Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Telepon Dari Lala


__ADS_3

Sudah sebulan lamanya Qania menjalani masa liburannya, rasanya sungguh berat meninggalkan keluarganya terlebih lagi anaknya. Dan sampai saat ini ia masih sangat senang karena belum ada kabar penting dari Lala selain mengabarkan tentang usahanya bersama nek Nilam sudah mulai banyak peminatnya.


Qania juga sudah kembali ke rumah kedua orang tuanya sebab mertuanya itu harus mengurus bisnisnya di luar kota dua hari yang lalu. Tiada yang bisa Qania lakukan selain bersantai-santai sambil mengawasi anaknya yang semakin aktif itu.


Janji bertemu dan menghabiskan waktu dengan Elin juga sudah terlaksana bahkan keduanya sudah beberapa kali menghabiskan waktu bersama. Qania juga tidak pernah alpa mengunjungi makam Arkana dua hari sekali hanya untuk menceritakan tentang anak mereka dan menyampaikan protesnya serta kerinduan dan rasa cintanya tentu saja.


Qania saat ini sedang asyik mendengar rekaman suara Arkana yang sedang bernyanyi menggunakan headset dan di sampingnya ada putra sematawayangnya sedang tertidur pulas.


Saat Qania tengah menikmati suara merdu Arkana, tiba-tiba ingatannya terlintas dengan sosok pria berkacamata hitam yang menabraknya ah lebih tepatnya ia yang menabrak pria itu.


“Suaranya membuatku teringat akan Arkana. Suara mereka benar-benar sama. Tapi kembali lagi, wajah orang saja banyak yang mirip apalagi Cuma suara” gumam Qania sambil mengingat wajah pria yang tertutup kacamata itu.


Dan akhirnya suara merdu Arkana sukses membawa Qania tertidur bersama putranya itu.


*


Qania yang sedang menyuapi Arqasa makan di gazebo terkejut dengan dering teleponnya yang cukup keras. Karena yang baru saja ia sendokkan ke mulut Arqasa merupakan suapan terakhir, ia langsung mengambil ponsel dari dalam saku celanya dan melihat siapa yang meneleponnya.


“Lala?” gumam Qania setelah melihat siapa yang meneleponnya.


“Qan, mama sama papa mau ke mall sama Arqasa. Kamu jagain rumah ya” seru mamanya yang keluar dari dalam rumah bersama papanya.


“Iya ma, ntar aku jagain biar nggak diangkat malang” sahut Qania membuat mamanya tertawa.


“Oke jagoan mama, kamu habisin tuh uang kakek sama nenek. Buat mereka lelah menjagamu sepanjang hari dan jangan pulang kalau kartu kekekmu itu belum limit” ucap Qania berpesan pada anaknya yang sama sekali tidak mengerti apa maksudnya dan hanya tersenyum menatap pada Qania.


“Huaaa”,.


“Ih Qania, kamu itu selalu saja jahat terhadap anakmu. Kenapa kamu hobi sekali menggigit pipinya, mau mama balas” tegur mamanya yang berlari dan langsung menyambar tubuh gembul cucunya yang tengah menangis itu.


“Mo..mom..myy” tangisnya terbata.


“Iya sayang ini mommy” ledek Qania sehingga sebuat cubitan kecil mendarat di lengannya.


“Aww ma, sakit” ringis Qania sambil mengusap-usap lengannya yang dicubit oleh mamanya.


“Rasain. Itu balasan karena kamu sudah menyakiti cucu mama” ucap mamanya kemudian meninggalkan Qania yang terbelalak karena ucapan mamanya.


“Padahal aku ini anaknya. Ahh memang ucapan pak guru waktu di SMA itu benar kalau orang tua akan lebih sayang pada cucu mereka” ucap Qania sambil membalas lambaian tangan Arqasa dari dalam mobil yang nampak wajahnya sangat berbinar.


“Dasar tukang jalan” cibir Qania pada anaknya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menertawai wajah lucu anaknya.


Qania masuk ke dalam rumahnya sambil membawa peralatan makan Arqasa kemudian mencucinya. Setelah itu ia naik ke lantai dua menuju kamarnya dan langsung menutup pintu kamar begitu ia sudah masuk di dalamnya.


