Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Dusun Suka Asri


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih enam jam akhirnya mereka sampai juga. Sebenarnya desa tempat mereka akan melakukan pengabdian kepada masyarakat itu tidaklah jauh, hanya saja dusun untuk kelompok mereka memanglah sangat terpelosok.


Dusun yang mereka tempati berada tak jauh dari kaki gunung dengan pemandangan yang begitu indah dan suasana yang terasa begitu asri. Jalan dusun pun tidak teraspal, dan jaringan ponsel jangan ditanya, tentu hampir tidak bisa mendapatkannya disana. Jika hanya sekedar mengirim dan menerima pesan masih bisa, tapi kadang-kadang saja.


 


Anak-anak berlarian mengerumuni rumah pak Jaja karena melihat keramaian, warga yang lainnya pun tak kalah antusias menyambut kedatangan sepuluh orang itu.


 


"Selamat datang di desa Kembang Sari dusun Suka Asri" sambut kepala dusun yang bernama pak Jaja dan beberapa warga yang merupakan perangkat dusun yang memang sudah di beritahukan akan kedatangan mahasiswa.


 


"Terima kasih pak" sahut Abdi dan teman-teman sekelompoknya.


 


"Beberapa hari yang lalu dosen kalian datang memberitahukan kepada saya bahwa kalian akan datang melakukan tugas kuliah kerja nyata atau yang biasa di singkat KKN itu. Selama kalian disini, kalian akan tinggal di rumah saya, sebenarnya ada rumah warga yang kosong disini hanya saja rumahnya sangat jauh dan berada di perbatasan. Dan juga kami menghindari fitnah warga jika membiarkan kalian tanpa pengawasan" tambah pak kadus.


 


"Kami terserah dari pak kadus saja, mana baiknya" ujar Abdi sebagai ketua kelompok.


 


"Syukurlah. Oh iya nama saya pak Jaja, dan ini pak Mirad sebagai petugas keamanan dusun bersama temannya pak Oge" ucap pak kadus memperkenalkan.


 


“Kebetulan di rumah saya masih ada dua kamar kosong, sebenarnya yang satu milik anak saya yang sudah menikah tapi dia sudah tidak tinggal disini, kamar itu boleh buat yang cowok. Kamar yang satu memang di khususkan untuk tamu, di dalamnya ada kamar mandi jadi itu saya khususkan untuk yang cewek” lanjut pak kadus.


“Wah terima kasih banyak pak” ujar Qania.


“Silahkan diminum” ucap bu Karni, istri pak Jaja yang datang dari dapur membawa nampan berisi tiga belas canglir teh hangat.


“Makasih bu” jawab mereka bersepuluh secara bersamaan.


“Ini istri saya namanya bu Karni” ucap pak kadus saat bu Karni duduk di sebelahnya.


“Perkenalkan saya Abdi, saya ketua kelompok disini. Disebelah saya namanya Qania, selanjutnya Felin, disebelah Felin ada Manda. Dan yang laki-laki di belakang saya namanya Baron, disebelahnya ada Prayoga, disebelah Yoga ada Witno, kemudian Raka, disebelahnya Banyu dan yang terakhir Ikhlas” ucap Abdi memperkenalkan satu per satu anggotanya.


“Selamat datang di kampong kami” ucap bu Karni ramah, “ayo diminum selagi masih hangat” lanjutnya kemudian mengambilkan satu cangkir untuk pak kadus.


Semuanya pun ikut mengambil cangkir masing-masing dan menikmati teh hangat tersebut.


Setelah tehnya habis yang, bu Karni mengajak tiga mahasiswi tersebut ke kamar tamu yang pintunya menghadap ke ruang tamu.

__ADS_1


“Mari istirahat di kamar saja” ajak bu Karni yang sudah berdiri.


“Kami permisi dulu” ucap Qania sopan yang diiyakan oleh mereka.


Qania, Felin dan Manda berjalan mengikuti bu Karni masuk ke dalam kamar. Kamarnya berukuran tiga kali tiga meter tidak termasuk kamar mandinya, dengan dinding berwarna hijau. Di dalam kamar tersebut terdapat satu buah ranjang kayu berukuran queen size, kira-kira bisa menampung ketiga mahasiswi tersebut serta satu buah lemari kayu dua pintu.


“Semoga betah ya, maaf kamarnya kecil” ucap bu Karni sambil membuka tirai jendela.


“Kamar saya juga kecil kok bu, santai aja” gurau Qania membuat bu Karni terkekeh.


“Oh iya, kalian nanti ikut makan malam ya selepas magrib. Silahkan bersihkan diri dulu atau istirahat dulu, kalian pasti capek habis perjalanan jauh. Kalau mau jalan-jalan keliling kampong mungkin besok saja karena ini sudah pukul empat sore juga” ucap bu Karni kemudian melenggang pergi dan menarik pintu untuk ditutupnya dengan pelan.


“Hahhh…” Qania bernapas lega karena akhirnya bisa rebahan juga setelah berjam-jam duduk di atas motor.


“Tulang gue rasanya mau remuk” keluh Manda yang juga ikut berbaring di sebelah Qania.


