Lala. Mungkin saja Lala belum mendengar kabar tentang Qania karena mereka sama-sama sedang magang dan tidak di kantor yang sama mengingat jurusan mereka pun berbeda.


Benar saja, Lala begitu terkejut mendengar kabar tentang Qania. Ia baru tahu dari Syaquile karena seharian ini pun ia belum menyentuh ponselnya sebab ada banyak pekerjaan yang ia kerjakan tadi bahkan ia makan siang hanya sebentar saja dan itu ia lakukan di tempat magangnya.


Lala meminta izin pulang lebih dulu dan langsung menuju ke rumah sakit karena Syaquile memintanya untuk berada disana sampai ia dan Om Setya Wijaya datang.


Syaquile pun menghampiri keluarganya yang sedang duduk di ruang keluarga. Papa Zafran menunda keberangkatannya karena ia masih menunggu kabar tentang kondisi Qania. Ia juga masih menguatkan istrinya yang masih begitu terpukul dengan kejadian yang menimpa Qania.


“Kali ini gue mau lihat kehebatan status Lo yang dielu-elukan sebagai pengacara hebat itu. Awas saja kalau Lo nggak bisa hukum orang yang sudah membuat puteri kita sempat menemui malaikat maut itu. Jika Lo nggak bisa, maka sebaiknya Lo cabut tuh gelar dan gue bakalan tutup kantor Lo,” ancam Papa Zafran.


“Tanpa Lo minta Bro. Gue aja udah geram dari tadi. Nggak bakal ada ampun buat mereka. Qania itu menantu Setya Wijaya, berani menyentuh kulitnya itu artinya mengusik ketenangan keluarga Wijaya. Nggak bakalan gue biarin menghirup udara segar,” ucap Papa Setya yang memang sedari tadi sudah geram menunggu waktu penerbangan mereka.


“Dan satu lagi, setelah keadaan Qania membaik, tarik dia kembali kesini. Magangnya lanjut di kantor Lo aja. Keselamatan Qania pasti semakin dalam bahaya setelah kejadian ini,” tukas Papa Zafran.


“Siap Bro, semua udah gue pikirin dari tadi. Sekarang orang gue sedang mencari tahu apa yang terjadi pada Qania secara detail. Tapi yang jelas yang tahu kejadian itu hanya Qania,” ucap Papa Setya.


“Benar juga. Semoga anak itu bisa membuktikan dan membela dirinya jika saja terjadi hal yang tak terduga. Kau sendiri tahu bukan dalam permasalahan hukum apa saja bisa terbalik jika mereka memiliki kekuatan dan kekuasaan,” ucap lesu papa Zafran.


“Gue yakin Qania tidak semudah itu. Dia pasti sudah sedia payung sebelum hujan,” ucap Papa Setya menegaskan bahwa seorang menantu dari Setya Wijaya pasti memiliki banyak akal dan sangat cerdas.


“Gue harap gitu,” ucap Papa Zafran mencoba percaya meskipun ia ragu.


 


. . .


 


Qania seketika terbangun dan langsung duduk setelah berteriak memanggil nama Arqasa. Dokter yang sedari tadi sedang memeriksa keadaannya pun dibuat terkejut karena pasiennya mendadak bangun dan duduk dengan sempurna di hadapannya.


“Nona Qania, tolong berbaring dulu ya,” ucap dokter Pedro dengan lembut.


Qania menoleh kesamping dimana asal suara itu. Barulah terasa sakit di sekujur tubuhnya. Qania sempat mengerang karena ada beberapa bagian tubuhnya yang memang terasa begitu sakit. Dengan patuh ia kembali berbaring.


“Saya di rumah sakit, Dok?” tanya Qania dengan suara parau.


Dokter Pedro tersenyum, “Iya. Saya periksa dulu ya,” jawab dokter Pedro kemudian ia memeriksa detak jantung Qania dengan stetoskop setelah Qania mengangguk setuju.


“Syukurlah semua baik-baik saja. Sebentar nona Qania akan dipindahkan ke ruang rawat ya,” ucap dokter Pedro.


Qania hanya bisa mengangguk. Ia merasa heran, tadi ketika ia baru saja tersadar ia bisa dengan mudah untuk duduk, namun setelah ia berbaring mendadak ia merasakan sakit pada sekujur tubuhnya dan kesulitan hanya untuk mengeluarkan suaranya.


Dokter Pedro yang melihat raut kecemasan pun tersenyum.


“Jangan khawatir, rasa sakit ditubuh nona itu karena luka lebam dan juga efek trauma yang Anda derita. Jika beristirahat dan luka-luka Anda diobati pasti akan segera sembuh. Oh ya, jangan menyerah untuk terus hidup demi orang-orang yang masih membutuhkan Anda. Hidup harus terus berjalan,” ucap dokter Pedro sebelum ia pergi.


Qania mengerutkan keningnya, bingung dengan ucapan dokter tersebut. Ketika ia memaksa berpikir namun justru ia merasakan sakit di kepalanya.


“Jangan dipaksakan Nona. Lebih baik Anda beristirahat karena sebentar lagi kami akan memindahkan Anda ke ruang rawat inap,” ucap suster muda itu dengan ramah sembari memberikan suntikan pada selang infus Qania.


Qania hanya tersenyum tipis, “Sus apa ada kerabat saya yang menunggui?” tanya Qania pelan.


“Oh iya ada nona. Ada dua pria dan satu wanita,” jawab suster.


“Saya ingin bertemu dengan yang wanita Sus, boleh? Saya ingin menghubungi orang tua saya,” ucap Qania.


“Oh tentu saja boleh,” ucapnya kemudian segera keluar dan tak lama kemudian ia masuk kembali bersama Lala.