Qania merebahkan tubuhnya untuk bermalas-malasan lagi. Ponsel Qania yang sudah ia letakkan di atas bantal di sebelahnya kembali berdering.


“Astagfirullah, Lala kan dari tadi nelepon aku” ucap Qania sambil menepuk jidatnya karena baru tersadar setelah melihat Lala kembali meneleponnya.


“Assalamu’alaikum La”,.


“Wa’alaikum salam kak, kakak lagi sibuk ya? Dari tadi aku teleponin baru diangkat” tanya Lala.


“Iya La, kakak baru aja abis nyuapin anak kakak makan” jawab Qania.


“Oh pantes aja kak” ujar Lala.


“Ada apa La, kok tumben nelepon kakak berkali-kali?” tanya Qania.


“Oh itu kak, aku baru dapat info kalau minggu depan ada seminar di hotel XY dan yang menjadi tokohnya adalah pebisnis muda yang sukses dan namanya sedang ramai dibicarakan” jawab Lala dengan wajah yang berbinar menjelaskan kelebihan pembawa materi seminar nanti.


“Yang benar kamu La, wah itu sangat bagus La. Emang kamu tahu siapa orangnya?” tanya Qania antusias.


“Tahu kak, namanya Tristan Anggara, mantan boss Lala di kafe” jawab Lala cepat.

__ADS_1


“Oh jadi dia pengusaha muda yang sedang marak dibicarakan orang-orang di kota itu” gumam Qania.


Dari seberang saluran Lala menganggukkan kepalanya meskipun tidak terlihat oleh Qania.


“Ya sudah ya kak, aku mau ngantar pesanan pelanggan” ucap Lala.


“Wah laris manis rupanya” kekeh Qania.


"Yes, bro, even the main capital has returned and now my business with Grandma Nilam has started to attract customers from cheap to expensive ones" celoteh Lala membuat Qania tersenyum senang.


“Ya sudah semangat ujiannya, tiga hari lagi kakak berangkat. Kamu hati-hati kalau mengantar pesanan” ucap Qania mengakhiri percakapan via telepon mereka.


“Oke kak, Assalamu’alaikum” ucap Lala.


“Wa’alaikum salam” balas Qania.


Setelah melakukan panggilan telepon, Qania kembali mendesah. Wajahnya terlihat lemas setelah sadar bahwa ia haruslah kembali lagi ke tempat tinggal sementara lamanya itu. Sangat berat rasanya meninggalkan anaknya yang begitu lucu dan menggemaskan, apalagi kali ini akan lama lagi berpisah dan hanya bisa melihat tingkah anaknya lewat panggilan video atau video yang ia minta dari mamanya.


Belum cukup sampai disitu saja, Qania kembali teringat papa mertuanya yang belum kembali dari perjalanan bisnisnya dan ia juga masih menjalankan tugas untuk mengurus hotel bersama rizal serta mengontrol kafe bersama Fero dan restoran yang dijaga oleh Ifan.


“Hmm, mau nggak mau aku harus tetap kembali. Rasanya berbeda ketika aku pulang, aku sungguh bersemangat. Dan saat ini ketika aku harus kembali lagi ke tempat itu rasanya sungguh berat. Berpisah dengan anakku dan jauh dari sanak saudara membuat langkahku begitu berat” Qania beberapa kali menghembuskan napasnya mencoba menenangkan perasaan galaunya.


*


Suasana ruang makan terlihat sangat gaduh dimana anak Qania yang ia sengaja dudukkan di atas meja terus saja mengacau dengan mengambil sendok dan juga mengaduk-aduk lauk pauk di atas meja. Neneknya tak berhenti berteriak histeris sambil meminta Qania untuk menurunkan anaknya namun Qania malah asyik tertawa melihat tingkah menggemaskan anaknya itu.


Jangan tanyakan Zafran si kakek dari balita penyebab kekacauan itu, ia makan dengan tenang dan sesekali tersenyum melihat tingkah cucunya itu.


