
Pukul sepuluh malam Tristan baru mengantarkan Qania pulang. Qania meminta langsung di antar ke rumah Pak Erlangga. Hanya sampai di depan gerbang yang tinggi itu. Tristan bertanya pun Qania tak memberikan jawaban. Akhirnya Tristan pamit dan Qania masuk ke dalam rumah.
“Qania, kamu darimana saja?” tanya Pak Erlangga yang sedang menunggunya di ruang tamu.
“Pak, apakah bapak mengenal Pak Nizar?” Qania yang baru saja duduk langsung balik bertanya.
“Nizar?”
“Ya, salah satu orang kepercayaan Pak Angga. Tadi saya menemui keluarganya dan memberikan saya sebuah dokumen bukti kejadian beberapa tahun yang lalu. Awalnya saya pikir itu adalah jebakan namun saat saya sampai disana justru malah saya mendapatkan fakta terbaru,” ucap Qania kemudian mengeluarkan dokumen serta flash disk dari dalam tasnya.
Pak Erlangga pun membuka dokumen tersebut dan langsung terkejut melihat ternyata ini yang menyebabkan nyawa adiknya menjadi taruhan.
“Pak ada flash disk dan semoga Anda tidak terkejut melihat isinya,” ucap Qania.
Pak Erlangga langsung mengambil laptopnya di ruang kerjanya yang dekat dengan ruang tamu kemudian ia mencolokkan flashdisk tersebut.
Video pertama menayangkan dimana Pak Handoko bersama tuan Alvindo datang ke kantor Pak Angga dengan mengancam serta mereka pun membawa orang-orang yang datang untuk memukuli Pak Angga. Video tersebut membuat Pak Erlangga mengepalkan kedua tangannya.
Video selanjutnya merupakan video CCTV mobil. Qania dan pak Erlangga melihat bagaimana orang yang diketahu sebagai asisten pertama Pak Handoko itu menusukkan pisau ke perut Pak Angga serta membuka mobil lalu melemparkannya ke jembatan.
Pak Erlangga meremas dadanya, Qania pun dengan cepat berlari ke dapur untuk mengamankan air.
“Biadab. Sungguh biadab,” ucap geram Pak Erlangga setelah ia menegak air dan menormalkan kembali perasaannya.
“Selama ini, kenapa bukti ini baru muncul?” tanya Pak Erlangga.
Qania pun menceritakan tentang apa yang tadi diceritakan oleh Pak Jayadi padanya.
“Pak Nizar sudah lama menyimpan video pertama pada Ayahnya yaitu Pak Jayadi. Sementara untuk video yang kedua, tadi saya mengunjungi Pak Nizar di penjara.”
Flashback on ....
Qania dan Tristan memutuskan untuk makan di sebuah warung makan. Saat mereka selesai makan, Tristan mendapat telepon dan mengatakan bahwa ada hal penting yang harus melibatkan dirinya sehingga mau tidak mau ia dan Qania harus berpisah dulu. Untung saja mereka sudah di kota dan Qania meminta Tristan mengantarnya ke kontrakan.
“Aku cuma dua jam kok. Aku bakalan balik lagi,” ucap Tristan kemudian ia mengacak rambut Qania sebelum ia pergi lagi.
Begitu Tristan pergi, Qania bergegas memesan ojek online dan dengan info yang tadi ia dapatkan dari Pak Jayadi, ia pun menuju ke kantor polisi.
Jam besuk tersisa sepuluh menit lagi dan akhirnya Qania bisa bertemu dengan Pak Nizar.
Qania memperkenalkan dirinya serta memberitahu apa yang membuatnya hingga sampai datang ke tempat ini.
“Benar. Dan terima kasih,” ucap Pak Nizar.
“Apakah Anda bisa menceritakan kejadian yang Anda tahu? Tolonglah, disana ada seorang Ayah yang sedang merindukan anaknya dan ada seorang anak yang begitu menantikan kepulangan Ayahnya,” ucap Qania.
Pak Nizar terdiam, ia mencoba menahan air matanya. Sudah lima tahun ia tak pernah lagi melihat senyuman anak semata wayangnya itu.
