
Ponsel Qania berdering saat ia baru saja memakai ranselnya. Qania memutar bola matanya begitu melihat siapa yang meneleponnya.
"Ada apa?" Tanya Qania ketus.
Raka yang baru saja keluar dari kostannya terkekeh mendengar jawaban ketus Qania, iya dia menyukai mode ini dari Qania.
"Udah mau berangkat KKN?" Tanya Raka balik.
"Belum, tahun depan," jawab Qania.
"Ih marah-marah Mulu, ntar cepat muda loh," ledek Raka.
"Kalau nggak ada yang penting mending matiin aja, aku buru-buru," ucap Qania hendak mematikan ponselnya.
"Eh tunggu dong Qan, aku tuh nelepon buat ngasih tahu kalau aku bakalan jemput kamu dan nganterin kamu ke kampus," cegah Raka gelagapan.
Qania menghela napas.
"Mau nganterin aku? Mau say goodbye pake romantis-romantisan salam perpisahan gitu?"
"Ih tahu aja deh, kita emang jodoh," goda Raka sambil naik ke atas motornya.
"Raka," panggil Qania dengan nada serius.
"Iya Qan," Raka seolah tanggap dengan nada bicara Qania.
"Jangan lakukan hal yang sama," ucap Qania dingin.
"Maksud kamu?" Tanya Raka tidak mengerti.
"Jangan lakukan hal yang sama seperti Arkana lakukan kepadaku jika memang kau ingin merebut hatiku. Kalau kau tetap melakukan itu jangan salahkan aku jika aku justru terus teringat dengan Arkana. Aku malah senang jika kau dengan suka rela menjadi pengingat yang baik yang membuatku terus tersenyum manis mengingat kenangan ku bersama Arkana," ucap Qania membuat Raka tertohok.
Raka diam, tadinya ia begitu semangat empat lima untuk menjemput Qania dan benar ia memang ingin melakukan perpisahan yang romantis bersama Qania namun justru itu membuat Qania teringat akan Arkana.
"Diam, hem?" Ejek Qania.
"Kalau memang seperti itu maka aku bakalan hindarin Qan. Kamu tunggu saja, aku bakalan kasih kenangan baru buat kamu dan bahkan sesuatu yang Arkana tidak pernah lakukan bersamamu," tekad Raka.
'Tapi gue nggak tahu apa saja yang nggak pernah Arkana berikan sama Lo, Qan.'
Qania tersenyum, ia yakin Raka akan mengiyakan keinginannya. Jujur saja Qania memang sangat keberatan jika ada orang lain yang ingin menggantikan kenangannya bersama Arkana. Ia tidak ingin berbagi kenangan atau membuat kenangan yang sama dengan orang yang berbeda, sangat pelit.
"Ya sudah aku mau berangkat ke kampus, Lala udah nungguin. Assalamu'alaikum," ucap Qania.
"Hati-hati. Wa'alaikum salam," balas Raka lirih.
Setelah mematikan ponselnya, Qania bergegas keluar dan menutup pintu kamarnya. Nampak Lala sudah siap di atas motor, Qania pun menutup pintu kost dan langsung naik ke atas motor.
Tidak butuh waktu lama Qania dan Lala sudah sampai di kampus karena mereka tidak terjebak macet. Lala memeluk Qania begitu mereka turun dari motor.
"Kakak hati-hati ya, kabarin Lala terus," ucap Lala lirih.
"Pasti La. Kamu hati-hati ya di kost," balas Qania melepas pelukannya.
"Ya udah aku pulang ya, Kak," pamit Lala.
"Iya La. Kamu hati-hati," jawab Qania.
Lala tersenyum mengangguk, kemudian ia berjalan ke arah motor dan langsung melesat pergi meninggalkan Qania yang sedang menatapnya.
"Qan, ngapain bengong disana? Yuk masuk," ajak Mae yang baru saja datang dan diantar oleh Papanya.
