
Pagi-pagi sekali Marsya sudah mengendarai mobilnya. Ia semalam tidak bisa tidur nyenyak memikirkan Tristan yang kemarin berpamitan untuk perjalanan bisnis keluar kota. Ia tidak ingin kecolongan. Berbagai pikiran buruk terus menghantuinya. Apalagi malam nanti mereka akan melangsungkan acara pertunangan. Hal yang sangat ia tunggu sudah sejak lama dan ia tentu saja tidak ingin semuanya gagal. Dan sampai saat ini belum ada kabar dari Tristan. Namun satu hal yang ia tidak ketahui adalah orang yang tengah dipikirkannya itu sedang terlelap karena kelelahan seharian ia melakukan perjalanan tanpa rebahan demi mengejar satu jawaban dari wanita yang kekeraskepalaannya diluar nalar Tristan namun meskipun begitu tetap saja Tristan menginginkannya.
“Tris, jangan buat aku kecewa padamu,” gumam Marsya sambil terus fokus menatap kedepan karena ia sedang mengemudikan mobil sendirian.
Marsya melirik ponselnya yang berada di kursi sebelahnya. Sebuah panggilan masuk dari tante Bendelina namun ia abaikan. Tentu saja ia tahu kenapa bibinya menelepon, sudah pasti karena tak menemukannya di rumah. Padahal hari ini mereka sudah memiliki janji untuk perawatan seharian di salon sebelum malam nanti ia bertunangan.
“Maaf Tante, tapi aku harus memastikan keberadaan Tristan dulu sebelum kita pergi ke salon,” ucap Marsya melirik ponselnya yang sudah mati karena panggilan telah berakhir. “Huhh … Tris, kamu dimana sih? Nggak ada kabar dari kemarin. Kumohon jangan aneh-aneh hari ini.”
Mobil Marsya terus melaju membelah jalan yang sudah mulai dipadati oleh kendaraan itu. Saat ini waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Keadaan jalan dipadati oleh para pekerja dan juga para pelajar. Untung saja Marsya sudah lebih dugglu melewati waktu macet sehingga ia tidak perlu lama menunggu di dalam mobil sambil mendengar bunyi-bunyi klakson.
Tak lama kemudian mobil Marsya sudah berhenti di depan gerbang rumah Tristan. Ia membunyikan klakson agar pak Yotar keluar dan benar saja tak lama kemudian satpam yang merangkap tukang kebun itu datang. Marsya menurunkan kaca mobilnya.
“Selamat pagi Non,” sapa Pak Yotar.
“Pagi Pak. Apa Tristan sudah pulang?” tanya Marsya masih betah berada di dalam mobil. Takut saja jika ia turun ternyata Tristan tidak berada di dalam jadi ia bisa langsung pergi mencarinya.
“Ada Non. Mungkin masih tidur. Saya bukakan gerbangnya ya Non,” jawab Pak Yotar.
Marsya tersenyum senang, ia mengangguk kemudian menaikkan kaca mobilnya sambil menunggu Pak Yotar membukakan gerbang kemudian ia membawa mobilnya masuk dan memarkirkan di halaman Tristan yang cukup asri itu.
Tanpa menunggu pak Yotar, Marsya langsung masuk ke dalam rumah itu. Sangat sepi, itulah yang terkesan dari rumah tersebut. Marsya berjalan ke dapur untuk mencari bi Ria. Ia melihatnya, wanita paruh baya itu tengah menyiapkan sarapan.
“Selamat pagi, Bi,” sapa Marsya.
Bi Ria yang tengah menata makanan di atas meja menengok sedikit terkejut mendengar suara wanita yang menyapanya.
“Eh non Marsya, selamat pagi kembali Non,” balas bi Ria dengan ramah.
“Tristan dimana Bi?” tanya Marsya masih berdiri di dekat bi Ria.
“Masih di kamar Non. Mungkin sedang mandi, tadi sudah sempat saya bangunkan,” jawab bi Ria sambil meletakkan nasi goreng di atas meja.
“Oh iya Bi, saya ke atas dulu,” pamit Marsya tanpa menunggu jawaban dari bi Ria.
Non Marsya ini cantik dan baik hati juga, tapi entah mengapa kok aku merasa mereka berdua tidak cocok ya, gumam bi Ria dalam hati.
