Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Jadi Gila Demi Sahabat


__ADS_3

Qania menyetir motor Elin dengan sangat pelan dan hati-hati karena baru dua kali ia diajari oleh Arkana. Elin yang mengetahui Qania sedang gugup pun hanya bisa tertawa dalam hati. Bohong kalau ia tidak takut diboncengi oleh supir amatir yang mengaku jago ini, hanya saja ia yakin kalau Qania pasti akan hati-hati dan yang paling utama adalah perasaan hatinya.


Qania memarkirkan motor elin di taman di dekat rumah mereka, ia ingin mengajak Elin bercerita. Ia sudah siap untuk mengatakan kebenarannya yang sempat ia beberkan tadi di mall dan ia juga ingin menjadi pendengar yang baik untuk sahabatnya itu.


Kedua gadis itu kini tengah duduk di bangku taman favorit Qania, jangan Tanya alasannya, yang jelas itu adalah bangku bersejarah saksi bisu kisa cintanya dengan Arkana bermula. Setiap kali Qania duduk di bangku itu ia pasti akan kembali teringat bagaimana kegilaan Arkana saat memintanya yang lebih tepat lagi disebut memaksa itu menjadi pacarnya.


“Qan, senyum-senyum terus kamu, udah nggak waras ya? Aku yang patah hati kamu yang stress” Tanya Elin sambil menatap Qania yang tengah melamun.


“Eh nggak sayangku, Cuma lagi teringat kata-katamu tadi sama Fadly” kilah Qania.


“Eh? Kata-kata yang mana?” Tanya Elin.


“Itu loh kalimat yang biasa kamu pakai kalau diputusi pacar” Qania menahan tawanya.


“Buahahaha, yang itu. Hah, itu jurus jitu buat menjaga image Qan, hahaha” Elin kembali tertawa saat tak sengaja ia mengingat beberapa kali ia mengeluarkan kata-kata itu pada mantan-mantannya yang memutuskan hubungan dengannya.


“Kayaknya boleh aku contek tuh” kekeh Qania.


“Udah nggak perlu lagi kamu Qan, bentar lagi mau nyusul kak Ghaisan mana ada kata-kata putus. Yang ada kalu kamu ngomong gitu pas udah nikah Arkana malah gemas dan ngurung kamu di kamar selama tujuh hari tujuh malam” ceplos Elin membuat Qania menganga.


“Oh sudah pandai rupanya bahas masalah kamar ya” ucap Qania dengan nada nyinyir.


Bukannya membalas Elin malah semakin tertawa dan itu juga membuat Qania tertawa.


“Makasih Qan, berkat kamu aku jadi nggak sedih lagi” ucap Elin lirih kemudian memeluk Qania.


“Lin, aku bukan orang lain buat kamu. Kamu nangis aja biar bahu aku yang menjadi sandaranmu. Aku nggak mau kamu sok tegar di depanku, lagian dengan menangis dan mencurahkan isi hati kamu juga akan mendapatkan kelegaan. Nangis nggak bakal buat kamu terlihat lemah, tapi dengannya kamu bisa menjadi lega karena bisa menumpahkan isi hatimu. Sekalian cuci mata” ucap Qania sambil mengelus rambut Elin yang tengah berada di dalam dekapannya itu.


Baru saja Elin ingin menangis, namun ucapan Qania mengenai cuci mata itu langsung membuatnya terheran.


“Cuci mata Qan?” Tanya Elin merasa dongkol.


“Iya, kamu kan nangis nih, otomatis mata kamu berair dan akan mencuci mata kamu itu, menghilangkan debu dan kotoran di matamu. Lagian emang kamu selama ini cuci muka pernah gitu kamu cuci matamu dengan air, enggak kan?” jawab Qania dengan ringannya namun justru Elin yang merasa tertohok.


“Qan, bisa-bisanya ya kamu berkata bijak bersamaan dengan melawak. Gila kau” ucap Elin sambil geleng-geleng kepala.


“Hahaha, aku bisa jadi gila hanya untuk membuat kamu tertawa sayang” ucap Qania lalu menarik kepbali tubuh Elin kedalam dekapannya.


Tess.


Air mata Elin tumpah saat mendengar ucapan Qania, ia sangat terharu dengan ucapan sahabatnya itu yang rela melakukan apapun untuk melihatnya tertawa. Dalam hati ia bersumpah tidak akan menyia-nyiakan Qania sebagai sahabatnya.


“Qan, kamu kok bisa tahu sebanyak itu tentang Fadly dan cewej j@lang itu?” Tanya Elin sambil menyandarkan kepalanya di bahu Qania.