Lala berjalan dengan berlinang air mata melihat Qania yang terbaring lemah.


“Kak,” panggilnya lirih.

__ADS_1


Qania membuka matanya lalu menoleh ke samping dimana Lala berdiri.


“Hei adik ipar jangan menangis, oke,” ucap Qania dengan tak lupa ia memberikan senyuman yang menegaskan bahwa ia baik-baik saja.


“Aku takut kakak kenapa-kenapa, hiks.”


“Hei hei, aku tidak memintamu masuk untuk melihatmu menangis. Sekarang hapus air matamu lalu telepon adik tampanku. Oh ya, video call,” ucap Qania dan Lala pun segera melakukan permintaannya.


Syaquile yang sedang menyaksikan Papanya sedang memerintah Om Setya dan juga seperti tengah mengancam itu pun teralih saat ponselnya menampilkan panggilan video dari Lala. Ia yakin benar ini pasti tentang Kakaknya.


“Assalamu’alaikum sayang,” sapa Syaquile yang langsung membuat ketiga orang tua itu menoleh padanya dengan tatapan yang berbeda-beda. Syaquile pun langsung berpndah di sofa dengan ketiganya. Ia mengarahkan agak jauh ponselnya agar mereka berempat bisa terlihat oleh Lala.


“Wa’alaikum salam, hiks.”


Melihat Lala yang sedang menangis itu membuat hati keempatnya berdebar kencang. Mereka sudah dilanda pikiran buruk.


“Sayang kenapa kau menangis?” tanya gugup Syaquile.


“Dia menangis karena aku marahi kalau kau mau tahu!”


Suara itu, suara ketus itu tentu saja langsung dikenali oleh mereka berempat.


“Kakak? Kakak baik-baik saja? Sayang tolong arahkan pada Kakak,” ucap Syaquile.


“Kau berharap aku kenapa-kenapa, iya?” ucap ketus Qania begitu ia mengarahkan wajahnya ke ponsel Lala, Lala memeganginya dengan sabar juga senang.


Mereka berempat langsung bernapas lega saat melihat Qania baik-baik saja. Hanya saja hati mereka seperti teriris melihat banyaknya lebam di wajah mulus nan cantik tersebut.


“Ish ... baru aja kembali dari kematian malah udah ketus gitu. Ngeselin,” ucap kesal Syaquile.


Qania terkekeh melihat wajah ketus Syaquile namun berbeda dengan Lala yang justru merona melihat tampang manis kekasihnya itu jika sedang kesal.


“La, no bucin oke!” ucap Qania yang melihat wajah keki Lala dari layar ponsel membuat Lala salah tingkah.


“Qania sayang, gimana keadaan kamu Nak?” tanya Mama Alisha dengan lirih.


“Qania baik-baik aja Ma. Maaf sudah membuat kalian khawatir,” lirih Qania, air mata mengalir dari kedua sudut matanya saat melihat raut sedih di wajah sang Mama.


“Syukurlah sayang. Mama takut Qania sampai kenapa-napa. Qania harus baik-baik saja ya, Nak. Ingat ada kami yang menunggu Qania pulang ya Nak,” ucap Mama Alisha turut menangis.


“Anak Papa bukan anak cemen, Oke,” timpal Papa Zafran.


“Menantu Setya Wijaya pasti kuat sayang,” imbuh Papa Setya yang juga tak bisa menutupi raut wajah sedih dan khawatirnya.


Qania tersenyum, “Ar mana?”


“Sedang tidur Nak,” jawab Mama Alisha.


“Tolong jagain Ar buat aku ya Ma. Aku masih belum bisa jadi Ibu yang baik. Segera setelah urusanku disini selesai aku akan segera kembali,” ucap Qania lirih.


“Tanpa Qania minta, Nak. Kami selalu jaga Ar dengan baik. Kamu sendiri bisa lihat, kan gimana Ar tumbuh dengan baik dan sangat cerdas seperti kamu,” ucap Mama Alisha sendu.


Qania tersenyum, matanya perlahan terpejam membuat keluarganya itu panik bukan main.


“Qania, Qania kenapa?” pekik Mama Alisha.


Lala pun langsung memanggil suster namun hanya berteriak saja karena ia masih fokus memegang ponselnya.


Suster pun memeriksa denyut nadi Qania lalu tersenyum.


“Pasien tidak apa-apa, ia hanya tertidur. Itu karena efek obat yang tadi disuntikkan,” ucap suster tersebut dengan ramah.


Mereka pun bisa bernapas lega setelah tahu Qania hanya tertidur.


“Satu atau dua jam lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat setelah ia bangun, permisi,” ucap suster tersebut.


Keluarga Qania pun mengakhiri panggilan videonya karena sudah cukup merasa lega. Lala pun keluar tak ingin mengganggu waktu istirahat Qania. Julius dan Raka mencecarnya dengan banyak pertanyaan dan Lala dengan sabar menjawab pertanyaan mereka.


“Sebaiknya kalian berdua pulang dulu. Kak Qania akan bangun sekitar satu atau dua jam lagi. Kalian beristirahatlah, biar aku yang jaga disini,” ucap Lala yang prihatin melihat keadaan kedua pria ini.


“Tapi—“


“Sebaiknya menurut saja. Gue juga yakin kalau Lo belum makan siang, kan?” potong Raka.


Julius pun teringat kalau benar ia belum makan siang. Seketika baru terasa rasa lapar tersebut. Keduanya pun setuju untuk pulang lebih dulu dan meninggalkan Lala. Tak lupa Julius memberikan tas Qania dan juga didalamnya sudah ada kamera yang mereka pasang di gudang tadi pagi. Ia memperingatkan Lala untuk menjaga tas tersebut dengan baik. Meskipun heran, Lala tetap mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2