
Arkana turun dari motornya dan langsung membuka helmnya, ia meletakkan helmnya di atas motornya. Ia menghampiri dua orang yang tengah turun dari motor itu. Kedua orang itu bertubuh agak besar tapi tidak lebih tinggi dari Arkana. Wajah keduanya pun terlihat sangar.
“Kalian tidak ada kerjaan lain selain menguntit orang pacaran hah?” ejek Arkana.
“Kurang ajar, siapa juga yang menguntitmu” elak mereka.
“Jadi dari kemarin dan kemarin dan kemarinnya itu kalian hanya kebetulan berada di tempat yang sama dengan kami? Apa kalian guy?” cibir Arkana membuat mereka tersulut emosi karena dikatai guy oleh Arkana.
“Baguslah kalau kau sudah tahu jika kami mengikutimu. Sekarang bersiaplah menemui malaikat pencabut nyawa” gertaknya dengan suara lantang.
Tatapan Arkana berubah dingin, ia mengepalkan kedua tangannya dan mengunci dua wajah itu di matanya.
“Jangan terlalu percaya diri, takdir bisa saja berbalik” ucap Arkana dingin.
“Bacot lo, serang dia” teriak yang satunya kemudian keduanya bergerak maju dan menyerang Arkana bersamaan.
“Brengsek, mereka berdua masa gue sendirian” umpat Arkana kemudian menangkis tendangan dari mereka.
Keduanya dengan brutal memberi serangan pada Arkana yang tentu saja bisa ditangkis olehnya.
Bughhhh…
Satu bogeman mentah mendarat di sudut bibir Arkana menyisakan memar disana membuat Arkana sedikit meringis.
“Brengsek!” umpat Arkana.
Arkana mengepalkan kedua tangannya dan dengan cepat ia memberi bogeman pada salah satu dari mereka dan tendangan pada yang lainnya. Perkelahian yang tidak ingin Arkana ladeni itu akhirnya berlangsung sengit juga. Arkana sampai kelelahan karena harus menghadapi dua orang sekaligus yang seperti tidak kehilangan tenaga itu.
Salah satu dari orang suruhan Juna itu sudah terkapar di aspal karena mendapat tendangan di lehernya dari Arkana. Sementara yang satunya lagi meskipun wajahnya sudah memar tapi ia masih saja terus melawan Arkana yang dengan beringas menghajarnya itu.
Bughhh…
“One kill” seru Arkana ketika berhasil melesatkan tendangannya di perut lawannya itu.
Pria itu berusaha bangkit dan masih saja berusaha melawan Arkana dengan napas yang sudah terengah-engah. Ia berjalan tertatih hanya untuk memberikan Arkana satu pukulan yang akhirnya malah berbalik karena Arkana malah menangkap tangannya dan memelintirnya hingga pria itu berteriak kesakitan. Satu tangan pria itu sudah tidak bisa ia gerakkan karena tadi Arkana berhasil mematahkan tulangnya.
“Lepaskan brengsek!”,.
Arkana menyeringa, kemudian ia melepaskan tangan pria itu.
“Two kill” seru Arkana setelah ia melepaskan pria itu namun bukan ia lepaskan begitu saja melainkan ia menendang pantat pria itu hingga jatuh terjerembab di aspal.
“Sialan” pria itu masih saja bisa mengumpati Arkana meskipun dalam keadaan sekarat.
Arkana dengan smirk di wajahnya berjalan mendekati pria itu, kemudian ia berjongkok di depan pria itu.
“Jangan berani-beraninya mengganggu kehidupanku” ucap Arkana dingin sambil menjambak rambut pria itu hingga kepalanya menengadah ke langit.
“Kau akan mati meski bukan di tanganku, kau tunggu saja” ucapnya.
Plakkk….
Arkana menampar wajah pria itu dengan kuat hingga ia pingsan. Arkana pun berdiri dan menginjak tangan pria yang sudah terkapar lebih dulu hingga ia berteriak kesakitan.
