
Makan malam telah usai, Qania dan Lala sudah kembali ke kamar mereka masing-masing dan Raka pun langsung pulang setelah mengantar Qania dan Lala.
Qania memejamkan matanya, namun bunyi notifikasi ponselnya membuat ia terkejut.
"Oh ya ampun kenapa bisa lupa sih kalau besok pagi udah mau berangkat KKN," umpat Qania, ia pun membaca pesan grup tersebut.
*Qania : Maaf semua baru lihat chat ... ๐๐
Mae : Darimana non? Udah siap semuanya kan?
Zakih : Emang apa lagi yang mau disiapin Mae, kan udah semua.
Mae : Hehe lupa gue, ๐
Qania : Dasar Maemunah ๐คฃ
Mae : ๐ค
Zakih : Cie ngambek ... ๐คช
Yusuf : Woi berisik Woi. Kuy ceburin Mae ke sungai ๐คฃ๐คฃ
Mae : Orangnya ada Woi ๐ก
Qania : Apa sih semuanya jangan kayak gitu dong sama Mae. Mendingan Mae kita tinggal aja besok biar nggak berisik ๐คฃ๐คฃ
Mae : Qaniaaaaaaa..... I hate you ๐ก๐ก
Qania : too Mae.
Zakih : Setuju Qan.
Yusuf : Apalagi gue.
Mae : Doa orang teraniaya cepat terkabulkan loh ๐คจ
Zakih : Nggak usah drama. Oh iya guys mending kalian istirahat karena besok kita bakalan kumpul di kampus pukul delapan. Oh iya kabar gembiranya lokasi KKN kita aman karena sinyalnya oke disana.
Qania : Alhamdulillah
Mae : Hmmm
Yusuf : Siap ketua. Mae kalau masih ngambek ntar gue tinggal beneran mau?
Mae : Ya nggak mau lah*.
Qania cekikikan membaca chat grup kelasnya, namun ia sudah tidak berniat mengobrol lagi karena teringat pesan ketua mereka yang menyuruh istirahat.
Sambil menunggu matanya terlelap, Qania membuka story di aplikasi tersebut dan salah satunya membuat Qania terkejut.
"Oh ya ampun, Syaquile udah selesai ujian seminarnya. Telepon aja deh" ucap Qania kemudian langsung menghubungi adiknya tersebut.
Syaquile yang sedang bermalas-malasan di kamar kostnya setelah tadi sore melangsungkan ujian seminar pun tersenyum saat sang kakak meneleponnya.
"Pasti kakak udah lihat storyku deh," kekehnya kemudian menjawab panggilan tersebut.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Kak," sapa Syaquile.
"Wa'alaikum salam, Dek. Ciee udah selesai nih ujian seminar hasilnya. Bentar lagi jadi sarjana dong," ledek Qania.
"Iyalah, Kak. Doain ya," pinta Syaquile.
"Pasti," sahut Qania.
Keduanya pun larut dalam obrolan, hingga tak sengaja Syaquile bertanya tentang sesuatu yang membuat Qania sensitif.
"Kak, emang disana nggak ada yang bisa bikin Kakak lupa sama kak Arkana?" Tanya Syaquile pelan.
"Hmmm ... Dek, apa Kakak boleh menggantikan Arkana?" Tanya Qania ragu.
"Maksud Kakak?"
"Maksud Kakak, apakah Kakak boleh menyukai pria lain? Jujur saja kalau ada pria yang begitu peduli dan bersikap manis ke Kakak, lama kelamaan pasti hati Kakak akan luluh juga," curhat Qania.
"Apakah dia kak Raka?" Tanya Syaquile memastikan.
"Kok kamu bisa tahu, Dek?" Tanya Qania balik.
"Dia sering curhat ke aku, Kak. Jadi benar dia," gumam Syaquile.
"Hmmm ... dia bersikeras untuk terus memperjuangkan cintanya ke Kakak. Kakak harus gimana, Dek?"
Syaquile menghela napas sebelum menjawab pertanyaan sang kakak.
"Kak, aku nggak mau menggurui Kakak. Tapi aku sebagai adikmu hanya ingin melihat Kakak berbahagia. Cobalah buka hati Kakak untuk orang lain, Kak. Kakak berhak bahagia, jangan terus siksa diri Kakak dengan terus tinggal di dalam kenangan bersama kak Arkana. Aku tahu tidak mudah bagi Kakak melupakannya, begitu pun dengan aku yang kadang sering teringat padanya, Kak. Tapi cobalah Kakak berpikir untuk masa depan Kakak. Kakak tidak akan bisa selamanya sendiri, Arqasa juga membutuhkan sosok ayah untuk menguatkan dan melindunginya nanti. Aku yakin kak Arkana tidak akan marah kepada Kakak. Dia justru akan terluka jika Kakak terus menyiksa diri Kakak dengan alasan rasa cinta kepadanya ...."
"Kak, aku nggak maksa Kakak untuk move on, aku hanya ingin melihat Kakak bahagia, itu saja. Aku hanya memberi saran kepada Kakak, dan Kakak hanya perlu mempertimbangkan ucapanku ini. Jika Kakak setuju maka aku akan berada di belakang Kakak. Namun jika tidak, aku juga tidak akan meninggalkan Kakak," ucap Syaquile panjang lebar.
"Tapi Dek, kau tahu sendiri kan kalau Kakak ini menyandang nama Wijaya di belakang nama Kakak. Bagaimana nanti perasaan papa Setya saat tahu kalau Kakak berniat menjalin hubungan dengan pria lain. Dia pasti akan sangat sedih dan kecewa karena Kakak melupakan anaknya," bimbang Qania.
