Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Gulung Tikar


__ADS_3

Liburan mudik yang dilakukan Qania bukanlah ia datang untuk bersantai-santai, awalnya Qania memang berniat untuk berlibur seperti orang pada umumnya untuk menikmati waktu senggang, tapi Qania lebih memilih membantu sedikit-sedikit pekerjaan Setya sebagai seorang pengacara dan banyak menyempatkan diri untuk membaca buku-buku tentang hukum.


Seperti saat ini, Qania tengah mempelajari sebuah kasus yang Setya berikan padanya agar Qania memecahkannya dan memberikan masukan tentang kasus tersebut. Qania nampak serius membaca dokumennya membuat Setya yang sedang mengajak Arqasa bermain itu melengkungkan bibirnya.


Qania mengerutkan dahinya karena agak bingung bagaimana untuk memecahkan kasus tersebut dan hal tersebut sangat wajar mengingat Qania barulah menempuh pendidikan Hukum selama satu semester.


“Bingung atau kesulitan?” tanya Setya yang sedang duduk di lantai bermain bersama cucunya.


“Iya pa, Qania masih belum terlalu paham” jawab Qania dengan wajah ditekut namun pandangannya masih fokus ke dokumen tersebut.


“Ya tentu saja seperti itu nak, kalau kamu sudah bisa memecahkannya dalam waktu singkat dan kamu sudah mahir menyelesaikan sebuah kasus untuk apa lagi papa sekolahkan kamu di jurusan hukum” kekeh Setya membuat Qania mendengus kesal.


“Ih papa itu harusnya ngajarin Qania bukan nertawain Qania kayak gitu. Emang papa mau bisnis papa bangkrut karena Qania yang nggak becus ngurusnya? Nanti diberitain pengcara kondang Setya Wijaya sekaligus pengusaha dibidang kuliner dan perhotelan di seluruh daerah di pulau berbentuk huruf K gulung tikar karena menantunya tidak becus mengurus perusahaan” ucap Qania bak seorang reporter.


Setya tertawa terbahak-bahak hingga harus berkali-kali mengusap air matanya dan memegangi perutnya yang sakit akibat ucapan Qania barusan. Ia kemudian menggendong Arqasa dan ikut duduk di sofa bersama Qania.


“Itu kamu meramal atau mendoakan papa gulung tikar?” tanya Setya disela tawanya.


“Papaaa, ya nggak mungkinlah Qania doain papa yang ada itu juga akan berdampak pada Qania sama Arqasa kalau sampai itu terjadi. Bayangkan saja kalau nanti hal itu terjadi, pasti nggak bakalan ada orang yang mau nerima Qania kerja karena kata menantu yang tidak becus itu merujuk pada Qania tentu saja” jawab Qania kemudian memanyunkan bibirnya.


“Ya kamu aja yang membayangkannya, papa mah ogah” ledek Setya.


“Nggak bapaknya nggak anaknya sama-sama ngeselin” cibir Qania pelan namun masih terdengar oleh Setya yang akhirnya kembali memecahkan tawanya.


“Kan bapak sama anak” timpal Setya.


“Ya Allah kuatkan aku” ucap Qania sambil menengadahkan wajahnya dan memasang wajah teraniaya.


“Dan papa berani bertaruh kalau anakmu ini juga akan sama seperti daddynya yang menyebalkan” imbuh Setya membuat Qania langsung menutup dokumen ditangannya dan menatap horror pada mertuanya.


“Kabuuuuurrrr” Setya menggendong Arqasa dan langsung membawanya keluar dari ruangan kerjanya tersebut.


Qania menatap pintu yang terbuka lebar serta punggung mertuanya yang sudah semakin menjauh, sebuah senyuman terbit di wajah Qania.


“Semoga kita akan menjadi keluarga hangat selamanya Pa, Qania janji bakalan buat kalian bahagia. Qania janji akan menjadi pengganti Arkana untuk mengurus papa seumur hidup untuk meneruskan apa yang seharusnya dilakukan oleh Arkana” ucap Qania kemudian menghela napas panjang dan berdiri dari duduknya menuju ke rak buku untuk mencari tambahan ilmu untuk menuntaskan kasus tersebut.


