
Arkana yang tengah melamun karena bingung bagaimana cara mengganti pakaian Qania tidak menyadari bahwa gadisnya itu sudah siuman dan sedang memandangnya dengan sayang.
‘Sial, tadi aku Cuma mau pura-pura tenggelam eh malah ditenggelamkan beneran. Allah cepat amat respon keinginan jahatku. Hahh’ Qania membatin.
“Sayang” panggil Qania membuat Arkana menoleh kebawah.
“Sayang kamu sudah sadar?” Tanya Arkana bergegas memeriksa tubuh Qania, ia meletakkan punggung tangannya di dahi Qania untuk mengecek suhunya.
“Aku kedinginan sayang” tutur Qania yang terlihat tengah menggigil.
“Maaf sayang, baju kamu masih basah dan aku udah beliin yang baru tapi aku nggak berani buat gantiin pakaiannya” ucap Arkana kemudian berdiri dan berjalan kearah sofa yang terdapat paper bag.
“Terus siapa yang beliin pakaian itu?” selidik Qania.
‘Apa iya Arkana yang beli? Jangan-jangan dia sempat mengukur tubuhku dan yaaa pakaian dalam? Apa dia membelikannya juga?’ Qania menatap Arkana penuh selidik.
“Tenang aja, bukan aku yang membelinya. Aku tidak tahu ukuran kamu” ucap Arkana sambil tersenyum mesum membuat Qania mendengus.
“Lalu kenapa bukan dia saja yang kamu suruh untuk menggantikan pakaianku? Kau sungguh tega membiarkan tunanganmu kedinginan” ucap Qania kesal.
“Aku tidak akan membiarkan orang asing membuka pakaianmu sekalipun dia seorang wanita. Bagaimana kalau dia memotret tubuh polosmu lalu menyebarkannya di social media, apa kau mau?” ucapan Arkana membuat Qania terbengang.
“Haiih bisa-bisanya kau sampai berpikir seperti itu” dengus Qania.
“Aku hanya menjaga kemungkinan dan menjaga milikku saja” ucap Arkana dengan santainya.
“Terserah kamu deh, terserah” ucap Qania pasrah namun kesal juga.
Arkana berjalan menghampiri Qania sambil menenteng paper bag itu dan memberikannya kepada Qania.
“Bangun dan gantilah pakaianmu. Atau kamu ingin kita langsung melakukannya?” Tanya Arkana dengan seringai licik di wajahnya.
Tanpa berpikir dan menjawab lagi Qania langsung menyambar paper bag itu dan bergegas ke kamar mandi. Arkana yang melihat tingkah konyol Qania hanya bisa tertawa geli.
“Jangan mengerjai kalau tidak ingin dikerjai balik” gumam Arkana kemudian keluar dari penginapan sambil tertawa geli.
Sementara Qania di kamar mandi sedang merutuki kebodohannya sendiri karena berniat buruk untuk menghindari Arkana justru malah jadi kenyataan.
🌸
🍀
Qania keluar darikamar mandi sudah dengan pakaian ganti, bertepatan dengan Arkana yang juga datang dengan membawa kantong plastic yang berisi makanan dan minuman.
Keduanya saling beradu pandang lalu tersenyum dan bersama-sama duduk di sofa.
“Ayo makan sayang” ajak Arkana sambil mengeluarkan makanan yang ia beli tadi.
Qania tersenyum melihat makanan yang Arkana bawa yang tidak lain adalah ayam bakar favoritenya.
“Makasih sayang” ucap Qania sambil mengambil satu kotak nasi ayam bakar di atas meja.
Arkana tersenyum kemudian mengangguk. Keduanya tengah asyik menikmati makanan itu.
“Lain kali jangan berniat buruk supaya nggak kejadian, kayak nggak ada rencana lain aja” sindir Arkana lalu meminum air mineral di botolnya.
Uhukk..
Uhukk..
Qania tersedak makanannya ketika mendengar sindiran Arkana. Dengan cepat Arkana membukakan tutup botol air mineral dan lansung memberikannya pada Qania.
__ADS_1
“Hati-hati kalau makan” tegur Arkana sambil meletakkan kembali botol air itu di meja.
Qania menundukkan kepalanya, ia merasa malu karena rencananya sudah ketahuan oleh Arkana.
‘Bagaimana dia bisa tahu?’ pikir Qania.
