Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Tristan POV


__ADS_3

Tristan Anggara POV


 


Akhirnya gue nekad pergi ke kotanya. Mencarinya dan menemukannya. Gue yang asing dengan tempat itu tak mengenal siapapun kecuali dia akhirnya bisa menemukannya berkat kedudukan kedua keluarganya.


Pertama yang aku lihat adalah rumah dua lantai yang terlihat sederhana namun jangan salah, gue bisa taksir rumah itu harganya sangat mahal. Hanya desainnya saja yang terlihat sederhana.


Sampai di rumah orang tua Qania gue kecewa karena nggak ada dia disana. Tapi syukurlah satpamnya memberitahukan kalau dia ada di rumah mertuanya, rumah Arkana-nya.


Jujur gue gugup melihat mereka, takut mereka curiga dengan penampilan gue. Tapi syukur enggak. Langsung saja supir membawaku kesana.


Benar saja, begitu aku turun dari taksi aku melihatnya. Dia sangat cantik dengan kaos sederhana berwarna hitam dan juga celana jeans hitam panjang, tak lupa jaket jeans berwarna biru. Sangat keren dan cantik menurut gue dengan dia yang berpenampilan seperti itu. Gue nggak pernah lihat Qania dandan kayak gitu. Rambutnya terurai indah semakin menyilaukan pandangan gue, hehe.


Dia berbalik dan baru saja akan menaiki motornya namun dia tak sengaja melihatku berdiri di depan gerbang yang tengah terpanah dengan pesonanya. Gue yakin dia pasti lihat wajah bego gue.


Awalnya judes kayak biasanya, eh terus dia narik tangan gue masuk ke dalam rumah bahkan ke kamarnya.


Gue tercengang, sumpah!


Kamar itu seperti galeri saja, begitu banyak foto disana dan yang mendominasi itu foto Qania. Dari sini bisa gue tarik kesimpulan bahwa memang benar Arkana sangat menggilai Qania. Belum lagi foto besar di dinding yang bertuliskan ‘Malaikat Tak Bersayap' itu yang semakin memperkuat dugaan ku.


Setelah aku mengeluh lapar, dia mengajakku ke suatu tempat dengan menaiki motor yang entah mengapa gue suka mengendarainya. Mungkin karena ada wanita cantik di belakang gue. Hingga akhirnya kami sampai di tempat yang lebih membuat gue tercengang.


Kafe kami benar-benar memiliki semua kesamaan, hampir nggak ada bedanya. Saat gue iseng nuduh Qania niru kafe gue eh dia malah jawab kalau kafe ini sudah lama ada sebelum kafe milik gue. Sangat kebetulan bukan, sebuah bangunan nampak sama seluruhnya namun pemiliknya bahkan tak pernah bertemu atau saling berkunjung.


Lupakan masalah kafe, sesuatu yang lebih menarik perhatianku adalah ekspresi kaget teman Qania yang sepertinya penanggung jawab kafe itu.


Sial! Ini yang gue cemasin kalau datang ke kota ini. Dulu saja Qania sampai pingsan karena lihat gue. Gimana nanti reaksi orang-orang terdekat Arkana. Sekarang gue baru paham.

__ADS_1


Mereka menceritakan padaku tentang Arkana. Orang yang tak kukenal namun begitu mirip denganku. Bahkan aku sampai tertawa mendengar kisah kami yang sama dalam mengejar wanita yang sama, Qania Salsabila.


Setelah dari kafe, gue nggak mau pulang kosong dong. Gue nuntut jawaban Qania saat itu juga. Dan dia ngajak gue ke suatu tempat yang ternyata adalah pantai. Gue ngelihat dia berjalan ke bibir pantai aja udah terpesona, gimana kalau gue genggam tangannya sampai ke tepi pantai, huhh.


Dia diam, gue diam. Nungguin dia ngomong tapi matanya hanya menatap lurus entah apa yang sedang diterawangnya.


Tak lama kemudian dia mengeluarkan isi hatinya, perasaan sedihnya. Rasa cinta dan kerinduannya untuk Arkana. Gue sakit hati tentu saja. Niat ingin dapat jawaban malah justru mendengar pengakuan cinta Qania untuk orang lain. Ingin gue sela aja saat dia bicara tentang cintanya yang setinggi langit, seluas jagad raya dan setinggi gunung Himalaya. Tapi gue nggak mungkin lah, dia terlihat sangat rapuh.