"Memangnya Kakak sudah pernah membahas ini dengan om Setya?" Tanya Syaquile.
"Belum sih, Dek," sahut Qania.
"Tapi kalau aku sih merasa om Setya nggak bakalan marah sama Kakak. Rasa kecewa mungkin ada, tapi pasti Om Setya akan mengerti dengan keadaan Kakak. Dia nggak mungkin menghalangi kebahagiaan Kakak," tutur Syaquile.
"Mungkin kamu benar juga, Dek," lirih Qania.
"Kak, aku nggak minta Kakak buat ngelupain kak Arkana karena aku tahu itu nggak akan mungkin. Aku hanya ingin Kakak untuk membuka sedikit hati Kakak, aku ingin melihat Kakak bahagia. Itu saja. Dan juga Kakak itu masih sangat muda, perjalanan Kakak masih sangat panjang. Kakak membutuhkan sosok pria yang bisa menjaga, melindungi dan membimbing Kakak dan juga Arqasa. Aku tahu Kakak cerdas dan dari segi materi bahkan Kakak sayang terlimpahkan, namun itu semua tidak akan selamanya bisa menjadi tameng Kakak. Ingat Kak, manusia itu hidup saling bergantungan dan Kakak pasti lebih tahu itu dari aku ...."
"Kak, berbahagialah. Kejar kebahagiaan Kakak, jangan terus berkubang dalam kesedihan. Kak Arkana nggak akan kembali lagi ke Kakak dan aku tahu kakak juga tahu akan hal ini. Jangan siksa diri Kakak, Kakak juga berhak bahagia," pinta Syaquile.
"Dek, nggak tahu kenapa tapi kok ucapan kamu bikin Kakak nangis ya?" Isak Qania berusaha melucu namun air matanya tidak bisa ia bendung.
"Sakit ya Kak, ucapanku? Berdarah-darah nggak tuh?" Ledek Syaquile.
"Hahaha ... Siapa yang mengajarimu membuat orang sedih dan senang di waktu bersamaan, Dek?" Tanya Qania sembari menghapus air matanya. Qania sendiri bahkan tidak sadar apakah itu air mata sedih atau bahagia.
"Ya tentu saja sih pria tengik pujaan hati Kakak," jawab Syaquile santai.
"Arkana Wijaya?" Tanya Qania.
__ADS_1
"Emang siapa lagi coba?"
"Sudah Kakak duga, rupanya kau belajar banyak darinya," ucap Qania sembari tersenyum mengingat wajah suaminya.
"Aku murid yang berbakat, bukan?"
"Ya, kau bahkan sangat berbakat."
"Itu karena aku sudah belajar banyak dari kak Arkana bagaimana cara menaklukkan hati gadis yang suka marah-marah dan murah ngambek kayak Kakak. Tapi sayangnya sampai detik ini belum ada gadis yang bisa menggetarkan hatiku, Kak," curhat Syaquile.
'Kecuali kamu, La,' Batin Syaquile.
"Akan Kakak carikan untukmu," ucap Qania.
"Kakak ini, emang nyari calon istri itu kayak nyari pakaian," gerutu Syaquile.
"Hehehehe ... tenang aja, kakak udah siapin satu buat kamu," ucap Qania sembari tersenyum lucu, ia tahu kalau adiknya itu menyukai Lala.
"Oh ya?" Beo Syaquile.
"Iya."
"Nggak deh, Kak. Nggak ya, aku bisa nyari sendiri," tandas Syaquile.
"Oh ya sudah, kalau begitu Lala untuk orang lain saja," ucap Qania berpura-pura mengancam Syaquile.
"Jangan ...," pekik Syaquile.
"Hahahaha ... oh jadi Lala rupanya yang sudah menawan hati adik tampan Kakak ini?" Ledek Qania.
Wajah Syaquile memerah, ia sudah tertangkap basah oleh sang Kakak.
"Apa sih Kak, mendingan sekarang Kakak tidur. Besokkan mau berangkat KKN," alih Syaquile.
"Cie mengalihkan," goda Qania.
"Wa'alaikum salam, Kak," ucap Syaquile yang langsung menutup teleponnya.
Sementara Qania tengah cekikikan karena berhasil menggoda Syaquile, justru Syaquile saat ini tengah meruruki kebodohannya yang kelepasan saat kakaknya mencoba untuk memancingnya.
"Ah sial, kenapa bisa kepancing sih sama kak Qania. Habis aku, pasti bakalan diledekin nih," gerutu Syaquile sambil mengacak rambutnya.
Di dalam kamarnya saat ini Qania sudah tidak lagi tertawa, ia justru sedang tersenyum sambil membayangkan wajah tampan adiknya.
"Kau sudah dewasa, Dek. Kakak senang kau mampu berpikir bijak. Tapi Kakak sekarang cemburu kepada Lala, dia sudah berhasil menawan hatimu. Kakak sedikit tidak rela membagimu dengan gadis lain, tapi Kakak sadar kalau kau juga memiliki jalan hidupmu sendiri. Kakak hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, adikku sayang," lirih Qania.
...๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐...
Terima kasih sudah membaca ๐ค๐ค๐ค
Kuy berteman
IG : Vvillya
FB : Vicka Villya Ramadhani
__ADS_1
WA : 0823-5054-5747
Episode selanjutnya akan di up di jam yang berbeda ya ๐๐๐