
Di teras depan rumah sederhana di ujung kampung terlihat dua orang pria yang berumur kisaran dua puluh tujuh tahun sedang menikmati camilan dan kopi mereka di sore hari ini. Keduanya baru saja kembali dari proyek pembuatan tiang pancang pelabuhan di kampung itu, karena banyak pembeli ikan dari luar daerah yang datang ke kampung itu.
“Den, menurut lo gue ini kurangnya apa sih?” Tanya Juna, mereka adalah Arjuna dan Denis.
“Kenapa tiba-tiba lo nanya gue begitu?” Denis menaikkan sebelah sudut alisnya sambil menatap Juna di sebelahnya, heran dengan pertanyaan sahabatnya itu.
“Ya gue heran aja, kok si Qania sampai sekarang nyuekin gue gitu. Padahal lo tahu selama ini siapa sih yang bisa menahan pesona Arjuna Wilanata. Gadis-gadis bahkan wanita dewasa dan emank-emak pada berbaris teratur buat gue, eh malah si Qania nggak mau tuh senyum ke gue dikit aja. Dingin banget, seolah-olah gue nggak pernah ada di depannya” cerita Juna sambil mengingat-ingat setiap pertemuannya dengan Qania yang selalu membuatnya kesal karena merasa tidak dianggap.
Denis menggulum senyum melihat wajah frustasi sahabatnya itu, ia pun membenarkan perkataan Juna tentang sikap wanita yang selama ini selalu mengejar Juna dan juga sikap Qania yang sekana tidak menganggapnya ada.
“Apa dia nggak normal gitu? Apa dia nggak suka sama cowok?” terka Juna membuat Denis terbahak.
“Gue tahu lo kesal tapi jangan langsung berpikiran seperti itu juga” cibir Denis.
“Ya habisnya gimana lagi coba, gue yang tampan dan mapan ini nggak dianggap bro sama cewek yang mungkin masih dua puluh tahun. Gila, ini benar-benar gila. Bahkan anak SMP kalau lihat gue sampai ileran, masa dia enggak sih” Juna menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.
“Mungkin dia nggak suka kali sama lo, atau lo itu bukan tipenya dia atau dia udah nikah kali” celetuk Denis yang sebenarnya sedang turut menerka juga, ia menjadi semakin penasaran dengan gadis itu.
“Gue? Lo bilang gue bukan tipenya? Bahkan semua tipe cowok idaman para wanita ada di gue bro.Dan gue yakin dia itu belum nikah, lo jangan mengada-ngada. Gue bisa pastikan si Qania itu masih virgin” tandas Juna.
“Lo emang bisa tahu gitu mana yang virgin dengan enggak?” Tanya Denis yang memang tidak berpengalaman dengan yang namanya **** karena ia hanya memiliki satu pacar dari SMA dan sampai sekarang masih bersama namun tidak melakukan hal di luar batas.
“Tahu dong, lo jangan lupa siapa gue, gue Arjuna Wilanata, semua cewek dari yang virgin sampai yang nggak virgin berbaris tertib menunggu gue jamah” ucapnya dengan bangga membuat Denis mendengus kesal.
“Oh mungkin Qania tahu kali dan bisa lihat dari muka lo kalau lo itu penjahat k*lamin” tandas Denis membuat Juna langsung menjitak kepalanya.
“Dasar teman nggak ada akhlak lo” umpat Juna.
Denis mengusap kepalanya, ia tidak mengerti kali ini dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
“Tadi lo bilang lo tahu bedakan cewek dan lo bilang mereka berbaris tertib untuk lo jamah. Eh kenapa giliran gue bilang lo penjahat k*lamin lo malah marah” kesal Denis.
“Ya gue juga nggak suka kalau lo nyebut itu secara frontal, kalau tiba-tiba Qania dengar itu bakalan jatuhin image gue dong” seru Juna.
Denis menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memijat pelipisnya dengan satu tangannya. Ia merasa bahwa sahabatnya ini sudah stress karena seorang gadis yang tidak menanggapinya.
“Terserah elo” ucap Denis kemudian masuk ke dalam rumah.
“Eh lo ninggalin gue, terus nih gelas sama toples siapa yang bawa Denis” teriak Juna.
“Menurut lo?” sahut Denis dari dalam kamar.
“Wah lo emang teman nggak ada akhlak” umpat Juna sambil meletakkan dua cangkir ke dalam nampan beserta toples camilan dan membawanya masuk ke dalam rumah.
*
*
Back sound “Geisha-Takkan Pernah Ada”
Arkana menggenggam tangan Qania dengan jari-jemari mereka saling bertautan, saat ini mereka tengah berada di sungai sambil menikmati waktu menjelang sore bersama anak-anak yang tengah asyik mandi sambil bermain di sungai.
Duduk di atas batu besar sambil bercanda dan sesekali terlihat adu mulut karena berbeda pendapat. Bukan hal biasa bagi mereka di sela tawa ada kekesalan dan di tengah kekesalan ada tawa. Itu lah yang membuat Qania mengatakan bahwa Arkana Wijaya adalah paket lengkap untuknya. Sedih dan bahagianya selalu datang sepaket, katanya.
