Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Bertemu Mantan


__ADS_3

Rumah Elin begitu ramai dengan persiapan akad nikah dan resepsi besok. Ada yang tengah bernyanyi diiringi pemain music, ada yang sedang mengatur kursi, ada yang tengah memasak dan ada juga sebagian yang hanya sedang berbincang-bincang. Tak luput pula dari para bocah yang sedang berlarian saling kejar-kejaran di antara banyaknya orang dewasa. Sudah merupakan hal biasa apalabila ada perayaan pesta maka anak-anak akan bebas bermain. Tentu saja salah satu dari bocah yang sedang bermain kejar-kejaran itu adalah Arqasa. Anak itu tetap sama seperti bocah pada umumnya, senang bermain dengan teman sebayanya.


Papa Qania pun nampak tengah berbaur dengan warga disana sambil membantu mengatur persiapan untuk tamu nanti di acara akad karena acara resepsi akan diadakan di hotel, tentu saja hadiah dari Qania maka mereka mendapatkan fasilitas gratis dari hotel termasuk kamar pengantinnya, tapi tidak dengan makanan dan juga dekorasinya, sebab keluarga Elin lah yang menentukan kedua hal tersebut.


Inilah yang paling disukai masyarakat dari sosok bupati mereka, senang berbaur dan tak terlihat seperti pejabat melainkan seperti warga biasa saja. Mulai dari pakaiannya hingga hal-hal yang melekat pada dirinya terlihat begitu sederhana. Mungkin saja jika periode selanjutnya ia mencalonkan maka akan terpilih lagi, pendapat para warga.


“Pak Zafran, bukankah sebaiknya Anda duduk saja. Ada banyak warga yang bisa mengerjakan ini,” cegah salah satu warga saat melihat Zafran tengah mengangkat meja.


“Ya ampun Pak Udin, ini hanya meja dan sebagai pemimpin bukannya saya yang harus mencontohkan lebih dulu kepada warganya. Nah ini dia saya mencontohkan pada kalian cara mengangkat meja. Barangkali diantara bapak-bapak sekalian ada yang tidak tahu ini adalah meja dan juga tidak tahu cara mengangkatnya, hahaha.”


Gelak tawa terdengar di halaman rumah tersebut. Bagaimana bisa bupati ini mengatakan bahwa warganya tidak tahu bahwa benda yang dipegangnya itu adalah meja dan tidak tahu cara mengangkatnya.


“Wah Bapak terima kasih atas infonya. Akhirnya saya jadi tahu kalau benda itu namanya adalah meja dan ternyata cara memindahkannya dengan mengangkat menggunakan kedua tangan, hahaha,” timpal Papa Elin diikuti gelak tawa dari para warga.


“Nah sekarang sudah tahu kan. Mari kita kembali bekerja dan saling membantu. Dan ingat yang itu kursi dan diletakkan disana. Yang sana meja dan yang sana panggung. Sudah tahu kan?” gurau Zafran yang membuat para warga kembali tertawa.


“Pak Zafran emang TOP,” ucap pak Udin.


“Nanti mencalonkan lagi Pak, akan saya pilih pokoknya,” seru Pak Rusmin.


“Sekalian Pak, jadi gubernur. Saya akan jadi tim sukses ikhlas lahir batin Pak buat memenangkan Bapak,” timpal Pak Darman.


Zafran hanya tertawa mendengarkan ucapan-ucapan warganya. Tentu saja ia semakin bersemangat untuk memimpin daerahnya dan juga mensejahterakan masyarakatnya. Selama menjabat pun ia hanya menerima gajinya saja, ia tidak berniat melakukan korupsi meskipun hanya satu lembar saja. Ia berfokus pada kesejahteraan masyarakatnya serta kemajuan kotanya. Itulah sebabnya ia tak pernah kalah dalam pemilu baik menjadi anggota dewan hingga menjadi bupati saat ini.


“Saya ingat lho kata-kata kalian. Jangan lupa pilih lagi ya, haha,” gurau Zafran.


Mereka kompak mengiyakan sementara Zafran dan Papa Elin hanya tertawa.


“Apakah Pak Zafran tidak berniat menikahkan Qania lagi?” tanya Papa Elin dengan hati-hati saat mereka sudah duduk di kursi yang tadi mereka atur.