“Arrrghhh…”,.
“Kau pikir aku akan percaya kalau kau pingsan dari tadi hah? Dasar pecundang” ejek Arkana kemudian menginjak leher pria itu.
“Jangan coba-coba mengusikku. Kau tinggal pilih, penjara atau kuburan” ancam Arkana.
Arkana menurunkan kakinya dari leher pria itu lalu menendang dengan keras lehernya hingga pria itu pingsan, “Savage”,.
“Aku tidak akan membiarkan ada orang yang ingin mengusik kebahagiaanku dan keluargaku selama aku masih ada” gumam Arkana kemudian melenggang pergi menuju ke motornya.
Baru saja Arkana akan menyalakan mesin motornya, ia tidak sengaja mendengar dering telepon dari ponsel yang bukan miliknya. Arkana turun dari motornya dan berusaha mencari keberadaan ponsel tersebut.
“Boss?” Tanya Arkana pada dirinya sendiri ketika melihat siapa yang menelepon di ponsel yang ia temukan di rerumputan dipinggir jalan itu.
Arkana menggeser tombol hijau dan meletakkan ponsel itu di telinganya.
“Bagaimana kalian sudah berhasil membunuhnya?”,.
‘Suara ini sangat familiar. Tapi siapa?’ batin Arkana.
“Jawab brengsek! Gue bayar kalian mahal untuk menghabisi Arkana bukan untuk diam begini” bentaknya.
__ADS_1
“Tidak, mereka gagal” ucap Arkana menyeringai.
“Kau?”,.
“Ya ini gue, Arkana Wijaya. Selamat malam tuan Arjuna Wilanata” sapa Arkana dengan seringai liciknya.
“Bagaimana bisa?”,.
“Tentu saja bisa. Jangan jadi pecundang, jika berani hadapi gue sendirian jangan pakai kacung” ejek Arkana kemudian membuang ponsel itu entah kemana.
Arkana berjalan menuju motornya dan menaikinya kemudian menyalakan mesin motornya lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Helmnya ia letakkan di depan karena wajahnya yang memar membuatnya agak kesakitan jika memakai helm.
“Brengsek!” umpat Juna yang saat ini sedang berada di diskotik di kotanya.
“Kau memakiku?” Tanya Denis kesal.
“Bukan, jangan percaya diri” ledek Juna kemudian meneguk minumannya.
‘Masih saja kau berusaha mengusik hubungan Qania dan Arkana, Jun. Gue nggak pernah melihat elo seperti ini. Apakah segitu parahnya patah hati lo sama Qania?’ lirih batin Denis.
Setelah sidang Daren, Juna kembali ke kotanya. Dari jauh ia menyewa orang-orang untuk mengawasi Qania dan Arkana serta keluarga keduanya. Jika mereka ketahuan maka yang harus mereka lakukan adalah langsung membunuh. Begitulah perintah Juna pada orang suruhannya.
Denis bukannya tidak tahu, ia lebih memilih diam dan tidak ingin terlibat. Apa lagi saat ini ia sudah di tandai oleh Ghaisan, itu yang membuat ia diam dan cuek saja dengan apa yang dilakukan oleh Juna. Yang terpenting ia sudah mengingatkan Juna, selebihnya itu tinggal kesadaran dari Juna sendiri dan bukan lagi urusannya jika Juna sampai berhadapan dengan Ghaisan.
*
*
Qania terlihat cemberut di meja makan karena Arkana belum menghubunginya padahal jam sepuluh nanti ia harus ke kampus untuk acara yudisiumnya. Alisha dan Zafran hanya saling memandang melihat kegalauan putrinya itu. Jangan tanyakan Syaquile, remaja itu cuek saja dan lebih memilih menghabiskan sarapannya.
“Ma, pa, kak, aku berangkat sekolah dulu” ucap Syaquile setelah menghabiskan sarapannya dan menyalami kedua orang tuanya dan kakaknya.