“Waktu itu saya dan Jorgi sedang mengumpulkan semua dokumen tersebut. Kami mendapat kabar dari kantor bahwa Pak Angga pergi ke sebuah kota karena ada laporan jika salah satu pejabat disana melakukan KKN dan merugikan negara. Saya dan Jorgi merasa tidak tenang sehingga kami pun memutuskan jika saya yang akan pergi menyusul diam-diam sedangkan disini Jorgi yang akan mengurus.
“Saya sudah menduga bahwa Pak Angga dibodohi dan dijebak. Saya tidak bisa apa-apa selain tetap diam bersembunyi di balik kegelapan dan melihat bagaimana sadisnya mereka membunuh Pak Angga malam itu. Saya bingung harus melakukan apa. Jika saya langsung menceburkan diri untuk menyelamatkan Pak Angga mereka tentu akan curiga. Maka dari itu saya memutuskan untuk tetap diam. Dan rupanya mereka membuat mobil itu seolah-olah mengalami kecelakaan dan menabrak pembatas jalan. Mereka pun pergi dan setelah keadaan aman saya langsung mengambil rekaman CCTV mobil itu dan mencoba mencari keberadaan Pak Angga namun nihil karena malam hari saya tidak bisa turun ke sungai.
“Rupanya keberadaan saya disana tercium juga oleh mereka sehingga saya memutar otak dan memilih mengirim CCTV mobil itu ke alamat Ayah saya sebelum akhirnya mereka menangkap saya pukul sepuluh pagi disaat saya bersiap untuk mencari Pak Angga. Dan kelanjutannya seperti yang Ayah saya ceritakan kepada Anda. Saya diancam dan istri saya dilecehkan di depan mata saya dan dibunuh dengan sadis. Demi Ayah dan anak saya Aarav, saya pun menyerahkan diri dan menuruti keinginan mereka. Sebelum itu saya meminta Ayah dan anak saya untuk pergi berlindung di tempat yang terpencil namun masih bisa saya jangkau karena saya khawatir mereka akan melanggar janji mereka.
“Saya juga berpesan bahwa suatu saat jika ada yang berhasil menumbangkan Pak Handoko maka berikan sisa dokumen itu padanya. Dan akhirnya hari itu datang juga. Tolong kami Qania, saya hanya berharap padamu.”
Cerita Pak Nizar panjang lebar. Dari sini Qania pun sudah bisa mengumpulkan semua kepingan puzzle yang ia butuhkan.
“Pak, saya tidak bisa berjanji karena saya bukan Tuhan yang bisa memutuskan segalanya. Tapi saya akan mengusahakan yang terbaik karena sebenarnya saya pun memang ingin memecahkan kasus ini. Sepenggal kisah hidup saya bergantung dari kebenaran kasus ini, Pak,” ucap Qania kemudian ia tersenyum kecil.
“Maksudmu?”
“Jika kasus ini terselesaikan maka misteri kehidupan saya dan suami saya bisa terpecahkan Pak. Saya sangat berharap kasus ini bisa menang dan saya berharap kita bisa mendapatkan hasil yang kita harapkan,” ucap Qania.
“Aamiin ya Allah,” ucap Pak Nizar.
“Oh ya Pak, dimana keberadaan asisten Pak Handoko yang pertama itu? Karena yang bersamanya sekarang konon itu adalah asisten baru,” tanya Qania.
Pak Nizar berdecih, “Mereka itu seperti bukan manusia, Qania. Asisten Sudirman pun turut dibunuh karena mereka tidak ingin meninggalkan orang yang melihat kejahatan mereka. Namun mereka bermain cantik karena sampai saat ini tidak ada yang tahu kalau kematian asisten Sudirman itu adalah kesengajaan. Kau bisa mendapatkan jawabannya di dokumen milik Jorgi yang ada pada Pak Angga dan disita oleh Pak Handoko,” jawab Pak Nizar.
__ADS_1
Qania menahan napas mendengar cerita tersebut. Sesadis itu kah?
“Alhamdulillah semua dokumen itu sudah ada di saya Pak,” ucap Qania.
“Syukurlah.”
“Jam besuk habis Nona,” ucap sipir menghampiri Qania dan Pak Nizar.
“Baik Pak, terima kasih. Dan Pak Nizar, terima kasih banyak. Saya pamit,” ucap Qania.
“Sama-sama,” balas Pak Nizar.
Flashback off ....
