Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Perintah Mutlak


__ADS_3

Waktu menjelang KKN semakin dekat, dan Qania baru saja menyelesaikan ujian proposalnya. Dua hari berlalu tanpa Arkana, karena ia sibuk membantu papanya mengurus kasus di persidangan dan juga mulai membantu menjalankan hotel milik papanya.


Keduanya hanya bisa berkomunikasi lewat telepon, video call dan pesan singkat saja. Sebelum tidur keduanya menyempatkan waktu untuk melakukan panggilan video dan Arkana selalu menunggu hingga Qania tertidur barulah ia mematikan panggilannya.


Tak ada rasa bosan bagi keduanya berbicara lewat telepon hingga berjam-jam, membicarakan hal-hal yang tidak penting dan tidak jelas namun keduanya begitu asyik dalam percakapan tersebut. Kadang Arkana tertawa melihat kekasihnya yang sudah tertidur pulas namun keduanya masih terhubung dalam panggilan video.


“Manisnya” gumam Arkana saat melihat Qania tertidur.


Kadang kalau keduanya tidak sempat melakukan panggilan video, mereka hanya melakukan panggilan biasa dan lagi-lagi Arkana ditinggal tidur. Hal itu Arkana ketahui ketika mendengar dengkuran halus dari kekasihnya itu dan itu baginya sangat menggemaskan.


Seperti malam ini, Arkana melakukan panggilan video sambil memegangi gitar.


“Sayang nyanyiin dong lagu pengantar tidur” pinta Qania dengan manja.


“Tentu” jawab Arkana.


Qania yang sedang berbaring menyamping dengan ponsel ia sandarkan di bantal gulingnya. Qania memeluk boneka hello kitty berukuran besar pemberian Arkana lalu.


“Ya udah nyanyiin buruan, aku udah ngantuk nih” perintah Qania dan itu terlihat menggemaskan bagi Arkana.


“Sabar dong sayang” kekeh Arkana.


Arkana mulai mengutik gitarnya, ia menyanyikan lagu dari band yang terkenal di salah satu provinsi di Indonesia.


*Selamat tidur sayangku


Pejamkan kedua bola matamu


Jangan bimbang dan ragu


Ku disini pelengkap mimpimu


Ku tahu engkau lelah, jalani hari ini


Tapi jangan kau menyerah


Ku disini kan menemani


...Walau malam tanpa bintang...


...Ku kan datang, agar engkau tenang...


...Walau bulan enggan tesenyum...


...Ku berjanji temani hingga pagi*...


 


Arkana tersenyum sangat manis melihat kekasihnya sudah tertidur lelap. Ia menitikkan air mata karena merasa rindu yang teramat sangat namun ia tidak bisa bertemu karena saat ini ia sedang berada di luar kota mengurus hotel cabang milik papanya.


“Selamat tidur sayangku, semoga mimpi indah”,.


“Kau tahu sayang, aku kehabisan kata-kata ah lebih tepatnya aku tidak memiliki kata yang pantas untuk mengungkapkan seperti apa rasa cinta dan sayangku padamu. Aku merasa seperti akan kehilanganmu tiap kali aku merindukanmu, tapi aku selalu meyakinkan hatiku bahwa kita ditakdirnya untuk selamanya saling mencintai”,.


“Aku begitu takut kehilanganmu lagi, sudah cukup aku merasa hampa dan frustasi saat dulu kau meninggalkanku dengan kebodohanku yang tidak ku sengaja”,.


“Aku sangat mencintaimu Qania. Lihatlah kau sangat menggemaskan saat tidur lelap seperti itu, rasanya aku ingn berbaring di sampingmu, membawamu kedalam pelukanku. Ah aku tidak sabar untuk segera menghalalkanmu sayang” Arkana terkekeh saat membayangkan bagaimana nanti ia tidur bersama dengan Qania di malam pertama mereka.


“Tidurlah sayang. Berjauhan denganmu rasanya sangat menyesakkan, aku akan segera kembali. Aku merindukamu” air mata Arkana berhasil lolos dari sarangnya.


Arkana mematikan panggilan video itu kemudian melangkah ke tempat tidur karena rasa kantuk sudah menyerangnya.


Qania perlahan membuka matanya ketika panggilan video itu berakhir. Ia tadi hanya berpura-pura tidur karena ia penasaran apa saja yang dilakukan Arkana ketika ia sudah tertidur setiap kali mereka melakukan panggilan biasa atau pun panggilan video.


“Kau sangat menggemaskan sayang, aku sangat mencintaimu. Ternyata ungkapan-ungkapan manis ini yang selalu ku lewatkan setiap malam, ah rasanya aku begitu menyesal tidak mendengarkan perkataan romantismu sebelum aku tertidur” kekehnya, namun dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.

