Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Keluarga Bahagia


__ADS_3

Malam nanti kita akan bicara. Ada hal penting yang ingin aku bahas denganmu. Bisa tidak meluangkan waktu untukku.


Begitulah isi pesan yang masuk ke ponsel Tristan dan pengirimnya adalah Qania. Baru saja Tristan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, ponselnya berdering dan masuk sebuah pesan dari Qania.


“Qania, Qania. Tentu saja aku selalu ada waktu untukmu. Tidak perlu bertanya seperti itu padaku. Hah, aku pikir tadi dia benar marah padaku. Aaah, apakah nanti Qania akan membahas tentang hubungan kami dan memintaku untuk menjadi suaminya? Jika benar aku sudah tidak sabar untuk itu,” ucap Tristan sambil senyam-senyum, ia pun membalas pesan tersebut.


Tentu. Kita akan bicara. Hubungi saja aku nanti karena aku ada di hotel tempat temanmu mengadakan acara resepsi pernikahannya.


Kembali Tristan harus mendengus karena pesannya hanya dibaca saja tidak ada tanda-tanda akan dibalas oleh Qania dan bahkan sudah tak terlihat wanita itu sedang online. Akhirnya Tristan memutuskan untuk mandi saja.


***


 


Acara resepsi yang digelar di hotel milik Setya Wijaya itu berlangsung sangat meriah. Banyak tamu dari pejabat kabupaten yang diundang oleh Zafran Sanjaya dan juga Setya Wijaya dengan keduanya sebagai pihak yang turut mengundang dalam acara pernikahan tersebut. Sayangnya Setya Wijaya hanya bisa menghadiri acara akad saja tadi pagi karena siangnya ia harus mengurus salah satu kliennya yang berada di luar kota.


Dari dekat pelaminan yang masih ramai, Terlihat Qania dan teman-teman sekelompok KKNnya dulu tengah berkumpul untuk menunggu giliran di foto. Hanya Raka saja yang tidak ada dan kini tengah melakukan sambungan video call dengan Qania.


“Qan, kasih hp lo ke Elin sama Yoga, gue belum ngasih ucapan selamat,”


Qania pun menuruti keinginan Raka dengan membawakan ponselnya ke pelaminan dan membiarkann Raka mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Tak lama kemudian Qania kembali turun karena masih ada tamu yang ingin memberikan selamat serta Raka pun telah mengakhiri panggilan videonya.


Dari sekian banyaknya tamu, ada satu pria yang sedang duduk sendiri namun tak menonjolkan dirinya sedang asyik melihat wanita yang sedari tadi heboh sendiri. Ada rasa iri karena melihat ia tersenyum bahagia namun bukan bersamanya. Ada juga rasa bahagia karena wanita itu malam ini terlihat sangat cantik mengalahkan mempelai wanitanya.


“Lihatin Qania mulu,” ledek Rizal.


“Dia sangat memukau,” jawab Tristan tanpa mengalihkan pandangannya.


“Udah langsung aja lamar, lamar,” timpal Fero.


“Lamar, lamar, lo kira gampang. Dapetin hatinya aja sulit banget, gimana mau ngelamar,” keluh Tristan.


“Makanya berjuang sampai titik darah penghabisan,” ucap Rizal.


“Itu sudah pasti,” ucap Tristan.


Qania dari kejauhan pun masih bisa menyadari kehadiran Tristan di tempat ini. Ia hanya sesekali mencuri pandang agar Tristan tidak mengetahui jika ia memperhatikannya.


Jantung oh jantung, please kondisiin. Huhh, aku harap keputasanku nanti nggak akan buat masalah di kemudian hari, batin Qania.


Saat Qania tengah asyik berbincang bersama teman-temannya, Arqasa datang dan langsung menarik tangannya.


“Guys aku duluan ya,” ucap Qania berpamitan dengan sedikit berteriak.


