Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Mendapatkan Dokumennya


__ADS_3

Pagi sekali Qania sudah menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor. Kali ini ia memutuskan untuk berpenampilan sedikit menarik. Sedikit. Padahal tanpa ia berdandan dan mengenakan pakaian sebagus ini pun ia sudah terlihat begitu menarik. Mungkin seperti itu penilaian orang cantik pada dirinya sendiri. Ketika orang lain memuji maka diri sendiri bahkan kadang tak jarang merasa bahwa tak seperti apa yang orang katakan.


“Huhhh ....”


Beberapa kali Qania terus menghela napas berat, jujur saja ia memang sangat tegang dan cukup takut menjalani hari ini seperti apa yang sudah ia rencanakan.


Qania pun memutuskan untuk keluar dari kamar dan mendapati Lala sedang memakai sepatu di ruang tamu.


“Hai La,” sapa Qania ikut duduk di samping Lala.


“Hai juga Kak, tumben dandan nih,” goda Lala.


“Haiss kelihatan ya?”


“Hehehe, makin cantik kok Kak,” puji Lala yang sudah selesai memakai sepatunya.


“Terima kasih. La, hari ini Kakak ada kerjaan yang cukup berat. Doain ya. Oh ya, kalau ada apa-apa cepat hubungi Syaquile. Kakak berangkat duluan,” ucap Qania seraya berdiri lalu berjalan keluar dan langsung masuk ke dalam mobil Julius yang sudah menjemputnya.


Lala tak sempat berbicara karena Qania begitu cepat perginya. Padahal ia sedikit tak paham dengan ucapan Qania tadi dan justru membuatnya khawatir.


“Kak Qania kenapa ya? Semoga dia baik-baik saja, huhh.”


Tak biasanya Qania bersikap seperti itu sehingga Lala menjadi resah namun ia tepis pikiran buruknya itu dan langsung saja pergi menuju ke tempat magangnya.


Di dalam mobil, tak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun baik Julius maupun Qania. Sebenarnya sedari tadi Julius ingin berbicara namun ia bingung harus berkata apa. Qania bukan tak bisa melihat raut wajah gelisah Julius. Hanya saja ia sedang tidak ingin pagi-pagi sudah berdebat ataupun merasa sedih.


“Qan, aku khawatir,” ucap Julius yang akhirnya memberanikan diri untuk bersuara.


“Jul, doain aja. Jika niat kita ini baik maka Tuhan pasti akan membantu kita. Percaya pada-Nya, oke!”


Julius hanya bisa membuang napas gusar beberapa kali hingga mereka sampai di depan kantor.


Baru saja Qania akan turun namun Julius lebih cepat menarik tangannya. “Berjanjilah kalau kau akan baik-baik saja,” lirih Julius.


Qania tersenyum kemudian menepuk tangan Julius yang sedang memegang tangannya dengan lembut. “Aku akan baik-baik saja dan berjanjilah untuk segera datang menolongku.”


Julius tak bisa berkata-kata, ia hanya mampu menganggukkan kepalanya seraya melepaskan genggaman tangannya. Keduanya pun turun dari mobil dan langsung masuk ke kantor menuju ke ruangan mereka masing-masing.


Pagi ini tak banyak pekerjaan Qania sehingga ia bisa pergi ke gudang untuk mencari informasi yang sangat ia butuhkan. Tapi sebelum itu ia meminta Julius untuk lebih dulu kesana melakukan tugasnya sesuai rencana mereka semalam.


“Udah kok Qan, tadi kebetulan aku disuruh ke gudang buat ambil file lama jadi aku manfaatin aja buat masang tuh kamera.”


“Syukurlah. Aku mau ke ruangan Pak Handoko dulu,” ucap Qania mengakhiri panggilan teleponnya dengan Julius.


Sebelum mengetuk pintu ruangan Pak Handoko, terlebih dahulu Qania mengatur napas dan juga ekspresinya. Setelah merasa sudah baik Qania pun langsung mengetuk pintu ruangan Pak Handoko.


“Masuk!” Terdengar seruan dari dalam.


Qania pun membuka pintu dan melihat pak Handoko yang sedang serius membaca berkas di atas meja.


“Selamat pagi Pak,” sapa Qania.

__ADS_1


Pak Handoko mengalihkan perhatiannya dan terpaku melihat penampilan cantik Qania.


“Hari ini kamu dandan ya?” ucap pak Handoko tanpa mengalihkan pandangannya.


“Oh hehe itu Pak, kan siang nanti akan bertemu dengan klien Bapak di luar. Saya hanya tidak ingin membuat Bapak malu membawa saya jika penampilan saya biasa saja,” ucap Qania memasang ekspresi malu-malu.