“Kau sudah masuk sampai sejauh ini Qania. Apa kau tidak takut diserang balik oleh mereka?” tanya Pak Erlangga cemas.
“Aku sebenarnya takut Pak, hanya saja aku harus belajar dari sekarang karena kelak inilah profesi yang akan saya jalani,” jawab Qania mantap membuat Pak Erlangga tersenyum.
“Benar. Tapi ukuran pemula dan bahkan belum lulus saja ini adalah kasus besar dan cukup berat. Apakah kau sudah membahas ini dengan Setya?”
“Belum sih Pak. Rencananya menunggu Papa datang kesini,” jawab Qania.
“Jangan. Kau sebaiknya kirimkan saja dokumen ini padanya lewat email. Akan terlalu mepet waktunya jika menunggu Papamu datang. Sebaiknya malam ini saja atau besok pagi. Beliau pun harus mempelajari kasus ini dulu sebelum maju ke pengadilan,” ucap Pak Erlangga.
“Ah ya, benar juga. Kadang aku merasa Papa itu sangat hebat makanya tidak perlu belajar, hehe.” Qania terkekeh mengenang mertuanya yang merupakan pria hebat setelah sang Papa dan juga Arkananya.
“Kau ini. Ya sudah, bawa semua dokumen ini dan kirimkan pada Papamu. Dan jangan lupa istirahat,” ucap Pak Erlangga sambil menyerahkan dokumen serta flash disk kepada Qania.
Qania pun berpamitan untuk masuk ke kamar sementara Pak Erlangga masih terdiam menatap kosong kedepan. Teringat akan seperti apa kepergian sang adik menghadap sang Pencipta membuatnya terdiam membisu.
Qania baru saja selesai membersihkan diri serta berganti pakaian. Ia berniat menghubungi Papa Setya namun begitu ia melihat jam di ponselnya sudah hampir pukul sebelas dan itu artinya di sana sudah hampir pukul dua belas.
Ragu-ragu Qania mencoba menelepon namun baru nada tersambung pertama langsung dijawab.
“Assalamu’alaikum Nak, ada apa? Terjadi sesuatu denganmu?”
“Papa baru terbangun. Tadi sudah tidur dan karena haus jadi sekalian turun buat ngambil air minum.”
“Pa, sebenarnya ada yang ingin Qania omongin. Ada sebuah kasus yang menjadi misi sebenarnya kenapa Qania ditugaskan untuk magang disana oleh Pak Erlangga ....”
Qania pun menceritakan kasus Pak Angga dengan semua asisten dan juga keluarga mereka. Papa Setya yang mendengarnya begitu geram dan berjanji besok akan datang lebih awal agar bisa menyusun strategi untuk menegakkan keadilan.
“Kamu kirimkan saja pada Papa semua dokumen dan bukti-buktinya. Kirim ke email Papa ya.”
“Baik Pa.”
“Ya udah sekarang anak Papa tidur. Jangan banyak pikiran.”
“Iya Pa. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Setelah menelepon Papa Setya, Qania pun langsung mengirimkan dalam bentuk file ke alamat email sang mertua kemudian ia bergegas tidur.
Berbeda dengan Papa Setya, ia pun mulai mempelajari dokumennya. Hampir dua jam akhirnya ia menyeringai.
“Ini benar-benar akan sangat memberatkanmu Handoko,” ucap Papa Setya kemudian meraih ponselnya.
“Hallo, apakah ada penerbangan pagi ke kota Y?”
“Ada tuan, pukul enam.”
“Pesankan saya tiket untuk satu orang.”
“Baik tuan.”
Telepon pun berakhir. Papa Setya mulai menyiapkan perlengkapannya.
“Harusnya gue tuh beli pesawat pribadi. Ribet kan harus menunggu jadwal penerbangan.”
__ADS_1
. . .
“Qania kamu mau kemana?” tanya Pak Erlangga saat melihat Qania akan keluar rumah.
“Oh ini Pak, menjemput Papa di bandara,” jawab Qania.
“Kita pergi bersama,” ucap istri Pak Erlangga.
“Oke,” balas Qania dengan senang hati.
Sepulang dari menjemput Papa Setya, Qania menemaninya untuk pergi menjemput Pak Jayadi. Papa Setya berniat untuk membuka semua kasus lama termasuk Pak Erlangga yang diminta untuk membuka kasus menghilangnya sang Adik. Papa Setya dan Qania mengunjungi Pak Nizar dan keterangan yang sama pun ia berikan pada Papa Setya.
