
Arkana menghentikan motornya di kafe, lebih tepatnya markas mereka berada di gudang kafe namun di gudang ada gudang rahasia lagi yang hanya diketahui oleh Arkana, Rizal dan Fero.
"Emang lo curiganya sama siapa Ka?" tanya Rizal setelah Arkana menceritakan kejadiannya.
"Gue sih curiga sama pacarnya Syeril" jawab Arkana sambil meremas pahanya.
"Lah bukannya waktu lo gagal nikah dia udah dilaporin ke polisi lagi?" tanya Fero mengingat.
"Lo benar juga. Terus siapa lagi yang punya masalah sama bokap gue, arghhhh..." teriak Arkana.
"Gini deh Ka, kita ke rumah lo sekarang siapa tahu mereka balik lagi dan ngasih kode" saran Rizal.
"Lo benar Zal, ayo kita balik sekarang. Ro lo tolong tutup kafenya" pinta Arkana.
"Oke" jawab Fero.
Setelah memastikan karyawan pulang dan kafe sudah di tutup, ketiga lelaki itu bergegas ke rumah Arkana.
Sampai di rumah Arkana ketiganya bergegas masuk, sambil memperhatikan sekitar rumah terlebih dahulu.
"Ka, lo nggak tahu siapa aja yang jadi musuhbatau saingan bokap lo?" tanya Fero.
"Gue sama sekali nggak tahu, soalnya bokap nggak pernah cerita ke gue. Dan salah gue juga nggak mau datang ke kantor buat bantuin dia. Gue malah fokus ke kafe yang udah jelas ada kalian berdua. Gue nyesel biarin bokap menghadapi semuanya sendiri" Arkana geram namun juga sangat sedih.
"Emang surat kalengnya tadi cuma bilang bokap sama supir lo ada di tangan mereka?" tanya Rizal.
"Ya gitu" jawab Arkana singkat.
Braakkkk....
Arkana, Rizal dan Fero tersentak saat kaca rumah lagi-lagi pecah karena dilempari batu.
"Sialan" umpat Arkana yang bergegas menuju arah pecahan kaca itu.
"Bangsat, mereka rupanya mengawasi rumah ini" maki Rizal.
Arkana berjalan mendekati surat kaleng itu dan dengan kasar ia membuka gulungan kertas itu.
"Bangsat, bangsat" umpat Arkana semakin geram.
Fero dan Rizal langsung mengambil kertas yang Arkana lempar itu.
..."NYAWA DIBAYAR NYAWA"...
Rizal meremas kuat kertas yang baru saja ia baca bersama Fero.
"Sialan, siapa sebenarnya orang ini" geram Fero.
"Apa sebaiknya kita ke kantor bokap lo, kita cari tahu lewat cctv, atau berkas apa pun itu. Mungkin saja disana ada petunjuk, besok libur juga jadi kita nggak perlu membuat kehebohan di kantor" usul Rizal.
"Lo benar Zal. Tapi kita akan kesana nanti subuh, dan jika mereka masih mengawasi kita maka kita harus bisa mengecoh mereka" ucap Arkana.
"Kalau begitu kita susun rencana" ucap Rizal.
__ADS_1
.....
Waktu yang dinanti pun akhirnya tiba, mereka bertiga menaiki motor masing-masing sambil mengawasi sekitar dengan ekor mata mereka dan berusaha setenang mungkin.
"Bro gue pulang dulu ya, udah subuh gini pasti bokap nyariin gue" ucap Fero kemudian pergi.
"Gue mau ke kafe, lo mau kemana Ka?" tanya Rizal.
"Gue mau nyari bokap gue" jawab Arkana lesu.
"Oke, hati-hati bro. Kabarin kalau ada petunjuk" ucap Rizal kemudian bersama-sama dengan Arkana mengendarai motor dengan arah berlawanan.
Mereka sengaja bersuara keras agar jika ada yang memantau pergerakan mereka, orang-orang itu bisa mendengarkan. Mereka bertiga juga mengenakan headset bluetooth dari dalam rumah dengan panggilan yang sudah terhubung.
"Ada yang ngikutin gue" ucap Fero sambil membawa motornya dengan santai menyusuri jalan.
"Sama, gue juga" sahut Rizal.
"Ternyata benar, mereka mengikuti kita. Anak-anak siap kan?" tanya Arkana.
"Mereka udah siap dari beberapa menit yang lalu di jalan yang akan lo lewati nanti" jawab Rizal kemudian berhwnti di parkiran kafe.
"Gue bawa keliling dulu kali ya nih orang yang buntutin gue" ucap Fero yang sedang asyik menyusuri jalan tanpa tujuan.
"Sepertinya gitu aja Ro, buat mereka pusing" sahut Arkana.
"Gue bakalan jalan kaki ke masjid dekat kafe buat shalat subuh dulu, lalu gue ke kantor bokap lo pakai mobil yang udah kita parkir di belakang masjid tadi. Gue bakalan jemput lo di sana" ucap Rizal sambil menutup kembali pintu kafe yang tadi ia masuki, ia bergegas karena mendengar suara iqomah dari masjid.