“Hahaha, iya kamu benar. Syukurlah jika kamu berpikir seperti itu. Saya juga lupa memberitahukan kamu kalau klien saya ini sangat suka nyinyirin penampilan orang lain,” ucap pak Handoko. “Oh ya, ada apa Qania datang kemari? Apa ada hal yang penting?” tanya pak Handoko.


“Hmm itu Pak, pekerjaan saya tadi sudah selesai dan dua jam lagi kita akan rapat di luar. Saya bermaksud untuk pergi ke gudang Pak. Seperti yang kemarin saya katakan, saya ingin mencari referensi dari kasus-kasus lama,” jawab Qania.


“Ah ya, silahkan,” ucap pak Handoko.


“Oh iya Pak, kalau nanti saya belum kembali ke ruangan pada saat jam makan siang, kemungkinan saya masih di gudang. Saya sangat suka membaca dan mungkin nanti akan memakan waktu lama disana. Nanti Bapak tinggal menghubungi saya saja. Atau kalau tidak keberatan Bapak panggil saja saya di gudang, hehe. Jangan marah ya Pak, hanya bercanda saja,” ucap Qania.


“Ya, nanti saya susul kamu disana,” ucap pak Handoko dengan sebuah smirk samar yang masih bisa Qania lihat.


Kena kau, batin Qania.


“Kalau begitu saya permisi Pak,” ucap Qania yang dijawab anggukan saja oleh pak Handoko.


Qania keluar dan langsung mengambil tasnya di ruangannya. Ia pun berjalan menuju ke lift dan saat lift terbuka ternyata asisten Revan yang keluar.


“Selamat pagi Pak Revan,” sapa Qania dengan ramah.


Pak Revan hanya mengangguk dan berjalan lurus tanpa membalas sapaan ramah tamah Qania. Hal itu membuat Qania mendengus kesal lalu ia masuk ke dalam lift.


Qania menyapa beberapa staf yang tak sengaja berpapasan dengannya sepanjang jalan menuju ke gudang. Hingga akhirnya ia sampai di depan pintu gudang.


“Oh ya silahkan,” ucap penjaga gudang yang bernama Leri.


Qania pun masuk. Ia merasa tegang namun bukan karena rencananya itu, melainkan tegang jika nanti mendapatkan berkas yang ia cari. Ia belum siap menghadapi kenyataan yang sebenarnya sangat baik untuknya.


Perlahan-lahan Qania mulai mendekati lemari dengan tatatanboxfile yang sangat rapih. Qania menduga bahwa file-file ini tetap dijaga dengan baik oleh pak Handoko.


Qania mencari sesuai dengan tahun yang diberitahukan oleh pak Erlangga. Untung saja di setiap lemari diberikan tulisan tahun dan diurut sesuai dengan bulannya.


Sudah banyak yang Qania baca dan juga sudah lebih dari sejam ia berada disana namun belum juga menemukan apa yang ia cari.


“Uh! Sepertinya file itu tidak ada disini,” gumam Qania sembari merapihkan beberapa boxfile.


Ada beberapa file yang sengaja ia ambil karena menurutnya kasus tersebut cukup menarik.


Qania melirik jam tangannya, tinggal setengah jam lagi waktu makan siang dan ia belum menemukan filenya. Ia pun duduk di lantai dan bersandar di lemari bak perpustakaan tersebut.


“Nggak bakal berhasil kayaknya.”


Qania meluruskan kakinya yang cukup pegal karena lama berdiri. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya dan juga terdengar helaan napas dari mulutnya.


Qania pun berdiri karena tak ingin hari ini ia berakhir sia-sia di tempat ini. Menunggu kedatangan pak Handoko disini sama saja dengan mengantarkan nyawanya sendiri.


Qania pun mulai melangkah namun tak sengaja kedua matanya menangkap sebuah kardus di lemari yang berisi file lebih dari sepuluh tahun yang lalu namun kardusnya tak begitu usang.

__ADS_1


Qania tertarik untuk melangkah menuju ke lemari tersebut namun terkunci. Ia berpikir bagaimana caranya untuk membuka lemari tersebut.


Qania mer*mas rambutnya yang teranggul itu cukup keras dan tangannya tak sengaja menyentuh penjepit rambutnya. Sebuah senyuman terbit di bibirnya mana kala penjepit berwarna hitam tersebut berhasil membuka lemari.


Qania dengan cepat mengeluarkan kardus tersebut dan ternyata sudah dilakban. Dalam benaknya Qania berpikir pasti file ini sangat penting dari yang lainnya karena tersembunyi seperti ini.