__ADS_1


“Kau begitu manis dan aku beruntung karena aku yang memilikimu, Arkana Wijaya”,.


Qania bangun dan berjalan kearah dimana ia meletakkan kamera kecil. Ia kesal pada dirinya yang selalu tertidur setiap kali Arkana menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya, ia sangat penasaran apakah setelah ia tidur Arkana langsung mematikan panggilan mereka atau ada sesuatu yang ia lakukan. Makanya Qania menaruh kamera untuk merekam kegiatan mereka, sebagai jaga-jaga kalau saja ia kembali tertidur.


“Romantis itu, saat aku ingin tidur dank au meninabobokanku dengan suara merdumu. Romantis itu saat aku begitu merindukanmu dank au pun juga merasakan hal yang sama dan kita terhalangi oleh jarak dan kita sama-sama nyesek. Romantis itu saat kau aku tertidur dan kau mengungkapkan perasaanmu padahal aku tidak mengetahuinya. Romantis itu, romantis itu kamu Arkana Wijaya ku, aku mencintaimu sangat banyak” ungkap Qania kemudian menyeka air matanya.


Qania kembali berbaring di atas tempat tidurnya, membayangkan kembali awal pertemuannya dengan Arkana, mengingat saat ia hujan-hujanan di taman sambil bermain ayunan dan juga saat Arkana menggendongnya beberapa hari yang lalu saat mereka berjalan kaki.


Qania tertawa geli saat mengingat bagaimana Arkana memaksanya menjadi kekasih dengan cara yang aneh dan ekstrem.


“Hanya Arkana ku yang memiliki pemikiran gila dan cara yang gila saat meminta seseorang menjadi kekasihnya” kekeh Qania.


Qania mengambil ponselnya yang satu, yang ia gunakan untuk merekam suara Arkana saat menelepon tadi. Qania terus memutar rekaman suara itu hingga ia tertidur dengan senyuman tergambar di wajah cantiknya.


🍀


🍀


Waktu berjalan begitu cepat dan hal itu membuat Qania semakin uring-uringan karena sudah mendekati hari keberangkatannya KKN namun Arkana belum juga kembali dari luar kota.


Bahkan kemarin Arkana tidak menghubunginya sama sekali dan hal itu membuatnya frustasi. Untung saja ia sempat merekam suara Arkana saat mereka melakukan panggilan video beberapa malam yang lalu. Sedikit banyak itu bisa mengobati rindunya.


Qania uring-uringan di kamar hingga malam menjelang, ia selalu menunggu kabar dari tunangannya yang sampai sekarang tidak ada tanda-tanda kedatangannya.


Ponsel Qania berdering, sebuah pesan singkat yang langsung membuat Qania tersenyum. Siapa lagi pengirimnya kalau bukan kekasihnya, Arkana Wijaya.


“Maaf sayang aku kemarin dari meninjau lokasi yang akan digunakan untuk membangun vila dan tempatnya sangat sulit mendapatkan sinyal karena di desa terpencil namun memiliki keindahan alam yang begitu menakjubkan. Nanti aku akan mengajakmu ke tempat ini saat kita akan berbulan madu”,.


Qania senyam-senyum membaca pesan tersebut sambil berguling-guling di atas tempat tidurnya.


“Haha bulan madu, rasanya begitu menggelitik mengucapkan kata itu” gumam Qania.


“Arkana cepatlah kembali, aku merindukanmu” cicitnya.


Beberapa menit kemudian sebuah pesan yang berupa video masuk ke ponsel Qania. Di dalam video tersebut, Arkana sedang bernyanyi sambil bermain gitar dengan lagu milik grup band D’masiv yang berjudul rindu setengah mati.


“Aku rindu setengah mati kepadamu, sungguh ku ingin kau tahu, ku tak bisa hidup tanpamu, aku rindu”,.


Rupanya pesan suara tersebut berisi Arkana yang menyanyikan sepenggal lagu yang tadi ia kirim lewat pesan video itu.


“Aku mencintaimu Arkana, sangat mencintaimu. Aku bahkan sangat banyak mencintaimu” ungkap Qania sambil memeluk ponselnya.


Ponsel Qania kembali bergetar dan berisi pesan suara lagi


“Sayang”,.


“Iya sayangku”,,


“Aku rindu, sangat rindu”,.


“Aku banyak rindu padamu”,.


“Aku akan segera kembali”,.


“Dan aku menunggumu”,.


“Maaf malam ini hanya bisa berkirim pesan suara, aku sangat lelah dan ini bahkan sudah tengah malam. Apa kau belum ingin tidur?”,.


“Aku menunggu seseorang yang akan menyanyikanku lagu pengantar tidur”,.


“Baiklah, seperti keinginanmu tuan putri”,.


“Maka tuan putri ini akan menunggu”,.


