
Setelah puas mengulangi memutar video yang dikirimkan oleh Qania, Tristan pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Meskipun masih malas karena teringat kejadian semalam namun Tristan tetap harus pergi menemui Marsya untuk menemaninya pergi ke salah satu butik yang sudah memiliki jadwal bertemu pagi ini.
“Baiklah, karena gue sudah mendapatkan vitamin penyemangat saat bangun tidur, itu artinya gue harus semangat untuk menjalani hari ini. Huhh, sabar, seminggu lagi balik nih. Dan kamu Qania, siap-siap saja menjadi sasaran penebus rinduku. Bakalan gue peluk sampai sesak napas lo, hehehe.”
Tristan membuka pintu kamarnya dan tersentak begitu melihat Marsya yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
“Sya?”
“Selamat pagi Tris,” sapa Marsya yang memperlihatkan senyumannya namun terlihat begitu canggung.
“Ya, selamat pagi,” balas Tristan mencoba bersikap biasa saja karena bagaimana pun ia yang lebih dulu khilaf karena melihat wajah Marsya yang berubah menjadi wajah Qania.
“Tris, maaf untuk yang semalam. Kau benar, aku mempermalukan diriku sendiri dan aku sadar bahwa dengan sikapku yang semalam justru membuatku terkesan seperti wanita murahan. Maafkan aku dan terima kasih karena sudah mengingatkanku akan hal tersebut,” ucap Marsya dengan sungguh-sungguh bahkan matanya berkaca-kaca meskipun bibirnya menyunggingkan senyuman.
“Taka pa Sya. Maafkan aku juga karena perkataanku semalam pasti sudah melukai perasaanmu. Sungguh aku tidak bermaksud untuk mengatakan itu,” ujar Tristan dengan tulus.
Marsya tersenyum manis, “Kalau begitu ayo kita sarapan dan setelah itu kita pergi menemui Madam Ellena,” ajak Marsya.
Tristan pun menjawab dengan senyuman tipis serta kepalanya ia anggukkan. Kemudian keduanya berjalan masuk ke lift dan tujuan mereka adalah restoran yang berada di dekat butik Madam Ellena agar setelah sarapan mereka bisa langsung ke butik tersebut.
Begitu sampai di restoran, suasananya sudah lumayan ramai karena restoran tersebut sangat terkenal dan banyak kalangan atas datang untuk meeting atau hanya sekadar makan bersama keluarga dan kolega. Keduanya pun mengambil tempat di dekat jendela lalu memesan makanan. Tak lama kemudian makanan mereka datang dan keduanya menikmati dalam keheningan.
Setelah makan mereka pun langsung menuju ke butik dengan hanya menempuh pejalanan sekitar lima menit menggunakan mobil. Selama di Negara ini, Tristan dan Marsya sudah menyewa mobil untuk aktivitas mereka sehari-hari. Sebenarnya Marsya maunya ingin membeli mobil saja namun Tristan mencegahnya karena mereka hanya dua minggu saja berada di Negara ini.
Akhirnya mereka sampai di butik dan karyawan Madam Ellena langsung menyambut mereka dan membawa mereka menuju ke lantai dua dimana ruangan madam Ellena berada.
“Good morning,” Marsya menyapa dengan menggunakan bahasa Inggris.
Madam Ellena yang sedang melihat sebuah catalog pun menoleh dan tersenyum.
“Good morning darling,” balas Madam Ellena menyapa. “Come here,” panggilannya lagi dan Marsya bersama Tristan langsung duduk di depan meja kerja Madam Ellena.
Setelah berbasa-basi menyapa dan menanyakan kabar masing-masing mereka pun mulai masuk ke topik tentang kerja sama mereka.
“Stok yang kau inginkan akan launching bulan depan dan aku hanya akan memberikan stok itu pada beberapa kolega bisnisku saja karena hanya akan ada sedikit stok saja. Dan untuk barang-barang yang kau pesan itu sudah siap kemas dan akan dikirimkan paling lambat minggu depan,” ucap Mada Ellena.
“Oh begitu. Aku juga berencana akan kembali ke negaraku minggu depan. Mungkin bersamaan dengan barang-barang pesananku. Hmm, sejujurnya saya sangat ingin menjadi salah satu kolega Anda yang mendapatkan stok baru itu. Tapi bagaimana caranya?” tanya Marsya dengan penuh harap.
“Jika kau bersedia maka datanglah. Aku mengundangmu secara khusus pada acara fashion show yang akan diadakan tanggal satu bulan depan,” ucap Madam Ellena.
