Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Tetap Saja


__ADS_3

Syaquile melajukan mobil meninggalkan Qania yang sedang berdiri di depan gerbang rumah Arkana yang tertutup rapat itu. Ia tadinya ingin menunggu bersama namun Qania menyuruhnya pulang untuk beristirahat sejanak sebelum melakukan rencana mereka. Akhirnya Qania berdiri sendirian menunggu pak Anwar datang untuk membuka pintu gerbang. Namun sampai sepuluh menit tidak ada tanda-tanda siapapun yang keluar dari rumah klasik mewah tersebut.


"Mereka pada kemana ya?" gumam Qania sambil mengutak-atik ponselnya mencoba menelepon pak Anwar.


"Assalamualaikum Pak, lagi dimana?" tanya Qania begitu pak Anwar menjawab panggilannya.


"Oh lagi di acara sebelah. Saya di depan rumah Pak, bisa tolong bukain pintunya?"


"Iya Pak, saya tunggu ya."


Qania kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya. Tak lama kemudian terlihat pak Anwar yang sedang mengendarai sepeda motor. Pak Anwar berhenti di samping Qania lalu turun dari motor setelah mematikan mesinnya.


"Maaf Non, kami lagi bantu-bantu di kompleks sebelah sama bi Ochi juga. Anaknya pak RW nikahan Non," ucap pak Anwar sambil membuka pintu gerbang.


"Iya, nggak apa-apa kok Pak. Saya juga yang nggak ngasih tahu kalau mau datang," ucap Qania sembari berjalan masuk ke halaman rumah tersebut.


"Non Qania butuh sesuatu? Biar saya panggilkan bi Ochi," tanya pak Anwar.


"Nggak kok Pak. Bapak kembali aja ke rumah pak RW. Nanti saya hubungi kalau ada sesuatu. Lagian kalau ada yang jahat kan ada CCTV, hehe," gurau Qania.


"Hehe ... selera humor non Qania semakin bertambah ya," timpal pak Anwar.


"Hihihi ... pak Anwar ada-ada saja," kekeh Qania.


"Ya sudah Non, saya balik lagi ke rumah pak RW. Jaga diri ya Non. Oh iya mohon maaf tapi CCTV lagi rusak Non," ucap pak Anwar.


"Nggak apa-apa Pak. Bapak balik aja lagi, saya baik-baik aja kok," ucap Qania kemudian masuk ke dalam rumah.


Pak Anwar pun meninggalkan rumah tak lupa ia menutup pintu gerbang sebelum menaiki motornya.


Qania berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung membuka pintu dengan kunci yang tadi diberikan oleh Pak Anwar.


"Assalamualaikum," ucap Qania lirih.


Inilah yang selalu membuat Qania sedih tatkala menginjakkan kaki di rumah penuh kenangan ini. Bayang-bayang Arkana langsung melintas di benaknya. Ia bahkan bisa melihat dirinya dan Arkana yang sedang bercanda di ruangan ini. Qania mengusap air matanya yang sempat menetes tanpa izinnya.


"Bagaimanapun aku berusaha tegar, namun tetap saja aku belum bisa merelakanmu. Tetap saja hatiku sedih setiap mengingatmu. Aku sama sekali belum bisa melupakanmu, Arkana. Aku tidak terbiasa dan tidak akan bisa melupakanmu Arkana. Hatiku terlalu mengenalmu dan terlalu menginginkanmu. Aku bahkan ragu bisa mencintai orang lain selain dirimu dan Tristan," ucap Qania kemudian memutuskan untuk naik ke lantai dua menuju ke kamarnya.


Qania membuka pintu kamar dan pemandangan yang sama seperti biasa pun langsung tersuguhkan di hatinya. Ia meradang menatap fotonya yang bertuliskan 'Malaikat Tak Bersayap' itu. Setiap kali Qania membuka pintu kamar ini, selalu saja ada yang sesak di dadanya. Ia pun juga langsung terbayang bagaimana ia dan Arkana menghabiskan malam pertama di kamar ini. Semuanya tergambar di benaknya dan itulah yang membuat Qania lebih memilih memendam rasanya karena jangankan untuk bercerita, dengan mengingatnya saja ia sudah berderai air mata. Ia tidak ingin orang menganggapnya cengeng atau lebay karena sudah lima tahun ditinggal namun masih saja terus bersedih.


Mereka tidak tahu apa, bagaimana rasanya ditinggal selama-lamanya saat lagi sayang-sayangnya.


