Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Kena Jebakan


__ADS_3

Qania dan Arkana baru saja keluar dari warung makan, meskipun keduanya berasal dari keluarga berada mereka sama sekali tidak menyombongkan diri. Bahkan untuk makan saja mereka lebih suka makan di tenda atau warung makan biasa daripada di kafe atau restoran. Bagi keduanya, rasa makanannya tidaklah jauh berbeda, bahkan kalau makan di warung sederhana atau di warung tenda porsi makanannya lebih banyak dan harganya murah meriah tapi rasanya tidak murahan.


Arkana sengaja membawa motornya agar Qania lebih leluasa memeluknya dan ia bisa dipeluk sepanjang jalan. Mengambil kesempatan dalam kesempitan pikirnya.


Sepanjang perjalanan keduanya sama-sama diam, Qania diam sambil memeluk erat tubuh Arkana dari belakang, menghirup aroma tubuh yang teramat ia rindukan dan akan ia tinggalakn untuk sementara lama. Sangan posesif, Qania bahkan membuat Arkana sedikit kesusahan bernapas saking eratnya pelukannya itu.


“Mesra sih mesra, tapi nggak gini juga sayangku. Kau membuatku kesulitan bernapas” hanya bisa terucap dalam hati Arkana, ia tidak ingin merusak suasana hati Qania. Biarlah ia menanggungnya.


“Kita mau kemana sayang?” Tanya Arkana setengah berteriak.


“Kemana aja deh, terserah” jawab Qania masih memeluk tubuh Arkana erat.


“Ke pantai mau?” Tanya Arkana lagi.


“Terserah, yang penting sama kamu” jawab Qania lagi, baginya kemanapun asal bersama kekasihnya itu.


“Ke ranjang aku mau?” goda Arkana.


“Awwhhhh..” Arkana menjerit saat merasakan sakit di perutnya akibat cubutan dari Qania.


“Rasain” ketus Qania.


“Kok akunya dicubit sih sayang?” Tanya Arkana dongkol.


“Habisnya itu mulut nggak dijaga, awas saja kalau berani” ancam Qania.


“Tadi kan aku nanya mau kemana sayang jawabnya terserah yang penting sama aku” ucap Arkana, tanpa Qania sadari Arkana tersenyum puas karena ia berhasil lagi membuat Qania kesal.


“Ya udah ayo” ucap Qania mantap.


“Kamu yakin sayang?” Tanya Arkana terkejut.


“Yakin”,.


“Demi apa?”,.


“Demi kamu yang aku cinta” teriak Qania.


Arkana diam memikirkan perubahan Qania.


“Apa iya rasa rindunya membuat dia mau melemparkan tubuhnya ke ranjangku?Apa dia memang Qania tunanganku?” pikir Arkana.


“Kenapa sayang, kok diam?” Tanya Qania.


Lagi, Arkana tidak menjawab. Pikiran buruk, kotor, adegan panas dan permainan ranjang memenuhi pikirannya saat ini. Beberapa kali Arkana menghembuskan napas kasar, mencoba mengusir pikiran jahat yang tiba-tiba membuatnya gundah gulana saat ini.


“Tidak Arkana, jangan merusak cinta suci lo” Arkana menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir semua pikiran kotornya itu.


Qania menahan tawanya, ia berhasil mengerjai Arkana. Ia berniat melanjutkan aksinya, ia ingin melihat seberapa tahan Arkana dengan godaan darinya.


“Kamu jangan pernah berpikir untuk melakukan hubungan terlarang itu denganku sayang. Nanti ya, kalau udah sah aku pasti bakalan lakuin tanpa kamu minta. Dan kamu harus siap setiap kali aku menginginkannya” suara berat Arkana berusaha menolak Qania, sesuatu telah mengeras dibawah sana dan itu rasanya sangat sesak.


‘Sial’ Arkana hanya bisa mengumpat dalam hati.


“Loh kenapa sayang? Kau tidak ingin atau kau tidak mencintaiku lagi? Atau kau sudah menemukan orang lain, gadis lain yang kau tiduri?” tuduh Qania namun sedetik kemudian ia menyeringai.