"Eh ... Oh yuk masuk," ucap Qania.
Qania tadi memang melamun, berharap ada seseorang yang datang untuk mengucapkan kata romantis dan mengungkapkan rasa rindunya meskipun ia belum berangkat. Siapa lagi kalau bukan Arkananya.
'Sadar Qan, Arkanamu sudah tiada. Biarkan dia beristirahat dengan tenang.'
Qania pun melangkah masuk bersama Mae untuk bergabung bersama teman-teman mereka di dalam.
"Hanya dengan melihat lo dari jauh aja udah buat gue tenang dan senang Qan. Maaf gue tetap ngikutin elo, karena perasaan gue nggak tenang kalau belum mastiin sendiri kalau lo baik-baik aja," ucap Raka yang memang sudah mengikuti Qania dari kostnya tadi. Ia pun pergi setelah Qania sudah tidak terlihat lagi.
__ADS_1
Di sisi lainnya, ada seorang pria yang juga sedang menatap lekat pada Qania yang melenggang masuk ke dalam kampus di balik kacamata hitamnya dari dalam mobil.
"Oh ternyata memang benar dia seorang mahasiswa. Anak kecil mau macam-macam sama Tristan Anggara."
Ya dia adalah Tristan Anggara, ia meminta anak buahnya untuk mengikuti aktivitas Qania dan ia pun tahu kalau hari ini Qania akan berangkat KKN makanya ia mengikutinya dari rumah.
"Eh apa tadi, anak kecil? Bukannya dia sudah menikah dan memiliki anak? Gue dong yang masih kecil? Tapi umur gue udah tiga puluh, beda lima tahun sama dia. Argghh ... ngapain juga mikirin soal umur," gerutu Tristan.
"Gue jadi penasaran sama suaminya itu, emang iya dia mirip sama gue sampai-sampai Qania pingsan waktu pertama lihat gue," gumam Tristan sambil menaikkan kaca mobilnya kemudian pergi membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke lokasi proyek jalan.
Di dalam kampus, Qania dan teman-temannya sedang dalam pengarahan rektor kampus untuk pelepasan para peserta KKN. Bukan hanya fakultas Qania, mahasiswa dari Internasional Class dari fakultas lainnya pun turun mengikuti KKN mandiri yang lebih dulu dari KKN Universitas.
Setelah hampir dua puluh menit sambutan dari rektor akhirnya seluruh mahasiswa di persilahkan untuk pergi ke lokasi KKN mereka masing-masing.
Qania dibonceng oleh Zakih dan Mae bersama Yusuf, dan teman-temannya yang lain saling berboncengan dan kali ini mereka berjumlah dua puluh tujuh orang dengan sepuluh orang perempuan dan tujuh belas orang laki-laki.
Mereka bak pasukan konvoi yang memenuhi jalan seolah jalanan tersebut milik mereka. Sepanjang perjalanan meskipun naik motor mereka masih saja saling melempar candaan ataupun bergosip.
Hingga akhirnya mereka sampai di lokasi jalan yang saat ini sedang dalam proses pengerjaan. Motor mereka tidak bisa lewat bersamaan seperti tadi di jalan raya dan hanya bisa satu per satu yang melintas.
Namun Qania merasa aneh karena sudah hampir pukul sepuluh namun tidak ada pekerjaan sama sekali. Qania yang berada di barisan tengah bersama Zakih pun memintanya untuk berhenti dan ia ingin memastikan sesuatu.
Qania turun dari motor dan berjalan ke arah jalan yang sudah teraspal sebagian. Ia merasa janggal, ia pun mendekat dan mencoba menekan lapisan aspal tersebut. Qania tersenyum miring saat mendapati apa yang membuatnya merasa aneh.
"Woi ... siapa kamu? Kenapa merusak aspal?" Teriak seorang pria yang berjalan dengan cepat ke arah Qania yang masih berjongkok di pinggiran jalan.
