
Hari sudah semakin sore dan Qania masih sibuk dengan ingatannya tentang kenangan manis bersama Arkana Wijaya. Sudah beberapa jam ia di dalam kamar namun pikirannya berada di tempat yang begitu jauh dan bahkan tiada satu pun orang yang bisa menjangkaunya, dimana lagi kalau bukan di masa lalunya bersama suaminya itu.
Mungkin karena lelah, akhirnya Qania menghentikan aktivitas favoritnya itu dan melirik jam di ponselnya.
"Udah jam segini, sebaiknya aku mandi" ucapnya kemudian meletakkan kembali ponselnya.
Qania pun keluar dari kamarnya dengan membawa peralatan mandinya, bertepatan dengan Lala yang baru saja datang dan sedang membuka pintu.
"Assalamu'alaikum kak" ucap Lala begitu ia menutup kembali pintunya.
"Wa'alaikum salam La, udah selesai urusannya?" balas Qania yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Udah kak. Uh lelahnya" lenguh Lala ketika ia mendaratkan tubuhnya di atas sofa.
Qania terkekeh melihat wajah lelah Lala, ia pun memutuskan hntuk pergi ke kamar mandi. Sementara Lala masih betah berbaring di atas sofa, ia enggan masuk ke kamarnya.
Sekitar lima belas menit Qania keluar dari kamar mandi dan masih mendapati Lala yang tengah berbaring di sofa. Ia tersenyum kemudian mendekati Lala.
"La udah mau magrib, mandi gih sana. Nanti malam Raka ngajakin kita makan di luar" ucap Qania membangunkan Lala yang sempat terlelap karena kelelahan.
"Emm ... iya kak" sahut Lala sambil mengucek matanya.
Qania pun masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ia memilih pakaian santai yang membuatnya nyaman. Ia tidak begitu suka memakai gaun, mungkin faktor dulu ia kuliah di jurusan Teknik Sipil yang notabennya pria semua maka jiwa feminim Qania sedikit berkurang.
Ia mengurai rambutnya dan tidak memakai riasan apapun di wajahnya kecuali bedak baby dan sedikit pelembab bibir. Ia tersenyum melihat wajahnya di cermin.
"Arqasa, lihat mamimu, Nak. Masih sangat muda dan cantik, hihihi" kekeh Qania kemudian berjalan ke arah tempat tidur.
Sambil menunggu waktu magrib, Qania pun memutuskan untuk menghubungi sang anak yang kini sudah berusia empat tahun. Qania melakukan panggilan video kepada mamanya karena Arqasa belum diizinkannya untuk menggunakan ponsel pribadi.
Qania tersenyum saat wajah tampan anaknya memenuhi layar ponselnya, bocah tampan itu nampak sedang berbaring di tempat tidur.
"Assalamu'alaikum anak Mami yang ganteng" sapa Qania dengan penuh semangat dan kerinduan.
"Wa'alaikum salam Mamiku yang sangat cantik" balas Arqasa.
"Lagi ngapain nih anak Mami? Udah makan belum? Nggak nakal kan? Gimana sekolahnya? Rindu nggak sama Mami?" cecar Qania.
"Mi, Arqasa harus jawab yang mana dulu nih Mi?" tanya bocah itu.
Qania tertawa, ia tak sadar sudah mengeluarkan beberapa pertanyaan yang membuat anaknya pusing mau menjawab yang mana dulu.
"Kamu kan anak mami yang paling pintar, harusnya kamu bisa jawab semua pertanyaan Mami dong" ucap Qania masih tertawa.
"Hisshh ... Jadi Arqasa itu baru aja bangun tidur Mi, tadi aku diajakin main sama om Rizal dan Tante Gea. Jadinya kecapean terus aku ketiduran. Aku juga udah makan kok Mi dan Mami tenang aja aku nggak nakal dan di sekolah aku pintar kok Mi. Dan Arqasa itu sangat amat merindukan Mami" jawab Arqasa.
Luar biasa, itulah yang Qania pikirkan tentang anaknya. Dalam benaknya ia bertanya-tanya apakah bocah itu adalah anak berusia empat tahun? Kadang ia dibuat terkagum-kagum dengan kecerdasan sang anak.
Buah jatuh memang tidaklah jauh dari pohonnya, itulah pepatah yang menjawab tentang pikiran Qania. Terlahir dari Ayah dan Ibu yang cerdas, dua orang kakek yang begitu sukses, tentu saja Arqasa pun akan tumbuh mengikuti gen orang tuanya.
"Cerdas, anak Mami sangat cerdas" puji Qania.
__ADS_1
"Aku tahu" ujar Arqasa yang mana membuat Qania terbengang.
"Lama-lama kau semakin menyebalkan ya Nak, seperti Daddy mu" gerutu Qania berpura-pura kesal.
"Hmmm ...",.
What?????
Rasanya Qania ingin menjitak kepala sang anak yang hanya menjawabnya seperti itu. Sok cool, itulah satu sifat Arqasa yang ia warisi dari sang Ayah.