__ADS_1


“Tolong kondisikan pikiran dan mulutmu sayang, aku hanya mencintaimu dan hanya kau satu-satunya gadis dihidupku” tegas Arkana yang tidak terima dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Qania.


“Lalu kenapa kau menolakku setelah aku mengiyakan ajakanmu hah?” sentak Qania.


Arkana menepikan motornya di bawah pohon rindang di pinggir jalan. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Beberapa kali ia melakukannya untuk menstabilkan pikirannya dan gejolak di dadanya.


“Haahh” Arkana mendesah frustasi.


“Sayang kenapa?” Tanya Qania dengan suara yang dibuat semanja mungkin.


Arkana tidak menjawab, ia malah menatap Qania penuh nafsu yang ia tahan sedari tadi. Ia berusaha mengatur napasnya, ia tidak ingin terbawa suasana yang akhirnya menghasilkan sesuatu yang tidak diinginkan.


“Sayang kau kenapa?” Tanya Qania sekali lagi, bohong kalau ia tidak tahu apa yang terjadi  dengan Arkana saat ini.


Arkana menatap lekat wajah Qania, ia berpikir apa benar ini Qanianya? Apa dia baik-baik saja selama aku tinggalkan? Atau kah jangan-jangan ia kerasukan setan mesum?


Berbagai pertanyaan memenuhi benak Arkana, namun ia melihat ekspresi Qania seolah menahan sedang tawa.


“Sial, gue dikerjain” umpatnya dalam hati.


“Aku hanya sedang memikirkan gaya apa yang akan kita lakukan nanti. Bersiaplah, kita akan ke pantai dan menyewa salah satu penginapannya. Sebaiknya kau persiapkan dirimu dari sekarang” ucap Arkana sambil menyeringai.


Qania gelagapan mendengar penuturan Arkana, ia mengira bahwa diamnya Arkana karena takut. Ia mengira sudah berhasil mengerjai kekasihnya ittu, namun jawaban yang diberikan Arkana justru membuatnya ketakutan.


Tangan Qania saling meramas, ia merasa panas dingin. Gugup dan takut, itulah yang Qania rasakan saat ini. Bahkan saat ini Arkana sudah melajukan motornya namun Qania menjaga jarak dengan Arkana.


“Arkana” panggil Qania dengan bibir gemetar.


“Iya sayang, ada apa?” Tanya Arkana.


“Tidak bisa, katanya mau berolah raga ranjang denganku. Kita sudah dekat” tolak Arkana yang tanpa Qania sadari ia tertawa tanpa suara.


“Aku..aku lapar” ucap Qania terbata.


“Bukannya belum setengah jam yang lalu kita makan?” rasanya Arkana ingin tertawa sekeras mungkin mendengar alasan Qania.


“Rasain kamu, aku kerjain” kekeh Arkana dalam hati.


Sepanjang jalan Qania memilih diam dan terus berpikir bagaimana cara ia menghindar dari Arkana nanti. Sementara Arkana di depan sedang tersenyum geli karena sudah berhasil mengerjai balik kekasihnya itu.


Arkana memarkirkan motornya di halaman salah satu penginapan di area pantai. Ia sudah turun namun tidak dengan Qania, gadis itu masih betah dengan pikirannya. Arkana tersenyum jahil kearah Qania, terbesit pikirannya untuk kembali mengerjai kekasihnya itu.


“Sayang ayo” ajak Arkana sambil menggenggam tangan Qania yang sudah basah karena keringatnya.


“Eh.. ki.kita mau kemana sayang?” Tanya Qania gugup.


“Ke dalam, sewa penginapan” jawab Arkana kemudian memilih untuk meninggalkan Qania terlebih dahulu.


Qania menatap Arkana yang tengah berjalan masuk dan berbicara dengan salah satu petugas yang berjaga disana. Perasaan Qania semakin campur aduk saat Arkana berbalik menatapnya dengan senyum yang manis namun bagi Qania saat ini senyuman Arkana itu sangat mengerikan.