Teman-teman Qania pun dibuat kaget dengan apa yang Qania lakukan. Dengan langkah tergesa-gesa, ia menghampiri Qania dan menarik bahunya.
Qania berbalik dan terkejut melihat pria yang sedang menatap kaget juga padanya.
"Qania."
"Tristan Anggara."
Keduanya tersentak kaget saat saling menatap.
"Apa yang kamu lakukan dengan pekerjaanku Qania?" Teriak Tristan marah karena melihat aspal jalan yang hancur dibuat Qania.
"Bukan, saya konsultan disini. Ada apa? Ingin mengacau?" Tanya Tristan kesal.
"Terus kontraktornya kemana?" Selidik Qania.
"Ya mana saya tahu, dia belum datang," jawab Tristan ketus.
"Hahahaha ... Tristan Anggara lagi-lagi dipecundangi," tawa Qania membuat Tristan geram.
"Apa maksudmu Qania?" Tanya Tristan yang sedang mengepalkan tangannya.
"Kau lihat anggaran yang kalian gunakan di papan itu?" Tanya Qania sambil menunjuk papan anggaran dan Tristan mengikuti arahan Qania.
"Lantas?" Tanya Tristan yang tiba-tiba jadi penasaran.
"Dana begitu besar namun kualitas bahan yang kalian gunakan itu seperti ini? Kemana semua dana yang kalian gunakan? Anda korupsi?" Tuduh Qania.
"Jangan sembarang bicara Qania, saya tidak pernah korupsi," bentak Tristan namun Qania hanya menyeringai.
"Anda tahu Tristan Anggara, anda bisa saja masuk jeruji besi dengan pekerjaan ini karena proyek jalan ini adalah anggaran negara yang masa pemeliharaannya itu selama lima tahun. Dan belum tentu juga dalam lima tahun itu anggaran untuk jalan akan langsung ketuk palu. Lantas lihat sendiri kualitas jalan yang anda kerjakan, belum sampai seminggu pasti jalan ini akan rusak dan anda tahu sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya mengingat kendaraan di kota ini kian hari makin bertambah bukannya berkurang," ucap Qania panjang lebar.
Tristan diam memikirkan ucapan Qania. Benar juga, ujung-ujungnya pasti akan berurusan dengan polisi. Lalu kemana kontraktornya? Sudah jam segini belum datang, pikir Tristan.
Tak lama kemudian seorang pria berlari dengan membawa ponselnya.
"Pak Tristan, pak Meldi tidak bisa datang dan katanya ia ada urusan di luar kota," ucapnya sambil menunjukkan sebuah pesan dari ponselnya.
Qania tersenyum penuh arti, ia sangat yakin kalau orang yang bernama Meldi itu adalah kontraktor proyek ini.
"Appaaa? Bagaimana bisa ...," ucap Tristan lemas.
"Apa dia kontraktor proyek ini?" Tanya Qania.
"Iya, anda siapa ya?" Tanya pria yang sedang bersama Tristan.
__ADS_1
"Saya hanya orang yang kebetulan lewat. Lantas anda?" Tanya Qania balik.
"Saya inspektor satu," jawabnya.
"Oh ... hem, hem, hem, selamat ya. Mungkin kontraktor itu sudah membawa lari uang proyek ini dan melimpahkan semuanya pada kalian. Oh ya, apa kalian ada bukti surat peryataan peringatan kepada kontraktor tentang proyek ini? Sejenis teguran, misalnya?" Selidik Qania yang sudah merasa iba.
Ia bisa melihat dua orang ini tidak memiliki keahlian dibidang yang sedang mereka geluti. Dari wajah bingung keduanya Qania bisa memahami, ia kemudian tersenyum lembut.
"Ya sudah kalau begitu buat surat teguran dari pihak konsultan," titah Qania dan lagi-lagi kedua pria itu terlihat kebingungan.
