Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Debaran Aneh


__ADS_3

Banyu yang tadinya diminta bu Karni untuk menanyakan apakah Manda mau meminum ramuan tradisional untuk datang bulan mengurungkan niatnya untuk masuk, ia memilih untuk mendengar ungkapan-ungkapan Manda yang membuatnya tak hentinya menyunggingkan senyuman. Akhirnya ia memilih untuk menunggu Manda hingga selesai dengan segala curahan hatinya lalu berpura-pura baru datang.


Tok..


Tok..


Tok..


“Manda, lo udah tidur belum” Tanya Banyu dari balik pintu, padahal ia sendiri tahu bahwa gadis incarannya itu sedang bermonolog.


“Eh Banyu udah datang, tapi syukurlah dia nggak dengar gue tadi ngomong apa. Eh tapi untuk apa gue khawatir toh gue juga bakalan nyatain secepatnya” gumam Manda.


“Belum Nyu, gue mana bisa tidur kalau lagi sakit gini” sahut Manda.


Banyu menormalkan kembali ekspresi wajahnya agar Manda tidak curiga sebelum masuk ke dalam kamar tersebut.


“Man ini botolnya” ucap Banyu sambil menyerahkan botol kaca itu.


“Oh iya, bu Karni juga nanya apakah elo mau dibuatin ramuan tradisional atau enggak” tambahnya.


“Makasih ya Nyu, boleh deh” jawab Manda sembari tersenyum.


“Oke, gadis penurut” tanpa sadar Banyu membelai puncak kepala Manda yang tengah duduk menyandar di atas tempat tidur itu.


Wajah Manda rasanya memanas, semburat merah mewarnai pipinya. Banyu yang baru saja tersadar langsung menarik tangannya.


“Maaf” cicit Banyu.


“Iya, santai aja. Oh iya Nyu, gue mau ngomong sesuatu, boleh?” Tanya Manda gugup.


Haruskah saat ini ia mengatakannya, bagaimana kalau ditolak? Apa dia siap menerima penolakan? Batinnya berkecamuk, ia sudah pasrah dengan jawaban Banyu, baginya itu adalah hal yang melegakan meskipun itu menyakitkan jika seandainya ia ditolak.


‘Apa Manda mau nembak gue? Ah masa dia yang mulai sih, gue kan laki. Nggak-nggak, ini nggak boleh dibiarin, mau ditaruh dimana muka gue kalau gue sampai di tembak cewek. Maaf mengecewakan Manda, tapi lo terlalu berharga tinggi bagi gue dan gue nggak mau lo merendahkan harga diri lo buat nembak gue, biar gue aja’ batin Banyu.


“Nanti aja deh Manda, gue buru-buru soalnya bu Karni tadi bilang mereka udah nungguin gue” itu lah yang bisa dijadikan alasan bagi Banyu.


“Oh, ya sudah deh lo balik aja. Makasih ya udah bantuin gue” ucap Manda sambil menampilkan senyum paksa, tubuhnya terasa lemas.


“Oke gue balik, jaga diri” ucap Banyu dengan cepat berbalik dan meninggalkan Manda.


“Belum juga nyatain udah dapat penolakan, miris amat ya” ucap Manda lemas sambil mengguling-gulingkan botol kaca di perutnya.


*


*


“Assalamu’alaikum, selamat siang” sapa seseorang di luar rumah.


Manda yang hampir tertidur itu kembali mengerjapkan matanya karena mendengar orang memberi salam. Mau tidak mau ia harus keluar untuk melihat, dan syukurnya perutnya sudah agak mendingan setelah meminum ramuan dari bu Karni.


“Wa’alaikum sal..am, eh Arkana” kaget Manda saat melihat orang yang sedang berdiri di ambang pintu, ya dia adalah Arkana Wijaya.


“Eh hai” sapa Arkana dengan menampilkan senyuman tipis karena senyuman lebarnya hanya untuk Qania Salsabila.


Apakah ini yang dinamakan pucuk dicinta ulam pun tiba atau tiada rotan akar pun jadi? Baru saja menerima penolakan secara tidak langsung, Arkana tiba-tiba saja sudah berada di depannya. Orang yang sempat mencuri hatinya itu kini tengah berdiri di depannya dan terlihat sangat tampan.


“Eh mari masuk Ka, mereka lagi di lokasi masjid. Bentar lagi balik kok” ajak Manda.


“Di luar aja deh” tolak Arkana, bagaimana pun ia ingin menjaga perasaan Qania. Ia tidak ingin Qania memergokinya sedang berduaan di dalam rumah yang ujung-ujungnya akan berakhir dengan kesalahpahaman.


“Oh ya udah, lo mau minum apa?” tawar Manda.


“Nggal usah repot-repot” tolak Arkana halus, kemudian berjalan ke bangku di teras dan mendaratkan bokongnya di atas bangku itu.