Marsya memandang Tristan dengan penuh binar. Ia berusaha membujuk Tristan lewat tatapan matanya. Tristan menghela napas berat kemudian mengangguk membuat Marsya tersenyum puas.
Diiyakan saja dulu. Nanti gue bisa bikin alasan kalau nanti Qania enggak ngijinin. Gampang kan, batin Tristan.
“Baiklah Madam, kami akan datang. Itu artinya tiga minggu lagi,” ucap Marsya dengan semangat.
“Oke Darling, aku menunggu kedatanganmu bersamanya,” ucap Madam Ellena sembari melirik Tristan yang sedari tadi diam saja, hanya sesekali ia tersenyum atau mengangguk jika Marsya bicara padanya.
“Kalau begitu kami permisi dulu, masih harus menemui tuan Homar Lanzo untuk membahas kerja sama seperti yang bulan lalu Madam usulkan,” ucap Marsya.
“Ah ya, kau sudah membuat janji rupanya. Kau tidak akan kecewa dengan hasil-hasil desain dan juga koleksi aksesorisnya,” ucap Madam Ellena.
“Tentu. Aku sudah melihatnya dan bahkan hari ini aku melihatmu memakai salah satu produk jam tangannya,” kekeh Marsya.
Madam Ellena langsung melirik ke arah jam tangannya, “Ah ya, kau pun bisa melihatnya langsung. Benar-benar sangat jeli, hehe,” ucap Madam Ellena kemudian tertawa.
Wanita berusia empat puluh tahun itu memang begitu ramah pada setiap orang yang juga bersikap sama terhadapnya. Namun di luar sana orang-orang mengenalnya sebagai wanita angkuh dan juga dingin. Ada pula tambahan alasan mereka karena ia adalah pengusaha sukses serta memiliki suami yang juga lebih sukses darinya.
__ADS_1
“Kalau begitu kami permisi. Sampai bertemu lagi Madam Elle,” ucap Marsya memanggil dengan nama rumah Madam Ellena.
“Kau sangat manis,” ucap Madam Ellena.
Marsya dan Madam Ellena pun melakukan cipika-cipiki sementara Tristan hanya tersenyum tipis sebelum mereka keluar dari butik tersebut.
Tristan kembali melajukan mobil di atas aspal menuju ke tempat selanjutnya. Namun Marsya merengek agar mereka makan siang lebih dulu. Tristan melirik jam tangannya dan saat ini sudah hampir pukul dua belas siang. Ia teringat akan Qania yang pasti saat ini sudah bangun dan akan melaksanakan sholat Maghrib. Ia pun mendapatkan ide yang menurutnya sangat brilliant.
“Baiklah. Tapi maaf Sya, aku tidak bisa menemanimu makan. Aku harus mencari Masjid terdekat. Atau bagaimana kalau kau memesan makanan dan memakannya di mobil jika tidak ingin makan sendiri di restoran?” usul Tristan. Ia berharap Marsya mau makan sendiri di restoran.
“Nanti dilihat dulu ya Tris. Ayo kita cari restoran yang dekat dengan tempat ibadah,” ucap Marsya yang merasa kurang senang jika makan sendirian.
“Baiklah,” ucap Tristan lesu, ia pun kembali melajukan mobilnya.
Marsya menunjuk restoran yang pernah ia datangi dulu sewaktu liburan bersama teman-temannya ketika ia masih menggeluti dunia model. “Disini Tris,” ucapnya.
Tristan pun menepikan mobilnya. Keduanya tak langsung turun karena Tristan menanyakan Marsya apakan mau ditinggal sendiri atau membungkus saja makanannya dan akan dimakan nanti di dalam mobil. Marsya akhirnya setuju dengan ide Tristan karena ia merasa aneh saja di Negara orang justru makan sendirian. Bagaimana jika nanti ada yang menggoda dan menjahatinya? Pikir Marsya.
“Kau tunggu disini dan biarkan aku yang memesan. Kau juga ingin?” tanya Marsya.
“Boleh, samakan saja makanannya,” ucap Tristan.
“Oke.”
Marsya pun turun dan menutup pintu mobil. Kesempatan ini digunakan Tristan untuk membuka ponselnya dan benar saja ada pesan dari Qania namun hanya satu. Tristan menghela napas, ia sedikit kecewa karena Qania tidak mengiriminya pesan bertubi-tubi seperti yang ia lakukan saat Qania tak ada kabar.
Aku sudah bangun
Begitulah pesan Qania yang dikirim tiga jam yang lalu.
“Sangat singkat padat dan jelas,” gumam Tristan dengan bersungut-sungut.