Marsya mengetuk pintu kamar Tristan namun tak ada sahutan. Ia memberanikan diri membuka pintu kamar tersebut , toh baginya sudah sering juga masuk ke kamar itu ya meskipun pada saat-saat itu masuknya bersama Tristan.
Ceklekk …
Bersamaan dengan Marsya yang membuka pintu kamar Tristan, Tristan juga barus aja membuka pintu kamar mandinya. Mereka saling bertatapan. Marsya terpaku di tempat ia berdiri masih dengan memegang handle pintu. Ini pertama kalinya ia melihat Tristan sehabis mandi dengan masih mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Rambutnya basah menambah kesan badas di pandangan Marsya. Kulit putih dengan barisan roti sobek itu membuat Marsya kesulitan menelan salivanya. Bahkan ia tidak sadar sekarang pipinya sudah memerah.
Berbeda dengan Marsya yang sedang terpana, Tristan justru merasa sebaliknya. Ia merasa kesal karena Marsya sudah melihat asset tubuhnya. Baginya, hanya Qania-lah yang pantas untk bisa melihatnya bertelanjang dada hingga tak memakai sehelai benang pun. Ia sudah memberikan stempel kepemilikan tubuhnya untuk Qania yang padahal ia pun sendiri tahu kalau wanita yang ia ingin serahkan jiwa raganya itu belum memberikan hatinya untuk Tristan.
“Marsya, kamu ngapain?” tanya Tristan sedikit berteriak.
“Ak-aku mencarimu Tris,” jawab Marsya tersadar dari keterpanaannya.
“Tolong keluar dulu Sya, aku ingin berganti pakaian,” pinta Tristan dengan lembut namun tidak dengan sorot matanya yang terlihat sangat marah. Untung saja tidak di perhatikan oleh Marsya.
Marsya tersenyum kikuk. Namun bukannya keluar justru ia malah maju melangkah mendekati Tristan. Tristan mengangkat sebelah sudut alisnya menunggu apa yang akan dilakukan oleh Marsya.
__ADS_1
Marsya semakin dekat, ia pun dengan beraninya mengulurkan tangannya akan menyentuh perut indah Tristan namun sayang hanya sampai sebatas keinginan karena tangan Tristan bergerak lebih cepat untuk menahannya.
“Apa yang kamu mau lakuin Sya?” tanya Tristan geram.
“Ak-aku hanya ingin menyentuh perutmu saja Tris,” jawab Marsya.
“Jangan menyentuhnya Sya. Kita bukan pasangan yang sudah sah. Tidak baik perempuan berada di dalam kamar pria apalagi sampai berniat menyentuh tubuh tanpa pakaiannya. Keluar dulu Sya,” ucap Tristan menegur Marsya.
“Hanya menyentuh sedikit saja. Pelit sekali sih,” ucap Marsya cemberut berpura-pura kesal.
“Ke-lu-ar,” ucap Tristan menekankan setiap katanya.
“Ya, ya, ya,” ucap Marsya mengalah, ia pun berjalan ke arah pintu dan langsung saja menutupnya.
“Huuhh, hampir saja Marsya menyentuh milik Qania. Kalau dia sampai menyentuhnya, bisa habis gue diamuk Qania,” ucap Tristan kemudian menatap pantulan dirinya di depan cermin lemari pakaiannya.
Sesaat kemudian Tristan tergelak, “Hahaha … kenapa gue jadi berpikir hal yang nggak mungkin gini sih? Nah kan, sekarang gue jadi bertingkah konyol. Gue bilang mau tunangan aja Qania nggak ngerespon rengekan gue. Apa jadinya kalau gue bilang ke dia kalau gue udah mencetuskan bahwa tubuh dan jiwa gue adalah miliknya ya? Dia pasti memasang tampang datarnya atau bahkan langsung mengumpati gue. Hahahaha … Qania, Qania. Lo punya sihir apa sih sampai gue jadi nggak waras gini.”
Tristan terus tertawa sambil mengambil setelan pakaiannya yang akan ia kenakan untuk pergi bekerja. Mengontrol beberapa kafe dan restoran milik keluarga Alvindo dan terakhir menuju ke kafenya sendiri.
Tristan menuruni tangga, ia bisa melihat Marsya sedang duduk menunggunya di meja makan. Meskipun sedikit malas ia tetap berjalan mendekati Marsya dan duduk di kursinya sementara bi Ria langsung tanggap dan mengisi piring Tristan dengan nasi goreng serta ayam gorengnya.