Akhirnya gue diamin aja sambil jadi pendengar yang baik untuknya. Kali ini gue rasa Qania hanya butuh untuk di dengarkan. Dari pengakuannya gue ngerasa sebenarnya Qania itu ingin membuka diri tapi ada sesuatu hal yang nahan dia gitu dan gue nggak tahu itu apa.


Sampai akhirnya dia terdiam dan gue berusaha ngatur kata buat gue ucapin agar nggak buat Qania marah. Tapi gue langsung terkejut bukan main begitu gue baru buka mulut malah Qania tiba-tiba nyium gue. Gue senang dong, ya tentu saja sangat senang mendapat ciuman dari Qania secara tiba-tiba.


Cukup lama, sampai akhirnya dia menyudahinya dan mengatakan hal yang membuat gue kembali bersemangat untuk mengejarnya.


Oke, meskipun gue bingung tapi gue pasti akan berusaha buat bujuk Tuhan untuk kasih dia for Beta. Eh, judul lagu dong ya, hihihi.


Kami pun memutuskan untuk pulang. Namun baru setengah jalan tiba-tiba Qania bilang kalau dia udah pesanin gue tiket buat balik malam ini. Gue kaget dong. Baru juga sampai dan ingin berduaan sebelum hari esok pertunangan sialan itu datang dia malah udah nyuruh gue pulang dan akhirnya gue patuh juga.


Kan patah hati gue. Pinginnya tuh dia udah berubah pikiran dan bilang buat gue batalin pertunangan itu. Tapi ya dia kan Qania Salsabila si keras kepala. Ya udah gue jadinya ngalah. Dan saat dia lengah waktu gue bilang bakalan gue paksa bersanding di pelaminan dengan gue ya gue manfaatin waktu dan kesempatan dong. Gue peluk erat dan cium keningnya dan dia nggak marah atau nolak gue, kan senang jadinya. Bisa pulang setidaknya nggak gagal tapi nggak berhasil juga. Setidaknya masih ada kemungkinan buat gue berjuang.


Pesawat membaku sampai di kotaku, ah apakah benar ini kotaku? Jadi kepikiran perkataan Qania yang bertanya apakah gue ini Arkana?


“Itu kan, gue jadi rindu lagi sama Qania.” Gue langsung menghempaskan tubuh ke tempat tidur yang sangat nyaman.


“Gue kirim pesan aja deh.”


Gue ketik pesan tapi nggak dibalas. Gue positive thinking aja dulu. Gue kirim pesan lagi dengan sengaja gue lebay-lebayin biar dia berubah pikiran.


“Ta—pi, gimana kalau Qania bukannya berempati justru malah jijik sama pesan lebay gue. Mati gue!” Gue tabok jidat gue, “Kenapa baru kepikiran sekarang sih? Ya udah kali ini gue kirim pesan yang agak cool aja deh. Atau pesan yang terkesan maksa plus ngancam gitu. Iya kayak gitu kayaknya lebih baik.”

__ADS_1


Gue ngetik lagi, sedikit menandaskan kalimat gue. Dan langsung gue telepon Qania. Benar kan dugaan gue, dia belum tidur dan bahkan gue langsung disambut dengan ucapan ketusnya.


Sial! Kenapa semakin sering dia ngumpat gue semakin suka.


Gue mulai bicara dan dia hanya menjawab irit banget, bikin kesal aja. Sampai akhirnya gue teriak protes, wah rupanya gue protes dengan gaya konyol gue bisa bikin dia tertawa lepas.


Jadi gini caranya bikin Lo tertawa senang Qan. Gue cukup bertingkah konyol dan Lo bisa dengan mudah tertawa lepas. Baiklah, mulai sekarang gue bakalan bertingakh konyol buat Lo.


Akhirnya gue sama Qania berbicara layaknya orang normal. Nggak ada umpatan justru terdengar obrolan kami begitu manis semanis gula.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu."


Aku terus mengumumkan perasaanku itu padanya. Entahlah, aku sangat suka mengucapkan tiga kata itu. Dan aku dengan percaya dirinya merasa Qania mulai luluh padaku.


Meskipun masih ingin mengobrol tapi aku juga sayang padanya sehingga membiarkannya untuk istirahat lebih dulu.


"Baiklah, gue hanya harus bertingkah konyol untuk membuatnya senang dan terus mengumbar kata cintaku padanya agar dia mulai luluh dan mempertimbangkan posisi gue di hatinya. Kau tunggu saja Qania, akan datang waktunya kau dihujani oleh cinta dan kebahagiaan dariku. Aku mencintaimu Qania Salsabila Wijaya."


Tristan POV end ...


.... . . . ....


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2