“Kalau dari pihak kami keluarganya sudah menyarankan untuk Qania mencari pasangannya, bahkan mertuanya pun memintanya juga. Tapi anak itu memang keras kepala, dia menolak dan katanya cukup ada dia dan Arqasa saja. Jika terus dimintai untuk menikah justru kami yang disalahkan karena dia merasa kami tidak mau lagi menjaganya dan anaknya. Ya sudah kami tidak mau lagi  menyuruhnya. Biarkan dia menentukan pilihannya sendiri,” jawab Zafran sambil memijat pelipisnya.


“Ternyata sekeras itu prinsip Qania ya, Pak. Tapi sayang lho kalau dia tidak menikah lagi, masih sangat muda Pak. Tapi namanya juga jatuh cinta Pak, jika sudah cinta maka tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membujuknya. Kita hanya bisa berdoa semoga suatu saat nanti hati Qania akan terbuka dan mau memilih pasangannya. Kasihan saya melihatnya. Meskipun mertuanya memiliki harta yang takkan habis sampai tujuh turunan tapi tetap saja itu semua tidak bisa menjamin kebahagiaan kan, Pak,” ucap Papa Elin, ia sangat menyayangi Qania layaknya anaknya sendiri karena sudah terbiasa bersama Qania sejak kecil.


“Iya Pak, kami hanya berharap Qania mau merubah arah pandangnya. Kami tidak ingin dia larut dalam dukanya, tapi itu sudah pilihannya. Kami mana bisa mencegahnya.” Zafran menghela napasnya, ia tidak tahu harus berkata apa lagi.


Melihat hal tersebut Papa Elin pun mengalihkan pembicaraan tentang pemilu dan juga tentang pembangunan-pembangunan di kota mereka. Ia yang bekerja sebagai pengusaha sebenarnya tak begitu paham dengan pemilu namun karena orang yang berbincang dengannya ini memiliki daya tarik tersendiri saat sedang menjabarkan sesuatu, maka lawan bicaranya pun akan merasa senang saat mereka berbincang.


 


Di dalam kamar pengantin, Qania tengah menemani Elin yang tangannya baru saja selesai dihias dengan hena. Mereka hanya tinggal berdua saja di dalam kamar. Arqasa sedang asyik bermain dan Qania yang ingin membantu di luar justru ditahan oleh Elin di dalam kamarnya. Qania tak perlu capek-capek katanya dan itulah yang paling Qania tunggu, ia hanya ingin bermalas-malasan saja. Bukan tanpa sebab, hati dan pikirannya beberapa waktu ini sudah sangat lelah sehingga yang ia butuhkan hanya istirahat dan bersantai-santai saja.


Keduanya tengah bersandar di tempat tidur, Qania memainkan ponselnya untuk mencari beberapa referensi di internet sedangkan Elin hanya sedang berdiam diri, tangannya masih belum bisa ia gunakan untuk memegang ponsel.


“Eh hp kamu Lin,” ucap Qania saat melihat ponsel Elin berdering di atas nakas.


“Qan tolongin,” Elin mengangkat kedua tangannya dengan maksud memeperlihatkan tangannya yang baru saja dihiasi hena beserta cengirannya.


Qania pun turun dan langsung mengambilkannya.


“Siapa Qan?” tanya Elin.


Qania pun naik ke tempat tidur dan duduk di samping Elin, “Nggak tahu, nomor baru,” jawab Qania sambil memperlihatkan panggilan dengan nomor tak di kenal.


“Coba angkat aja Qa, loudspeaker,” ucap Elin.


Qania mengangguk kemudian segera menggeser tombol berwarna hijau.


“Hallo.”


Degg …


Bukan Qania, tentu saja Elin yang merasa jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak. Ia tahu dan kenal suara tersebut. Suara yang sangat tidak asing di telinganya. Suara yang sudah hampir lima tahun tak lagi ia dengarkan. Matanya berkaca-kaca, ia sepertinya akan menangis. Qania melirik Elin, ia sedikit terkejut dengan ekspresi sahabatnya itu saat mendengar suara dari ponselnya.


Elin kenapa? Dan suara ini kayak nggak asing gitu ya? Kayak pernah dengar, tapi dimana? Batin Qani.


“Benar ini dengan Felin?”


Terdengar suara dari seberang saluran telepon.

__ADS_1


“I-iya,” jawab Elin terbata.