"Jangan bilang kalian tidak tahu membuatnya?" Tanya Qania merasa frustasi.
Keduanya pun mengangguk membuat Qania meringis.
"Huh ya ampun, sepertinya ilmuku sedikit berguna untuk kalian. Sayang juga punya ijazah nggak digunain. Ya sudah biar saya bantu saja," ucap Qania sambil mengoceh.
Bohong kalau Tristan tidak tersenyum melihat Qania yang sedang mengecek sesuatu di ponselnya sambil mengoceh tidak jelas. Ia diam-diam mencuri pandang pada Qania yang sedang menempelkan ponsel di telinganya.
"Hallo Di, kamu dimana?" Tanya Qania yang sedang menelepon Abdi.
"Gue di kantor Qan. Ada apa, tumben nelepon?"
"Tolong kirimin aku email surat teguran dari pihak konsultan ke pihak kontraktor mengenai material yang digunakan tidak bersadarkan anggaran RAP," ucap Qania.
"Lo bukannya lagi kuliah jurusan Hukum. Kok malah ngurus proyek?"
"Abdi Narayan Sarjana Teknik, gue cuma minta Lo kirimin gue doang emailnya, nggak usah banyak nanya deh. Cepetan, gue buru-buru nih," gerutu Qania.
"Eh malah marah, minta tolong itu baik-baik Qan. Bukan malah marah gini ih," ledek Abdi yang sengaja memancing emosi Qania.
"Di, ntar aku jelasin deh. Huhh, buruan. Atau proyek Papa nggak bakalan aku bagi ke kamu sama anak-anak yang lainnya," ancam Qania.
"Ancam teruuusss. Ya udah gue kirimin sekarang," ucap Abdi mengalah.
"Nah gitu kan enak, nggak perlu pakai ancaman segala," ucap Qania.
Qania pun mematikan ponselnya dan tak la kemudian ia menerima email dari Abdi.
"Berapa nomor ponselmu, atau alamat emailmu?" Tanya Qania masih menatap ponselnya.
Tristan dan inspektornya saling menatap bingung, mereka bertanya-tanya siapa yang sedang Qania ajak bicara.
"Tuan Tristan Anggara, cepat berikan alamat emailmu karena saya sedang terburu-buru," teriak Qania.
Karena kaget Tristan pun menyebutkan alamat emailnya dengan terbata-bata.
"Nah sudah, tinggal ganti saja nama perusahaan kalian. Saya permisi, buang-buang waktu saja," gerutu Qania namun dengan suara sepelan mungkin.
"Qania tunggu," teriak Tristan saat Qania akan naik ke atas motor Zakih.
"Ada apa?"
"Makasih. Dan kenapa kamu bisa tahu banyak seperti ini?" Tanya Tristan.
"Saya ini seorang insinyur Teknik Sipil jadi saya tahu lah," jawab Qania songong.
Tristan terkejut, ia baru tahu kalau Qania ini seorang sarjana. Namun kenapa masih kuliah?
'Gue yang terlalu bodoh atau emang nih anak bicara jujur agar harga diri gue jatuh lagi di hadapannya?'
"Oh begitu. Lalu bisakah kau membantu untuk menyelesaikan masalah ini?" Tanya Tristan.
'Please jawab iya Qania.'
"Saya sebenarnya ingin membantu, tapi untuk orang sombong sepertimu saya akan menolak. Ayo Zak, kita udah terlambat," ucap Qania kemudian naik ke atas motor.
Tristan terbengang dengan ucapan Qania barusan hingga ia tidak sadar kalau Qania sudah pergi.
"Aku Tristan Anggara mengaku kalau aku sudah mengagumi kamu Qania. Tidak ada hal darimu yang tidak membuatku kagum," gumam Tristan sambil tersenyum menatap email di ponselnya yang dikirimkan oleh Qania.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