Seharian, seharian Qania mengabaikan Tristan dan sibuk dengan kasusnya. Besok adalah sidang pertama dan ia ingin semua berjalan lancar.
Pukul tiga sore mereka tiba di kantor polisi dimana Pak Handoko berada. Terlihat disana ada seorang pengacara dan asisten Revan sedang berbicara dengan Pak Handoko. Tatapan penuh kebencian dilayangkan oleh Pak Handoko pada Qania namun Qania hanya membalas dengan raut wajah yang datar.
Asisten Revan, sungguh malang nasibmu bekerja dengan pria tak berhati itu, batin Qania.
“Kemarin saya sudah menelepon tuan Alvindo dan beliau akan sampai nanti malam,” ucap asisten Revan.
“Baguslah. Jika memang kalah saya tidak ingin kalah sendirian. Dan Anda pak pengacara, apapun itu usahakan untuk kemenangan kami,” ucap Pak Handoko penuh penekanan.
“Pasti Pak.”
Sementara Tristan di rumahnya merasa frustrasi karena Qania terus mengabaikannya.
“Bagaimana ini? Gue harus berangkat malam ini tapi Qania tidak kunjung memberi kabar. Dia pasti akan marah dan menuduhku yang bukan-bukan. Apa gue kirim pesan aja. Semoga dia mengerti dan nggak marah. Kalau nggak dibalas gue bakalan ke rumah yang semalam,” ucap Tristan sambil memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
Setelah mengurus semuanya, Papa Setya dan Qania kembali ke rumah Pak Erlangga. Papa Setya membuka kaca mobil karena ia seperti melihat sesuatu yang membuatnya berdebar.
“Papa kenapa?” tanya Qania.
“Entahlah. Mungkin karena Papa lelah sampai-sampai Papa seperti melihat Arka tadi di atas motor kesayangannya,” jawab Papa Setya kemudian tersenyum miris.
Lain dengan Papa Setya, Qania langsung bergegas mencari sosok tersebut dan bisa ia lihat di dekat pohon Tristan tengah berdiri di samping motornya sambil terus mengawasi rumah Pak Erlangga. Qania pun berusaha untuk menormalkan ekspresinya.
“Papa mungkin terlalu lelah dan mungkin terlalu merindukannya,” ucap Qania begitu mobil memasuki halaman rumah pak Erlangga.
“Ya.”
Mereka pun turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Tepat pukul lima sore mereka sampai, Qania bergegas masuk dan membuka ponselnya dan terdapat banyak pesan dan panggilan dari Tristan.
Aku akan menemanimu ke bandara. Aku akan datang ke rumahmu tapi aku bersiap dulu sekitar dua puluh menit.
Balas pesan Qania yang membuat Tristan tersenyum.
Aku menunggu di ujung kompleks. Kita akan pergi bersama. Aku akan memesankan taksi online untukmu.
Balas Tristan.
Ya.
Tristan tersenyum kemudian memesankan taksi online untuk Qania.
Qania yang sudah selesai bersiap pun turun dan bertemu dengan Papa Setya yang sedang berbincang dengan Pak Erlangga dan istrinya. Disana juga ada Pak Agus dan Ibu Maharani.
“Mau kemana lagi Nak?” tanya Papa Setya.
“Ada janji bertemu Lala Pa,” jawab Qania berbohong.
“Hati-hati ya,” ucap Papa Setya.
“Iya Pa. Semuanya, Qania pamit ya.”
Setelah keluar dan mendapati taksi pesanan Tristan datang, Qania pun bergegas naik. Di ujung kompleks sang supir berhenti seperti yang Tristan arahkan padanya tadi bahwa Qania akan melanjutkan perjalanan bersamanya.
Qania turun dari taksi dan langsung naik ke motor bersama Tristan. Supir taksi tersebut menggeleng sambil senyam-senyum.
“Anak muda zaman sekarang ya, sembunyi-sembunyi kalau ingin bertemu. Tapi lumayan juga, nganterin sedekat ini bayarannya sebanyak ini,” ucap supir taksi tersebut kemudian segera meninggalkan kompleks perumahan yang cukup elit tersebut.
__ADS_1