Arkana yang sudah sangat mengantuk mengurungkan niatnya untuk segera menjemput mimpinya karena baginya keinginan Qania adalah perintah mutlak untuknya. Arkana berjalan dan duduk di sofa dimana gitar yang ia pinjam dari hotelnya itu ia letakkan.

__ADS_1


*Seandainya kau ada disini denganku


Mungkin aku tak sendiri


Bayanganmu yang selalu menemaniku


Hiasi malam sepiku


Ku ingin bersama dirimu


...Tak akan pernah berpaling darimu...


...Walau kini kau jauh dariku...


...Kan selalu kun anti karena ku sayang kamu...


Hati ini selalu memanggil namamu


Dengarlah melatiku


Ku berjanji hanyalah untukmu cintaku


Takkan pernah ada yang lain


Adakah rindu di hatimu seperti rindu yang ku rasa


Sanggup kah ku terus terlena


Tanpamu disisiku, ku kan selalu menantimu


...Tak akan pernah berpaling darimu...


...Walau kini kau jauh dariku...


...Kan selalu kun anti karena ku sayang kamu*...


Qania dan Arkana sama-sama menitikkan air mata mereka. Jika Arkana sedih karena lagu tersebut merupakan ungkapan hatinya. Ia sangat merindukan, begitu sangat merindukan gadisnya.


Air mata Arkana mengalir dengan derasnya, bagaimana tidak, ia sebenarnya tidak bisa pulang karena ia harus menetap selama dua minggu disana dan pastinya Qania sudah berangkat KKN tanpa bertemu dengannya.


“Aku sangat merindukannya” isak Arkana sambil memeluk guling dan membayangkan senyuman Qania.


Arkana berpikir bagaimana caranya ia menyampaikan pada Qania bahwa ia tidak bisa pulang sebelum ia berangkat KKN. Ia sangat takut membuat gadisnya itu kecewa dan bersedih karenanya, namun ia juga tidak ingin Qania menunggunya tanpa kepastian.


Arkana tidak bisa memejamkan matanya, ia terus memikirkan tindakan apa yang ia akan lakukan agar tidak mengecewakan kesayangannya itu.


Sementara Qania saat ini tengah menangis tersedu-sedu sambil terus mengulang rekaman suara Arkana yang bernyanyi untuknya. Ia memeluk erat ponselnya seakan ia sedang memeluk Arkana, meskipun hanya suaranya yang menemaninya melewati malam yang terasa begitu sepi dan mencekam.


“Hikss, aku sangat merindukanmu tuan menyebalkan. Cepatlah pulang, hikss. Aku sangat ingin memelukmu erat, hikss” tangis Qania.


“Bohong, selama ini aku bohong berkata padamu aku tidak masalah ditinggal olehmu, jauh darimu dan melewati hariku tanpa menatap senyummu. Aku merindukan tingkahmu yang tidak pernah absen membuatku kesal di pagi hari, aku merindukan semua yang ada padamu. Aku berbohong dengan mengatakan aku baik-baik saja saat ini, aku tidak baik-baik saja tanpamu sayang. Aku sangat banyak merindukanmu, cepatlah kembali aku tidak kuat memendam rindu ini” isak Qania.


Keduanya melewati malam kelabu dengan deraian air mata kerinduan, tanpa saling mengetahui bahwa keduanya sedang meratapi nasib yang membuat mereka berjauhan. Arkana mengira bahwa Qania sudah tertidur begitu pun dengan Qania sehingga mereka tidak melanjutkan komunikasi mereka.


Siapa yang menyangka rasa lelah dan letih lenyap begitu saja digantikan oleh rasa rindu yang menggerogoti hati dan pikiran mereka. Rasa takut untuk kehilangan menghantui hati dan pikiran keduanya hingga mereka takut memejamkan mata.


Qania enggan membuka matanya, karena ia sadar betul ketika ia membuka mata Arkana masih belum berada di sisinya.


Sementara Arkana seperti tidak ingin membuka matanya karena ia tahu benar bahwa yang ia lihat ketika membuka mata adalah ruangan yang begitu luas dan mewah namun terasa hampa tanpa gadisnya itu.


Ingin sekali Arkana pergi dari tempat ini untuk menemui kekasihnya, namun ia harus bersabar karena ini akan menjadi cikal bakal kesuksesannya dan juga agar ia bisa membiayai kehidupan Qania nantinya saat mereka sudah menikah.


Biarlah, bersabar sebentar saja untuk memulai awal yang lebih baik, pikirnya.


Hampir memasuki waktu subuh keduanya baru memejamkan mata karena lelah memikirkan keadaan seperti lagu dari Bruno Mars yang berjudul Long Distance.

__ADS_1


“Ya, long distance is killing me” gumam keduanya bersamaan namun di tempat berbeda sebelum akhirnya keduanya memasuki alam mimpi.


...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...


__ADS_2