“Arkana” jawab Qania.


“Maksud kamu Arkana yang ngasih tahu kamu gitu?” Tanya Elin lagi.


“Yap, sahabat kesayanganku cepat tanggap rupanya” ucap Qania memuji Elin.


“Sejak kapan?”,.


“Beberapa hari setelah kita berangkat KKN Arkana tidak sengaja melihat Fadly sama si some one like you itu” jawab Qania.


“Someone like you?” beo Elin.


“Iya, kamu tahu kan siapa penyanyinya lagu itu?” Tanya Qania gemas.


“Adelle” jawab Elin dengan polosnya.


“Nah itu tahu” ketus Qania.


Sejenak Elin berpikir, kemudian ia kembali terkekeh saat menyadari maksud terselubung dari ucapan Qania tersebut.


“Oh hehe, terus?”,.


“Ya Arkana waktu itu ada rapat sama kliennya tapi dia tinggalin begitu aja demi mencari tahu hubungan Fadly dengan someone like you itu” cerita Qania.


“Wah Arkana sweet banget sih. Aku jadi terharu gara-gara aku dia sampai bela-belain ninggalin rapatnya” ucap Elin dengan mata yang berkaca-kaca.


‘Aku berharap kalian berjodoh. Kalian adalah dua orang yang sangat baik dan begitu peduli, aku nggak nyangka Arkana meninggalkan rupiah demi menyelamatkan hubungan sahabat Qania’,.


“Ya gitu, makanya aku cinta mati sama dia” jawab Qania datar, karena ia sadar bukan saatnya untuk pamer seberapa keren dan sweetnya pacarnya itu.


“Terus Qan?”,.


“Makanya kalau aku lagi ngomong jangan dipotong-potong” tukas Qania.

__ADS_1


“Hehe, oke”,.


“Jadi hari itu Arkana mengikuti Fadly sampai ke taman dan dia juga menguping pembicaraan mereka yang ternyata Fadly emang udah selingkuh jauh sebelum kita berangkat KKN dengan alasan karena kamu nggak mau menghangatkan ranjangnya itu. arkana geram namun ia tidak ingin ikut campur, makanya dia ceritain ke aku waktu dia datang ke tempat kita KKN” cerita Qania.


“Udah lama Qan? Dan kamu baru bilang hari ini ke aku? Kamu tega Qan” isak Elin.


“Aku waktu itu udah mau cerita ke kamu, tapi Arkana melarang. Dia nggak mau jadi penyebab kalian pisah karena laporannya. Dia juga nggak mau buat kamu terbebani dengan memikirkan masalah percintaan kamu. Dia bahkan cegah aku buat ngomong karena dia nggak mau kamu nekad pulang dan ninggalin KKN hanya buat cowok lucnut kayak dia. Dan satu lagi, kami berdua sepakat kalau tidak ada dari kami yang ingin memberitahukan ini ke kamu sampai kamu melihat dengan mata kepala kamu sendiri Lin. Kita nggak mau disebut sebagai perusak hubungan orang” ungkap Qania sambil menahan isak tangisnya.


Elin semakin terisak mendengar penuturan Qania, sebegitu pedulinya pasangan romantic itu pada dirinya. Bahkan ia yang hanya sahabat Qania pun menjadi tanggung jawabnya. Elin menjadi menyesal karena dulu sempat berniat untuk memisahkan Qania dengan Arkana.


“Kalian sangat peduli kepadaku, terima kasih Qan” tangis Elin pecah diikuti oleh tangisan Qania.


“Aku sangat merasa bersalah padamu Lin, aku, aku orang yang sudah mengenalkanmu pada bajingan itu sampai akhirnya kau harus merasakan sakit hati seperti ini. Marah lah padaku Lin, tapi jangan musuhi aku” tangis Qania pecah, ia memeluk erat tubuh elin.


“Qan, jangan ngomong kayak gitu hikss. Kamu nggak salah, dia yang salah Qan. Dan berkat kamu dan Arkana juga aku bisa terhindar dari niat buruknya padaku. Jangan merasa bersalah lagi Qan, hatiku sakit jika kau begini” tangis Elin, ia juga semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Qania.


“Sejarah terulang lagi Lin, dengan orang yang sama pula. Aku pikir dai berbeda karena sejauh ini kalian baik-baik saja bahkan hubungan kalian bertahan lama. Aku sungguh nggak tahu akan jadi begini Lin, maafkan aku, hikss”,.