Qania nampak mengambil satu persatu buku yang ia perlukan dan menumpuknya di atas meja. Tanpa sadar Qania sudah menumpuk hampir sepuluh buku tebal dan itu membuatnya harus menghela napas panjang lagi dan berusaha memberikan dorongan semangat pada dirinya sendiri agar bisa menyelesaikan tugas pertama dari papa mertuanya itu.


“Oke Qania, kamu pasti bisa. Jangan sampai kamu jadi menantu yang nggak becus dan membuat mertuamu gulung tikar” ucap Qania kemudian mengambil satu buku tebal untuk dibacanya.


Qania baru menghentikan aktivitasnya ketika waktu sudah menunjukkan pukul sempat sore, waktunya Arqasa untuk mandi.


“Hooaammm, rasanya aku lebih baik senam Teknik dari pada harus membaca buku-buku setebal itu. Udah hampir tiga jam aku baca buku dan rasanya lebih menyiksa daripada rumus bu Lira” keluh Qania sambil merenggangkan otot-ototnya.


Qania berjalan keluar dari ruang kerja mertuanya itu untuk mencari keberadaan anaknya. Ia berpapasan dengan bi Ochi yang baru saja datang dari berbelanja bahan makanan.


“Nak Qania cari bapak?” tanya bi Ochi.


“Iya bi” jawab Qania sambil tersenyum.


“Mereka baru saja ke taman naik mobil nak, katanya mau ajak Arqasa naik sepeda barunya” jawab bi Ochi.


“Ya ampun papa, emang dia sanggup dorong-dorong Arqasa di sepedanya” Qania menepuk dahinya dengan sebelah tangannya berada di pinggang.


“Tenang nak ada pak Anwar juga kok. Bibi ke dapur dulu ya nak, mau beres-beres belanjaan” pamit bi Ochi yang diangguki oleh Qania.


Qania bingung harus melakukan apa, mau kembali ke ruang kerja ia sudah sangat lelah membaca dan sepertinya tidur adalah hal yang paling tepat untuk ia lakukan. Qania bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap tidur.


Baru saja Qania hendak memejamkan matanya, dering ponselnya membuat ia harus menunda dulu keinginannya untuk segera berpetualang ke alam mimpi.


“Elin?” Qania membaca nama peneleponnya kemudian ia segera menjawab panggilan tersebut.


“Qan kamu lagi sibuk nggak?” tanya Elin yang sedang duduk di atas tempat tidurnya.


“Nggak Lin, kenapa?” Qania bertanya balik sambil mendudukkan dirinya di sofa.


“Jalan yuk, udah lama banget kita nggak jalan” ajak Elin dengan semangat.


“Kapan?”,.

__ADS_1


“Sekarang aja”,.


“Anak sama mertuaku lagi nggak di rumah jadi nggak bisa sekarang” tolak Qania.


“Hmm ya udah deh padahal aku udah kangen banget” ucap Elin kecewa.


“Aku juga kangen sama kamu, selama dua minggu aku mudik kita belum juga bertemu” Qania memangku kakinya sambil menerawang ke luar jendela.


“Gimana bisa bertemu kalau kamunya di rumah mertuamu” keluh Elin.


“Ya ini kan rumahku yang sekarang, lagian tiap aku ke rumah mama papaku kamunya yang nggak ada” balas Qania mengeluh.


“Hmm aku belum mengambil pekerjaan di sekolah Qan, aku lagi sibuk ngasih les privat ke anak-anak SD sama SMP dan juga ngasih kursus untuk umum” cerita Elin.


“Wih orang sibukk” pekik Qania.


“Haha dari pada nggak ngapa-ngapain” Elin terkekeh dengan kehebohan Qania.


“Emang kamu nggak niat buat ngajar di sekolahan?” tanya Qania penasaran, karena sahabatnya itu justru memilih menjadi guru les.


“Ada sih niatnya tapi aku masih belum mau terikat dan kamu tahu sendirikan kalau gaji honorer itu hanya berapa aja dan bahkan gaji aku ngasih les privat sama upah kursus itu jauh lebih banyak” tukas Elin sa,bil menahan tawanya.