“Gitu aja manja” ledek Elin yang ikutan baring.


“Yee, kamu pikir ini nggak jauh. Aku mah kalau sama Arkana mungking nggak bakalan capek” ucap Qania sambil membayangkan wajah kekasihnya itu.


“Dia udah biasa mungkin Qan” timpal Manda.


“Nggak sih, soalnya aku sering keluar bareng dia. Rumah kita saling berhadapan” sanggah Qania membela Elin.


“Lah Qan, orangnya udah tidur aja” ucap Manda saat mendengar dengkuran halus di sebelahnya, karena posisi Manda yang berada di tengah.


“Ya ampun siapa yang nyinyirin kita, siapa yang memberi fakta” Qania berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku mau mandi dulu deh” jawab Qania kemudian bangkit dari tempat tidur.


“Ya udah, aku nungguin kamu dulu deh. Emm gimana setelah mandi kita jalan-jalan di sekitar rumah pak kadus ini?” ajak Manda.


“Oke” Qania tersenyum kemudian melenggang ke kamar mandi setelah mengabil handuk dan baju gantinya.


*


*


Sambil menunggu Manda yang sedang mandi, Qania mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam ranselnya.


‘Kangeeeeennn..’ pekiknya dalam hati sambil memandangi wallpaper ponselnya yang terdapat fotonya dan juga Arkana.


Qania mengambil headset dan memasangkannya di telingannya untuk mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Arkana yang sudah ia simpan di memory ponselnya. Matanya ia pejamkan sambil membayangkan wajah kekasihnya itu, ia berusaha agar air matanya tidak menetes.


Beberapa kali Qania menghembuskan napas panjang saat ia tak kuasa menahan rasa rindunya, ia tidak ingin menangis dan terlihat cengeng.


‘Aku rinduuuu, sangat rinduuuu. Arkanaaaaaaaa, aku rinduuuuuu’ jerinya dalam hati.

__ADS_1


Ceklek..


Pintu kamar mandi terbuka, Qania buru-buru menghapus air matanya yang tanpa ia minta menetes dengan sendirinya karena rasa rindu yang menyesakkan dadanya.


“Yuk jalan” ajak Qania sambil menyimpan ponselnya di saku celananya.


“Felin gimana?” Tanya Manda berjalan kearah Qania dan menatap Elin yang tengah tidur pulas.


“Nggak apa-apa, dia lagi capek banget kayaknya. Lagian kita Cuma ke depan doang” ucap Qania sambil mengambil kameranya yang ia letakkan di atas meja di bawah jendela.


“Dia nggak bakalan ngambek?” Tanya Manda lagi untuk memastikan.


“Santai aja, yuk. Aku juga sekalian mau nyari signal, siapa tahu dapat. Aku mau ngabarin keluarga aku” ajak Qania tidak sabar.


‘Aku juga mau ngabarin tunangan aku, dan mau ngecek apakah dia sudah ngirimin aku chat, pesan atau yang lain-lainnya’ gumam Qania dalam hati.


“Oh iya, kamu benar Qan. Ayo” ajak Manda sambil menggandeng lengan Qania.


Saat Qania dan Manda akan membuka pintu kamar, terdengar suara lenguhan dari belakang mereka.


“Euuughhh, hoaammmm” ternya Elin baru saja bangun dari tidurnya.


“Kalian mau kemana? Kok udah rapih? Udah pagi ya?” rentetan pertanyaan Elin yang masih setengah sadar itu membuat Qania dan Manda saling menatap kemudian tertawa.


“Hei kenapa tertawa?” Tanya Elin yang sudah duduk sambil mengumpulkan kesadarannya.


“Kita mau jalan-jalan sebelum magrib” jawab Qania.


“Iya, lo tidur aja. Sepertinya lo capek banget, padahal kita yang manja ya Qan” ledek Manda sambil menyinggung Elin.


Elin memperlihatkan deretan giginya setelah ia mengingat bahwa ia mengatai dua gadis itu manja padahal dirinya lah yang langsung tertidur.


“Ikuutt” rengeknya manja.


“Kita udah mau go ini, lo belum mandi. Kita nggak mau nungguin lo, nanti kelamaan” ketus Manda.


“Gu..gue cuci muka, dua menit tungguin” ucap Elin bergegas.


“Ya udah, kita tunggu di luar aja” ucap Qania lembut, membuat Elin langsung mengangguk.


Saat Elin sudah masuk ke dalam kamar mandi, Manda menggandeng tangan Qania untuk keluar sambil sebelah tangannya lagi menutup pintu.


“Kita nggak usah nunggu, kita jalan duluan aja” ucap Manda sambil menarik lengan Qania dengan kuat.


“Tapi gimana Elinnya?” Tanya Qania yang menatap pintu kamar dengan perasaan bersalah.


“Ya nggak gimana-gimana” jawab Manda santai sambil menarik paksa Qania yang akhirnya pasrah.

__ADS_1


‘Maaf Lin, besok kita jalan berdua deh’ cicit Qania dalam hati.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


__ADS_2