“Huh kau ini ibu macam apa hah? Kenapa membiarkan anakmu mengotori dirinya dan menghamburkan makanan-makanan itu” omel mamanya sambil mengambil Arqasa dan mendudukkannya di kursi khusus si balita itu.


“Tidakkah mama lihat kalau tingkahnya begitu menggemaskan” sagut Qania sambil cekikikan.


Zafran meletakkan sendok makannya dan melipat kedua tangannya di atas meja sambil memperhatikan istrinya yang sedang membersihkan cucu mereka dengan tisu dan Qania yang sedang menikmati makan malamnya.


“Katakan apa alasan kau bertingkah seperti ini” ucap Zafran sambil menatap sendu pada anaknya.


“Tiga atau empat hari lagi Qania bakalan balik, Pa” ucap Qania menahan sesak di dadanya.


Benar saja, Zafran sudah menduga hal tersebut. Ia pun menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya.


“Kenapa cepat sekali? Bukannya liburan masih kurang dari sebulan ya? Kalau mau ngurus KRS kan bisa seminggu sebelum perkuliahan” tanya Zafran dengan senyuman yang terus terukir di wajahnya dengan maksud agar Qania tidak merasa bersedih jika harus kembali lagi ke tempat perkuliahannya.


“Memang sih pa, tapi ada seminar tentang bisnis minggu depan dan orang yang akan membawakan seminar itu merupakan orang yang sedang menjadi trending topic di dunia bisnis yang ada di kota Y” jawab Qania.


“Oh ya?”,.


“Iya Pa. Dia masih sangat muda dan hanya berbeda setahun dua tahun kah dengan Qania. Tapi bisnisnya berada dimana-mana dan ia juga memiliki usaha kafe dan yang paling bikin Qania terkejut Pa, desain interior kafe itu sama persis dengan kafe milik Arkana yang ada di dekat taman itu” cerita Qania yang baru teringat akan kafe tempat Lala bekerja dan juga tempat dimana ada piano yang dilarang untuk disentuh itu.


“Masa sih?” tanya papanya yang juga terkejut.


“Awalya Qania hanya mengira kebetulan saja Pa, tapi setelah Qania berhasil menebak tata letak ruangan-ruangan yang ada di kafe itu serta beberapa menu yang sama dan juga pengaturan barang dan tata letak bangku dan semua-semuanya itu sama persis Pa. Nanti kalau papa dan mama berkunjung akan aku ajak kesana” cerita Qania dengan hebohnya.


‘Ya meskipun aku udah nggak minat buat menapakkan kakiku ke kafe itu setelah kejadian aku nyentuh pianonya’,.


“Kebetulan yang luar biasa kalau begitu, papa jadi penasaran. Tapi memang nggak ada yang membedakan kafe itu dengan kafe Arkana?” tanya papanya yang terlihat tertarik dengan cerita Qania.


“Hanya ada beberapa sih Pa yang berbeda, diantaranya di kafe itu ada pianonya” ucap Qania dengan penuh penekanan saat menyebut kata piano.


“Ada beberapa pernak-pernik yang juga ada disana dan itu terlihat sangat keren” imbuh Qania.


“Jangan-jangan salah satu cabang mertuamu” celetuk mamanya yang sudah selesai membersihkan tubuh cucunya itu.


“Awalnya aku pikir iya Ma, tapi waktu aku tanya ke Lala katanya pemilik kafe itu bernama Tristan Anggara” ujar Qania.

__ADS_1


“Tristan Anggara?” tanya Zafran sambil mengerutkan keningnya.


“Iya Pa, papa kenal?” tanya Qania balik.


“Kalau Tristan Anggara salah satu anggota LSM yang terkenal dengan kemampuannya mengungkap kasus korupsi papa tahu” jawab papanya dengan raut wajah serius.


“Mungkin dia orangnya pa” celetuk Qania.


“Nggak mungkin, karena kabar terakhir yang papa dengar Tristan Anggara itu menghilang entah kemana. Ah mungkin hanya nama saja yang sama” ujar papanya sambil mengetuk meja dengan ujung jarinya.


“Emang papa pernah ketemu sama orangnya?” tanya mamanya kini menimbrungi.