Sambil terus menekan perasaannya, Qania berjalan masuk dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Ka, I Miss you so much. Aku rindu kamu, Ka. Aku harap kamu masih hidup, meskipun kamu kini entah berada dimana. Aku harap apa yang aku harapkan bisa menjadi kenyataan. Tolong Ka, jangan tinggalkan aku kayak gini. Masih ada banyak hal yang kamu janjiin ke aku dan belum kamu penuhi. Tolong kembalilah, mari kita bangun rumah tangga kita dengan semua yang kamu janjiin ke aku," ucap Qania sambil menutup matanya dan tanpa terasa air mengalir pelan dari kedua sudut matanya.


.... . ....


Seorang pria tampan terlihat sedang berjalan keluar dari bandara. Penampilannya cukup mencolok dengan mengenakan kacamata hitam dan juga masker yang menutupi wajahnya. Siapa lagi kalau bukan Tristan. Ia memilih menutupi wajahnya sebelum mengundang kehebohan seperti Qania yang pingsan waktu itu. Mungkin saja di bandara ada yang mengenal Arkana, sehingga ia memutuskan untuk menutupi wajahnya, pikirnya.


"Jadi ini kampung halaman Qania," ucap Tristan setelah masuk ke dalam taksi.


"Mau kemana Mas?" tanya supir taksi.


"Eh iya, gue mau kemana ya?" gumam Tristan.


Gue hubungi Qania aja kali ya. Tapi ntar nggak jadi kejutan dong, batin Tristan.


"Bentar ya Pak, saya hubungi teman saya dulu dia lagi dimana sekarang," jawab Tristan dan supir taksi itu pun mengangguk.

__ADS_1


Lama Tristan berpikir ...


Ia menggeplak kepalanya karena baru teringat kalau Qania itu sangat mudah untuk di temukan.


"Ke rumah pak Zafran Sanjaya saja Pak," ucap Tristan.


"Pak Zafran? Pak Bupati maksudnya?" tanya supir taksi itu cukup terkejut.


"Iya Pak," jawab Tristan mantap.


Akhirnya supir taksi itu pun membawa Tristan ke rumah Zafran Sanjaya. Sesampainya disana terlihat pak Roni sedang bercakap-cakap dengan beberapa tetangga yang mulai sibuk berdatangan ke rumah Elin.


Tristan menurunkan pintu mobil kemudian ia turun dengan membuka sedikit maskernya untuk mencoba bertanya kepada para warga yang tengau berkumpul di pos penjagaan pak Roni.


"Selamat sore, benar ini rumahnya Qania Salsabila?" tanya Tristan.


Orang-orang yang berkumpul dan sedang asyik bercerita itu pun menoleh.


"Iya benar, ada keperluan apa ya Mas?" tanya Pak Roni.


"Saya teman Qania dari kota Y. Ada keperluan kuliah Pak. Emm, Qanianya ada?" tanya Tristan lagi.


"Oh ya ampun tamu jauh rupanya. Tapi sayang non Qanianya nggak ada di rumah Mas. Coba deh ke rumah pak Setya, non Qania biasanya disana Mas," jawab pak Roni dengan ramah.


"Oh gitu ya Pak. Kalau Syaquile ada?" tanya Tristan lagi, hanya sekadar berbasa-basi.


"Oh nggak ada juga, Mas. Tadi keluar lagi nggak tahu kemana," jawab pak Roni. "Kalau boleh tahu Mas namanya siapa ya?" tanya Pak Roni lagi.


"Oh saya Tristan Pak. Kalau begitu saya permisi dulu ya, mau langsung ke Qania," ucap Tristan berpamitan.


"Iya Mas," sahut Pak Roni.


"Ba-baik Mas," ucap supir tersebut kemudian langsung melajukan mobilnya menuju ke alamat yang akan mereka tuju.


Bagaimana ia tidak gugup, kalau saja orang-orang tahu siapa yang menjadi pimpinan perusahaan taksi tersebut. Dia adalah Zafran Sanjaya dan tidak ada yang tahu bahwa perusahaan taksi pun miliknya terkecuali bawahannya. Supir itu gugup karena ia takut akan bertemu langsung dengan pimpinannya dan menilai pekerjaannya. Syukurlah tidak seperti apa yang ia pikirkan.


Syaquile pun tidak menyadari bahkan tidak mengetahui bisnis Papanya yang satu ini. Ia mengira bahwa bisnis yang akan ia urusi itu adalah perkebunan dan pertanian, padahal yang dimaksud oleh Papanya adalah PT Sanjay Transport. Begitupun dengan Qania yang tidak tahu, hanya Alisha dan Setya lah yang selama ini mengetahuinya diluar bawahan Zafran.


.... . . ...