“Hati-hati sayang” ucap mama dan papanya bersamaan.
“Belajar yang rajin, jangan Cuma main game” ujar Qania.
“Aku belajar kok kak, emang kakak berduaan mulu. Mentang-mentang sudah emmm…”,.
Qania dengan cepat membekap mulut Syaquile, membuat kedua orang tuanya menatap heran pada anak-anak mereka itu.
“Rasain. Bweee. Ma, pa, Syaquile pamitt, asslamu’alaikum” ucapnya kemudian berlari kencang sebelum mendapat sumpah serapah dari kakaknya.
Qania yang saat ini melihat tatapan aneh dari kedua orang tuanya cepat-cepat mencari ide agar tidak ditanyai macam-macam.
“Ma, pa, siapa yang bakalan antar Qania ke kampus? Hari ini Qania yudisium loh” rengeknya.
“Lah si Arkana kemana?” Tanya mamanya.
“Arkana lagi banyak kerjaan”,.
“Arkana nggak ada kabar”,.
Qania dan papanya saling memandang karena keduanya menjawab pertanyaan mamanya bersamaan.
“Papa tahu darimana Arkana banyak pekerjaan?” selidik Qania.
“Semalam dia bilang sama mama dan papa dan dia meminta papa yang mengantarmu ke kampus hari ini. Masa mama lupa sih?” ucap papanya sambil melirik sang istri dengan tatapan penuh maksud.
“Astagfirullah mama lupa pa” ucap Alisha namun dalam hati ia bertanya-tanya sendiri apa memang ia lupa dengan hal itu atau tidak.
‘Apa karena rambutku kemarin muncul satu uban sehingga aku jadi pikun ya?’ batin Alisha.
“Ya udah deh Qania ke kamar dulu, lumayan masih tiga jam, masih bisa tidur” ucap Qania kemudia melenggang pergi meninggalkan meja makan.
Alisha menatap Zafran lekat, dari tatapannya Zafran sudah mengerti kalau istrinya itu menuntut jawaban dari ucapannya tadi.
“Semalam Arkana diserang ma” ucap Zafran membuat Alisha langsung terkejut.
“Ya Allah pa, terus Arkana gimana?” Tanya Alisha cemas.
“Wajahnya memar ma, makanya dia nggak mau jemput Qania hari ini. Dia tidak mau Qania curiga dan trauma Qania muncul lagi” jawab Zafran kemudian menghela napas panjang.
“Ya ampun terus siapa yang mengobati luka-lukanya pa?” Tanya Alisha semakin khawatir.
__ADS_1
“Papa yang obati, semalam Arkana datang kesini ma” jawab Zafran.
Flash back on……
Pak Roni terburu-buru membuka pintu gerbang saat melihat Arkana kembali lagi ke rumah tuannya. Ia terkejut begitu melihat wajah memar Arkana dan langsung membawanya masuk ke dalam rumah. Kebetulan Zafran yang sedang begadang sambil memeriksa beberapa proposal di ruang kerjanya itu merasa haus sehingga ia keluar untuk mengambil minuman.
Zafran hampir saja menabrak pak Roni yang berjalan tergesah-gesah sambil membawa kotak obat.
“Maaf tuan saya tidak sengaja” ucapnya gugup.
“Kamu kenapa Ron? Apa kamu terluka?” Tanya Zafran sambil melirik kotak obat di tangan pak Roni.
“Bukan saya tuan tapi nak Arka, dia ada di depan” jawabnya.
“Arka? Ayo kita keluar” ajak Zafran panik.
Zafran terkejut melihat wajah Arkana yang dipenuhi lebam, sementara Arkana masih sempat memamerkan senyum tampannya itu. Zafran pun menyambar kotak obat di tangan pak Roni.
“Biar saya saja yang obati anak saya Ron, kamu tolong ambilkan minum untuk kami. Air putih saja ya, tolong’ ucap Zafran sambil berjalan mendekati Arkana.