Dengan keadaan dikejar waktu Qania dengan cepat merobek lakban tersebut dan mengeluarkan isinya.


Matanya terbelalak saat membaca nama yang tertera di dalam map berwarna cokelat tersebut. Ia membuka tali pengait map berbentuk amplop tersebut dengan cepat dengan cepat untuk melihat isinya.


Dengan kemampuannya membaca cepat bisa ia pastikan bahwa ini adalah file yang ia cari. Di dalamnya juga ada foto dan juga beberapa file lainnya serta flashdisk. Untuk sesaat Qania terdiam menatap wajah di foto itu hingga akhirnya ia tersadar sedang berburu dengan waktu yang tinggal delapan belas menit lagi.


Qania mencari cara untuk mengelabui pak Handoko. Ia mengambil satu kardus yang ada di gudang dan mengeluarkan lakban yang ada di dalam tasnya. Memang tak berukuran besar namun bisa ia gunakan untuk menutupi kardus itu dan meletakkan map cokelat itu disana namun sudah mengeluarkan semua isinya dan mengganti dengan berkas yang tadi ia bawa.


Setelah kembali meletakkan kardus tersebut dan menutup lemari, Qania membungkus kardus tersebut dengan kantung plastik besar yang memang sudah ia sediakan di dalam tasnya lalu membawanya keluar. Sambil berjalan Qania berusaha mendapatkan ojol yang berada dekat dengan tempat magangnya ini.


Tak cukup lima menit ojolnya datang. Qania memintanya mengantar paket itu ke alamat yang sudah ia tulis di kertas dan memberikan dua lembar uang seratus ribu.


Tukang ojek itu terkejut dan ingin mengembalikan namun Qania sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kantor.


“Padahal alamat ini tidak begitu jauh,” gumam tukang ojek tersebut kemudian menarik gas motornya.


Di jalan menuju ke gudang, Qania berpapasan dengan Julius. Ia mengangguk memberi kode bahwa rencana mereka akan segera dimulai.


“Aku masih ada sedikit kerjaan. Usahakan mengulur waktu,” ucap Julius pelan sambil memperhatikan sekitar.


Qania mengangguk lalu pergi ke gudang lagi. Di dekat pintu itu masih ada pak Leri yang menjaganya. Qania tak lagi menyapa karena ia melihat pak Leri sedang bersibuk dengan ponselnya.


Qania masuk dan mulai mengumpulkan beberapa berkas membiarkan lemari berkas setahun lalu terbuka sebagai tanda bahwa ia mengambil file dari sana. Ia pun membawa buku-buku tersebut ke atas meja yang tersedia disana dan mulai menyusun beberapa lembar kertas berisi file kasus-kasus yang pernah ditangani oleh perusahaan ini.


“Oh jadi Julius meletakkannya disana ya. Cukup strategis karena hanya bisa dilihat dari sini saja. Sangat pas jika aku duduk disini dan kameranya tepat menghadap padaku,” ucap Qania mulai duduk membaca salah satu berkas.


Ponsel Qania berdering dan tertera nama pak Handoko. Qania pura-pura saja tak mendengar dan mengabaikannya agar Pak Handoko bisa segera datang menghampirinya.


“Oh ya, palingan sebentar lagi juga paket itu sampai ke tempatnya. Semoga dia di rumah,” gumam Qania.


Kau beruntung Qania, petugas cctv saat ini sedang pergi ke kantin lebih cepat. Cctv gudang aman terkendali


Qania tersenyum begitu membaca pesan dari Julius.


Tidak lama lagi pak Handoko akan datang ke gudang. Aku harap kau siap siaga. Dan usahakan jangan terlambat menolongku. Aku akan menyambungkan kita berdua lewat panggilan telepon dan kau akan tahu kapan waktunya bergerak.


Balas pesan Qania.


Tepat begitu pesan terkirim, pintu gudang tersebut terbuka dan nampaklah Pak Handoko yang sedang menatap Qania yang sedang membenamkan wajahnya di atas meja.


“Apa dia tidur?” gumam pak Handoko, bibirnya kemudian menyeringai. Ia pun keluar dan menyuruh Pak Leri untuk makan siang.


Pak Leri yang mendapat perintah tersebut bergegas pergi karena ia memang sudah kelaparan. Setelah itu Pak Handoko kembali masuk dan menutup perlahan pintu itu lalu menguncinya. Dengan langkah perlahan ia berjalan mendekati meja dimana Qania terlihat tengah tertidur pulas di atas tumpukan berkas lama.


Mari kita bersenang-senang nona manis.

__ADS_1


__ADS_2