“Berhentilah meminta maaf atas kesalahan yang tidak kau perbuat Qan. Cepat atau lambat aku pun akan tahu semuanya. Dan ini juga tandanya Tuhan masih sayang ke aku dengan memperlihatkan siapa laki-laki yang ku pilih itu” Elin melepaskan pelukannya sambil mengusap air mata di wajah Qania.


“Aku akan memberikan dia pelajaran” tandas Qania, ia pun langsung melakukan hal yang sama dengan Elin dan menghapus air mata di wajah Elin.


“Makasih Qan, tapi itu nggak perlu. Aku juga udah ikhlas kok” ucap Elin sambil berusaha menampilkan senyum manisnya.


“Kau nampak jelek saat menangis Lin” ejek Qania.


“Kata siapa aku jelek saat menangis, hmm? Kata Yoga aku cantik kok kalau menangis” ceplos Elin yang langsung membuat Qania menyeringai puas.


“Upsss” cepat-cepat Elin membekap mulutnya dengan kedua tangannya saat menyadari maksud dari senyuman devil Qania itu.


“Santai aja, aku nggak dengar kok” ledek Qania membuat Elin memelototkan matanya.


“Oh jangan-jangan kamu sengaja buat aku dekat sama Yoga karena ini ya?” selidik Elin.


“Emm gimana ya?” Qania memasang pose seolah sedang berpikir dan mencari jawaban atas pertanyaan Elin.


“Dih rese deh” gerutu Elin sambil menimpuk bahu Qania.


Keduanya pun tertawa setelah menangis tersedu-sedu itu.


“Itu semua benar kok Lin, dia sengaja nggak ngelarang Yoga dekatin kamu” teriak seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi.


“Arkana Wijaya”,.


“Kakak”,.


Dua orang itu adalah Arkana dan Ghaisan. Mereka tersenyum melihat dua gadis itu terkejut dengan mulut yang terbuka lebar seperti itu.


“Kalian sejak kapan disini?” Tanya Elin.


“Sedari kalian disini” jawab Ghaisan kemudian duduk di sebelah Elin.


“Sayang kau cengeng sekali sih” Arkana mengelus puncak kepala Qania dengan sayang.


“Kenapa bisa kalian tahu kami disini?” Tanya Elin yang sangat penasaran.


Karena tak ingin membuat dua gadis itu penasaran, Arkana pun menceritakan bagaimana mereka bisa sampai di taman itu.


 


Flash back on…


 


“Bang, lo itu tentara bang. udah biasa ngadepin musuh dan udah sering berada dalam situasi yang berbahaya dan menangtang nyawa. Masa mau nikah aja lo gugupnya bukan main sih” oceh Arkana, saat ini ia tengah menenangkan Ghaisan yang sedari tadi gelisah karena lusa akan melakukan ijab qabulnya.


“Beda Arka, situasinya beda. Saya lebih memilih mengahadapi musuh di medan perang ketimbang menghadapi penghulu di pelaminan” cetus Ghaisan yang akhirnya ikut duduk bersama Arkana di teras samping rumahnya.


“Wowww, keren. Mantap tuh kata-kata, lo lagi pantun ya” Arkana bertepuk tangan mengagumi ucqapan yang tidak sengaja terdengar seperti pantun.


“Arkana, kalau kamu datang hanya untuk membuat saya semakin pusing lebih baik kamu pulang dari pad…”,.


“Wait bang, ada telepon” sela Arkana saat merasakan ponselnya bergetar di dalam saku celananya.


“Hallo Lang, ada apa bro?” Tanya Arkana sat menjawab telepon temannya yang bernama Elang.


“Bro lo dimana sekarang” tanyanya dengan suara yang terdengar panik.

__ADS_1


“Gue lagi di rumah abang gue, kenapa?”,.


“Bro, gue lihat Qania di mall lagi berantem sama cowok yang waktu itu kita kerjain. Mantannya Qania itu, sama cewek yang waktu itu juga”,.


“Appaa? Oke bro, makasih atas infonya”,.


“Oke, sama-sama bro”,.


Setelah memutus panggilan, Arkana bergegas berdiri dan langsung berpamitan pada Ghaisan.


“Bang gue pergi dulu, ada urusan gawat darurat” pamit Arkana.


“Tunggu, ada masalah apa?” Tanya Ghaisan ikutan panik.


“Ya udah nggak bisa lagi gue tutupin. Itu teman gue nelepon danbilang kalau Qania lagi berantem sama pacarnya Elin di mall” jawab Arkana sambil menahan amarahnya.