“Oh syukurlah, aku pikir salah nomor. Masih mengingatku, hm?”


“Ya, sedikit,” jawab Elin.


“Hehe, aku pikir kau akan menjawab tentu saja aku mengingatmu. Rupanya kau mematahkan harapanku sayang. Oh ya, bagaimana kabarmu? Aku dengar kau akan menikah dengan pria di mall waktu itu?”


“Ya, besok. Datanglah,” jawab Elin, ia sebenarnya tak ingin menjawab sesingkat itu, namun saat ini ia sednag berperang dengan hatinya.


“Apakah aku diundang? Tidak takut jika aku datang merusak pestamu. Aku sedang menyusun rencana untuk menculik pengantin wanitanya besok sebelum akad, hehe.”


“Kak Fadly, itu tidak lucu,” kekeh Elin sambil menyeka air matanya yang sudah menetes.


Qania membulatkan matanya begitu mendengar nama yang disebutkan oleh Elin. Ia menatap penuh selidik kepada Elin yang kini tengah tersenyum kecut kepadanya.


“Jangan baper, awas lo,” bisik Qania dan Elin pun mengangguk mengiyakan.


“Mendengarmu menyebut namaku justru semakin menambah semangatku untuk menculikmu, hahaha.”


“Becandanya nggak lucu, kak,” sungut Elin.


“Iya-iya, maaf ya. Oh ya, bisakah kita bertemu? Sebentar saja. Di taman dekat rumahmu.”


Qania jelas terkejut dengan permintaan Fadly. Yang benar saja mengajak bertemu saat besok adalah hari pernikahan Elin. Apalagi ini sudah malam, pikir Qania.


Elin menatap Qania. Dari tatapan itu bisa Qania artikan bahwa Elin tengah meminta pendapatnya.


“Aku pikirkan dulu,” ucap Qania tanpa bersuara hanya melalui gerakan bibir, Elin mengangguk mengerti.


“Bertemu?” tanya Elin mengulur waktu.


“Ya, kalau kamu nggak keberatan.”


Tentu saja dia keberatan breng-sek, batin Qania.


Qania mengangguk setuju, ia sudah memiliki rencana tersendiri.


“Tapi Kak, diluar rumah ada banyak orang. Aku mana boleh keluar rumah,” jawab Elin jujur.


“Hanya sebentar saja. Aku nggak akan lama, hanya ingin melihatmu saja. Sungguh. Nggak ada niatan lain.”


“Akan aku kirimi pesan jika aku bisa datang,” jawab Elin.


“Baiklah. Aku akan terus menunggu disini sampai kamu datang.”


Panggilan berakhir, Elin menghela napas berat kemudian melirik Qania yang tengah sibuk dengan ponselnya.


“Ini gimana Qan? Dia udah disana,” tanya Elin merengek.


“Aku mau mastiin, kamu masih cinta nggak sama dia?” tanya Qania menatap lekat manik Elin.


“Ya ampun pertanyaan macam apa itu huhh. Aku ini akan menjadi pengantin dan istri si Yoga besok. Kamis udah menjalaninya selama lima tahun you know. Sangat lama dan kami berani ke pelaminan dengan komitmen pernikahan. Kamu masih ngeraguin aku, huhh,” sungut Elin. Yang benar saja pertanyaan Qania ini, pikir Elin.


Qania menggulum senyum, ia sebenarnya tak pernah berniat bertanya seperti itu. Jelas saja ia sangat tahu jika Elin benar-benar mencintai Prayoga. Pertanyaan itu murni hanya sekadar i-s-e-n-g doang.


“Ya aku takutnya kamu baper ketemu mantan terindahmu itu. Kan kamu orangnya mudah baperan,” ledek Qania.


“Qaniaaaa!!”


Qania tertawa melihat Elin yang sudah kesal padanya. Namun hanya sesaat kemudian ia memutar bola matanya jengah setelah membaca pesan masuk di ponselnya.


Woii cewek cantik tapi galak sayangnya gue cinta, kangen gue sama lo, lope lope buat Qania-nya Tristan


Qania tak habis pikir dengan isi chat tersebut. Seorang Tristan mengirim pesan alay seperti itu. Namun sesaat kemudian ia menggulum senyum. Awalnya jengah lama-lama jadi menggemaskan, pikir Qania.