“Marsya, kan?” tanya wanita cantik dengan tubuh langsing dan terlihat begitu cantik. Ia pun membuka kacamatanya.
“Monica?” tanya Marsya setengah memekik.
“Ya ampun Sya, gue nggak nyangka kita bakalan ketemu disini. Lo ngapain disini?” tanya Monica.
“Iya Mon, nggak nyangka ya. Gue kesini karena urusan pekerjaan, biasalah melebarkan sayap di dunia bisnis fashion,” jawab Marsya. “Lo sendiri?”
“Gue ada proyek disini. Pemotretan. Udah lama ya kita nggak ketemu. Elo sih milih mundur dari dunia permodelan,” ucapnya.
“Hehe, gue maunya bisnis fashion aja. Seru tahu. Apalagi kita bisa langsung ketemu sama designer hebat dunia jika bisa menjalin kerja sama,” ucap Marsya bangga.
“Benar juga sih. Terus lo makan disini? Sama siapa lo?” tanya Monica.
“Gue sebenarnya sama Tristan. Cuma dia minta gue makan di mobil aja karena dia mau nyari Masjid dan nggak berani ninggalin gue sendirian,” jawab Marsya.
“Sweet banget sih. Gimana kalau makan disini aja bareng gue. Gue juga sendiri, tahu. Sekalian kita kangen-kangenan,” ajak Monica.
Marsya tidak menolaknya. Ia mengiyakan lalu pergi untuk memberitahukan Tristan bahwa ia akan tinggal. Monica adalah sahabat baik Marsya ketika ia masih menggeluti pekerjaan sebagai model. Mereka sering terlibat pekerjaan yang sama dan juga Monica sangat ramah serta asyik diajak mengobrol maupun curhat-curhatan.
“Gue izin dulu,” ucap Marsya.
“Ya udah, gue tunggu di meja sana,” ucap Monica menunjuk meja di pojokan.
“Oke.”
__ADS_1
Mendengar Marsya yang akan tinggal pun memberi kesenangan sendiri di hati Tristan. Itu artinya ia memiliki kesempatan untuk menelepon Qania. Ia juga mengenal siapa Monica itu. Namun Tristan masih tetap memperlihatkan eskpresi khawatir.
“Tenang saja, aku akan menghubungimu jika ada apa-apa,” ucap Marsya meyakinkan.
“Baiklah, segera hubungi jika terjadi sesuatu,” ucap Tristan dan Marsya langsung mengangguk.
Marsya pun keluar dari mobil dan Tristan langsung melajukan mobil tersebut untuk mencari Masjid. Untung saja tak jauh dari sana ia bisa menemukannya. Ia pun langsung mengambil air wudhu dan ikut bergabung dengan para jamaah.
Setelah melaksanakan sholat, Tristan memilih untuk duduk di taman yang ada di dekat Masjid tersebut. Ia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Qania.
“Assalamu’alaikum calon makmum,” sapa Tristan.
“Wa’alaikum salam.”
“Sayang sedang apa? Sudah makan?” tanya Tristan.
“Belum, kamu?”
“Aku juga belum. Kenapa belum makan? Apa sedang merindukanku jadi tidak mau makan, hem?” ledek Tristan.
“Tidak. Aku sedang menunggu Raka, kami ada janji akan makan malam bersama.”
“Coba saja kau pergi dengannya. Maka jangan salahkan aku minggu depan aku akan langsung melamarmu. Silahkan nikmati waktu bebasmu selama seminggu ini, setelah itu aku akan langsung mengikatmu. Percaya tidak jika aku tidak main-main dengan ucapanku ini,” ucap Tristan merasa geram serta cemburu.
“Baru begitu saja sudah marah,” dengus Qania.
“Bagaimana aku tidak marah hm, kau dengan terang-terangan mengatakan padaku akan pergi makan malam bersama pria lain yang jelas-jelas aku tahu kalau dia juga menyukaimu,” ujar Tristan kesal.
“Lantas bagaimana denganmu, hem? Kau pergi berdua dengan wanita lain ke Negara orang bermiggu-minggu. Jalan berdua setiap saat. Sarapan, makan siang dan makan malam pasti bersama. Belum lagi kalian pasti berkencan dan kau jika ingin menghubungiku harus sembunyi-sembunyi seperti ini, kan? Parahan mana dengan aku?” sungut Qania. Tiba-tiba saja mood Qania menjadi rusak karena mengingat hal-hal tersebut.
“Oh sedang cemburu rupanya,” ucap Tristan tersenyum lebar.
