Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Video


__ADS_3

Qania berjalan menuju ke kelasnya, namun ada hal yang aneh ketika ia masuk ke dalam kelasnya, dimana banyak tatapan mata yang seperti menatap penuh ejekan padanya.


Prokk...Prokk...Prokk...


Tepuk tangan datang dari Rosa dan dua sahabatnya itu sambil berjalan menghampiri Qania yang duduk tenang di bangkunya. Dalam hati Qania mulai berpikir kira-kira ada hal apa lagi yang membuat mereka mengusiknya.


"Ada apa lagi? Masih ingin masuk ke ruang dekan?" tanya Qania dengan tenang.


"Hahaha, PD amat Lo Qan. Kali ini bukan gue yang bakalan masuk ruang dekan, tapi elo. Dan berdoa saja semoga elo nggak dikeluarkan dari kampus ini" ejek Rosa.


"Gila ya Lo Qan, gue kira Lo emang nggak mau sama Julius karena Lo sadar Lo itu janda dan nggak pantas jika bersama Julius. Tapi waw, gue aja nggak pernah bermimpi bisa ngelakuin hal seperti itu untuk mendapatkan tangkapan besar" timpal Evi.


"Hebat juga ya Lo Qan nyari target" sambung Vera.


Qania menaikkan sebelah sudut alisnya, "Apa maksud kalian?" tanyanya.


"Lo nggak tahu atau emang pura-pura bego?" cibir Rosa.


Qania menghela napas dan memutar bola matanya jengah. Ia begitu malas berurusan dengan tiga gadis pembuat onar itu.


"Wah, wah coba kita lihat si pelakor ini. Dia bersikap biasa saja padahal kita sekelas udah pada tahu kelakuan busuk ya itu" teriak Rosa yang mengundang gelak tawa seluruh mahasiswa yang berada di dalam kelas itu.


"Pelakor?" gumam Qania.


"Ala sok suci Lo Qan" teriak salah satu mahasiswa yang berjenis kelamin laki-laki.


"Gue kirain Lo nggak mau sama Julius karena Lo setia sama suami Lo, eh ternyata" timpal yang lainnya.


Qania menatap Julius yang hanya asyik dengan ponselnya, senyuman tipis terbit di bibir Qania.


Qania hanya diam mendengarkan ucapan-ucapan dari teman-teman sekelasnya tanpa ada niat untuk meladeninya.


Tak berselang lama, seorang staf dari fakultasnya datang dan memanggil Qania menghadapa pak dekan.


"Ucapkan salam perpisahan dulu dong Qan pada kami semua. Kami pasti akan merindukanmu" ledek Rosa.


Tanpa menghiraukan ucapan Rosa, Qania mengambil tasnya dan langsung berjalan menuju ke ruang dekan.


Tokk...Tokk...Tokk...


"Masuk" sahut pak Erlangga yang memang sudah menunggu kedatangan Qania.


Qania membuka pintu dan berjalan ke arah meja pak Erlangga.


"Duduk" titahnya.


Qania pun duduk dan menatap wajah pak Erlangga yang terlihat sedang kesal.


"Kamu tahu kenapa kamu saya panggil ke sini?" tanya pak Erlangga sambil menatap penuh intimidasi terhadap Qania.


"Saya tidak tahu Pak" jawab Qania.


"Apakah kamu tahu perbuatan memalukan kamu itu sudah tersebar di kampus khususnya di jurusan kita?" tanya pak Erlangga dengan penuh penekanan.


"Perbuatan memalukan apa maksud bapak? Saya merasa tidak pernah melakukan perbuatan yang membuat jurusan kita malu atau dirugikan" sahut Qania yang kini menjadi bingung dan kembali teringat akan ucapan teman-teman sekelasnya.


"Apa kamu sudah melihat video yang tersebar di grup kelas kamu?" tanya pak Erlangga.


