Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Malaikat tak bersayap


__ADS_3

Arkana tersadar bahwa ia sedari tadi mengoceh sendiri tanpa Qania dibelakangnya.


"Kemana gadis itu?" tanya Arkana pada dirinya sendiri saat menoleh kearah belakang namun tidak melihat Qania.


Arkana memutuskan untuk kembali lagi mencari Qania. Benar saja, Qania berdiri mematung di tangga. Arkana kebingungan dan langsung menghampiri Qania.


"Sayang kenapa diam disitu?" tanya Arkana saat menuruni tangga.


"Hahh?" tanya Qania tersadar dari lamunannya.


"Hei apa yang kamu pikirkan?" tanya Arkana sambil membelai rambut Qania.


Seakan kejadian bersama Fandy berputar dikepalanya, ia menjadi takut dan gugup mendapatkan perlakuan dari Arkana. Arkana yang menyadari keanehan Qania langsung menghentikan aktivitasnya.


"Ada apa?" tanya Arkana lagi.


"Emm, anu.." Qania bingung harus mengatakan apa.


"Aku nggak akan macam-macam kok, aku juga nggak bakalan tutup pintu kamar saat kita di dalam" ucap Arkana sambil tersenyum seolah mengerti yang dipikirkan oleh Qania.


"Janji?" tanya Qania dengan polosnya sambil mengangkat jari kelingkingnya.


"Janji" jawab Arkana sambil tersenyum manis dan juga menautkan jari kelingkingnya ke jari Qania.


Kemudian keduanya berjalan bersama sambil bergandengan tangan.


Saat ini mereka sudah berada di depan kamar Arkana yang pintunya masih tertutup, kemudian Arkana langsung membukanya dan melangkah masuk. Ragu-ragu Qania melangkahkan kakinya masuk, namun betapa ia sangat terkejut melihat sekeliling dinding kamar tersebut.


"Gawat, Qania lihat semuanya" cemas Arkana dalam hatinya, ia menepuk jidatnya.

__ADS_1


Tanpa ragu lagi Qania langsung masuk dan mendekati arah dinding kamar Arkana yang berada disebelah kirinya, dimana dinding bagian itu tidak terdapat perabotan atau aksesoris ruang sama sekali. Kamar yang berwarna hitam putih tersebut lumayan luas dengan ukuran enam meter kali enam meter belum termasuk kamar mandinya.


Dikamar itu terdapat ranjang berukuran besar dan lemari besar tempat pakaian dan terdapat pula gantungan jaket dan juga rak sepatu miliknya.


Namun bukan itu yang menjadi fokus utama Qania, melainkan dinding yang dipenuhi foto-foto polaroid yang tergantung disana. Kaki Qania seolah tertuntun untuk mendekati foto gantung tersebut yang jumlahnya mencapai ratusan dengan hiasan lampu tumblr disekitarnya.


Qania semakin dekat dan berhenti tepat di ratusan foto yang tak lain adalah foto dirinya sendiri yang bahkan ia pun tidak memiliki foto sebanyak itu.


"Ini..?" Qania bertanya sambil memegang salah satu fotonya.


"Aku mengambilnya secara diam-diam, maaf" ucap Arkana yang berjalan kearah Qania.


"Sebanyak ini?" tanya Qania masih tak percaya.


"Bahkan lebih dari yang tercetak disini" ungkap Arkana.


Qania langsung menoleh kearah Arkana karena tak tahu lagi akan mengatakan apa.


"MALAIKAT TAK BERSAYAP"


Begitulah tulisan yang tertera pada lukisan yang tak lain adalah wajah Qania sendiri.


Tanpa di perintah air mata Qania mengalir dengan sendirinya, terharu dengan apa yang ia lihat saat ini. Fakta bahwa Arkana begitu memujanya hingga memajang foto dan lukisan dirinya di kamar tersebut.


Qania berjalan kearah lukisan tersebut, namun hanya bisa berdiri disamping ranjang karena tidak ingin naik ke tempat tidur tersebut. Ia terus memperhatikan lukisan itu tanpa sadar Arkana sudah berada disampingnya sambil membelai rambut Qania.


"Tahukah kamu betapa aku memujamu Qania" bisik Arkana tepat di telinga Qania membuat lamunan Qania terhenti.


"Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat" gumam Qania.

__ADS_1


"Masih banyak hal yang belum kamu ketahui tentang cintaku" ucap Arkana sambil menyilangkan kedua tangannya diatas dadanya.


Qania menoleh kearah Arkana kemudian ia langsung memeluk Arkana dengan berlinang air mata.


"Hei kenapa menangis?" tanya Arkana heran sambil mengelus punggung Qania.


"Aku tidak percaya bahwa ada orang yang begitu mengagumiku" isak Qania.


"Aku bahkan bukan hanya mengagumimu, aku sayang kamu dan aku cinta kamu" ungkap Arkana.


"Terima kasih" ucap Qania sambil melepaskan pelukannya.


"Tidak ada kata terima kasih untuk cinta, semua ini tulus dari hatiku" tegas Arkana sambil menghapus jejak air mata di wajah kekasihnya itu.


"Aku sayang kamu" ucap Qania kemudian memeluk tubuh Arkana lagi dengan eratnya.


Arkana membalas pelukan tersebut dan juga mengecup rambut Qania dengan tulus, seolah keduanya seperti sepasang kekasih yang tengah melepas rindu karena lama LDRan.


"Aku sayang kamu" ucap Qania.


"Aku juga sayang kamu, aku cinta" Arkana.


"Papa juga cinta" ucap papa Arkana yang sedari tadi melihat kedua pasang kekasih itu di depan pintu.


Qania dan Arkana sontak melepaskan pelukannya dan menoleh kearah sumber suara tersebut.


" Oom.." Qania.


"Papa.." Arkana.

__ADS_1


Ucap keduanya bersamaan, membuat mereka menjadi salah tingkah seperti kucing tertangkap basah, hehehe.


__ADS_2