“Aku tahu, nggak usah dipikirin lagi. Habiskan makananmu” ucap Arkana dingin, padahal dalam hati ia tertawa geli melihat wajah Qania yang terlihat malu karena rencananya sudah ketahuan.
Qania menatap kesal pada Arkana sambil mengunyah makanannya. Apapun keadaannya, Qania tidak akan merajuk dengan makanan apalagi itu makanan kesukaannya. Hal itulah yang juga membuat Arkana senang karena Qania tidak pernah menolak makanan meskipun kesal. Meskipun sednag kesal atau pun marah, jika Arkana mengajaknya makan ia pasti langsung menurut tanpa perlu basa-basi untuk membujuk.
Qania baru saja selesai makan, ia meminum airnya sampai habis kemudian berjalan kearah wastafel untuk cuci tangan.
Saat Qania kembali ia melihat Arkana tengah duduk di sofa sambil memegang gitar. Qania langsung mendekati Arkana, ia sangat suka jika Arkana bernyanyi sabil bermain gitar.
Sadar sedang ditatap, Arkana langsung menoleh kearah Qania.
“Aku tahu aku ini tampan, baik hati, berbakat, punya suara merdu, tidak sombong dan tidak makan sabun” ucapnya memuji diri sendiri.
“Cih kepedean” Qania membuang muka, karena ia ketahuan sedang menatap pria di sampingnya itu.
“Masih tidak mengaku, nggak apa-apa kok aku nggak bakalan marah” ucap Arkana narsis.
“Menyebalkan” gumam Qania namun Arkana mendengarnya sambil tertawa tanpa suara.
“sayang” panggil Arkana.
“Heemm”,.
“Bagaimana bisa otakmu itu merencanakan hal buruk seperti tadi, hemm?” Tanya Arkana sambil menatap Qania yang sedang mengalihkan pandangannya.
“Apa sih?” Tanya Qania, ia bukannya marah tetapi sedang malu karena sudah ketahuan.
Arkana tersenyum manis dan terlihat sangat tulus membuat Qania membalas senyuman itu.
“Aku hanya ingin membalasmu karena tadi kau sudah berhasil mengerjaiku” lanjutnya.
“Jadi..?” Qania menatap Arkana lekat, tatapannya mewakili semua pertanyaannya.
“Jadi kamu itu nggak perlu takut sama aku, apalagi sampai merencanakan hal buruk. Aku tuh cinta dan sayang sama kamu tulus, aku juga menghargai bahkan sangat menghormatimu. Aku tidak mungkin menodai cinta suciku dengan menodaimu” tegas Arkana yang membuat Qania menghambur memeluk tubuh Arkana dengan sayang, begitu pun dengan Arkana yang membalas pelukan kekasihnya itu.
“Makasih sayang, makasih kamu sudah sangat mencintai dan melindungiku. Aku sangat beruntung memilikimu” isak Qania.
“Aku yang beruntung memilikimu” tutur lembut Arkana.
Keduanya berpelukan erat, mencurahkan segala perasaan mereka. Qania yang masih sesenggukan terus dibelai punggungnya oleh Arkana untuk menenangkan. Setelah merasa cukup tenang, mereka saling melepas pelukannya.
“Lalu untuk apa menyewa penginapan?” Tanya Qania memicingkan matanya.
“Untuk melakukannya, sayangkan nggak digunakan” Arkana menyeringai membuat Qania mencubit lengannya.
“Baru juga, mulai lagi kan. Dasar menyebalkan” umpat Qania.
“Hahaha, kamu lucu dan menggemaskan sayang kalau kamu sedang kesal” ucap Arkana kemudian meraih kepala Qania dan menghujani ciuman di puncak kepala Qania hingga gadisnya itu merona.
“Aku jadi berpikir dua kali untuk menikah denganmu” gumam Qania, muncul seringai licik di wajahnya.
“Maksud kamu apa?” Tanya Arkana mendongakkan kepala Qania yang masih ia dekap itu.
“Ya aku kayaknya ingin membatalkannya saja” ketus Qania.
“Hei ada apa?” Tanya Arkana mulai panic melihat tatapan sinis Qania.
__ADS_1
‘Gue buat salah apa lagi sih, rasanya belum kelar-kelar marahnya nih anak’ gerutu Arkana dalam hati.