Manda terus mencuri pandang pada Arkana yang tengah memainkan game offline di ponselnya dan bukannya ia tidak sadar sedang diperhatikan, hanya saja ia malas meladeninya. Ia membiarkan wajahnya dinikmati oleh gadis di sebelahnya ini.


‘Oh jadi ini yang namanya Manda yang kata Qania suka ke gua dan sekarang udah move on ke temannya sendiri. Cantik sih, tapi lebih cantik tunangan gue, hahahaha’ Arkana tertawa terbahak-bahak tapi hanya dalam hati.


‘Oh Arkana, di saat gue mau ngelupain elo kok elo datang lagi sih. Bisa gawat hati gue, dan bisa-bisa gue kena godaan setan nih. Keadaan gue sekarang pas banget dengan lagunya Judika yang judulnya Malaikat itu. Duuhh pengen dong dinyanyiin sama Arkana’ jerit Manda dalam hati.


Sementara di lokasi masjid, mereka baru saja selesai bersih-bersih dan saat ini mereka akan pulang. Motor yang tadi digunakan oleh Banyu pun sudah tidak ia bawa saat kembali ke lokasi masjid karena teman-temannya akan jalan kaki. Tadinya motor itu digunakan untuk membawa makanan tapi berhubung makanannya sudah habis jadi ia meninggalkannya di rumah pak kadus lagi.


Degg..

__ADS_1


‘Kok jantung gue berdetak nggak kayak biasanya ya? Ada apa ya?’ terka Qania sambil memegangi dadanya.


“Lo kenapa Qan? Sakit?” Tanya Baron.


“Enggak, Cuma aneh aja perasaanku saat ini” jawab Qania sambil terus menerka apa penyebab jantungnya itu berdebar-debar.


“Yuk jalan” ajak Elin.


Kesembilan mahasiswa itu pun berjalan kembali ke rumah pak kadus sambil berbincang-bincang hal-hal yang jelas sampai yang tidak jelas.


“Lo kok diam Qan?” Tanya Elin.


“Nggak tahu, jantung gue debarannya nggak karuan” jawab Qania resah.


‘Biasanya sih reaksi kayak gini kalau gue dekat sama Arkana, tapi ini kan enggak’ pikir Qania.


“Lo pake nanya lagi Lin, yang jelas jawabannya itu karena dia ada dekat gue lah” celetuk Raka yang tiba-tiba saja merangkul Qania.


“Tangan woi kondisiin” sindir Ikhlas.


“Qania aja santai kok elo yang kebakaran jenggot” sinis Raka sambil melirik Qania yang sedang menatap sengit padanya.


“Hehehe, sorry Qan” kekeh Raka sambil menurunkan tangannya.


Ppffftttt.


Buahahahaha…


Teman-temannya tertawa melihat Raka yang mati kutu karena mendapat tatapan sengit dari Qania.


“Siapa suruh kepedean” ledek Banyu.


“Aku nggak tahu kamu itu waras atau enggak Raka, tapi tingkat kepedeanmu itu tolong dikurangin” sindir Qania yang lagi-lagi mengundang gelak tawa dari teman-temannya.


“Secara nggak langsung lo ngatain gue gila dong Qan” ucap Raka sambil berpikir.


“Tuh lo sadar” sambar Witno.


Sementara Baron, Abdi dan Prayoga terus memantau sikap Raka yang kayaknya berlebihan pada Qania, mereka yakin Raka memiliki rasa pada Qania hanya saja entah dia sadar atau tidak dengan sikapnya itu yang membuat orang bisa menebak bahwa ia memiliki rasa.


“Satu lagi nih manusia yang otaknya geser” desah Elin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Udah Lin, terima aja. Kasihan tahu bang Yoga udah sebulan pdkt lo nggak nanggepin” teriak Ikhlas.


“Nah tuh kan, si tanpa pamrih aja minta lo respon perasaan gue, masa lo nggak sih” rengek Prayoga.


Elin hanya bisa memutar bola matanya jengah padahal dalam hati uwuw uwuw tuh.


Qania hanya membiarkan Elin dan Prayoga, karena ia sudah memikirkan untuk membicarakan masalah Yoga sahabatnya dan Fadly pacar Elin yang ia sendiri mak comblang mereka.


“Qan tungguin dong, calon masa depan lo nih” teriak Raka saat Qania berjalan dengan cepat.


Bukan karena Qania malas meladeni mereka, tapi perasaannya dari tadi sangat aneh menurutnya.


“Qan, tuli lo yah, budeg gitu?” ledek Raka sambil menarik tangan Qania.


Deg…


Tepat saat Qania berhenti mulut Raka tak sengaja mencium rambut Qania di bagian belakang. Tapi bukan itu yang membuat Qania degdegan melainkan dua mata elang yang menatap kejadian itu seakan ingin memangsanya.


Gluukk..


Qania kesulitan menelan salivanya begitu melihat tatapan tajam itu, sementara yang lain belum menyadari kehadirannya.


“Qan elo kok berhenti tiba-tiba sih, sakit tahu mulut gue” protes Raka namun dalam hati ia bersorak karena dapat kesempatan mencium Qania meski pun hanya rambutnya.