“Kalau iya kenapa, hem? Tidak boleh cemburu, begitu? Ya sudah jangan lagi menjalin hubungan denganku jika tidak ingin aku cemburui,” ketus Qania.
“Eh, eh, eh. Merajuk rupanya, hehehehe,” tawa Tristan.
“Sekarang di tertawakan. Ya sudah kita stop saja sampai disini,” sungut Qania.
“Sayang jangan begitu, oke. Aku disini tidak ngapa-ngapain kok dengannya. Aku hanya murni menemaninya. Aku pun tidur di kamar yang terpisah dengannya dan dia sedang makan sendiri di restoran sementara aku nih lagi di taman dekat Masjid. Aku senang bahkan sangat suka jika kamu cemburu karena itu menandakan kalau ada rasamu untukku. Tapi kumohon jangan mencurigaiku, karena aku sudah mematenkan hatiku hanya untukmu Qania Salsabila,” ucap Tristan dengan serius yang mana membuat Qania terdiam bukan karena ucapan manis itu melainkan karena air matanya kini terjatuh, hatinya begitu merindukan Arkana. Ia yang selalu kesal dan merajuk karena Arkana dan Arkana pula yang akan menghiburnya.
“Sayang, kau mendengarku tidak?” tanya Tristan karena cukup lama tak ada suara dari Qania.
Qania menyeka air matanya lalu menjawab, “Ya aku mendengar. Hahh, lantas mengapa ku masih menaruh hati, padahal kutahu kau tlah terikat janji, keliru ataukah bukan? Tak tahu. Lupakanmu tapi aku tak mau. Pantaskah aku menyimpan rasa cemburu, padahal bukan aku yang memilikimu. Sanggup sampai kapankah, ku tak tahu. Akankah akal sehat menyadarkanku.” Qania menjawab dengan menyanyikan sepenggal lagu yang menurutnya sangat pas dengan posisinya saat ini.
Tristan menghela napas berat, ia tahu bahwa itu bukan sekadar lagu melainkan mewakili isi hati Qania.
“Qania, sayangku, dengarkan aku. Aku hanya mencintaimu dan hanya akan ada dirimu di hati dan pikiranku. Aku tidak akan berjanji melainkan akan bertindak langsung. Tunggu aku, setelah aku pulang maka kau dan aku akan segera menuju ke yang namanya keseriusan. Setuju atau pun tidak, aku akan datang untuk melamarmu. Jangan cegah aku, karena ini adalah niat baikku. Bukankah menikah adalah ibadah? Lebih baik kita menghalalkan hubungan ini daripada harus menunggu lama dan menumpuk dosa. Kau maukan?” Tristan berkata dengan begitu serius namun suaranya terdengar begitu lembut di telinga Qania.
“Ya, aku pasti mau. Selesaikan dulu urusanmu bersama kekasihmu itu dan aku juga harus menyelesaikan kuliahku dulu,” ucap Qania kali ini pun dengan suara yang lembut.
Tristan akhirnya bisa bernapa lega karena Qania tidak lagi kesal padanya. “Oh ya, dari tadi yang ingin aku tanyakan itu, kau mendapatkan lagu itu dari mana?” tanya Tristan.
“Tanya saja ke google, dia pasti akan menjawabnya, hehehe. Aku mau makan dulu. Lala udah manggil tuh. Kamu juga jangan lupa makan, aku mencintaimu, upsss ….”
Kebiasaan bersama Arkana saat mengakhiri panggilan dengan mengucapkan kata cinta membuat Qania refleks mengucapkannya. Ia segera menutup mulutnya dan mengakhiri panggilan tersebut dengan membawa rasa malu. Qania memukuli mulutnya yang tidak bisa di cegah itu. “Huhh dasar mulut. Pasti sekarang Tristan sedang tertawa ini, pasti,” ucap Qania kesal kemudian ia turun dari tempat tidurnya menuju ke dapur.
Memang benar, saat ini Tristan tengah tersenyum bahkan sesekali tertawa kecil karena ucapan cinta yang tidak sengaja keluar dari mulut Qania tanpa ia minta. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelit perutnya.
__ADS_1
“Aku juga mencintaimu Qania, sangat mencintaimu. Terima kasih untuk ungkapan tersebut, kau kembali mengisi daya di tubuhku ini. Aku rasanya ingin segera kembali. Dan sekarang karena nyonya sudah menyuruh untuk makan maka aku akan mencari tempat makan sendiri, setelah itu baru menjemput Marsya,” ucap Tristan kemudian ia berjalan ke mobilnya masih dengan senyuman yang tidak mau terbenam dari bibirnya.