Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Pak Jumadil


__ADS_3

Hari ini Qania dan Arkana memutuskan untuk mengurus persiapan pertunangan mereka yang sempat tertunda kemarin karena pertengkaran mereka. Dan saat ini mereka baru saja keluar dan studio percetakan undangan.


“Sayang kita nyari baju dulu atau cincin dulu?” tanya Arkana saat mereka sudah berada di atas motor.


“Nyari cincin dulu sayang, baru nyari baju. Gimana?” usul Qania.


“Oke, let’sgo” Arkana langsung melajukan motornya.


Kini mereka sudah berada di depan toko perhiasan. Arkana sudah turun namun Qania masih duduk di atas motor sambil menatap tokok tersebut.


“Sayang kok nggak turun?” tanya Arkana.


“Emm...”


“Ada apa?” tanya Arkana dengan lembut.


“Bisa nggak nyari tempat lain aja?” tanya Qania hati-hati.


“Bisa sayang, tapi kenapa dengan tempat ini?” selidik Arkana.


“Aku keingat saja sama seseorang yang pernah membawaku ke toko ini untuk membelikan cincin buat kekasihnya yang lain” jawab Qania membuat Arkana tertohok.


“Hmm, maaf sayang untuk kejadian itu. Aku menyesal. Kamu benar, sebaiknya kita cari tempat lain saja” kata Arkana yang kemudian naik kembali ke atas motornya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


“Rasanya sakit banget kalau ingat kejadian waktu itu. Maaf Arka kalau aku mengingatkan kembali kejadian itu dan membuatmu kembali merasa bersalah” batin Qania.


“Gue bodoh banget sih sampai nggak ingat sama kejadian di toko ini. Arghh, pasti Qania lagi sedih banget” batin Arkana.


“Sayang..” panggil Qania yang menyandarkan dagunya di bahu kiri Arkana.


“Ya sayang” jawab Arkana lirih.


“Maaf, aku nggak maksud buat ingatin kamu kejadian di toko itu” lirih Qania.


“Harusnya aku yang minta maaf karena sudah membawa kamu ke tempat yang membuat kamu mengingat kembali luka lama. Maaf sayang” lirih Arkana.


Qania tak menjawab, ia hanya mempererat pelukannya. Arkana yang mengetahui gadisnya itu menjawab lewat bahasa tubuh pun tersenyum lega.

__ADS_1


.....


Arkana memarkirkan motornya di depan toko perhiasan, toko ini salah satu toko yang memiliki banyak jenis perhiasan dan banyak kalangan atas datang untuk berbelanja di sana.


“Sayang yuk masuk” ajak Arkana sambil menggandeng tangan Qania.


Keduanya masuk dan langsung di sambut asisten di toko tersebut.


“Selamat siang tuan dan nyonya, ada yang bisa saya bantu?” sapa salah satu penjaga toko itu dengan ramah.


“Bisa tunjukkan kami koleksi cincin yang biasa digunakan untuk pertunangan?” tanya Arkana.


“Oh tentu, mari ikut saya” ajaknya dan Qania beserta Arkana langsung mengikutinya.


“Nah ini dia koleksi cincin kami, dan ada satu yang baru masuk pagi tadi. Saya akan menunjukkannya, sebentar ya” ia bergegas berjalan menuju ke lemari penyimpanan barang.


Tak lama kemudian ia datang dengan membawa sebuah kotak yang berwarna merah dan langsung menunjukkannya pada Arkana dan Qania.


“Nah ini dia, ini salah satu yang terbaik yang pernah masuk di toko kami.......” ia menjelaskan panjang lebar pada Qania dan Arkana.


“Gimana sayang, kamu suka cincin ini?” tanya Arkana setelah mendapatkan penjelasan dari petugasnya.


Petugasnya menyerahkan cincin tersebut dan Qania langsung memakainya.


“Sangat cocok” kata petugas tersebut.


“Gimana sayang, ambil yang ini saja?” Arkana kembali bertanya.


“Iya..”


“Maaf dek, bolehkah saya mendapatkan cincin tersebut?” tanya seseorang yang baru saja datang dan berdiri di belakang mereka.


Qania dan Arkana berbalik untuk melihat siapa orang yang tiba-tiba menyela pembicaraan mereka. Dia seorang pria yang berumur sekitar enam puluhan tahun, namun masih terlihat segar dengan uban yang sudah hampir menutupi seluruh rambutnya.


