Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Pembalap Misterius


__ADS_3

Elin sebenarnya tahu bahwa Qania memiliki kekasih dari video mereka yang beredar di grup kampus saat Arkana meminta maaf pada Qania di kampus lalu dan menjadi trending topic pasangan romantis. Hanya saja ia juga ingin Qania bukan hanya menjadi sahabatnya saja, melainkan bisa menjadi saudara iparnya juga. Ia mendapatkan ide untuk mendekatkan kakanya dan sahabatnya itu, ia mempertaruhkan persahabatannya untuk kebahagiaan kakaknya. Apalagi setelah sekian lama, barulah kakaknya terlihat kasmaran lagi.


"Hallo Qan" sapa Elin saat Qania menjawab telepon darinya.


"Ngapain nelepon sih, emang rumah kita sejauh apa sih Lin" Qania mengoceh saat Elin menyapanya.


"Hehehe, soalnya aku nggak lihat kamu seharian ini. Aku pikir kamu nggak di rumah" jawab Elin, padahal tadi sore ia melihat Qania pergi bersama Arkana.


"Aku di rumah kok, beberapa hari ini aku ikut papa ke luar kota" jawab Qania sambil membaca bukunya, ya ia sedang belajar sambil teleponan.


"Aku tahu Qan" batin Elin.


"Oh pantas saja, kamu lagi ngapain sekarang?" tanya Elin basa-basi.


"Lagi baca buku, besok ada ujian. Kamu sendiri lagi apa, tumben telepon?" tanya Qania.


"Lagi santai aja, iya nih aku mau ngajak kamu jalan-jalan. Kalau kamu ada waktu" ucap Elin kemudian menggigit bibir bawahnya karena merasa canggung.


"Gimana kalau besok pulang dari kampus, aku sih hanya ada satu kelas, selesainya hampir jam makan siang. Gimana kalau makan siang bareng?" usul Qania.


"Kebetulan jadwal kita sama, ya udah kita besok makan siang bareng ya" ucap Elin girang.


"Oke, tapi udah dulu ya aku masih belajar nih"ucap Qania.


"Oke sayangku, sampai jumpa besok" jawab Elin.


"Oke sayang" balas Qania kemudian meletakkan ponselnya di meja belajarnya, ia membiarkan Elin yang mematikan panggilannya.


Di rumahnya Elin langsung mencari sang kakak setelah melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur. Ia berlari ke kamar sang kakak namun tidak menemukannya. Ia kemudian turun dan menemukan orang yang di carinya tengah asyik menonton tv.

__ADS_1


"Kakak disini rupanya" ucap Elin masih ngos-ngosan, lalu duduk di sebelah sang kakak.


"Ada apa Lin?" tanya Ghaisan yang masih fokus menatap layar tv yang menampilkan warta berita.


"Besok makan siang di luar yuk kak" ajak Elin.


"Malas ah, enakan masakan tante" tolak Ghaisan.


"Please kak, sekalian kakak jemput Elin di kampus" bujuk Elin.


"Kakak jemput kamu besok, tapi nggak usah makan siang di luar. Ini perintah" ucapnya menutup pembicaraan, kemudian meninggalkan Elin yang hendak mengucapkan sesuatu.


Elin berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.


"Ini perintah, emangnya aku ini bawahan tentara apa. Awas saja besok kalau sampai berubah pikiran, bakalan aku balas" umpat Elin.


____


Sementara di tempat lain, Arkana tengah berkumpul dengan teman-temannya di taman, bersiap untuk balapan. Ia tidak membawa ponselnya, karena ia mengira bahwa Qania pasti tengah sibuk belajar. Lagi pula tadi mereka sudah menghabiskan waktu bersama.


"Ka, lo yakin mau ikut balapan, bokap gimana?" tanya Rizal meragukan Arkana.


"Bokap sudah ada yang jagain di rumah, gue tadi nyewa bodyguard buat jagain bokap" jawab Arkana.


"Terus pujaan hati lo tahu?" sambung Fero.


"Nggak sih, hehehe" ucap Arkana terkekeh.


"Bisa gawat nih" ucap Fero.

__ADS_1


"Ya Qania jangan sampai tahu lah, lagi pula saat ini dia sedang belajar karena besok ujian. Atau mungkin dia pasti sudah tidur" jelas Arkana.


"Semoga nggak akan ada masalah setelah ini" ucap Rizal.


"Aamiin" sahut Arkana dan yang lainnya.


Balapan kali ini mereka sama sekali tidak mengenali siapa yang menjadi lawan Arkana, mereka tahu tim itu namun pembalap kali ini sama sekali tidak mereka kenali karena wajahnya tertutup helm. Pembalap yang satunya lagi yaitu teman Arkana namun tidak begitu Akrab, namanya Tosan Pramusti.


"Baiklah, semua pembalap bersiap di garis start" teriak pemandu balapan.


Disana sudah ada seorang gadis dengan pakaian mini dengan bendera di tangannya, yang sudah bersiap di pinggir garis start. Posisi mereka saat ini yaitu Arkana, Tosan dan pembalap baru itu.


Peluit di tiup dan gadis itu mengangkat bendera, barulah balapan di mulai. Awalnya balapan masih berlangsung dengan baik, namun tiba-tiba saja pembalap baru itu menyenggol Tosan hingga terjatuh, membuat Arkana menghentikan balapannya. Ia malah berbalik dan mendekati Tosan.


Arkana mematikan mesin motornya dan langsung turun untuk menghampiri Tosan yang tengah terbaring lemah. Arkana membuka helm Tosan, wajah Tosan berlumuran darah membuat Arkana geram.


"Lo pasti akan baik-baik saja, lo harus kuat dan bertahan" pinta Arkana yang membaringkan Tosan di pangkuannya.


"Panggil ambulans" teriak Arkana.


Rizal segera menelepon ambulans, sementara yang lain mengerumuni Tosan dan Arkana. Tosan pingsan, sehingga semua yang berada disana semakin panik.


Sementara Arkana meminta yang lainnya untuk mengejar pembalap itu, yang entah siapa. Ia sama sekali tidak membawa timnya, jadi tidak ada dari mereka yang tahu itu siapa.


Suara ambulans semakin dekat, membuat Arkana dan yang lainnya bersiap untuk membawa Tosan ke rumah sakit.


Arkana mengikuti mobil ambulans dengan motornya, sementara beberapa teman Tosan setim ikut di dalam ambulans. Rizal dan Fero juga ikut, namun beberapa dari teman Arkana sedang mencari tahu pembalap misterius itu.


___

__ADS_1


Pembalap misterius itu berhenti di depan sebuah rumah yang cukup megah dan jauh dari lokasi balapan. Ia membuka helmnya, dan menjambak rambutnya.


"Sialan, gue salah sasaran" teriaknya.


__ADS_2