“Jangan bilang siapa-siapa,kita sedang bercinta. Ini semua rahasia, antara kita berdua” Baron dari belakang berjalan sambil bernyanyi.


“Karena kamu dan aku, sudah ada yang punya” sambung Prayoga yang ikut berjalan mendahului Qania.


“Aku tak ingin mereka, jadi sakit hatinya” lanjut Abdi.


Yang lainnya hanya merasa ketiga pria itu tengah geser karena bernyanyi tiba-tiba dan saling menyambung lirik. Namun tidak dengan Qania yang paham betul bahwa ketiga saudaranya itu sedang menyindirnya.

__ADS_1


“Arkana Wijaya” gumam Qania yang di dengar oleh Raka dan Elin.


Raka dan Elin menoleh dan benar saja disana sedang duduk pria yang bernama Arkana Wijaya itu yang sedang menatap Qania seolah ingin menerkam mangsa.


“Ups, gue nggak ikutan” kata Elin sembari meninggalkan Qania yang diam mematung.


“Sorry Qan” Raka berjalan cepat meninggalkan Qania.


Tinggallah Qania yang berdiam diri di depan pintu pagar halaman rumah pak kadus.


‘Ya Tuhan, boleh nggak gue senang kali ini?’ batin Manda.


Raka yang berpapasan dengan Arkana hanya saling melirik sekilas karena Raka bergegas masuk ke dalam rumah, ia merasa bersalah namun juga tidak ingin ikut campur masalah mereka.


Qania melangkahkan kakinya perlahan, begitu pun dengan Arkana yang berdiri langsung mendekati Qania yang sudah berada di teras dan hanya berjarak tiga langkah saja.


Qania dan Arkana diam dan saling menatap, membuat teman-temannya menjadi degdegan akan adegan selanjutnya.


‘Apakah si pembalap itu bakalan marah?’ terka Prayoga.


‘Habis lo Qan, Arkana marah kali ini’ gumam Baron dalam hati.


‘Semoga Qania nggak kena marah’ doa Elin.


‘Marahan, putus, terus gue yang lanjutin’ batin Witno.


‘Duh si Raka, gue bilang juga apa’ gerutu Ikhlas dalam hati.


‘Haruskah gue manfaatin situasi?’ pikir Manda.


Sementara Banyu dan Abdi hanya menunggu adegan selanjutnya, jangan Tanya Raka, pria itu tengah mengintip dari ruang tamu.


Dan..


Bughh…


Arkana dan Qania saling berpelukan, pelukan yang begitu erat hingga membuat mereka yang melihatnya tercengang.


“I miss you so much” isak Qania.


“I miss you more, sayang” balas Arkana sembari menghujani ciuman di puncak kepala Qania.


“Dan pemirsa, mereka memang pasangan terhot yang pernah gue lihat” tiba-tiba saja Baron menjadi komentator sepak bola, padahal tujuannya adalah menyindir Raka, Witno dan Manda bersamaan.


“Kok nggak bilang mau kesini?” Tanya Qania setelah keduanya melepaskan pelukan.


“Kan biar kamu terkejut, senang terus meluk aku erat. Kan romantis banget tuh kalau tiba-tiba orang yang di rindukan ada di depan mata” jawab Arkana sambil membelai sayang wajah Qania.


Qania tersipu malu, lagi-lagi Arkana mampu membuatnya ngefly.


'Pantas aja dari tadi nih jantung berulah, rupanya..' batin Qania.


“Yook masuk, adegan tersebut jangan ditiru ya. Khusus tujuh belas ke atas” celetuk Prayoga.


“Kita kan udah dua puluh lebih” sanggah Elin.


“Dih ketahuan yang suka adegan kayak gitu, yuuk praktein sama abang” sambar Prayoga membuat Elin mendengus kesal dan segera masuk ke rumah.


‘Ternyata mereka emang sangat sulit buat dipisahin. Jadi move on gue nggak sia-sia’ batin Manda, ia tersenyum puas.


‘Hah, syukurlah mereka nggak marahan’ batin Raka yang juga ikut lega, ia pun kembali masuk ke kamarnya.


Baron yang tidak sengaja melihat senyuman tulus di bibir Manda pun akhirnya lega karena ia sudah yakin kalau Manda memang sudah jatuh hati pada Banyu si gaya batu.


 


...☘☘☘☘☘☘...


Hallo pembaca setia karyaku ini, makasih banyak ya udah mampir.


Tanpa kalian author seperti mati lampu ya sayang sperti mati lampu 😁😁🤣


Author mau nanya nih, menurut kalian up perbabnya itu 2000an kata atau seribuan tapi banyak bab? soalnya kalau seribuan bisa buat sampai sepuluh bab perhari tapi kalau 2000an ya bisanya lima aja.

__ADS_1


Tolong masukannya yaa 😊😊


Salam hangat dari author untuk kalian semuaaa 🤗🤗🤗


__ADS_2