Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Terima


__ADS_3

"Sunsetnya indah, andai kamu disini" lirih Qania sambil memandangi matahari yang kini sudah tak terlihat lagi.


"Aku selalu bersamamu" ucap seseorang yang berada dibelakang Qania.


Sontak hal tersebut membuat Qania menoleh.


"Kamuu" ucap Qania kaget.


Qania berdiri saking terkejutnya melihat pria yang sedang ia pikirkan kini ada di hadapannya.


"Nggak, nggak mungkin. Aku cuma halu doang" ucap Qania kemudian berjalan pergi meninggalkan Arkana.


Arkana mengejar Qania yang berjalan dengan langkah besar.


"Kenapa pria menyebalkan itu ada disini?" gerutu Qania.


"Karena aku tahu kamu merindukanku" ucap Arkana.


"Bahkan aku seperti mendengar suaranya" sambung Qania.


"Karena memang ini aku yang bicara" ucap Arkana menyahuti Qania.


"Ih kenapa aku jadi merinding gini ya, aku seperti mendengar ada suara tapi tidak ada siapa-siapa bersamaku" ucap Qania berpura-pura bergidik ngeri.


Qania terus berjalan dengan Arkana yang mengikutinya dari belakang. Arkana tidak kesal sama sekali dengan sikap Qania, justru hal tersebut baginya terasa lucu.


Arkana terus berusaha memanggil Qania namun tidak di tanggapi oleh pemilik nama, hingga ia berteriak membuat Qania berhenti. Arkana tersenyum lebar saat melihat orang yang dipanggilnya itu akhirnya luluh juga. Dengan senyuman lebar Arkana berjalan mendekati Qania, namun ternyata ia salah menduga karena Qania berhenti justru sedang menjawab panggilan di ponselnya.


"Qania di kafe pa, udah mau balik juga" ucap Qania.


"Papa tunggu kamu ya, kita makan malam bersama jam tujuh di kafe" ucap papanya.


"Baik pa" jawab Qania kemudian mematikan panggilan tersebut dan memasukkan ponselnya kedalam tasnya.


Ia kembali berjalan seolah tidak melihat Arkana disampingnya sambil bersenandung. Arkana merasa kesal dengan sikap Qania, namun ia tidak mau menyerah hingga Qania menutup pintu kamarnya, barulah Arkana kembali ke kamarnya juga.


Pukul tujuh kurang sepuluh menit Qania berjalan kearah kafe, disana ia melihat sang papa tengah duduk bersama dua orang pria sebaya papanya dan sedang asyik mengobrol. Mungkin itu rekan papa pikirnya.


Qania menyapa papanya dan tersenyum kepada kedua rekan papanya, kemudian duduk disamping papanya.


"Wah ini anaknya ya pak" ucap salah satu rekan papanya.


"Iya, namanya Qania" jawab papa Qania.


"Cantik ya" sahut yang satunya.


Qania hanya tersenyum, namun ia juga merasa risih makan bersama rekan papanya yang terlihat genit itu.

__ADS_1


"Pa, Qania mau ambil ponsel dulu di kamar. Tadi ketinggalan" ucap Qania menghindari tatapan kedua rekan papanya yang terlihat mesum itu.


"Iya sayang, tapi bagaimana pesanannya?" tanya papanya.


"Papa makan saja dulu, Qania nggak lama kok" jawab Qania kemudian pergi.


Qania berjalan kembali menuju kafe setelah berputar-putar ria di dalam kamarnya hanya untuk menghindari kedua pria hidung belang tersebut.


Saat ia berada di ambang pintu, lampu di kafe tiba-tiba saja padam membuatnya menghentikan langkah dan sedikit ketakutan. Tiba-tiba saja lampu di tempat Qania berhenti itu menyala dan membuat Qania kaget karena ada dua orang wanita yang memberikannya cokelat dan serangkaian bunga indah.


Qania bingung, apakah ini kerjaan Arkana atau rekan papanya, ia jadi ngeri saat membayangkan wajah kedua rekan papanya.


Qania belum beranjak dari tempat ia berdiri karena di kafe tersebut lampunya masih padam. Namun lampu di bagian alat musik tiba-tiba saja menyala. Disana terlihat pemain musik dan juga penyanyi yang duduk membelakangi pengunjung kafe.