“Ya Allah tadi aku malah mau mengerjainya kenapa jadi aku yang kena jebakannya” Qania menghela napas frustasi, kemudian ia turun dari motor.


Tubuh Qania semakin bergetar saat Arkana berjalan kearahnya, tatapan Arkana terlihat penuh maksud tertentu bagi Qania.


“Ayo kita ke pantai sayang, kamarnya masih disiapkan” ajak Arkana.

__ADS_1


“Ke pantai? Ah apa aku nanti pura-pura tenggelam saja ya di laut, supaya Arkana nggak jadi ngajak aku ke kamar penginapan” tiba-tiba terlintas ide yang cukup buruk bagi Qania namun itu jalan satu-satunya, pikirnya.


“Boleh sayang, ayo” Qania menarik tangan Arkana dengan semangat.


“Dia begitu bersemangat. Apa dia memiliki rencana yang tidak aku ketahui?” pikir Arkana, ia merasa curiga dengan perubahan sikap Qania.


Arkana tersenyum kemudian mengangguk setuju. Pasangan itu berjalan sambil bergenggaman tangan, hingga sampai di bibir pantai.


Qania mengajak Arkana untuk berjalan kearah air laut, namun Arkana menolak dan melarangnya.


“Ayo sayang, kita mandi dan berenang bersama ombak” ajak Qania.


“Sayang kita nggak bawa baju ganti” tolak Arkana.


“Ah sayang mah cemen” ejek Qania.


“Apa sudah saatnya aku beakting pura-pura tenggelam? Tapi ini sangatlah dangkal dan Arkana masih ada disini” pikir Qania sambil menatap intens kearah Arkana.


“Sayang ayo kemari, pakaian kamu nanti basah” panggil Arkana.


“Nggak masalah sayang, ayo cepatlah kesini” bantah Qania.


Baru saja Arkana akan berdebat dengan Qania, petugas penginapan tadi datang dan mengajaknya berbicara.


Qania yang melihat Arkana tidak mengawasinya langsung memanfaatkan keadaan. Ia mencari letak yang agak dalam agar rencananya bisa terlaksana.


Baru saja, baru saja Qania ingin menenggelamkan dirinya, ia langsung tersentak karena suara menggelegar menghentikannya.


“BERHENTI DISANA” teriak Arkana.


Qania terkejut saat mendengar teriakan Arkana, ia pun berbalik badan.


“Sayang ay..”


Byurrr…


Sapuan ombak yang cukup besar menghantam tubuh Qania hingga ia tenggelam karena tidak siap dengan kedatangan ombak tersebut.


“QANIAAA” teriak Arkana yang kemudian berlari untuk menolong Qania.


Seperti orang kesetanan Arkana berenang untuk mencapai tubuh Qania yang terombang-ambing di laut yang meskipun tidak begitu dalam namun karena dihantam ombak secara tiba-tiba membuat Qania hilang kesadaran.


Begitu Arkana berhasil meraih tubuh Qania, ia bergegas membawanya ke salah satu penginapan yang tadi ia sewa. Raut wajah penuh kepanikan terpancar di wajah pria tampan itu.


Arkana membaringkan tubuh Qania yang belum sadarkan diri itu di atas tempat tidur setelah tadi di pantai ia sudah berhasil membuat Qania mengeluarkan air yang masuk ke mulutnya.


Tadi sebelum membawa Qania ke kamar, Arkana sudah meminta kepada petugas disana yang postur tubuhnya sama seperti Qania untuk membelikan pakaian ganti. Tak sampai dua puluh menit pakaian itu datang namun Arkana tidak segera menggantikan pakaian basah Qania.


Setelah mengucapkan terima kasih dan memberi bonus kepada petugas penginapan itu, Arkana memintanya untuk pergi.


“Gue bisa aja gantiin pakaiannya tapi gue nggak mau nanti Qania malah marah dan nuduh gue macam-macam” gumam Arkana yang saat ini sedang duduk di sebelah Qania sambil membelai rambut gadisnya itu.


 


...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...

__ADS_1


__ADS_2