“Pernah sekali papa bertemu dia datang ke kota ini untuk memeriksa papa karena ada laporan yang ia terima bahwa ketua DPRD yang tidak lain adalah papa sendiri telah melakukan tindak korupsi. Dan waktu itu papa menyambutnya dengan baik bahkan papa memberikan semua dokumen-dekomen yang ingin dia ketahui dan hasilnya nama papa bersih”,.


“Entah siapa yang sudah memfitnah papa hingga mengundangnya jauh-jauh dari pulau Jawa ke Sulawesi hanya untuk berita yang tidak benar adanya. Pada waktu itu papa dan dia sepakat untuk mencari tahu, tapi setelah dia berpamitan pulang dan sampai sekarang papa sudah tidak pernah lagi mendengar namanya bahkan berita tentangnya hilang bagai ditelan bumi”,.


Cerita Zafran panjang lebar mengenang pertemuannya dengan Tristan Anggara.


“Apa mungkin dia beralih pofesi jadi pengusaha?” celetuk Qania membuat Zafran terkekeh.


“Kamu nih Qan ada-ada aja” kekeh Zafran.


“Lagian siapa sih yang berani-beraninya nyebar fitnah tentang papa? Kok mama nggak tahu sih?” tanya Alisha geram.


“Sudahlah ma, itu mungkin dari orang yang berambisi saja untuk menggantikan papa. Lagian waktu itu papa nggak cerita karena berdekatan dengan waktu pernikahan Qania dan Arkana” jawab Zafran.


Alisha dan Qania menghembuskan napas kasar beberapa kali mencoba menenangkan diri mereka masing-masing dengan berita yang cukup menyebalkan dari papanya dan baru diceritakan hari ini.


“Ya sudah Qania, kamu sama mama lanjut makan malam dan biar papa yang jagain cucu ganteng papa ini” ucap Zafran berdiri dari duduknya dan langsung mengambil alih Arqasa dari istrinya.


Setelah Zafran membawa Arqasa ke ruang keluarga, Qania dan mamanya kembali melanjutkan makan malam mereka yang tertunda dalam diam.


Qania dan mamanya yang baru saja menghabiskan makan malam mereka langsung ikut bergabung bersama papa dan anaknya itu yang sedang asyik menonton serial kartun yang sepertinya sangat disukai oleh Arqasa.


Qania menatap sendu pada putranya yang terus berceloteh sambil matanya memandang ke tv, sangat menggemaskan menurut Qania. Ia pun menyibukkan dirinya dengan melihat-lihat ponselnya dan membalas beberapa chat dari Julius.


“Qan, apa kabar? Kapan balik Qan?”


^^^“Kabar baik Julius bagaimana denganmu?”,.^^^


“Aku kurang baik saat jauh darimu😔😭”,.


Qania memutar bola matanya jengah dengan balasan pesan Julius yang menurutnya lebay itu apalagi ditambah emoticon alaynya. Ingin rasanya tidak membalas tapi sudah terlanjur membaca pesan itu.


^^^“Emangnya aku ini sumber kesehatan, kamu ada-ada saja”,.^^^


“Lah emang benar kok Qan, lo aja yang nggak nyadar kalau selama ini gue itunggak bisa jauh-jauh dari elo. Bawaannya gue kangen mulu”,.


^^^“Julius jangan mulai deh. Aku mau tidur dulu” ^^^


Balas Qania yang sudah merasa bosan dengan tingkah Julius.


“Lah Qan ini kan baru jam delapan”..


^^^“Itu di tempatmu, kalau disini udah jam sembilan”,.^^^


“Oh hehe, gue lupa. Ya udah met bobo Qania Salsabila, jangan lupa mimpiin mas Julius ya”,.


^^^“Never”,.^^^


Sementara diseberang sana Julius terkekeh membaca balasan terakhir Qania sambil berguling-guling di tempat tidurnya.


“Hah, meskipun sulit tapi gue nggak bakalan nyerah” gumam Julius sambil menatap foto Qania di layar ponselnya yang tentu saja ia ambil secara diam-diam.

__ADS_1


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


Terima kasih sudah membaca 😊😊🤗🤗🤗


__ADS_2