Penyanyi tersebut memakai setelan semi jas berwarna putih dengan kaos dalam berwarna hitam serta topi bowler berwarna hitam di kepalanya.


"Lagu ini spesial untuk gadis yang berdiri disana" ucap penyanyi tersebut.


Qania merasa bahwa yang di maksud oleh penyanyi itu adalah dirinya, hingga ia diam disana dan mengamati siapa sebenarnya orang yang akan bernyanyi untuknya itu.


Musik sudah mulai dimainkan, hingga pada saat akan masuk ke lirik penyanyi itu berbalik, dan nampaklah wajahnya yang tidak lain adalah Arkana Wijaya.


Qania merasa kesal namun dalam hatinya ia merasa melambung tinggi, Arkana selalu punya kejutan untuknya.


*Kutuliskan kenangan tentang


Caraku menemukan dirimu


Berikan hatiku padamu


Takkan habis sejuta lagu


Untuk menceritakan cantikmu


'Kan teramat panjang puisi


'Tuk menyuratkan cinta ini


Telah habis sudah cinta ini


Tak lagi tersisa untuk dunia


Karena telah kuhabiskan


Sisa cintaku hanya untukmu


Aku pernah berfikir tentang

__ADS_1


Hidupku tanpa ada dirimu


Dapatkah lebih indah dari


Yang kujalani sampai kini?


Aku selalu bermimpi tentang


Indah hari tua bersamamu


Tetap cantik rambut panjangmu


Meskipun nanti tak hitam lagi


Bila habis sudah waktu ini


Tak lagi berpijak pada dunia


Telah aku habiskan


Sisa hidupku hanya untukmu


Dan telah habis sudah cinta ini


Tak lagi tersisa untuk dunia


Karena telah kuhabiskan


Sisa cintaku hanya untukmu*


"Qania Salsabila, lagu ini untukmu sebagai perwakilan dari ungkapan hatiku. Aku minta maaf sudah membuatmu kecewa, selalu membuatmu kesal dan bersedih. Tapi satu hal yang kamu harus tahu, aku sangat sangat dan teramat mencintaimu. Dihadapan mereka semua, aku mengungkapkan isi hatiku padamu, disaksikan oleh papamu dan Tuhan, aku ingin memintamu untuk menjadi milikku. Apakah kamu mau menerimaku sebagai pendamping hidupmu?" ucap Arkana panjang lebar, kemudian lampu diseluruh ruangan kafe menyala.


Semua pengunjung berteriak dan meminta Qania untuk menerima Arkana bahkan ada yang memuji aksinya itu. Qania berusaha melihat kearah papanya meminta persetujuan, namun ia malah kesal karena ternyata papanya juga salah satu dari mereka yang berteriak untuk menerima Arkana.


"Dasar pria menyebalkan, kamu selalu punya cara untuk membuatku tidak bisa menolakmu" teriak Qania kesal.


Arkana tertawa mendengar ocehan Qania itu, kemudian ia melangkah menuju tempat Qania berdiri. Setelah sampai di hadapan Qania, Arkana menggenggam tangan Qania dan membawanya menuju kearah papa Qani.


"Om, bolehkah saya meminta izin untuk memiliki anak om dan menjadikannya pendamping hidup saya?" tanya Arkana dengan posisi berlutut di hadapan papa Qania.


"Boleh, tapi sebaiknya datanglah ke rumah nanti bersama keluargamu" jawab papa Qania sembari membelai rambut Arkana.


"Baik om, terima kasih banyak" ucap Arkana kemudian memeluk tubuh papa Qania dengan bahagia.


"Ini yang di lamar Qania atau papa sih? Berlutut melamar ke papa, yang memberi jawaban juga papa, dan yang di peluk juga papa. Jelasin dong sebenarnya kamu mau papa atau aku?" keluh Qania membuat papanya dan Arkana tertawa.


"Karena papa kamu yang akan memberi restu dan aku yakin kamu juga akan menerimaku tanpa ragu" ucap Arkana meledek Qania.

__ADS_1


"Ihh ngeseliiiiiin" teriak Qania sambil mencubit lengan Arkana sekuat tenaga membuatnya merasa kesakitan.


......


__ADS_2