“Qania, kenapa kamu senyam-senyum ke aku? Ledekin aku? Iya?” sungut Elin.


Ya enggak lah Lin. Aku sedang kasmaran ini, batin Qania.

__ADS_1


Eh? Kasmaran? Nggak. Nggak mungkin, elak Qania lagi.


“Sekarang bengong?” sindir Elin.


“Apa sih, jangan berpikir negatif dulu. Aku sedang memikirkan rencana untuk bertemu dia,” kilah Qania.


“Oh, gitu.”


Qania memutar otaknya, bagaimana cara ia membawa Elin keluar sementara baik di dalam maupun di luar rumahnya ada banyak orang. Alasan apa yang akan ia berikan untuk menjawab pertanyaan mereka nanti.


“Lima menit kemudian,” ucap Elin.


“Ting tong, sejam kemudian,” lanjut Elin.


“Sehari kemudian.”


“Setahun kemudian.”


“Ih bisa diam nggak sih, belum ada lima menit juga,” tegur Qania.


“Habisnya lama,” keluh Elin.


“Udah nggak sabar ya ketemu mantan,” ledek Qania.


“Apaan sih. Aku tuh mau cepat-cepat ketemu biar bisa cepat pulang. Aku harus banyak istirahat. Besok subuh aku sudah harus bangun dan di dandani,” tukas Elin.


“Eh iya ya. Ya udah ayo kita keluar,” ajak Qania. Ia beranjak turun dari tempat tidur diikuti oleh Elin.


Benar saja, saat mereka keluar dari kamar banyak yang menanyakan mereka akan kemana dan Qania hanya menjawab akan mencari Arqasa. Elin katanya merasa bosan di kamar dan ingin keluar sebentar. Sampailah mereka di halaman rumah Elin. Disana ada Papa Qania dan juga Papa Elin. Langsung saja mereka ditahan dan ditanyai.


“Mau kemana calon pengantin?” tanya Papa Elin.


Elin menyenggol lengan Qania, meminta Qania untuk menjawab.


“Aku tadi mau nyari Arqasa, eh si pengantin malah ingin ikut,” sahut Qania. “Bosan katanya di kamar. Dia juga sedang gugup. Nggak bisa tidur katanya. Makanya aku ajakin aja keluar, nyari udara segar biar cepat ngantuk,” jawab Qania mengarang bebas.


Apa-apaan alasan Qania itu. Kok kesannya nyudutin aku ya? Rutuk Elin dalam hati.


“Oh anakmu udah balik sama Nenek-nya. Nggak jadi katanya mau nginap di rumah Elin. Mungkin udah tidur karena lelah lari-larian,” jawab Zafran.


“Lho kok?”


“Iya, nggak tahu tuh emang tadi udah merengek sama Nenek-nya minta di anterin pulang,” timpal Papa Elin.


“Aneh,” gumam Qania. “Lalu Mama mana Pa?” tanya Qania.


“Di dalam, lagi bantuin masak, katanya Ar cepat banget bobonya” jawab Papanya.


“Mungkin sangat kelelahan Pa,” ucap Qania.


“Ya sudah, kalian nyari anginnya sekitaran sini saja. Jangan jauh-jauh dan jangan lama. Ingat besok hari penting kamu Nak,” ucap Papa Elin.


Qania tentu saja langsung mengembangkan senyumannya. Rencanannya berhasil.


“Makasih Om, hanya sepuluh sampai dua puluh menitan kok. Yuk Lin,” ajak Qania.


“Makasih Pa. pamit dulu Pa, Om,” ucap Elin yang dijawab anggukan oleh Papa-nya dan juga Zafran.


Qania dan Elin pun berjalan keluar rumah Elin menuju ke taman tanpa memberitahukan kepada Fadly kalau mereka sedang menuju kesana. Saat Qania menengok ke arah kamarnya, lampu kamar itu terlihat menyala, berarti anaknya itu tidur di kamarnya. Dia jadi ingin pulang dan tak ingin menginap bersama Elin. Tapi Qania yakin Elin tak akan mengiyakannya untuk kali ini.


“Kalian datang juga,” ucap Fadly yang melihat Qania dan Elin berjalan mendekat.


“Hallo Qania, apa kabar?”


Qania langsung membulatkan matanya melihat sosok yang baru saja menanyakan kabarnya itu.


“Fandy?”


...🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳...

__ADS_1


__ADS_2