“Emang orang tuamu bangkrut sampai kamu harus berjuang keras seperti ini?” ledek Qania.


“Huss sembarangan aja, init uh namanya menyalurkan bakat dan ilmu kepada yang membutuhka. Lagian aku mau mandiri dan memulai semuanya dari nol, nggak kayak kamu biar nggak kerja harta mertuamu nggak bakalan habis” cibir Elin.


“Enak aja ngomong kayak gitu” protes Qania.


“Ya udah deh Qan, aku tutup dulu ya teleponnya. Kamu sih nggak mau diajak jalan” ucap Elin dengan wajahnya yang nampak begitu galau.


“Lain kali ya, ntar aku kabarin” ucap Qania berusaha menyenangkan Elin.


“Bye Qania, love you beib”,.


“Bye, love you too bee”,.


“Sama” kekeh Qania kemudian menutup panggilan tersebut.


Qania mendesah pelan lalu meletakkan ponselnya di atas tempat tidur. Rasa kantuk yang tadi sempat ia rasakan pun kini sudah menghilang.


“Sebaiknya aku mandi saja, berendam mungkin bisa sedikit mee..rilekskan otakku yang mumet karena membaca buku-buku pusaka papa tadi” ucap Qania memutar matanya jengah.


 


Qania sedang menyirami seluruh tubuhnya yang sudah tertimbun busa berbau mawar itu, tiba-tiba saja ingatannya melayang pada kejadian pagi pertama bersama Arkana yang tentu saja baru kali ini mampir keingatannya karena selama dua minggu di rumah mertuanya ia selalu mandi pagi dan sore bersama anaknya sehingga tiada waktu mengingat momen romantis menurutnya itu.


Qania mengerjapkan matanya mencoba menyesuaikan cahaya yang perlahan mengganggu tidur nyenyaknya. Saat kedua mata Qania sudah terbuka dengan sempurna, senyum langsung tersungging di bibirnya karena pemandangan yang amat manis tersuguh di depannya.


Pemandangan yang dimana Arkana sedang berbaring miring menghadap ke Qania dengan satu tangannya sebagai bantal sedang tersenyum sambil menatap lekat wajah Qania.


“Selamat pagi istriku sayang” sapa Arkana lalu melemparkan senyum manisnya yang membuat napas Qania tercekat karena syok dengan pemandangan indah yang pertama kali ia lihat saat ia membuka mata di pagi hari.


Qania hanya bisa membalas sapaan Arkana dengan senyuman setelah ia bisa menguasi dirinya.


“Mau mandi sayang?” tanya Arkana sambil sebelah tangannya membelai wajah Qania dan merapikan anak rambut yang menutupi wajah Qania.


“Hu’umm” jawab Qania malu-malu, pipinya sudah bersemu merah.


“Mandi bersama?” ajak Arkana dengan smirk di wajahnya membuat Qania syok dan membuka lebar mulutnya.


Cupppp…


Satu ciuman mendarat di mulut Qania yang sedang terbuka itu membuatnya semakin terbelalak.


“Morning kiss my wife’ ucap Arkana terkekeh.


“Aku belum gosok gigi sayang ih” rengek Qania.


“Ya nggak apa-apa” ucap Arkana kemudian duduk dan menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.

__ADS_1


Wajah Qania memerah melihat sesuatu yang sudah berdiri tegak tapi bukan keadilan itu, dengan cepat Qania memalingkan wajahnya. Qania masih belum lupa dengan apa yang mereka lakukan dini hari tadi. Dan tubuhnya pun masih merasa pegal dan letih akibat pergelutan mereka yang juga malam pertama mereka yang dipenuhi drama itu.


“Jangan menggodaku dengan memasang wajah malu-malu tapi mau seperti itu sayang” ucap Arkana sengaja memancing kekesalan Qania.


“Apa katamu barusan? Aku memancingmu dan kau bilang aku malu-malu tapi mau?” tanya Qania dengan tatapan menyiratkan permusuhan.


“Yak au saja yang tidak bisa melihat dari matamu sudah jelas terpancar kalau kau ingin mengajakku mengulang hal semalam tapi kau berpura-pura malu” tambah Arkana mencoba memprovokasi Qania.