“Maaf nak, saya sangat membutuhkan cincin tersebut. Saya sudah berkeliling mencari cincin seperti yang anda pakai karena cincin tersebut sama persis dengan cincin pernikahan saya. Istri saya sangat sedih karena cincin kami tidak di produksi lagi, saya sudah lelah berkeliling namun tidak menemukan cincin yang sama. Tapi setelah tadi saya mendengar penjelasannya dan tak sengaja melihat cincinnya, saya sangat lega karena akhirnya saya menemukan cincin yang sama” bapak tersebut menjelaskan.


“Tapi pak kami dulu yang..”

__ADS_1


“Kenapa bapak bisa kehilangan cincinnya” tanya Qania memotong ucapan Arkana.


“Jadi dulu kehidupan saya dan istri bisa dibilang tidak kekurangan satu pun hingga saya kena tipu oleh rekan bisnis saya yang menyebabkan usaha kami bangkrut dan akhirnya kami jatuh miskin. Bertepatan pula dengan bulan istri saya akan melahirkan anak pertama kami setelah hampir sepuluh tahun menikah. Istri saya tidak bisa melahirkan normal karena kondisinya lemah sehingga ia harus melakukan operasi dan biayanya sangat mahal. Harta kami yang tersisa tinggallah cincin pernikahan dan istri saya meskipun berat untuk melepaskan tapi ia lebih mengutamakan anak kami. Saya kesana sini menjual cincin itu namun tidak ada toko yang mau membeli karena katanya modelnya sudah kuno. Saat saya putus asa dan duduk di bangku dekat toko terakhir saya datangi, seorang pelancong dari Swiss melihat saya bersedih dan mendekati saya. Kami berkomunikasi dengan bahasa Inggris sampai akhirnya dia melihat cincin itu dan dia tanpa ragu langsung membayar cincin itu. Sebagian uangnya saya gunakan untuk membayar perawatan istri saya dan sisanya kami gunakan untuk modal usaha dan akhirnya kami berhasil jaya kembali. Tapi sudah dua puluh tahun lebih istri saya terus mengingat cincin itu hingga saya sudah kesana sini mencari cincin yang sama namun tidak ketemu. Sampai tibalah hari ini..” cerita bapak itu diiringi air mata.


Qania, Arkana dan petugas di toko tersebut terharu mendengar ceritanya sampai tak sadar Qania pun turun menitikkan air mata.


“Cincin ini buat bapak saja, saya akan cari yang lain” lirih Qania kemudian di akhiri dengan senyuman.


“Sayang..?” Arkana menatap Qania.


“Saya ikhlas pak, kasihan bapak dan istri” lanjut Qania.


“Terima kasih nak, terima kasih. Sebagai gantinya saya akan membayar cincin yang kalian pilih” ucap bapak tersebut kegirangan.


“Terima kasih pak” sahut Arkana.


“Oh iya kalau bapak ada kesempatan, hadirlah di pesta pertunangan kami hari sabtu nanti. Di hotel Ayumi Setya pukul dua puluh” pinta Qania.


“Tentu, saya akan datang bersama istri saya” ucapnya dengan antusias.


“Terima kasih pak” jawab Qania dan Arkana.


“Kalian silahkan pilih, biar sekalian di notakan bersama cincin ini. Anggap saja hadiah dari saya” katanya lagi.


Qania dan Arkana mengucapkan terima kasih dan langsung memilih cincin yang tak kalah indahnya, sementara bapak yang bernama Jumadil itu sedang menunggu di bangku dekat kasir untuk sekalian membayarkan belanjaan Qania dan Arkana.


Setelah mereka keluar dari toko tersebut, pak Jumadil berpamitan pada Qania dan Arkana dan langsung masuk ke mobilnya.


“Memang ya, kalau sesuatu yang ditakdirkan untuk menjadi milik kita, bagaimana pun itu pasti akan kembali ke kita” gumam Qania sambil menatap mobil pak Jumadil yang sudah pergi.


“Sama seperti takdir kita, dijodohkan dari janin dan tanpa kita tahu kita menjalin hubungan yang sebenarnya sudah terjalin sejak kita belum lahir” ucap Arkana yang juga memandang lurus kemudian menautkan jari-jarinya ke jari-jari Qania.


“Aku harap kita akan selamanya bersama” ucap Qania masih menatap lurus ke depan.


“Aku pun berharap kita akan selamanya bersama, saling menyayangi sampai kita menua bersama di temani rambut yang sudah memutih, kulit yang keriput, serta sampai kita memiliki anak, cucu bahkan cicit kita akan terus bersama hingga tutup usia” Arkana kemudian memeluk pinggang Qania dan Qania langsung menyandarkan kepalanya di lengan Arkana.


“Aamiin” ucap Qania.

__ADS_1


.........


__ADS_2