“Appaaa? Kenapa bisa? Saya ikut titik” tandas Ghaisan yang langsung tersentak kaget.


“Oke, kuy deh”,.


Arkana dan Ghaisan bergegas berjalan ke rumah Qania karena disana ia memarkirkan motornya. Setelah berpamitan pada pak Roni, Arkana dan Ghaisan pun langsung melaju ke mall.


Sesampainya di mall, Ghaisan dan Arkana tak sengaja melihat Qania sedang berjalan di rangkulan Prayoga dan Elin juga di sebelah Prayoga. Hal itu membuat Arkana merasa lega, tiba-tiba saja rasa cemburu dan posesifnya hilang begitu saja.


“Sepertinya mereka baik-baik saja” ucap Ghaisan sambil terus menatap dua gadis yang tengah beradu argument itu.


“Hm syukurlah ternyata ada Yoga disini” Arkana bernapas lega.


“Itu bukannya cowok yang suka sama Elin?” Tanya Ghaisan.


“Benar bang” sahut Arkana.


Tanpa Arkana ketahui, dibelakangnya Ghaisan menyeringai. Ia kembali mengamati dua gadis yang tiba-tiba saja tertawa itu dengan suara keduanya yang begitu berisik.


Ekor matanya juga tak sengaja melihat Prayoga yang masih berdiri jauh dari Qania dan Elin sambil tersenyum menatap adik kesayangannya itu. di belakang Prayoga juga ada FAdly, membuat Ghaisan tersenyum kecut saat melihatnya tengah terbakar cemburu.


“Heran deh gue, mereka itu tadi lagi bantah-bantahan terus sekarang ketawa-ketiwi. Dan lagi mereka itu Cuma dua orang tapi suaranya masya Allah sangat berisik” celetuk Arkana sambaing beristigfar mendengar suara tawa tunangannya itu.


“Bukannya bagus kalau mereka memperlihatkan kelakuan mereka yang sebenarnya?” Tanya Ghaisan namun tetap fokus melihat ke arah dua pria yang sedari tadi ia amati.


“Ya gue nggak suka lah, ntar orang-orang pada jatuh cinta dengar suara tawa pacar gue, gue nggak rela” Arkana kesal dengan hal yang kedengarannya sangat aneh bagi Ghaisan.


“Mereka udah jalan, kita samperin atau tidak?” Tanya Ghaisan.


“Kita ikutin aja. Lagian gue juga takut lihat Qania bawa motor, dia baru dua kali gue ajarin soalnya” jawab Arkana.


“Appaa? Apa kamu gila membiarkan mereka? Kalau mereka kecelakaan gimana?” gerutu Ghaisan.


“Tenang bang, gue yakin seratus persen Qania bakalan berhasil bawa motor itu. Secara dia itu calon istri pembalap nomor satu di provinsi kita” ucap Arkana dengan bangganya membuat Ghaisan mendengus kesal.


Akhirnya Ghaisan pasrah saja dan menuruti Arkana yang membawanya mengikuti kemana dua gadis itu pergi.


Sampailah mereka di taman, mereka melihat kedua gadis itu tengah tertawa ditengah kesedihan mereka.


“Udah terjawab kan rasa penasaran lo yang sedari tadi itu?” Tanya Arkana.


“Hmm, brengsek si Fadly itu udah saya bela tapi tidak tahu terima kasih” umpat Ghaisan.


“Sangat disayangkan dia membelok dari Elin” gumam Arkana.


“Terima kasih juga untukmu, kau sangat keren” puji Ghaisan sembari tersenyum tulus pada Arkana.


“Woow apa tadi, gue dipuji oleh mayor Ghaisan Yudistira. Sungguh, dunia akan mencatat rekor ini” ucap Arkana sambil geleng-geleng kepala.


“Lebay lu. Entar juga kalau kamu tahu sesuatu tentang Qania kamu bakalan kebakaran jenggot” cibir Ghaisan.


“Maksud kamu apa bang?” Tanya Arkana sangat penasaran.


Ghaisan hanya menyeringai, ia enggan menjawab pertanyaan Arkana itu. biarlah dia tahu dari Qania langsung.


“Ayo kita samperin mereka” ajak Ghaisan kemudian melepas helmnya dan turun dari motor Arkana.


“Wah bang, lo benar-benar buat gue mati penasaran” Arkana berdecak kesal, tapi tetap juga mengikuti Ghaisan.


 


Flash back off….

__ADS_1


...☘☘☘☘☘☘☘☘...


__ADS_2