Arqasa membawa Qania ke tempat duduk yang agak jauh dari pelaminan. “Tadi kan Ar udah pesan ke Mami untuk nggak heboh gitu,” ucapnya seraya mengerucutkan bibirnya.


Qania yang gemas melihat ekspresi puteranya pun langsung mencium bibirnya, “Maafin Mami. Oh ya, Mami punya kejutan buat Ar,” ucap Qania mengalihkan.


“Oh ya?”


“Ya, tapi kita pulang dulu,” ucap Qania.


“Ya udah ayo, Ar udah ngantuk juga.”


Qania dan Arqasa pun bergandengan tangan keluar dari tempat dilangsungkannya resepsi pernikahan. Tak lama kemudian Syaquile dan kedua orang tuanya menyusul. Mereka memasuki mobil dengan Syaquile yang menjadi supirnya.


Aku menunggumu di taman di dekat rumahku.


Qania mengirimkan pesan kepada Tristan.


Dengan semangat Tristan pun langsung bergegas menuju ke tempat yang disebutkan oleh Qania dengan memakai mobil Rizal yang sudah ia pinjamkan.


Aku segera kesana, tunggulah.


Setelah membalas pesan Qania, ia pun langsung menyetir mobil sambil bersiul-siul.


Mobil keluarga Pak Zafran Sanjaya memasuki pekarangan rumah, semuanya bergegas turun dan masuk ke rumah. Qania membawa Arqasa ke kamar untuk digantikan pakaiannya dengan piyama. Ia pun turut berganti pakaian namun mengenakan celana jeans serta hoodie.


“Mami mau kemana?” tanya Arqasa.


“Ada urusan sebentar sayang. Kamu jangan tidur dulu ya, tungguin Mami,” jawab Qania.


“Iya Mi.”


Qania mengecup puncak kepala Arqasa kemudian bergegas keluar. Ia sengaja mengendarai motor agar tidak dicurigai hendak kemana. Ia sebelumnya berpapasan dengan Syaquile dan meminta adiknya agar melarang Mama ataupun Papanya untuk datang ke taman dekat rumah. Meskipun tak paham Syaquile mengiyakan saja permintaan kakaknya itu.


Qania mematikan mesin motornya di depan sebuah mobil yang ia kenali itu adalah mobil Rizal. Ia bisa menebak jika Tristan sudah menunggunya di taman yang hanya di terangi dengan cahaya lampu yang remang-remang. Jantung Qania berdegub kencang, tangannya begitu dingin, semua terasa begitu dingin hingga bibirnya gemetar. Perlahan Qania berjalan mendekati pria yang sedang memainkan ponselnya sambil duduk menunggu di bangku favoritenya bersama Arkana.


“Hai,” sapa Qania gugup.


Tristan menoleh, “Hai. Maaf aku nggak nyadar kalau kamu udah datang,” ucap Tristan seraya menepuk-nepuk kursi disebelahnya agar Qania duduk di sampingnya.


Qania merasakan udara disekitarnya begitu dingin, ia tidak bisa menutupi tubuhnya yang bergetar. Tristan yang melihat hal tersebut sontak membalut tubuh Qania dengan jasnya.


“Kau kedinginan?” tanya Tristan.


“Selalu seperti ini setiap kali aku bertemu denganmu Ka,” ucap Qania lirih namun tak terdengar oleh Tristan.


“Ya?”

__ADS_1


“Enggak, aku lagi gugup aja jadi gini,” jawab Qania.


“Gugup?”


“Ya, aku sedang gugup berdekatan denganmu,” jawab Qania jujur.


Sebelah alis Tristan terangkat, ia bingung sesaat namun kemudian ia paham jika Qania sedang degdegan berada di dekatnya. “Tenang saja aku tidak akan menggigit kecuali jika kau mengizinkannya,” bisik Tristan yang mana langsung membuat Qania memelototkan matanya.