“Arkanaaaa” teriak Qania dan tanpa pikir panjang ia langsung menarik selimut yang menutupi tubuhnya untuk turun dari tempat tidur.


Buggghhh….


“Awww” Qania meringis sebab terjatuh dari tempat tidur.


Wajah Arkana yang tadi sangat senang karena berhasil membuat Qania kesal langsung berubah panik begitu melihat Qania terjatuh. Dengan gerakan cepat Arkana melompat dari tempat tidur dan duduk di depan Qania yang sudah terjatuh di lantai itu.


“Sayang kamu kok bisa jatuh kayak gini sih?” tanya Arkana sambil menggendong Qania naik ke tempat tidur.


“I..itu sayang, rasanya sangat sakit sehingga aku terjatuh” jawab Qania malu-malu.


Arkana mengangkat sebelah sudut alisnya menatap Qania, ia masih belum bisa mencerna kata-kata Qania.


“Yang dibawah masih sakit sayang, aku tadi bergerak refleks dan karena aku nggak tahu kalau itu akan menimbulkan rasa nyeri sehingga aku terjatuh karena nggak kuat nahan sakitnya” ucap Qania member penjelasan karena ia paham dengan ekspresi yang ditampilkan Arkana.


Arkana tersenyum malu begitu mengetahui penjelasan Qania. Tanpa menunggu persetujuan Qania ia langsung menyibak selimut yang menutupi tubuh Qania dan tentu saja tindakannya itu membuat Qania terkejut. Belum sempat Qania mengeluarkan protes, Arkana sudah membawa tubuhnya dalam pelukan ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Arkana mendudukkan tubuh Qania di atas kloset lalu ia mengisi bak mandi dan menambahkan sabun hingga membuat bak mandi itu penuh busa kemudian ia kembali menggendong tubuh Qania dan memasukkannya ke dalam bak.


Qania tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia dan malunya diperlakukan semanis itu oleh Arkana. Arkana pun tak hentinya menyunggingkan senyuman karena tentu saja dengan membantu Qania mandi ia bisa menyentuh setiap inci tubuh Qania.


“Sayang” panggil Qania yang rambutnya sedang di keramas oleh Arkana.


“Iya sayang” sahut Arkana namun tetap melanjutkan pijatannya di kepala Qania.


“Harusnya kita mandi wajib dulu sayang” ucap Qania malu-malu.


Arkana menepuk jidatnya, bagaimana bisa ia melupakan mandi besar setelah bersetubuh itu.


“Jadi gimana dong sayang?” tanya Arkana bingung.


“Ya udah setelah mandi yang ini, nanti kita gentian mandi wajibnya” jawab Qania sembari tersenyum menengadahkan wajahnya menatap Arkana.


Cuppp…


Satu ciuman mendarat di dahi Qania, membuat pipi Qania semakin bersemu merah.


“I love you Arkana Wijayaku” ucap Qania dengan menampilkan senyum termanisnya.


“I love you too Qania Salsabila nyonya Arkana Wijaya” balas Arkana kemudian membilas busa shampoo di rambut Qania.


“Kamu nggak mandi sayang?” tanya Qania.


“Ini aku baru mau masuk, gentian kamu yang keramasin rambut aku” ucap Arkana yang tanpa aba-aba langsung ikut masuk ke dalam bak mandi.


Qania sempat ingin protes, namun ia mencoba menahan dirinya karena dia dan Arkana sudah sah dan tidak ada lagi alasan baginya menolak keinginan suaminya itu.


Dengan telaten Qania memijat kepala Arkana dan membilasnya, kemudian keduanya turun dari bak dan membersihkan sisa busa di tubuh mereka dibawah guyuran shower.


*


“Aku merindukanmu Arkana, sangat amat merindukanmu” lirih Qania dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Kenangan manis yang baru saja mampir diingatan Qania membuatnya kembali merintih menahan rasa rindu yang tidak bisa lagi ia tebus karena orang yang bisa menebus rindu itu sudah tiada lagi bersamanya bahkan tidak akan bisa menebus semua rasa rindu yang terus menggerogoti hati Qania.


 


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2