Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Mudik


__ADS_3

 


Tok..


Tok..


Tok..


“Siapa?” tanya Marsya dari dalam kamarnya.


“Papa sayang” jawab lelaki paruh baya yang berumur lima puluh lima tahun namun wajahnya masih sangat segar dan terlihat seperti pria berusia empat puluhan tahun. Wajahnya lumayan tampan dengan janggut menghiasi pipinya, serta tubuhnya tinggi tegap.


“Oh sebentar pa” sahut Marsya yang sedang berbaring di tempat tidurnya, lalu ia mengusap air matanya dan beusaha memasang senyuman semanis mungkin.


Marsya membuka pintu kamarnya, nampak papanya tengah tersenyum menatapnya juga.


“Ada apa pa?” tanya Marsya.


“Nggak papa hanya ingin ngobrol saja. Tapi yang papa lihat kamu ini tersenyum tapi di mata kamu berair, kamu kelilipan?” sindir papanya.


“Eh, hehe aku emang nggak bisa ya nyembunyiin dari papa” kekeh Marsya.


“Ada apa sayang, hm?”,.


“Aku merindukannya pa, hikss” Marsya langsung memeluk papanya.


“Tristan?” tanya papanya sambil mengusap-usap rambut Marsya.


“Iya Pa, hikss”,.


“Bukannya tadi makan siang bareng, kok udah rindu aja” goda papanya.


“Ah papaaaa” rengek Marsya.


“Sabar nak, semua pasti akan indah pada waktunya” ucap papanya lalu mengecup puncak kepala Marsya.


“Oh iya papa mau ngobrol ya, ayo masuk Pa. Masa kita ngobrol di depan pintu sih” ajak Marsya menarik masuk papanya ke dalam kamarnya.


 


*


*


 


Semester pertama kini telah usai, para mahasiswa yang sudah berjuang dan memperoleh Kartu Hasil Studi mereka pun ada yang senang dan ada yang sedih karena nilai mereka ada yang lulus dan ada yang error.


Seperti Qania, kali ini ia harus mengalah karena berada di posisi ketiga di jurusannya dan berada di posisi kedua di kelasnya karena Julius yang berada di posisi kedua sejurusan dan diposisi pertama di kelas mereka. Namun Qania tidak merasa sedih karena ia sadar benar ia berasal dari kota yang bisa dibilang kecil jika dibandingkan dengan kotanya saat ini yang tentu saja dengan kemajuan teknologi dan fasilitas penunjang pembelajaran, serta otak mereka yang masih fresh karena baru saja lulus SMA membuat Qania kalah dari mereka.


“Qan, liburan dua bulan ini mau kemana?” tanya Julius ketika keduanya barus aja keluar dari ruang Biro Akademik Kampus.


“Mau mudik lah, udah kangen sama anak” jawab Qania dengan senyuman bahagia.


“Ouhh” desahan kekecewaan keluar dari mulut Julius.


“Kenapa kamu?” tanya Qania heran.


“Nggak, padahal aku mau ngajakin kamu sama teman-teman buat liburan ke vilaku di puncak” jawab Julius.


“Maaf ya. Hm aku duluan ya, masih banyak yang ingin ku kerjakan” pamit Qania ketika mereka sudah sampai di parkiran dimana Lala sedang menunggunya.


Julius hanya bisa menatap Qania yang pergi meninggalkannya dengan sepeda motor itu. Sudah empat bulan ia mendekati Qania namun tetap saja Qania tidak menanggapinya lebih, setiap hari sikap Qania terhadapnya sama saja dan itu terus saja membuat Julius kecewa.


“Mungkin emang selamanya hanya akan jadi teman doang” lirih Julius.


 

__ADS_1


*


 


Qania tengah sibuk mengepak kopernya yang hanya berisi oleh-oleh dan juga mainan untuk anaknya dibantu oleh Lala. Tadi sepulang dari kampus mereka berbelanja banyak barang dan juga camilan khas untuk Qania bawa pulang kampung.


“Kak pengen ikut” rengek Lala.


Qania mengehla napas berat kemudian menatap Lala yang sedang membantunya memasukkan barang-barang kedalam koper.


“Kakak bukannya nggak mau ngajak kamu La, tapi nilai kamu kan belum keluar karena ujian kalian lambat seminggu dari kakak, nanti kalau nilai kamu ada yang harus di perbaiki kan kamu harus balik lagi sendiri. Lagian kakak hanya sebulan kok” ucap Qania mencoba member penjelasan pada Lala.


“Terus aku ngapain dong kak selama liburan, kan udah nggak kerja. Ah atau aku kerja lagi aja ya?” pikir Lala sambil memukul-mukul pelan jari telunjuknya ke dagunya.