Trisran tertawa gemas melihat ekspresi wajah kesal Qania, “Aku hanya bercanda.”


“Huhh … sekarang sudah hampir pukul sembilan malam. Aku tidak ingin membuang waktu,” ucap Qania setelah melihat jam tangannya.


“Sekarang katakana, kenapa memintaku datang kesini, hem?” ucap Tristan sambil menatap lekat kedua mata Qania yang kini juga sedang menatapnya.


“Hahh, baiklah. Aku tidak ingin berbasa-basi. Aku hanya ingin bertanya, apakah kau mau menjadi kekasihku?” tanya Qania dengan nada ketus padahal ia sedang mati-matian menahan malu serta gejolak di dalam dadanya.


Tristan mengangkat sebelah sudut alisnya, “Apa?”


Qania mendengus, “Aku tidak suka mengulang ucapanku dua kali, jadi kau mau tidak menjadi kekasihku? Menjadi calon suamiku. Menjadi Imamku. Serta menjadi pendampingku seumur hidup hingga ajal memisahkan?” tanya Qania dengan suara keras.


Rasanya Tristan ingin tertawa melihat bagaiamana seorang wanita mengungkapkan keinginannya. Seperti memaksa juga seperti terpaksa.


“Haruskah aku menjawab sekarang?” ledek Tristan.


“Ya sudah jika tidak mau,” ucap Qania seraya berdiri berniat pergi dari tempat itu.


Belum sempat Qania melangkah, Tristan sudah menarik tangannya hingga ia terjatuh di atas pangkuan Tristan.


“Aku tidak ingin kau yang mengatakan itu. Aku ingin, akulah yang memintanya darimu. Kau tidak perlu merendahkan dirimu untuk itu,” bisik Tristan di telinga Qania yang membuatnya merinding.


“Qania Salsabila, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku? Maukah kau menjadi makmumku? Menjadi ibu dari anak-anakku kelak? Maukah kau mendampingiku seumur hidup dalam susah maupun senang hingga ajal memisahkan kita?” tanya Tristan, ia menyandarkan dagunya di atas bahu Qania.


Qania merasa déjà vu dengan ucapan Tristan ini. Hatinya membisikkan satu nama “Arkana Wijaya”.


“Jawab aku, berikan aku jawaban,” pinta Tristan.


“Ya, aku mau,” jawab Qania yang terbawa suasana.


Tristan mengeratkan pelukannya, ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Qania yang duduk di atas pangkuannya. Meskipun tak bisa melihat wajah Qania saat ini, tapi Tristan yakin dari jawaban itu sudah membuktikan bahawa Qania bersungguh-sungguh terhadapnya.


“Terima kasih, terima kasih sudah menerima cintaku. Aku akan segera melamarmu untukku,” ucap Tristan setelah melepaskan pelukannya.


“Boleh aku turun?” tanya Qania.


“Tidak! Tapi jika kau ingin turun taka pa,” jawab Tristan.


Qania pun segera turun kemudian duduk di samping Tristan. Sebelum berbicara, terlebih dahulu Qania menatap lekat wajah Tristan.


“Jangan dulu melamarku. Aku masih ingin bebas menyelesaikan studiku. Aku juga harus membuat keluargaku mengerti dengan keadaan dimana aku menemukan seseorang yang sangat mirip dengan Arkana. Tidak segampang itu. Kau pun memiliki sangkutan dengan Marsya. Mari kita jalani hubungan ini dengan apa adanya. Jika memang kita berjodoh pasti akan sampai ke depan penghulu,” ucap Qania sambil menggenggam erat tangan Tristan.


“Tapi aku tidak ingin berlama-lama bersama Marsya. Semakin aku terus menjalaninya maka Marsya akan semakin merasakan sakit dengan kepura-puraanku,” sanggah Tristan.


“Setidaknya sampai urusannya di luar negeri selesai,” ujar Qania.