Qania terbangun dari tidurnya, ternyata setelah merasa sedih dan rindu yang sangat menyesakkan dadanya itu ia justru tertidur dan saat ini ia sangat kelaparan. Dengan cepat ia berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian ia sudah keluar dengan pakaian lengkap.


Qania hanya menyisir rambut dan membiarkannya terurai serta memoles sedikit bedan dan melapisi bibirnya dengan pelembab.


Qania pun membuka laci di lemarinya untuk mengambil kunci motor yang selalu ia simpan di tempat itu. Ia hanya takut akan ada orang lain yang akan memakai motor milik Arkana itu.


Qania pun bergegas keluar rumah dan langsung menuju ke garasi untuk mengambil motor.


"Permisi!!"


Qania yang baru saja memutar arah motornya langsung mematikan kembali mesin motornya dan berjalan keluar dari garasi untuk melihat siapa yang bertamu.


"Iya, cari siapa ya?" tanya Qania sambil memicingkan mata melihat pria yang sedang beridir di depannya dengan mengenakan kacamata hitam dan masker di wajahnya.


Ia pun membuka kacamata dan maskernya lalu memasang senyuman termanisnya.


"Tristan!!" pekik Qania, ia sangat terkejut namun pria di depannya hanya cengar-cengir.


"Apakah kau begitu merindukanku sampai-sampai begitu senang meneriaki namaku?" ledek Tristan.

__ADS_1


"Kau!! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Qania sambil celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitar rumah.


"Tentu saja menemui calon istriku. Bagaimana sih," jawab Tristan enteng.


Qania pun langsung menarik tangan Tristan untuk masuk melewati pintu samping yang terhitung dengan garasi. Ia tanpa sadar membawa Tristan hingga ke kamarnya.


Deggg ....


Jantung Tristan berdetak kencang begitu melihat kamar yang dihiasi dengan foto Qania dan Arkana. Ditambah lagi dengan foto yang paling besar yang berada di dinding atas tempat tidur.


Tristan terhuyung kebelakan, entah kenapa namun untung saja Qania dengan cepat menolongnya dan langsung membawa Tristan duduk di sofa.


"Kau kenapa?" tanya Qania panik.


"Entahlah, dadaku terasa sesak. Mungkin aku lapar," jawab Tristan masih memegangi dadanya.


"La-par?" tanya Qania bingung.


"Hmm ... apa kau tidak ingin mengambilkan ku makanan atau minuman?" tanya Tristan mendramatisir.


"Ambil saja sendiri. Inikan rumahmu," jawab Qania ketus namun ia tidak menyadarinya.


"Kau kan nyonya di rumah ini jadi ambilkanlah untukku," ucap Tristan merengek. Keduanya sama-sama tidak sadar dengan apa yang mereka katakan. Mungkin karena Tristan kurang fokus dan Qania yang panik.


"Begini saja, aku ini juga sedang lapar. Mau tidak ikut denganku ke kafe, aku mau makan gratis di kafeku," ajak Qania.


"Ide bagus," jawab Tristan.


Qania memutar bola matanya jengah, ia pun langsung merogoh ponselnya yang ada di dalam tas kecilnya yang sedari tadi menggantung di bahunya.


"Hallo Ro, kamu di kafe nggak?"


"Iya Qan, gue sama Rizal kebetulan lagi di kafe. Ada apa? Ingin datangkah?"


"Iya. Siapin dua ayam bakar," jawab Qania.


"Dua? Lo mau datang sama siapa Qan?"


"Sama Arkana," jawab Qania kemudian mengakhiri panggilannya.


Tristan menatap tak berkedip pada Qania yang menyebut dirinya Arkana. Ia menjadi terbengang sendiri.


"Kamu kenapa?" tanya Qania yang heran melihat Tristan.


"Ehh ... Ak-aku Tristan lho, bukan Arkana," ucap Tristan merasa canggung.


Aku tahu dan aku sengaja. Kapan lagi ngerjain Rizal sama Fero. Hmmm ... biar bagaimanapun mereka berdua adalah saksi perjalanan cintaku dan Arkana. Apa salahnya membagi Tristan dengan mereka. Tapi maaf untuk para orang tua, aku belum siap mengatakan hal ini pada kalian. Tunggulah waktunya nanti akan tiba, biar fakta yang berbicara, batin Qania.


"Kok jadi kamu yang melamun?" tegur Tristan membuat Qania tersentak.


"Ya udah ayo," ajak Qania yang kini kembali ke mode datarnya.


Dikit-dikit manis sikapnya eh tiba-tiba ketus lagi. Untung gue cinta, batin Tristan.


.... . . . . . ...


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...

__ADS_1


__ADS_2