Tak ingin dibuat kesal, Qania pun mencoba mengatur napasnya dan menormalkan perasaannya.
"Nak, berikan ponselnya kepada nenek. Mami mau bicara dengan nenek dulu" ucap Qania dengan lembut.
Tanpa menjawab Arqasa pun langsung memberikan ponselnya kepada nenek Alisha yang sedang duduk di ranjang bersamanya.
Qania mengelus dadanya, ia harus memiliki kesabaran ekstra untuk menghadapi anaknya. Masih kecil saja tingkat menyebalkan nya sudah sampai membuat Qania berulang kali mengelus dada, bagaimana nanti saat anaknya itu sudah beranjak remaja.
'Kau sama persis seperti Daddymu, Nak' lirih batin Qania.
"Hallo sayang, gimana kabarmu Nak?" tanya mamanya begitu ia menatap ponselnya.
"Alhamdulillah baik Ma, Mama sama Papa gimana kabarnya?" tanya Qania sembari tersenyum.
"Alhamdulillah kami juga baik-baik saja, Nak. Oh ya, besok kamu berangkat KKN ya?" tanya mamanya.
"Iya Ma, dan semoga lokasinya nanti ada sinyal Ma. Aku nggak bisa sehari saja tanpa melihat wajah tampan anakku dan mendengar suaranya"ucap Qania sendu.
"Aamiin ..."
"Ya udah Ma, aku tutup dulu ya teleponnya. Tolong jagain Arqasa ya Ma" ucap Qania.
"Iya sayang, tanpa kamu minta pun kami semua akan dengan senang hati menjaga anakmu itu" ujar mamanya.
"Makasih Ma, makasih karena udah gantiin tugas Qania buat ngurusin dan ngebesarin Arqasa Ma" lirih Qania.
"Iya sayang" jawab Alisha.
"Assalamu'alaikum Ma",.
"Wa'alaikum salam Nak",.
Setelah puas berbicara dengan Mama dan anaknya, Qania pun langsung pergi untuk mengambil air wudhu.
🌷
🌷
Pukul enam lewat tiga puluh menit waktu malam, Raka sampai di depan kost Qania. Ia turun dari motornya bertepatan dengan Qania yang membuka pintu karena tahu yang datang adalah Raka.
Qania dan Raka sama-sama terbengang di tempat mereka berdiri.
Hanya sebentar saja, Qania langsung tersadar dengan sendirinya.
__ADS_1
"Raka, kamu ngikutin aku ya?" tanya Qania saat Raka sudah berjalan ke arahnya.
"Maksudnya?" tanya Raka tidak paham.
"Lah itu, kamu pakai baju warna putih. Kamu ngikutin aku ya?" jawab Qania.
Raka kemudian melirik pakaiannya lalu bergantian melirik pakaian Qania. Sebuah senyuman terbit dari bibir Raka. Ia pun berjalan melewati Qania untuk masuk ke dalam rumah. Namun, saat berada di samping Qania ia sengaja berhenti dan berbisik kepada Qania.
"Mungkin itu tandanya kita berjodoh" bisik Raka tepat di telinga Qania.
Qania merinding dengan perlakuan Raka, ia mengusap tengkuknya. Sementara si pelaku sedang cekikikan di dalam rumah.
Tak ingin memusingkannya, Qania pun ikut masuk lalu duduk di samping Raka.
Ceklek ...
Pintu kamar Lala terbuka, ia pun keluar dan terkejut saat melihat Qania dan Raka yang tengah duduk namun tiada obrolan.
"Wah jadi aku salah kostum nih?" tanya Lala panik.
"Salah kostum?" beo Qania dan Raka bersamaan.
"Iya" tegas Lala.
"Maksudnya?" tanya Qania.
"Lah itu kak Qania sama kak Raka pakai baju putih dan aku mah makai baju warna maroon" jawab Lala.
Qania dan Raka saling memandang, ingin tertawa tapi tidak enak dengan Lala.
"Biar aja La, lagian kita kan nggak mau pergi ke pesta kostum" ujar Raka, padahal yang sebenarnya ia memang tidak ingin Lala berganti pakaian karena menurutnya itu akan merusak suasana coupleannya dengan Qania.
"Hehehe ... ya sudah kamu ganti baju, kita tungguin" ucap Qania.
Lala mengangguk, kemudian ia bergegas kembali masuk ke kamarnya untuk menukar pakaiannya.
'Hmm ... gagal deh coupleannya',.
Tidak sampai lima menit Lala pun keluar dengan mengenakan baju warna putih, Raka hanya bisa mendesah pasrah.
Ketiganya pun keluar rumah dan Lala mengunci pintu kost. Raka sendiri di atas motornya sedangkan Lala dan Qania berboncengan dimana Lala yang mengemudikan motornya.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗
Kuy berteman
IG: Vvillya
FB: Vicka Villya Ramadhani
WA: 082350545747
Oh iya, Viee bakalan upload per episode itu di jam yang berbeda. Tungguin ya 😊😊😊
__ADS_1