“Baiklah, aku menuruti pengaturanmu. Jadi mulai sekarang kita berpacaran?”


“Pacaran? Mengapa aku merasa geli dengan kata itu?” Qania bergidik ngeri.


“Hahaha, biasakan dirimu mulai sekarang, pacar,” goda Tristan.


“Maafkan aku jika kelak kau akan menemukan titik terburukku. Maafkan aku jika nanti aku masih terbayang akan Arkanaku. Aku hanya manusia biasa, aku berusaha menyelipkanmu di tempat tersendiri dan memposisikan dirimu sebagai Tristan Anggara, bukan Arkana Wijaya. Jika bersedia bantulah aku untuk memberikan hatiku sepenuhnya untukmu. Berilah kesan hingga aku lupa jika wajahmu mirip dengannya. Buatlah aku mengingat jika kau adalah Tristan,” ucap Qania.


“Pasti, semua akan aku lakukan. Aku menginginkanmu tentu saja aku akan menerima paket kebaikan dan keburukanmu. Begitu pula denganku, jika suatu saat nanti kau menemukan kejelekanku maka tegur dan jangan tinggalkan aku. Bicaralah karena semua jawaban dari setiap masalah ada pada jawaban kita masing-masing. Jangan diamkan aku jika aku berbuat salah. Komunikasi yang baik akan membuat hubungan kita baik,” ucap Tristan kemudian menarik perlahan leher Qania agar menyandarkan kepalanya di bahunya.


“Tentu.”


Keduanya pun saling terdiam namun Tristan tak berhenti mengecup puncak kepala Qania yang masih setia bersandar di bahunya.


“I love you Qania. Terima kasih sudah mau menerimaku. Aku sangat mencintaimu.”


Di rumah Syaquile sedang menahan Arqasa yang memaksa akan datang ke taman. Sesuai pengaturan Qania tadi maka Syaquile pun melarang Arqasa.


“Ar mau ketemu Mami!”


“Tapi sayang, sekarang udah waktunya bobo,” bujuk Syaquile.


“Nggak mau, katanya Mami mau kasih kejutan buat Ar. Pokoknya Ar mau ketemu Mami. Oom anterin Ar ketemu Mami,” tandasnya.


“Baik, Oom telepon Mami dulu,” ucap Syaquile mengalah.


Qania pun mengiyakan keinginan Arqasa dan meminta Syaquile mengantarkan Arqasa ke taman. Betapa terkejutnya Syaquile melihat sang kakak sedang duduk bersandar dengan seorang pria. Karena hanya melihat dari arah belakang maka Syaquile tak bisa mengenalinya dan langsung memasang mod was-was.


“Mamii,” panggil Arqasa yang berlari ke arah Qania.


Karena kaget Qania pun langsung menegakkan kepalanya, “Ar, sini sayang.”


Sungguh lebih terkejut lagi Syaquile setelah mengetahui pria yang sedang bersama kakaknya ini.


“Kak Tristan?”

__ADS_1


“Oom Tristan?”


Baik  Syaquile maupun Arqasa sama-sama terkejut.


“Hai,” sapa Tristan dengan senyuman mengikut di bibirnya.


“Jadi ini maksud Kakak melarang siapapun dari rumah untuk datang ke taman?” cecar Syaquile.


“Iya, hehe.”


“Hmm, ya sudah aku balik. Kak Tristan, jika kakakku sudah mempercayakan hatinya padamu maka jaga kepercayaannya karena aku percaya dengan kakakku. Jika kau mengkhianatinya itu sama saja kau mengkhianatiku. Aku tidak akan sungkan padamu. Jangan mengira kakakku itu sendirian, dia punya aku yang akan selalu melindunginya. Awas saja jika kau membuatnya meneteskan air mata kesedihan. Aku akan langsung membalaskannya berjuta kali lipat padamu. Paham?!”


Tristan tak langsung menjawab, ia berdiri lalu berjalan mendekati Syaquile.