Sesekali tanpa Arkana ketahui, Qania selalu mencuri pandang pada kekasihnya itu. Baginya ini adalah kesempatan untuk menebus rindunya selama sebulan tanpa kekasihnya itu.
“Sayang” panggil Arkana dengan lembut.
__ADS_1
“Ya” sahut Qania, ia menoleh ke samping menatap wajah kekasihnya yang baginya merupakan pahatan wajah terindah yang pernah Tuhan ciptakan untuknya.
‘Pingin ku bungkus, pingin ku karungin, pingin ku simpan dengan permanen wajah tunanganku ini ya Allah’ jerit batin Qania.
“Kok kamu Cuma dua kali sih ngehubungin aku selama ini?” Tanya Arkana.
“Oh itu, sebenarnya ini agak aneh sih sayang. Tapi gimana ya ceritainnya, aku juga masih belum percaya tapi kata teman-teman dan warga sekitar serta di perkuat oleh penjelasan pak kadus dan istrinya memaksa aku buat percaya” ucap Qania dengan bingung, bahkan ia juga bingung dengan apa yang barusan ia katakan.
“Gimana sih? Apa masalah gadis kecil yang kamu maksud waktu malam itu?” Tanya Arkana membuat Qana tersentak.
“Kamu tahu dari mana?” Tanya Qania kaget bercampur gugup.
“Aku tahu, dia bukan manusia kan?” tebak Arkana dan lagi-lagi Qania tercengang dengan perkataan Arkana, tanpa sadar Qania mengangguk.
“Waktu malam itu kita melakukan panggilan video dan kamu bilang rumahnya bersih dan ada anak gadis aku heran karena rumah yang kamu maksud itu sangat lah kotor dan aku juga melihat kok anak yang kamu maksud. Sudah, dia anak baik dia juga turut menyapaku malam itu tanpa kamu ketahui. Dari situ lah aku tahu, tapi aku nggak mau buat kamu takut sayang” ucap Arkana kemudian membawa Qania ke dalam pelukannya.
Qania kembali tercengang, ia teringat kembali dengan cerita pak kadus dan ia akhirnya yakin dengan cerita itu dimana pada hari pak kadus membawa Juna dan Denis rumah itu baru akan di bersihkan dan malam sebelumnya Qania dan Raka datang kesana Qania melihat rumahnya justru sangat bersih.
‘Entah apa, tapi gue merasa anak itu akan terlibat dengan Qania. Tolonglah gadis kecil, lindungi tunanganku jika memang kalian di pertemukan untuk itu’ batin Arkana.
“Sayang, ada yang ingin aku tanyain sama kamu” ucap Arkana mengalihkan.
“Apa sayang?” Tanya Qania melepas pelukannya dari Arkana padahal ia masih sangat nyaman berada di pelukan kekasihnya itu, hanya saja ia tidak enak dengan anak-anak dan ibu-ibu yang juga berada di sungai itu.
“Elin masih pacaran sama kakaknya mantanmu itu?” Tanya Arkana hati-hati.
Qania memicingkan matanya, sepertinya ada sesuatu hal yang penting yang Arkana ketahuo.
“Iya masih, tapi selama disini mereka nggak komunikasi” jawab Qania.
“Tapi kamu janji jangan dulu beri tahu Elin tentang ceritaku ini, aku sempat memergokinya dengan wanita lain beberapa hari saat kalian sudah berangkat KKN. Aku hanya ingin mereka berdua yang menyelesaikan ini, kita jangan ikut campur” ucap Arkana menatap lekat pada Qania.
“Hehehe, maaf mama-mama dan adik-adikku” ucap Qania cengengesan.
“Iya Qania sayang” sahut salah satu ibu yang berada di sungai.
“Oh sudah akrab rupanya” goda Arkana.
“Jelas dong, aku kan Qania Salsabila Wijaya. Siapa yang mampu menolak pesonaku” ucapnya bangga.
“Kamu memang nyonya Wijaya sayang” ucap Arkana sambil mencubit gemas kedua pipi Qania.
“Ih sakit tahu, lanjutin deh ceritanya” ringis Qania.
“Oke”,.
Flash back on…
“Baik pak Arkana, bagaimana dengan tawaran kerja sama kami minggu lalu, apakah anda sudah menyetujuinya?” Tanya seorang pria dengan setelan jasnya membuatnya nampak keren, namun tak kalah dengan Arkana yang juga mengenakan setelan yang sama namun berbeda warna.
“Saya baru saja bertemu dengan anda tuan, tentu saja saya ingin membahasnya secara langsung tidak dengan email anda. Untuk lebih leluasa dan akrab” jawab Arkana.
“Saya setuju dengan anda, maaf jika saya kurang sopan hanya mengirim email, itu karena saya harus berangkat ke dusun di ujung kabupaten karena ada proyek yang harus kami tangani” ucap pria itu.
“Anda sangat sibuk rupanya” ujar Arkana.
__ADS_1
“Ya seperti itu lah. Tapi berhubung kita sudah bertemu jadi langsung saja kita bahas” ucap pria itu.