"Video?" beo Qania, namun dengan cepat ia mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan membuka grup kelasnya.


Qania membulatkan matanya, ia tidak menyangka kejadian di kafe bersama Tristan dan Marsya ada yang merekam dan menyebarkannya di grup. Qania kemudian menutup video tersebut dan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Kamu sudah melihatnya sendiri, bukan? Jadi saya juga bingung ingin memberikan sangsi apa terhadap kamu" ucap pak Erlangga sambil memijat pelipisnya.


"Maaf sebelumnya pak, anda seorang sarjana hukum dan juga dosen di fakultas Hukum. Bukankah orang Hukum belum akan menjatuhkan hukumannya sebelum mengetahui penjelasan dan sebab mengapa sampai hal itu terjadi?" tanya Qania, kali ini pak Erlangga lah yang merasa terintimidasi.


"Hah kau memang sangat pintar Qania, jadi sekarang jelaskan alasanmu" ucap pak Erlangga yang mengakui kecerdasan Qania.


Qania membuka galerinya dan menyodorkan ponselnya kepada pak Erlangga. Pak Erlangga pun menerima dan langsung melihat foto yang ditunjukkan Oleh Qania.


"Dia Arkana Wijaya, suami saya yang meninggal karena kecelakaan" ucap Qania tanpa menunggu pak Erlangga bertanya kepadanya.


"Di dalam ponsel itu masih banyak foto yang bisa bapak lihat sendiri" sambungnya.


Qania tersenyum begitu melihat raut wajah pak Erlangga yang terlihat sok begitu melihat wajah Arkana difoto tersebut. Pak Erlangga kembali meletakkan ponsel Qania di atas meja kemudian memijat kembali pelipisnya yang entah mengapa terasa lebih sakit dari yang tadi.


"Jadi maksud kamu, Tristan Anggara itu mirip dengan almarhum suami kamu sehingga kamu mengira dia adalah suamimu dan sampai terjadi hal-hal yang ada di video itu?" tanya pak Erlangga menyimpulkan sendiri pemikirannya.


"Ya, seperti yang bapak katakan itu. Pasti jika bapak menjadi saya, kemungkinan bapak akan melakukan hal yang sama dengan saya. Saya hanya kaget Pak, bagaimana bisa ada orang dengan wajah yang sama dan muncul di hadapan saya. Dan atas tindakan saya itu, jika pun saya berada di posisi mbak Marsya maka saya pun akan melakukan hal yang sama karena saya takut akan kehilangan tunangan saya dan saya juga marah karena ada wanita yang tiba-tiba datang dan mengaku sebagai istri dari tunangan saya" ungkap Qania.


Pak Erlangga menghela napas beberapa kali, ia membenarkan juga ucapan Qania.


"Ya, memang benar apa yang kamu katakan. Seharusnya saya tidak begitu saja menerima laporan ini tanpa menyelidikinya terlebih dahulu dan memutuskan hukuman terhadap mu. Hah, saya pun tidak menyangka ada orang dengan wajah yang sama jika saya ada di posisimu mungkin saya akan langsung jatuh pingsan karena mendadak melihat suami saya yang sudah tidak ada ada dan tiba-tiba berdiri di depan saya dengan gagahnya namun sayang dia milik orang lain dan bukan suami saya" timpal pak Erlangga.


"Saya pun jatuh pingsan Pak saat pertama kali melihatnya" cerita Qania yang kemudian terkekeh.


"Oh ya? Tapi di video itu tidak terlihat kamu pingsan, malah terlihat kamu sedang bertengkar dengan mereka" selidik pak Erlangga.


"Karena di video itu adalah pertemuan kedua saya dengan pak Tristan Anggara, Pak" jawab Qania.


Pak Erlangga diam, namun tetapannya seolah sedang menerawang jauh. Tanpa terasa bulir air matanya jatuh membasahi pipinya dan itu tidak luput dari penglihatan Qania.


"Bapak menangis?" tanya Qania panik.


"Saya hanya teringat akan seseorang, orang yang begitu dekat dengan saya namun ia sudah tidak ada" cerita pak Erlangga sambil menyeka air matanya.


"Ya, seseorang yang selalu menemani saya dalam menyelesaikan kasus hukum. Namanya pun sama, Tristan Anggara. Akan tetapi ia hilang bagai di telan bumi dan akhirnya saya mendengar nama itu namun bukan dengan wujud yang sama" ungkapnya namun tidak menatap kepada Qania.


"Apakah yang bapak maksud Tristan Anggara yang seorang anggota LSM yang menghilang entah ke mana?" tanya Qania.


Mata pak Erlangga terbelalak karena Qania langsung menebak isi pikirannya.


"Saya pernah mendengar nama orang itu dari papa saya" jawab Qania.


"Ah begitu ya",.


"Oh ya Qania, saya sudah memutuskan untuk tidak menghukum kamu dan akan menghapus video tersebut serta memberikan penjelasan saya mengapa kamu tisak diberikan sangsi. Saya tidak akan membawa-bawa suami kamu karena ada satu misi yang akan saya berikan kepadamu" ucap pak Erlangga dengan seringai di wajahnya.


"Misi?" tanya Qania.


"Ya, nanti akan saya beri tahukan padamu jika sudah saatnya" ucap pak Erlangga.


"Baiklah pak, terima kasih" ucap Qania sembari tersenyum.


"Oh iya Qania, kamu mahasiswa dari Sulawesi, bukan?" alih pak Erlangga yang tiba-tiba teringat sesuatu.


"Iya pak, saya dari Sulawesi" jawab Qania.


"Entah kamu mengenalnya atau tidak, tapi saya memiliki seorang sahabat semasa kuliah dan juga semasa meniti karir. Dia seorang pengacara kondang yang begitu terkenal di Sulawesi, saya harap kamu bisa meminta bantuan darinya nanti ketika misi itu akan kita laksanakan" ucap pak Erlangga sambil menatap lekat kepada Qania.


"Pengacara? Kalau boleh tahu namanya siapa Pak?" Qania begitu penasaran, ia berharap nama yang akan disebutkan oleh pak Erlangga adalah nama yang sedang ia pikirkan.


"Setya, Setya Wijaya" jawab pak Erlangga mantap.

__ADS_1


Senyum terbit di bibir Qania, ia sudah menduga nama mertuanya lah yang akan diucapkan oleh rekannya ini. Siapa lagi pengacara kondang yang terkenal di Sulawesi selain mertuanya itu meskipun ada beberapa namun kecerdasan dan keahlian mertuanya itu sudah diakui di seluruh Sulawesi.


"Saya yakin kalau kamu pasti bisa melobi nya, karena dia sangat baik. Dia tidak memandang status kliennya, yang ia tahu ia hanya menolong dan itulah kelebihan sahabat saya" cerita Pak Erlangga dengan bangganya.


"Dan satu lagi sahabat saya, Zafran Sanjaya namun dia memilih menjadi politikus daripada menjadi pengacara. Kedua orang hebat itu adalah sahabat saya semasa kuliah dulu" imbuh pak Erlangga.


Raut wajah bahagia Qania sangat terpancar begitu pak Erlangga kembali menyebutkan nama sahabatnya.


"Kamu kenapa terlihat sangat bahagia?" tanya pak Erlangga bingung.


"Perkenalkan pak, saya Qania Salsabila Sanjaya Wijaya" ucap Qania dengan wajah berseri-seri.


"Sanjaya Wijaya?" beo pak Erlangga.


"Kenapa Sanjaya? Itu karena papa saya bernama Zafran Sanjaya dan mertua saya bernama Setya Wijaya" jawab Qania.


"Apppaaaa?" pekik pak Erlangga setelah mendengar jawaban Qania tentang identitasnya.