“Aku berjanji dan peganglah kata-kataku. Seorang pria harus bisa memegang teguh kata-katanya. Dan aku bangga kau menjadi adik yang begitu mengagumkan untuk Qania. Dan karena kau sudah mempercayakannya padaku maka aku akan sepenuh hati memegang amanatmu dan tak akan mengecewakanmu,” ucap Tristan kemudian menepuk bahu Syaquile.


“Baiklah jika seperti itu. Tolong jaga kakakku dan jauhkan dia dari yang namanya rasa kecewa. Aku pamit dulu,” ucap Syaquile sedikit merasa lega.


“Terima kasih,” ucap Tristan yang dijawab anggukan oleh Syaquile.


Sambil berjalan menjauhi taman, Syaquile menyeringai. “Aku yakin kau adalah kak Arkana. Cinta tahu kemana dia harus pulang.”


“Oom Tristan.” Arqasa yang tadinya sedang duduk di pangkuan Qania kini berlari ke arah Tristan dan memeluknya erat.


Tristan menarik tubuh Arqasa agar naik ke dalam gendongannya. “Sekarang manggilnya Daddy.”


“Apa Mami sudah bersedia?” bisik Arqasa.


“Tentu saja,” balas Tristan berbisik.


“Yes!” Arqasa bersorak.


Tentu saja interaksi keduanya diperhatikan oleh Qania. Namun Qania hanya diam saja, melihat anaknya yang terlihat bahagia itu pun ia tersenyum senang.


Apapun untuk Ar kesayangan Mami, teruslah tersenyum Nak.


Arqasa tak ingin turun dari gendongan Tristan dan Tristan pun tak keberatan jika harus menggendongnya. Qania terharu hingga menitikkan air matanya. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia yang lengkap dimana ada Ayah, Ibu dan Anak.


“Gimana kalau kita main ke mall. Sebelum larut malam. Besok Om Tristan mau pulang,” ajak Tristan.


“Asyik, boleh ya Mi.” Arqasa melirik Qania dengan tatapan penuh permohonan.


Tak ingin merusak suasana maka Qania pun langsung mengangguk setuju. Ia tak ingin melewatkan kebahagiaan anaknya walaupun hanya sebentar saja.


“Kalau begitu ayo!” ajak Tristan yang masih menggendong Arqasa.


Saat Qania berdiri, tiba-tiba saja tangannya digenggam oleh Tristan. Hati Qania menghangat, bibirnya menyunggingkan senyuman.


Benar-benar terlihat seperti keluarga yang harmonis, batin Qania.


Kini ketiganya sudah berada di mall. Tristan begitu antusias mengajak Arqasa mencoba semua permainan yang ada disana sementara Qania sibuk mengabadikan momen tersebut. Terbesit keinginan untuk membagikan momen itu di social media namun ia urungkan. Alasannya sederhana, tak ingin membuat orang lain terkejut melihat sosok Tristan. Akhirnya momen itu hanya ia abadikan di dalam ponselnya tanpa membaginya dengan yang lain.


“Kalian terlihat sangat kompak. Aku bahkan tidak bisa membedakan kau itu Tristan atau pun Arkana. Bahkan kau dan Arqasa terlihat begitu mirip. Tidak ada yang akan meragukan kalian sebagai pasangan Ayah dan anak,” gumam Qania sambil terus mengabadikan momen kebahagiaan anaknya melalui kamera ponselnya.


Gelak tawa terus terdengar dari kedua sosok yang begitu mirip namun berbeda generasi itu. Mereka saat ini sedang berjalan keluar dari arena permainan dan mendekati Qania yang sedang menunggu mereka.


“Sudah puas mainnya?” tanya Qania.


“Sudah Mi. Makasih ya Dad, hari ini Ar senang banget. Kapan-kapan kita main lagi ya,” ucap Arqasa menatap Tristan dengan wajah bahagianya.


“Tentu anak kesayangan Daddy. Makanya bilang tuh ke Mami agar secepatnya menerima lamaran Daddy supaya nanti tiap hari kita main bareng,” ucap Tristan kemudian menoleh pada Qania dengan mengedipkan sebelah matanya.


“Pasti Dad,” ujar Arqasa.


“Anak pintar. Ayo kita pulang.” Tristan langsung menggendong Arqasa, ia selalu saja ingin menggendong bocah itu.


Qania hanya menggelengkan kepala karena lagi-lagi kedua prianya itu meninggalkan dirinya. Sedari tadi ia seolah menjadi makhluk transparan oleh Arqasa dan Tristan. Namun itu tak membuat Qania berkecil hati karena dari sini ia bisa melihat tawa lepas anaknya. Ia melihat anaknya tak lagi memendam kesedihan. Kehadiran Tristan benar-benar membawa kebahagiaan di diri Arqasa. Cukup dengan melihat sang anak dalam kondisi seperti ini itu sudah membuat Qania luar biasa bahagia.


“Semoga ini memang keputusan yang tepat. Tapi aku yakin kamu adalah Arkanaku. Meskipun nanti dunia mengelak mengatakan bahwa kamu bukan Arkana, maka aku akan tetap merebutmu dan menyimpanmu disisiku Tristan Anggara. Kau lihatlah seperti apa caraku mempertahankan posisimu di sampingku. Aku pernah kehilangan sekali dan tidak untuk kedua kalinya. Jika memang kau memang bukanlah Arkanaku, maka aku akan menjadikanmu Tristan Anggaraku. Aku yakin takdir Tuhan pasti akan indah pada waktunya.”


Di dalam mobil Qania hanya bisa membatin sambil memeluk Arqasa yang sudah terlelap. Tristan pun diam tanpa suara sambil fokus menyetir. Ia sudah cukup lelah setelah bermain bersama Arqasa. Mobil pun memasuki pekarangan rumah Qania. Nampak jelas ada sang Papa sedang menunggu di teras. Qania dan Tristan saling berpandangan, keduanya menjadi gugup karena tidak menyangka ada yang menunggui kepulangan mereka. Apalagi Qania yang belum siap jika papanya melihat Tristan.


“Aku turun dan kamu nggak usah turun ya. Aku nggak mau bikin heboh,” ucap Qania.


“Iya aku paham. Kamu istirahat ya, langsung tidur,” ucap Tristan sambil mengelus puncak kepala Qania.


Qania mengangguk, “Kamu juga. Dan hati-hati dijalan, kabari jika sudah sampai,” ucap Qania.


Qania turun dari mobil sambil menggendong Arqasa, sebelumnya ia sudah mengatakan pada Tristan agar langsung pergi begitu ia turun dari mobil. Dengan cepat papanya bergerak mengambil alih Arqasa kedalam pelukannya.


“Darimana saja kalian? Kenapa Rizal tidak menyapa dulu langsung pergi begitu saja?”


Pertanyaan papanya membuat Qania degdegan sekaligus lega karena papanya mengira itu adalah Rizal dengan melihat mobilnya saja. Bahkan menapaki anak tangga saja terasa begitu sulit bagi Qania.


“Aku cuma ngecek acara pernikahan Elin tadi Pa. Arqasa ingin ikut jadi aku ajak. Setelah semuanya beres baru aku pulang dan minta diantar oleh Rizal. Aku yang nggak ngizinin dia turun karena masih harus kembali ke hotel Pa,” jawab Qania kemudian membuka pintu kamarnya.


Mulai sekarang kau harus berlatih berbohong Qania, batin Qania.


“Oh begitu. Kamu langsung tidur,” ucap papanya kemudian berjalan keluar dari kamar Qania dan menutupnya.

__ADS_1


Qania bernapas lega karena papanya tidak curiga dengan jawabannya. Langsung saja ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


__ADS_2