“Ya aku nggak mau, kamu suka banget buat aku kesal dan marah-marah. Buat kamu itu lucu dan menggemaskan tapi tidak buat aku. Aku akan cepat tua, stress dan cepat mati jika menikah denganmu yang otomatis setiap harinya akan dibuat kesal olehmu” cetus Qania membuat Arkana terbengang.
“Udah ah, aku mau pulang” ucap Qania terlihat kesal.
Arkana yang menyadari kekesalan kekasihnya itu langsung menariknya kedalam dekapannya.
“Maaf sayang, maaf jika apa yang aku sukai darimu justru membuatmu tidak nyaman” ucap Arkana tulus dan juga masih panic.
Sementara Qania, dalam hati gadis itu bersorak kemenangan karena berhasil membalikkan keadaan.
‘Bukan Qania namanya kalau nggak bisa balikin keadaan, hahahaha’ sorak batin Qania penuh kemenangan.
Arkana terus meminta maaf dan menciumi puncak kepala Qania karena kekasihnya itu enggan untuk mengeluarkan suara. Ia mengira Qania saat ini memang sangatlah kesal, padahal gadis itu tengah bersorak ria dalam hati sambil menertawai kebodohan Arkana yang juga tidak bisa disebut sebagai kebodohan karena kekasihnya itu sangat mencintai dan menyayanginya. Wajar jika ia begitu panik saat Qania marah dan mendiaminya.
‘Ternyata dia benar-benar takut aku marah beneran’ pikir Qania, ia menjadi kasihan pada Arkana yang terus memohon maaf darinya.
“Ya udah aku maafin, orang aku juga Cuma bercanda, hahahaha” akhirnya Qania melepaskan tawanya membuat Arkana akhirnya menghadiahi gelitikan di pinggang Qania.
Keduanya tak hentinya tertawa geli karena bergantian saling menggelitik. Sampai akhirnya Qania menyerah karena perutnya sudah sakit terlalu banyak tertawa dan matanya juga sudah banyak mengeluarkan air akibat tertawa.
“Udah pandai ya membalikkan keadaan” ucap Arkana yang tengah merangkul tubuh Qania.
“Iya lah, gimana rasanya?” Tanya Qania sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Rasanya kayak ada manis-manisnya, hahaha” jawab Arkana yang akhirnya membuat keduanya kembali tertawa.
“Manis, asam, asin, rame ya rasanya” lanjut Arkana masih terkekeh.
“Aku sayang kamu” ucap Qania membuat Arkana tersenyum senang.
“Aku lebih sayang kamu” kata Arkana tak mau kalah.
“Aku banyak sayangnya”,.
“Aku lebih banyak”,.
“Aku”,.
“Aku”,.
“Iya kita berdua saling menyayangi, sangat menyayangi dan banyak menyayangi” ucap Qania yang mengakhiri debat kusir keduanya.
Lagi, keduanya tertawa lepas.
‘Aku akan buat kamu tertawa terus sebelum kamu pergi sayang. Aku ingin kamu bahagia sebelum meninggalkan aku untuk sementara lama, haahh’ batin Arkana menyendu.
‘Makasih udah buat aku tertawa terus sayang, aku tahu kamu mencoba mengalihkan perasaan sedihku yang sebentar lagi akan meninggalkanmu untuk sementara lama. Makasih udah buat aku bahagia hari ini, aku sayang kamu Ka’ batin Qania, ia sangat terharu dengan sikap kekasihnya.
Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing sambil bersandar di sofa. Bagi Qania, Arkana adalah kekasih paket komplit yang mana ia selalu membuat Qania kesal dan bahagia di saat yang bersamaan. Rasa syukur tak hentinya ia ucapkan dalam hati.
Begitu pun dengan Arkana yang sangat menyayangi Qania, ia merasa memang takdir sudah menyatukan mereka yang sudah di jodohkan sejak masih dalam kandungan tanpa mereka sadari. Justru takdir yang dengan sengaja menuntun keduanya untuk saling bertemu dan menjalin hubungan tanpa mereka tahu kalau sebenarnya memang sudah dijodohkan.
‘Takdir yang indah’ gumam Arkana dalam hati, ia sangat bersyukur.
‘Takdir yang nggak pernah ada dalam bayangan dan khayalanku. Ini sangat bahkan sangat indah dari yang pernah aku bayangkan. Terima kasih ya Allah’ ucap Qania dalam hati.
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...
__ADS_1