“Mau kerja apa?” tanya Qania menatap intens pada Lala.


Bukannya Qania tidak mengizinkan, ia hanya tidak ingin Lala lupa dengan kuliahnya kalau nanti sudah senang bekerja karena menerima upah.


“Bakat dan pengalaman kerjaku hanya jadi pelayan kak” jawab Lala menampilkan cengiran membuat Qania mendesah.


“Gimana kalau kamu buka bisnis online saja, sekalian tuh kamu terapin yang disampaikan waktu kita ikut seminal bulan lalu” usul Qania.


“Tapi jualan apa kak?”,.


“Jualan camilan atau kerajinan atau jadi member penjualan produk kosmetik” jawab Qania sambil menatap sengit pada Lala.


“Kakak kok gitu sih natapnya?” tanya Lala yang bergidik ngeri.


“Ya kamu itu mahasiswa Fakultas Ekonomi dan tentu saja belajar kewirausahaan, masa kamu nggak punya ide sendiri” ucap Qania sebal.


“Hehehe iya ya kak” kekeh Lala sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Uang buat modal usaha ada?” tanya Qania setelah menutup kopernya.


“Kalau uang yang kakak kasih ke aku setiap bulan malah masih ada banyak kak karena aku jarang jajan dan kakak kan selalu masak di rumah ini bersama nek Nilam” jawab Lala bersemangat.


“Ah kakak benar juga, sekalian aku sama nek Nilam buka usaha kecil-kecilan. Siapa tahu bisa laku di pasaran dan bisa jadi bisnis besar” ujar Lala antusias.


“Aamiin, kakak doain kamu sukses” ucap Qania tersenyum senang karena Lala akhirnya paham dengan ucapannya.


“Waktu SMA aku juga pernah masuk ke organisasi kelompok ilmiah remaja dan kita banyak belajar tentang kerajinan kak. Ah Lala jadi bersemangat buat memulai usaha” ceritanya.


“Kakak akan mendukung semua keputusanmu” ucap Qania.


“Ya sudah kak, karena besok siang kakak bakalan berangkat jadi aku bakalan tidur disini bersama kakak” ucap Lala sedih.


“Udah nggak usah sedih dan kamu boleh kok tidur disini sama kakak. Kakak janji kalau nanti libur hari raya kakak bakalan bawa kamu pulang ke rumah kakak” ucap Qania meyakinkan Lala.


“Janji ya kak” seru Lala girang.


“Iya, yuk bobo” ucap Qania kemudian merebahkan tubuhnya diikuti oleh Lala.


Tak lama berselang, keduanya pun tertidur dan berpetualang ke alam mimpi mereka masing-masing.


 


*


*


Qania terburu-buru memasuki bandara karena penerbangannya kurang dari lima menit. Setelah melewati drama ban motor kempes dan juga terjebak macet akhirnya Qania bisa sampai di bandara.


Dengan tergesah-gesah Qania berjalan dan tanpa sengaja menabrak seseorang hingga ia dan orang itu terjatuh terduduk di lantai karena benturan tabrakan mereka yang cukup keras.


“Awww” ringis Qania.


“Lain kali gunakan mata dan kaki anda dengan baik agar tidak mencelakai orang lain” ucap pria itu dingin kepada Qania, kemudian ia berdiri dan berlalu meninggalkan Qania yang terdiam membisu.

__ADS_1


Qania meramas kuat dadanya karena merasakan sesak setelah bertemu pria yang memakai setelah formal serta kacamata hitam yang terpasang di wajahnya.


“Su..suara itu” gumam Qania terbata.


Baru saja Qania berdiri untuk mengejar pria itu yang hanya terlihat punggungnya sedang berjalan menjauh dari Qania, suara yang menginformasikan penerbangannya membuatnya harus membatalkan niatnya.


 


Qania duduk di dalam pesawat sendiri karena kursi disebelahnya kosong. Qania terus teringat akan pria yang tadi bertabrakan dengannya yang hingga kini membuatnya kesulitan bernapas.


“Suaranya, apakah hanya pendengaranku saja” lirih Qania, tanpa sadar air matanya ikut terjatuh.


“Tapi kenapa dia..”,.


“Arggh mungkin hanya aku yang salah dengar karena terlalu merindukan kampung halamanku”,.


Qania terus membuat dirinya yakin bahwa ia salah dengar dan terus mengisi pikirannya dengan wajah anaknya dan juga wajah mendiang suaminya yang akhirnya bisa mengalihkan fokusnya dari pria berkacamata hitam itu.