“Makasih Bi,” ucap Tristan.
“Iya Den.”
“Bi, nanti selanjutnya biar aku ya yang melayani Tristan. Kami malam nanti akan bertunangan dan nggak lama setelahnya akan menikah. Aku ingin belajar menjadi istri yang baik untuk Tristan,” ucap Marsya dengan riang gembira.
Tristan tersedak nasi goreng yang baru sesuap masuk ke dalam mulutnya itu. Dengan cepat Marsya menyodorkan segelas air kepadanya.
“Pelan-pelan makannya Tris, aku nggak akan merebut makananmu. Ini masih banyak. Iya kan Bi?" ucap Marsya kemudian melirik bi Ria meminta persetujuan dan bi Ria pun mengangguk dua kali.
Sial! Hampir aja gue mati karena keselek. Apa-apaan Marsya ini, tiba-tiba berkata menikah dan ingin menjadi istri yang baik. Istri yang baik konon, itu kalau gue nikah sama lo. Tapi gue bisa mastiin itu nggak akan terjadi karena gue udah punya calonnya, Tristan membatin sambil melirik bi Ria dan Marsya bergantian.
Dari sorot matanya sepertinya Den Tristan nggak tertarik lagi sama non Marsya. Apa Den Tristan sudah jatuh cinta sama Non Qania ya? Batin bi Ria.
“Saya permisi ke belakang dulu Den, Non,” ucap bi Ria.
Tristan dan Marsya kompak mengangguk karena Tristan sedang mengunyah makanannya begitupun dengan Marsya.
.... . ....
Tristan sudah duduk di belakang kemudi mobil Marsya. Kali ini Marsya merengek ingin di antar oleh Tristan ke rumahnya dan setelah itu Tristan boleh bekerja lagi karena ia pun akan pergi ke salon.
“Tris, jangan terlalu lama bekerja. Ingat nanti malam acara kita,” ucap Marsya mengingatkan. “Iya Tant, aku sedang di jalan pulang, tunggu sebentar lagi sampai,” ucap Marsya yang juga sedang berbicara dengan Tante-nya lewat sambungan telepon.
“Hemmm.” Tristan menjawab dengan menggumam.
__ADS_1
Marsya menyimpan ponselnya ke dalam tasnya kemudian bergeser sedikit. Ia merebahkan kepalanya di lengan Tristan. Jadi, karena sedang mengemudi Tristan tidak bisa menolak perlakuan Marsya.
“Sayang, tadi kamu itu kenapa marah sih, hem? Toh aku tidak melihatmu tanpa sehelai benangpun , kan? Sebentar lagi juga kita akan menikah, maka aku pasti setiap hari akan melihatmu tanpa ….”
“Jangan membicarakan hal-hal seperti itu Sya,” ucap Tristan tak senang namun ia berkata dengan lembut.
“Hehe, iya, iya. Oh ya sayang, kenapa kamu nggak ngabarin aku kemarin? Seharian aku nggak tenang nungguin kabar dari kamu. Bahkan aku nggak tidur nyenyak nungguin kamu tahu nggak,” ucap Marsya dengan nada yang begitu mendramatisir.
“Aku nggak sempat Sya. Kamu kan lihat sendiri kalau aku pulang hari ini juga seperti yang aku janjiin ke kamu kemarin. Aku langsung balik saat pekerjaanku udah selesai dan aku langsung tidur begitu sampai di rumah karena kelelahan,” jawab Tristan.
Gue bahkan ngelupain elo Sya. Orang yang udah lama berdiri di samping gue. Gue juga heran kenapa bisa berubah sedrastis ini saat gue menemukan Qania. Wanita itu bisa membuat gue menggila dan lupa akan kekasih gue yang udah setia di samping gue bahkan hampir setengah dari umur gue. Gue juga sama bingungnya sama lo Qan. Kenapa gue bisa bertingkah aneh saat lagi sama lo? Kenapa gue bisa sampai nekad ngelakuin hal-hal yang sama sekali nggak pernah gue lakuin ke Marsya tapi gue lakuin itu ke elo? Sebenarnya ini kenapa sih? Batin Tristan.
Marsya mendongak menatap wajah Tristan yang terlihat semakin tampan saat tengah serius mengemudi.
