Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Rencana Fandy


__ADS_3

Arkana sampai di rumah Elin dan segera membuka helmnya.


"Dia pasti kesal lagi karena gue terlambat" gumam Arkana sambil merapikan tatanan rambutnya.


Saat ia akan masuk ke dalam rumah, Ghaisan juga sampai. Ia baru saja kembali dari menyelesaikan urusannya. Arkana menoleh dan sangat terkejut mendapati Ghaisan. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menghampiri Ghaisan yang tengah melepaskan helmnya.


Buuuggghhh.....


Sebuah pukulan mendarat di pipi Ghaisan membuatnya tersungkur beberapa langkah ke belakang.


"Gue nggak menyangka ternyata selama ini pelakunya itu orang terdekat" bentak Arkana dengan tatapan penuh emosi.


"Apa yang kamu lakukan haaah? Apa kamu tahu ada hukumnya karena main pukul orang sembarangan" teriak Ghaisan namun tetap mencoba tenang.


"Tidak usah pura-pura lo. Selama ini kami sudah mencari dan ternyata itu elo. Orang terdekat dari sahabat Tosan. Lo kalau dendam ke gue ya hadapi gue secara jantan. Jangan main kucing-kucingan kayak gini" geram Arkana.


"Saya sama sekali tidak tahu apa-apa. Mari kita bicarakan ini. Saya malas berurusan dengan hukum jika hanya salah paham, oke" tegas Ghaisan.


Arkana berpikir sejenak, kemudian ia menyetujui usulan Ghaisan.


"Gue nggak boleh gegabah, lagian gue harus tahu dulu apa benar dia orangnya. Tapi dia seorang tentara, mana mungkin melakukan hal menjijikan seperti ini" batin Arkana.


Keduanya duduk di halaman samping rumah Elin, disana cukup sepi sehingga mereka dapat berbicara secara leluasa.


"Kenapa kamu memukul saya?" tanya Ghaisan saat mereka sudah duduk bersama.


"Gue langsung saja, lo kan yang ikut balapan tempo hari dan nyelakain teman gue si Tosan sampai meninggal" ucap Arkana sambil menatap tajam kearah Ghaisan.


"Jangan gila kamu, saya ini tentara bukan pembalap. Lagi pula Tosan itu sudah seperti adik saya sendiri, sedari remaja kami selalu bersama. Dia juga sahabat Elin, mana mungkin saya melakukan hal itu" tegas Ghaisan dengan penuh penekanan.


"Motor dan helm kamu itu buktinya" sambung Arkana.

__ADS_1


"Motor dan helm itu bukan milik saya dan pemiliknya ada di dalam saya hanya di pinjamkan" cerita Ghaisan.


"Lalu siapa pemiliknya?" tanya Arkana semakin penasaran.


"Saya tidak mengenalinya tetapi mereka kembar" jawab Ghaisan mencoba mengingat.


"Kembar?" tanya Arkana kaget.


"Ya, dia saudara pacar Elin" jawab Ghaisan.


"Bangsaat" maki Arkana.


"Ada apa?" tanya Ghaisan yang kaget mendengar Arkana memaki.


"Sudah gue duga dia orangnya, dia masih nekat setelah di tolak Qania berulang kali" ungkap Arkana.


"Kamu kenal?" tanya Ghaisan.


"Tapi apa maksudnya meminjami saya kendaraannya padahal kami tidak saling kenal?" pikir Ghaisan.


"Entahlah, lalu Qania dimana?" tanya Arkana.


"Tadi di dalam bersamanya" jawab Ghaisan.


"Gawat" Arkana langsung berdiri dan bergegas masuk.


Saat keduanya masuk, mereka hanya melihat Fadly dan Elin di tempat tadi Ghaisan meninggalkan mereka.


"Qania dimana?" tanya Arkana sambil mengatur napasnya.


"Tadi katanya ke toilet, tapi sampai sekarang belum juga kembali" jawab Elin.

__ADS_1


Arkana dan Ghaisan langsung pergi menuju kearah toilet, Arkana mengikuti Ghaisan yang sudah tahu letak toiletnya.


"Kalau gue nggak bisa miliki lo, mereka berdua juga nggak bakalan bisa" suara Fandy terdengar dari dalam kamar mandi.


"Lepasin Fandy, apa maksud kamu mereka berdua?" tanya Qania gemetar.


"Lo tahu, kakak Elin pasti bakalan berkelahi dengan pacar lo itu, karena salah paham hahaha" tawa Fandy begitu terdengar mengerikan.


"Maksud kamu apa Fandy?" teriak Qania.


"Lo tahu Qan, sebenarnya Tosan itu nggak seharusnya mati. Yang ada di dalam tanah itu seharusnya pacar sialan lo itu. Gue sudah susah payah buat nyelakain dia eh si Tosan malah melindungi dia. Gue sudah bayar si Tosan buat nggak ikutan tapi karena dia terlanjur menguping pembicaraan gue dan tahu niat gue, dia bersikeras ikut tanpa gue tahu. Hahh sahabat kamu itu rela mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan kamu" ungkap Fandy, di luar Arkana sangat terkejut begitupun dengan Ghaisan.


"Kamu bukan manusia Fandy" teriak Qania diiringi tangisan mengenang Tosan.


"Dan kamu tahu Qania, gue sengaja ngasih motor gue ke kakak Elin karena gue tahu Arkana bakalan datang dan pasti mengenali motor dan helm itu. Saat mereka bertemu pasti mereka akan berkelahi karena pacar lo itu pasti mengira kalau pembalap misterius itu si kakak Elin" sambung Fandy.


Di luar Arkana dan Ghaisan semakin geram, namun mereka masih menunggu momen untuk menangkap Fandy, saat ini mereka membiarkan Fandy membeberkan semua kejahatannya sementara Ghaisan merekam semuanya lewat ponselnya agar bisa diserahkan ke pihak berwajib.


"Kamu jahat, sebenarnya mau kamu apa? Ghaisan tidak ada sangkut pautnya dengan ini" teriak Qania.


"Dia adalah salah satu orang yang juga menyukaimu dan akan menghalangi jalanku untuk mendapatkanmu. Gue mendengar kalau orang tuanya ingin mendekatkan kalian, dan gue juga dengar kalau pacar lo mau kemari dan sekalian saja sekali tepuk dua lalat langsung mati, hahahaha" Fandy tertawa sambil berusaha menciumi Qania.


Qania terus saja menghindar dari napsu Fandy dengan memalingkan wajahnya.


"Pacarmu itu bisa bebas menciummu, tapi kenapa kamu menolak aku cium?" tanya Fandy dengan nada membentak.


"Tolong lepasin aku" pinta Qania, ia sudah tidak bisa menahan tangisnya. Ia begitu takut sehingga tubuhnya gemetar. Fandy mengikat kedua tangannya dan memojokkannya di dinding. Qania duduk ketakutan di lantai toilet itu.


Arkana yang mendengar kalau Qania akan di lecehkan sudah tidak bisa menahan dirinya. Ia menendang pintu toilet itu sampai terbuka, Fandy dan Qania sangat terkejut.


"Bangsaaatt" teriak Arkana.

__ADS_1


............


__ADS_2