 


*


Qania melangkah dengan penuh semangat sambil menarik kopernya mendekati keluarganya yang sedang menatap bahagia padanya. Jangan lupakan anaknya Arqasa yang sudah berusia satu tahun setengah itu sedang menatap bingung padanya dalam gendongan kakek Zafran.


“Qania rinduuuuu” teriak Qania kemudian memeluk mamanya.


“Kami juga rindu” balas mamanya sambil mengusap rambut panjang Qania.


“Anak mommy udah gede, mommy sangat amat merindukanmu” lirih Qania yang mengabil alih Arqasa dari gendongan papanya dan mencium setiap inci wajah putranya yang begitu mirip dengan Arkana itu.


“Mommyy..”,.


Qania tersenyum senang mendengar anaknya memanggilnya walaupun wajah Arqasa terlihat bingung menatapnya dan Qania memaklumi itu sebab sudah enam bulan ia meninggalkan anaknya itu.


“Yuk pulang, udah mau magrib” ajak papa Qania.


Mereka berempat pun berjalan menuju ke mobil Zafran dengan Qania yang tak henti menciumi tubuh putranya dan papanya yang menenteng koper Qania lalu memasukkannya kedalam bagasi mobil.


“Papa Setya dimana pa?” tanya Qania saat mobil mereka sudah mulai melaju di jalan raya.


“Setya dia sedang sibuk mengurus pembukaan cabang hotelnya di kota M dan namanya Arqasa Hotel” jawab papanya dengan pandangan lurus ke depan.


“Hmm beban bertambah lagi” ucap Qania mendesah frustasi.


“Ya mau gimana lagi nak, semua itu adalah milikmu dan anakmu. Jadi mau tidak mau kamu harus siap mengurusnya nanti setelah kamu selesai kuliah” ucap mamanya sambil menengok ke belakang.


“Papa Setya juga sih ada-ada aja, hotelnya udah banyak dan juga kafe dan restorannya udah banyak dan tersebar di seluruh pulau kita ini eh dia masih terus aja mendirikan cabang dimana-mana” keluh Qania.


“Hahaha mertuamu memang gila kerja nak, kamu sabar saja” kekeh Zafran.


“Iya pa, tapi aku yang akan kena imbasnya nanti. Aku rasa aku bakalan nggak sanggup ngurusin semuanya nanti” ucap Qania kesal.


“Kembali lagi nak, semua untuk masa depan kamu dan anakmu. Dia begitu bersemangat kerja untuk menjamin kehidupan cucu dan menantunya. Dia bahkan tidak pernah mengeluhkan keadaannya apakah dia lelah atau sakit. Dia selalu datang dengan senyumannya dan menceritakan pada cucunya ini bagaimana pekerjaannya dan apa keinginannya kelak untuk kalian berdua. Dia tidak ingin kalian kekurangan satu pun kecuali sosok Arkana yang tidak bisa ia ganti dengan apapun, mama sangat salut padanya” cerita mamanya dengan air mata yang menetes karena terharu mengingat kegigihan Setya.


“Iya sayang, mamamu benar. Kamu harusnya bersyukur karena mendapatkan mertua sepertinya yang sudah siaga memikirkan masa depanmu dan anakmu itu tanpa mengenal lelah nak. Papa saja tidak akan sanggup jika berada di posisinya dengan klien yang harus dia bantu di pengadilan, usaha kafe dan restorannya, belum lagi hotel dan vila yang ia bangun di beberapa daerah. Untung saja ada Rizal dan Fero yang menjadi tangan kanan dan tangan kirinya yang selalu siap siaga membantunya” timpal papanya membuat Qania semakin merasa bersalah sudah mengeluhkan dan merasa kesal dengan apa yang dilakukan mertuanya itu.


“Iya ma, pa. Qania itu harusnya bersyukur mendapat mertua sebaik papa Setya, toh Qania tinggal meneruskan apa yang sudah dia bangun dan menjaga apa yang ia berikan kepada Qania dan Arqasa. Jauh lebih sulit menjadi dirinya yang bekerja keras dari awal hanya untuk menyenangkan dan menjamin kehidupan kami” tutur Qania.


Kedua orang tua Qania tersenyum, mereka sangat mengenal sifat anak mereka yang mudah memahami maksud dari orang tuanya.


Qania tersenyum mengingat mertuanya itu sambil membelai wajah anaknya yang sudah tertidur di pangkuannya. Wajah anaknya yang mampu mengobati rasa rindunya pada Arkana dan juga alasan semangat hidupnya.


‘Qania janji nggak akan mengecewakan papa Setya dan juga kamu sayang, suamiku Arkana Wijaya’,.


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2