“Tentu tuan” ujarnya kemudian berjalan ke dapur.
“Kamu kenapa bisa terluka seperti ini?” Tanya Zafran sambil membersihkan luka Arkana dengan kapas yang sudah dibasahi dengan alcohol.
“Mereka menyerang pa” jawab Arkana dingin.
“Jadi ini perbuatan mereka?” Tanya Zafran geram, sebelah tangannya terkepal.
“Iya pa, mereka sekarang ada di jalan dan terkapar pingsan. Mereka dari tadi siang mengikuti kami dan menguntit kami” tambah Arkana.
“Silahkan diminum tuan, nak Arka” ucap pak Roni sambil meletakkan dua gelas air putih.
“Pak, bisa panggil satpam di rumah Elin nggak. Di dekat taman ada dua orang yang pingsan, tolong bawa mereka kesini dan kita akan membawa mereka ke rumah sakit” pinta Arkana.
“Baik nak, segera” ucap pak Roni kemudian langsung bergegas pergi.
“Kenapa dibawa ke rumah sakit Ka?” Tanya Zafran bingung.
“Supaya kita punya saksi kejahatan Juna pa” jawab Arkana singkat.
Zafran yang sudah selesai mengobati luka Arkana pun mengangguk setuju, benar kata Arkana jika mereka membiarkan dua orang itu tetap hidup mereka bisa menahannya sebagai bukti dan saksi atas kejahatan Arjuna.
“Ayo kita ikut ke rumah sakit dan papa akan tugaskan orang untuk menjaga mereka” ajak Zafran .
“Baik pa, tapi luka Arka masih sakit nih” rengeknya manja.
“Kan nggak mungkin langsung sembuh Ka” tukas Zafran.
“Bisa pa kalau Qania yang obat, hehe” kekehnya.
“Masih sempat-sempatnya ya kamu” gerutu Zafran kemudian ikut tertawa.
Setelah menyimpan kotak obat dan mengambil kunci mobil, Zafran dan Arkana membawa dua orang itu bersama pak Roni ke rumah sakit setelah sebelumnya pak Roni dan pak Nofri satpam Elin membawa keduanya ke pos mereka.
Arkana mengekori mobil Zafran dengan mengendarai motornya hingga mereka sampai di rumah sakit. Zafran langsung menghubungi Kriss untuk meminta dicarikan orang yang akan mengawasi dan menahan dua orang yang sudah menyerang Arkana itu.
Kurang dari satu jam Kriss datang bersama dua orang temannya yang wajahnya terlihat cukup tampan namun terlihat datar dan dingin.
‘Diam-diam menghanyutkan’ ucap Arkana dalam hati setelah berkenalan dengan dua orang anggota Kriss.
“Pa besok Qania yudisium, bisa nggak papa yang antar Qania ke kampus. Arka nggak mau Qania curiga saat melihat wajah tampan Arka babak belur gini?” pinta Arkana tanpa melupakan pujian untuk dirinya sendiri membuat pak Roni dan Kriss tersenyum samar.
“Hah ya sudah. Lagian kasihan Qania, dia pasti malu kalau datang sama kamu yang wajahnya sudah seperti badut” ejek Zafran membuat Arkana mendengus kesal.
“Iya deh apa kata papa mertua, di iyain aja biar cepat. Kalau gitu Arka pulang dulu, kasihan papa sendirian karena om Kriss kan disini” pamit Arkana.
“Kita pulang bersama karena saya hanya mengantar mereka kesini dan saya tidak membawa kendaraan, biar Rion sama Zimah yang jaga mereka. Sekalian kita kawal juga papa mertuamu, agar selamat sampai di rumah” ucap Kriss yang disetujui oleh Arkana.
Mereka pun bergegas meninggalkan rumah sakit meninggalkan Zimah dan Rion disana.
__ADS_1
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Terima kasih sudah membaca 😊😊😊