"Oke Zal, gue tunggu elo. Gue udah dekat dari posisi anak-anak, tapi kok gue nggak lihat mereka?" tanya Arkana merasa heran karena keadaan sangat sepi.
"Gue pelan-pelan aja nih Ro sambil nungguin si Rizal shalat, haha syukur deh tuh anak masuk masjid juga" Arkana tertawa mengingat Rizal yang hanya masuk masjid saat jum'atan saja.
"Lo benar Ka, hahaha" Fero ikut tertawa.
"Lo dimana Ro?"
"Gue di jalan jauh dari kafe tapi dekat komplek rumah gue Ka"
"Lo masih diikutin?"
"Masih, gue sama mereka berjalan beberapa ratus meter. Gue santai kayak di pantai, pura-pura aja gitu nggak nyadar kalau diikutin"
"Bagus Ro, lo nikmatin saja jalan-jalan subuh lo, hehehe"
"Tes.. bro gue udah di mobil" ucap Rizal setelah beberapa menit kemudian.
"Gue seratus meter lagi nyampe sama anak-anak. Oh iya begitu Ifan sama yang lainnya udah nyerang mereka, elo Ro langsung ke rumah lo biar mereka berhenti ngikutin lo" ucap Arkana yang sudah mendekati posisi teman-temannya.
"Gue tancap gas kesana Ka, kasihan tuh mereka masih stau depan kafe, hehehe" ucap Rizal sambil membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu..
"Tuh bocah lama amat shalatnya, yang lain udah pada pulang. Apa dia tobat nasuha dulu kali ya, hahaha" ucap salah satu yang mengikuti Rizal.
__ADS_1
"Wah lo benar, kayaknya dia tahu kalau dia dalam bahaya dan dia minta doa banyak-banyak dulu, hahaha" sambung yang satunya.
"Ka, gue Ifan. Lo udah dekat, saat gue bilang lo tarik gas lo harus langsung lakuin oke" pinta Ifan yang sudah terhubung, setelah Rizal yang menghubungkan panggilan ke Ifan.
"Oke Fan" jawab Arkana.
"Tu..wa..Tarik Gas Ka"
Arkana langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi secara tiba-tiba dan hal yang sama juga dilakukan si penguntit itu namun tanpa mereka sadari di depan ada tali yang tiba-tiba saja langsung membentang sehingga mereka harus menarik rem tiba-tiba dan terpental jauh dari motor.
Seluruh teman-teman Arkana termasuk Ifan segera mendekati dua orang yang terlempar berlawanan arah itu dan langsung membius keduanya, lalu menarik masuk ke semak-semak menunggu teman-teman yang lainnya untuk menyembunyikan motor dua orang itu.
"Good job brother" ucap Arkana saat menghentikan motornya menunggu Rizal datang.
"Kita dengan senang hati bantuin lo Ka, kasihan om Setya kalau lama mereka sekap" ucap Ifan sambil menepuk pundak Arkana.
"Terus dua orang ini akan kita kemanakan Ka?" tanya salah satu teman Arkana.
"Biar Rizal yang bakalan bawa mereka, tuh dia datang" jawab Arkana sambil menunjuk mobil hitam yang sedang mengarah ke mereka.
Rizal turun dari mobil, ia langsung berjalan ke arah teman-temannya.
"Yooo.. kerja bagus tim" ucap Rizal dengan senang.
"Wah gue jadi penasaran, sayang gue harus rebahan" ucap Fero yang baru saja masuk ke halaman rumahnya.
"Lo juga bakalan kebagian" sahut Ifan.
"Oke.oke."
"Tolong bantuin gue masukin dua orang ini ke mobil, biar gue yang urusin mereka nanti" pinta Rizal.
Empat orang langsung membantu membawa dua orang yanh bertubuh kekar itu masuk ke mobil.
"Gimana Ro, mereka masih disana?" tanya Rizal.
"Masih" jawab Fero yang sedang mengintip dari jendela ruang tamu rumahnya.
"Sekarang giliran lo buat bawa mereka ke lokasi Ifan dan yang lainnya" kata Rizal yang sudah masuk ke mobil.
"Oke" ucap Fero kemudian keluar lagi dari rumahnya, ia bergegas menju motornya lagi dengan ponsel yang sudah menempel di telinganya.
"Hallo Ka lo dimana sekarang, lo nggak apa-apakan? Lo dibuntutin siapa? Oke tunggu gue kesana sekarang" Fero dengan sengaja mengeraskan suaranya agar kedua orang itu mendengarnya.
"Lo berbakat juga jadi aktor" ledek Rizal.
"Sebenarnya itu bakat terpendam gue" jawab Fero asal.
"Hahahaha" Arkana dan Ifan tertawa.
"Gue ke kantor bokap dulu, bentar lagi Fero bakalan bawa dua orang lagi. Gue minta tolong sama kalian lagi" ucap Arkana.
"Santai Ka, kita kan tim" jawab mereka.
__ADS_1
"Thanks bro, gue ngandelin kalian" ucap Arkan terharu, kemudian ia berjalan ke arah motornya lalu menaiki dan membawanya pergi ke arah kantor papanya.
......🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺......