Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Mengurus KRS


__ADS_3

Raka dan Qania sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengukur kota Y. Seperti saat ini, keduanya tengah tertawa di atas motor menuju jalan pulang ke rumah nek Nilam. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan keduanya masih berada di jalanan.


‘Bisa nggak gue memohon pada Tuhan agar gue bisa menikmati waktu ini seterusnya. Gue berharap Tuhan tidak memberikan gue harapan palsu’,.


‘Raka, kamu mengingatkanku akan Arkana. Tapi sayang aku tidak bisa menjanjikanmu apapun karena aku tidak bisa membuka hatiku untuk siapapun’,.


‘Bukan tidak Qania, kau hanya belum bisa membuka hatimu dan aku akan terus berusaha membuka hatimu itu. Seperti batu yang terus ditetesi air dan akhirnya hancur juga, gue yakin gue bisa ngelakuin itu ke elo juga’,.


Sepanjang jalan Qania dan Raka hanya saling membatin seolah keduanya saling tahu isi hati masing-masing.


Jika Qania dibonceng Arkana maka tangannya akan melingkar full di perut Arkana. Berbeda dengan Raka, Qania hanya bisa memegang jaket Raka dan enggan untuk menyentuh lebih tubuh Raka. Raka memakluminya dan ia juga tidak berani untuk mencuri kesempatan agar Qania bisa memeluknya.


Raka takut, ia sangat takut Qania akan marah dan tidak ingin lagi menemuinya. Baginya mendapat kesempatan jalan bersama Qania saja sudah sangat menyenangkan dan membahagiakannya.


‘Gue bakalan merebut hati lo perlahan-lahan Qania’,.


Tanpa terasa motor Raka sudah memasuki halaman rumah nek Nilam, ia pun menghentikan motornya tepat di depan teras rumah lalu Qania turun dari motor Raka.


“Makasih ya Ka udah ngajakin aku jalan-jalan, traktir makan. Sering-sering ya” kekeh Qania namun lain bagi Raka yang justru bersorak dalam hati.


‘Tentu saja Qan, gue anggap itu undangan lo’,.


“Boleh juga tapi gantian elo yang traktir gue” ucap Raka mencoba menggoda Qania.


“Bisa diatur” ucap Qania sambil mengedipkan sebelah matanya yang mana membuat Raka kesulitan menelan salivanya.


“Ya sudah gue pulang dulu udah malam” pamit Raka.


“Nggak mampir dulu Ka?” tanya Qania namun terlihat dari sorot matanya ia sedang merencanakan sesuatu hanya saja Raka yang terlalu bahagia tidak melihatnya.


“Boleh deh kalau lo nggak keberatan” ucap Raka antusias.


“Ya jelaslah aku keberatan, dah sana pulang kamu. Tadi itu hanya sekedar basa-basi doang” kekeh Qania membuat Raka mendengus.


“Ya sudah gue balik, nanti gue datang lagi” ucap Raka kemudian menghidupkan mesin motornya.


Setelah memastikan Raka sudah pergi, Qania pun masuk ke dalam rumah nek Nilam. Ia sudah merasa sangat lelah setelah berjam-jam menghabiskan waktu bersama Raka mengukur jalan. Ia pun bergegas mandi dan membersihkan dirinya.


Karena merasa sangat lelah dan sudah makan malam bersama Raka juga, Qania langsung memutuskan untuk tidur.


*


 


Seminggu lagi kuliah akan berjalan seperti biasanya dengan jadwal baru dan semester baru serta mata kuliah baru pula. Kampus sudah mulai ramai dengan para mahasiswa yang sedang mengurus Kartu Rencana Studi mereka.


Di rumah nek Nilam nampak Qania sedang kesal sambil mondar-mandir di teras rumah dan sesekali melirik jam tangannya.

__ADS_1


“Hah harusnya tadi aku berangkat sama Lala atau aku sekarang jalan kaki saja ke kampus. Nungguin si jam karet itu membuatku kesal” gerutu Qania sambil melangkah meninggalkan rumah.


Qania memutuskan untuk berjalan kaki saja ke kampus, tidak begitu jauh dari rumah kostannya juga. Qania kesal menunggu Raka yang tidak datang padahal sudah hampir sejam Qania menunggunya. Semalam Raka berpesan untuk menunggunya karena ia ada kepentingan di kampus Qania.


Kepentingan yang sebenarnya adalah mengantar Qania dan memastikan tidak ada yang mendekati Qania. Namun dengan polosnya Qania mempercayai Raka dan menunggunya. Tadi Lala sudah menawarkan untuk berangkat bersama namun Qania menolak dan menyuruh Lala membawa motornya.


Sambil terus menggerutu Qania berjalan memasuki area kampus, ia bahkan tidak melihat Julius yang sedang menatap heran padanya yang tengah berbicara sendiri. Ia melewati Julius yang memang sengaja menunggu kedatangannya di parkiran namun sayang yang ditunggu justru berlalu begitu saja.


“Apa dia sedang berbicara pada makhluk penunggu kampus ini?” gumam Julius yang terus memperhatikan Qania.


Julius yang sudah tidak melihat keberadaan Qania baru tersadar, dengan cepat ia berlari masuk ke gedung kampus untuk menyusul Qania.


Di dekat ruang Biro Akademik Kampus nampak sangat ramai, membuat Qania menghela napas panjang untuk menunggu giliran dirinya mengambil KRS. Julius yang terus berlari akhirnya berhenti tepat di depan Qania dengan napas yang terengah-engah membungkukkan badannya.


“Julius kamu abis dikejar setan?” tanya Qania heran.


“Hahhh ya kali Qan, gue ngejar elo tadi” jawab Julius sambil menatap Qania.


“Kok aku nggak tahu?” gumam Qania namun masih didengar oleh Julius.


“Kamu kapan datangnya dari kotamu Qan?” tanya Julius mengalihkan.


“Udah sekitar dua mingguan” jawab Qania.


“Apppaaa?”,.


“Ya itu karena elo sudah lama disini tapi nggak ngasih tahu gue padahal hampir tiap hari gue chat elo Qan” ucap Julius dengan lantang membuat sekeliling mereka menoleh.


“Ya kamu kan nggak pernah nanya” ucap Qania datar .


“Oh iya juga ya” ucap Julius.


Qania mengajak Julius untuk duduk di taman di depan ruang BAK itu untuk menunggu giliran mereka. Qania sibuk membaca novel yang ada di aplikasi ponselnya sementara Julius sibuk menatap wajah imut Qania yang meskipun sudah memiliki anak tetap saja terlihat muda dan imut.


Disela-sela mereka menunggu, rombongan Rosa datang menghampiri mereka yang mana membuat Julius semakin kesal. Ia tidak suka berdekatan dengan Rosa dan sekarang Rosa sudah mengganggunya yang sedang menikmati indahnya ciptaan Tuhan di dekatnya ini.


“Oh oh oh si jodi sedang duduk berdua nih dengan salah satu pangeran kampus” ucap Rosa dengan nada mencibir Qania.


“Jodi?” beo Julius.


“Iya sayang, Jodi itu jomblo ditinggal mati” ucap Rosa dengan lantang membuat Qania geram namun ia memilih fokus membaca saja.


“Jaga ucapan lo ya Ros, lo harus ingat semua gerakan elo itu diawasi oleh gue dan Qania dan ruang gerak elo sekarang udah sempit” ucap Julius dingin enggan menatap Rosa.


‘Hah brengsek, semenjak hari itu gue udah nggak bisa lagi sembarangan buat ngehina ataupun membalas perlakuan Qania dulu. Kampus udah kasih gue peringatan ditambah hukuman dan ancaman Papi. Ah Qania sialan lo’,.


Qania hanya tersenyum tipis setelah Julius membuat Rosa mati kutu dengan ucapannya. Qania bisa saja membalas Rosa namun ia enggan dan juga malas saja berurusan dengan orang yang ujung-ujungnya bakalan kalah juga.

__ADS_1


“Alah mentang-mentang ada Julius lo santai-santai aja ya Qan. Lo juga Julius ngapain belain Qania, lo suka ya sama dia” bentak Rosa.


“Ya kalau gue emang suka sama Qania lo mau apa?” sungut Julius.


Wajah Rosa merah dan kekesalan begitu nampak diwajahnya setelah mendengar ucapan Julius.


“Haha becanda lo Jul, lo nggak mungkin suka sama janda anak satu yang jelas-jelas lebih tua juga dari elo” cibir Rosa.


“Benar tuh Jul, lo ada-ada saja” timpal Evi, sahabat Rosa.


“Daripada sama Qania bekas orang mending sama Rosa atau sama gue” sambung Vera sahabat Rosa juga.


“Emang lo yakin kalau kalian masih perawan”,.


Skak mat, ucapan Julius berhasil membungkam mulut Rosa dan gengnya serta membuat wajah mereka memerah menahan kekesalan.


“Julius lo benar-benar ya” geram Vera mengepalkan tangannya.


“Lo mau apa hah?” tantang Julius, sementara Qania tenang-tenang saja mendengarkan perdebatan empat orang itu.


“Lo nggak bisa ngomong seperti itu Jul, gue bisa nuntut elo atas tuduhan pencemaran nama baik” ucap Rosa kesal.


“Oh ya?”,.


Julius sangat jelas sedang memainkan emosi tiga orang wanita di depannya ini. Niatnya hanyalah agar mereka berhenti mengganggu Qania dan lekas menyingkir dari hadapannya.


“Elo benar-benar ya” geram Evi.


“Yuk guys cabut” ajak Rosa, ia tidak ingin meladeni Julius karena ia sadar akan hukumannya dan juga ia begitu memuja Julius hingga dengan sangat berat ia memilih merendahkan egonya agar tidak terlihat buruk di mata Julius padahal ia saja yang tidak sadar kalau keburukannya terpampang dengan nyata.


Julius menyeringai puas setelah kepergian tiga cewek pembuat onar itu, namun hati kecilnya merasa kecewa karena Qania tidak merespon sama sekali ataupun berterima kasih atas pembelaan Julius. Apalagi pernyataan perasaannya di depan Rosa dan kawan-kawannya itu sama sekali tidak dibahas oleh Qania.


‘Hah usaha gue mungkin masih kurang, semangat Julius’,.


Qania bisa melirik dengan ekor matanya bagaimana Julius beberapa kali menghembuskan napas panjang. Qania bukannya tidak tahu akan perasaan Julius, hanya saja ia tidak ingin memberikan harapan palsu untuk Julius.


“Eh Julius ayo masuk, udah kosong tuh” ajak Qania.


Julius hanya bisa pasrah, ia pun mengikuti langkah Qania memasuki ruang BAK.


 


 


 


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


__ADS_2