“Silahkan, apa yang anda inginkan dari saya? Saya tentu tahu niat anda yang sebenarnya bukanlah menanamkan modal di hotel saya saja, tapi ini ada hubungannya kan dengan sepupu anda Daren Wilanata yang saya jebloskan ke penjara atas tuduhan penculikan terhadap papa dan supir saya” ucap Arkana dengan sarkas dan penuh dengan kewaspadaan, ia tahu pria di depannya ini lumayan berbahaya.
“Wah anda benar-benar sangat pandai di usia anda yang masih sangat muda ini tuan Arkana Wijaya” pujinya.
“Saya sebenarnya berteman dengan Daren, hanya saja ia sudah dibutakan dengan dendamnya karena kalah sidang dengan klien papa saya sampai ia menculik papa saya. Sangat jelas sekali dari kasus itu bahwa klien papa saya tidak bersalah, Daren tidak seharusnya melakukan itu semua, sangat di sayangkan” tegas Arkana, bagaimana pun ia masih menganggap Daren sebagai temannya walau pun mereka tidak akrab.
“Saya hanya ingin meminta anda untuk mencabut tuntutan atau meminta hakim meringankan hukumannya, saya akan menanamkan modal pada anda dengan keuntungan enam puluh pada anda dan saya empat puluh” ucapnya memberi penawaran.
“Sangat menarik” Arkana menyunggingkan senyum namun matanya tanpa sengaja melirik ke arah pintu dimana ia mengenali dua orang yang sedang berjalan keluar dari kafe yang sama dengannya.
“Jadi bagaimana..”,.
“Maaf saya permisi, saya memiliki urusan lain yang sangat penting” ucap Arkana bergegas meninggalkan kafe tersebut. Ia sudah membayar pesanannya tadi sebelum dua orang yang menemuinya itu datang.
“Sial, gue dikacangin sama tu bocah” umpatnya.
“Sabar bro” hibur temannya yang dari tadi diam.
Arkana mengikuti seorang pria dan seorang wanita yang tadi ia lihat keluar dari kafe. Dua orang itu sedang berjalan ke arah taman di dekat kafe itu.
“Bukannya itu pacarnya Elin sahabat Qania sekaligus saudara kembar mantannya Qania” gumam Arkana sambil memperhatikan dua orang yang tengah duduk di bangku taman sambil menikmati es krim.
“Nggak, nggak mungkin dia selingkuh. Mungkin saja itu saudaranya” elak Arkana dan ingin pergi namun ia kembali melirik gadis yang bersama Fadly itu.
“Tidak, tidak. Oh no, no, no. Gue nggak salah lihat kan? Itu selingkuhan si Fandy waktu masih sama Qania. Bagaimana bisa?” pekik Arkana, ia memutuskan untuk melanjutkan pengintainnya.
Arkana memilih duduk di bangku di dekat pohon yang cukup besar agar tidak dicurigai kalau sedang mengintai mereka, ia pun sengaja bermain game namun pendengarannya tetap ia fokuskan pada dua orang itu.
“Apa benar kau mencintaiku?” Tanya Adel yang tengah bergelayut manja di lengan Fadly.
“Menurutmu?” Fadly membuat sedikit jarak dan menatap Adel.
“Secara lo tahu gue mantannya Fandy, kakak lo. Dan jangan lo pikir gue nggak tahu kalau lo sama Elin belum putus ya” ucapnya sarkas.
“Hahaha, lo emang pintar. Iya gue masih sama Elin tapi gue mulai bosan pacaran gaya datar kayak gitu, dia nolak gue mulu. Dan elo datang di saat gue tengah jenuh sama hubungan gue, dan bagusnya lagi dia lagi nggak disini. Dia lagi di tempat yang jauh dan nggak ada sinyal, lo tahu kan ini kesempatan kita” ungkap Fadly sambil menatap penuh arti pada Adel.
“Terus masalah Fandy, gimana kalau dia tahu lo sama gue?”,.
“Fandy itu bucin sama Qania dan sekali pun gue sama elo itu nggak bakalan berpengaruh ke dia” Fadly mengacak-acak rambut Adel gemas.
“Jadi kita aman nih?” Tanya Adel memastikan.
“Aman baby” jawab Fadly dengan seringai di wajahnya.
“Ah tapi gue juga kesal, kenapa gue selalu jadi yang kedua, lo sama Elin dan Fandy sama Qania itu si sipil nggak jelas” gerutu Adel.
“Tenang, lo bakal jadi satu-satunya buat gue. Yuk, manjain gue dengan sentuhan lo” ajak Fadly sambil menatap penuh nafsu pada Adel.
“Kuy deh baby”,.
Keduanya berdiri dan berjalan ke tempat mereka memarkir kendaraan mereka dan pergi meninggalkan taman itu.
“Cih, menjijikan. Dan apa tadi dia bilang, Qania sipil nggak jelas? Lo kali yang nggak jelas pakai ngatain tunangan gue yang udah jelas lebih segala-galanya” umpat Arkana kesal kemudian bergegas pergi meninggalkan taman itu juga dan kembali ke kafe untuk mengambil motornya.
Flash back off…
__ADS_1