Ya ampuuun!! Pengen gue cium tuh pipi, huaaa. Marsya histeris dalam hati.
“Tapi kan seenggaknya satu pesan aja biar aku nggak gelisah,” ucap Marsya tak ingin mengalah.
“Ya udah sih Sya, aku kan udah disini juga,” ucap Tristan kesal.
“Iya aku tahu. Tapi sikap kamu itu bikin aku ngerasa kalau kamu nggak peduli sama aku. Aku ngerasa kamu ngelupain aku, aku nggak ada apa-apanya buat kamu. Aku nggak penting ya sampai-sampai kamu nggak bisa ngasih kabar ke aku?” tanya Marsya dengann suara serak menahan tangisnya.
“Sya, nggak usah mikirin hal-hal yang justru buat kamu jadi stress sendiri,” ucap Tristan sedikit melembutkan nada bicaranya.
“Gimana aku nggak mikir gitu? Aku bahkan mikir kalau kemarin kamu itu bukanny ada urusan bisnis tapi kamu justru sebenarnya pingin kabur,” ucap Marsya dengan suara lirih.
Deggg …
Ucapan Marsya tersebut sukses menohok Tristan. Apa karena udah kelewat lama kami menjalin hubungan sampai-sampai Marsya bisa tahu apa yang gue pikirin ya?
“Apa sih?! Kenapa juga kamu mikir gitu Sya, ada-ada aja sih.” Terkekeh, berusaha menutupi rasa gugupnya. Saat ini Tristan seperti seorang kekasih yang ketahuan tengah berselingkuh.
“Ya gimana nggak mikir gitu kalau aku takut kamu itu kabur sama Qania. Aku masih ingat kalian pernah jalan bersama bahkan sampai ciuman. Ciuman Tris! Kita bahkan udah hampir lima tahun nggak ciuman semesra itu. Kamu nggak pernah cium aku sebelum aku yang memulainya dan bahkan itu nggak di bibir juga kan,” ucap Marsya kesal kemudian menarik kepalanya dari lengan Tristan saking kesalnya.
Lagi-lagi Marsya membuat Tristan mati kutu. Bagaimana dia bisa menebak dengan sangat tepat apa yang udah aku lakukan kemarin? Sial!
“Udah deh Sya, kamu nggak usah berpikir sejauh itu. Kamu kan tahu waktu itu aku sedang meminta bantuan Qania. Tenangin pikiran kamu, kita akan sampai di rumah kamu kurang dari lima menit lagi. Ntar orang di rumah kamu ngira kalau aku apa-apain kamu lagi,” ucap Tristan berusaha menyudahi pembicaraan mereka yang terus saja membuatnya tertohok.
Marsya hanya berdehem, ia kembali merapihkan penampilannya kemudian berusaha tersenyum untuk menutupi kekesalannya saat ini. Bagaimanapun juga ia tidak ingin keluarganya curiga, bisa-bisa ia batal tunangan malam ini.
Sya, maafin gue jika nanti gue nyakitin elo. Maafin gue Sya. Tapi gue juga nggak bisa ngontrol perasaan gue ke Qania. Rasanya beda Sya. Saat gue sama Qania rasanya gue tiap saat dibuat jatuh cinta berkali-kali dan ngerasa bukan pria berusia tiga puluh tahun tapi masih dua puluh lima tahun. Hal yang nggak gue rasain ke elo gue rasain di Qania, Sya. Maafin gue. Gue harap suatu saat nanti lo bisa ngerti kalau ada hal yang lebih dari sekadar lamanya hubungan untuk menentukan keberhasilan hubungan itu. Rasa nyama Sya, gue nyaman sama Qania. Nyamannya beda sama yang gue rasain saat lagi sama lo. Lo boleh hujat gue sesuka hati lo nanti, tapi gue sungguh nggak bisa terusin ini sama lo kecuali itu adalah ketentuan Tuhan.
Tak lama kemudian mobil memasuki halaman rumah Marsya. Di depan rumah sudah ada tuan Alvindo, Tante Bendelina dan suaminya serta Juliana. Tristan dan Marsya turun untuk menyapa. Tak berselang lama Tristan berpamitan untuk kembali bekerja. Ia membawa mobil Marsya pergi ke kafe milik keluarga Alvindo dan Marsya pun pergi ke salon bersama Tante-nya dan juga adik sepupunya, Juliana.
.... . . . . ....
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1