Qania hanya tersenyum melihat reaksi terkejut pak Erlangga, namun beberapa saat kemudian pak Erlangga menyeringai.


"Ternyata kamu anak dari sahabat saya. Berarti misi kita nanti akan berjalan lancar" ucap pak Erlangga.


'Sebenarnya misi apa yang dimaksud pak Erlangga? Aku begitu sangat penasaran tetapi dia belum ingin mengatakannya. Dan satu fakta mengejutkan ini juga membuatku senang karena disini ada sahabat kedua papaku. Ah aku akan mengabarkannya kepada papa',.


"Ja..jadi yang kamu maksud suami kamu itu Arka?" tanya pak Erlangga yang tiba-tiba teringat akan cerita Qania tadi.


"Iya pak, apa bapak mengenalnya?" tanya Qania penasaran.


"Jadi bocah itu sudah meninggal" lirih pak Erlangga.


"Bapak mengenalnya?",.


"Ya, dulu ketika istri Setya meninggal, ia membawa Arka yang masih balita ke kota ini dan kebetulan saya dan istri saya yang sudah menikah hampir setahun belum juga di karuniai seorang anak makanya kami yang mengasuhnya dan juga istri saya sangat menyayangi anak itu. Di tambah lagi Setya yang pada saat itu menjadi pria gila kerja karena ingin melupakan kesedihannya. Dan setelah enam tahun mengurusi Arka, istri saya hamil namun Arka tetap menjadi nomor satu bagi kami. Dan mereka kembali ke Sulawesi ketika Arka akan masuk SMA",.


"Saya tidak menyangka anak yang saya dan istri saya besarkan itu kini telah tiada. Istri saya pasti akan sangat terpukul jika mengetahuinya" isaknya.


Qania menitikkan air matanya, ia kembali teringat akan suami tercintanya itu.


"Hm, tapi kami sudah memiliki seorang anak pak dan beberapa waktu lagi ia akan menginjak usia dua tahun" ucap Qania sambil menyeka air matanya. Teringat akan wajah anaknya itu membuat Qania tersenyum kembali.


"Oh ya? Boleh saya melihat fotonya?" tanya pak Erlangga sembari menyeka air matanya.


Qania mengangguk kemudian ia mengambil ponselnya ya g berada di atas meja lalu mencari foto Arqasa. Setelah menemukannya ia kembali menyodorkan ponselnya kepada pak Erlangga.


"Benar-benar mirip dengan Arka" ucap pak Erlangga sambil menatap nanar foto Arqasa.


Keduanya pun larut dalam pembicaraan sampai akhirnya Qania ingat bahwa seharusnya pak Erlangga sedan memberikan mata kuliah di kelasnya saat ini.


"Kamu duluan saja, dan nanti tolong berikan nomor ponsel kedua papamu itu kepada saya. Dan ingat, bersikaplah biasa saja kepada teman-teman sekelasmu" ucap pak Erlangga ketika Qania sudah berada di pintu hendak keluar.


"Iya pak, pasti" sahut Qania kemudian melangkah keluar.


Qania berjalan ke kelasnya dan mendapati Julius yang sedang berdiri menyandar di dinding di luar kelas mereka sambil bermain ponsel.


Qania berhenti dan mendekati Julius.


"Aku memaafkan perbuatan mu kali ini karena aku masih menganggap mu sebagai teman sekaligus adikku" ucap Qania seraya berjalan memasuki kelas meninggalkan Julius yang tertunduk malu.


Dari awal Qania melihat video yang diperlihatkan oleh pak Erlangga, ia sudah menebak siapa pelakunya. Saat kejadian di kafe ia tidak sengaja melihat Julius berada disana dan sedang merekam kejadian tersebut namun karena sudah sangat malu, Qania tidak sempat menyapa Julius dan Raka pun sudah menyeret Qania untuk meninggalkan kafe itu.


...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


__ADS_2