Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Berkelahi


__ADS_3

Arkana berjalan tergesa-gesa meninggalkan Qania yang terus memanggilnya dari belakang. Perasaan Arkana saat ini sangatlah kesal akibat ulah Fandy. Sepanjang perjalanan tadi Arkana hanya diam di dalam mobil menahan rasa kesalnya sementara Qania berpikir keras bagaimana cara membujuk Arkana yang sangat cemburuan itu.


Arkana membanting pintu kamar penginapannya membuat Qania tersentak. Ia tidak tahu jika Qania masih mengikutinya sampai ke kamar. Qania seolah mengerti sehingga ia tidak marah pada sikap Arkana. Ia memutuskan untuk pergi ke kamar papanya.


Qania mengetuk pintu sambil memanggil papanya, dari dalam papanya meminta ia agar masuk saja karena pintunya tidak di kunci.


"Ada apa sayang? Katanya mau menghabiskan malam ini untuk berjalan-jalan. Kok udah balik aja sih?" tanya papanya yang sedang mengemas pakaian.


"Pa gimana ya, Arkana sedang kesal" curhat Qania.


"Kok bisa? Bukannya tadi dunia bagai milik berdua?" tanya papanya sambil meledek.


"Ih serius ini pa" ucap Qania cemberut.


"Coba ceritain" pinta papanya.


"Jadi tadi tuh waktu kita lagi makan eh mantan Qania yang paling menjengkelkan itu datang terus gabung di meja kita. Awalnya Arkana biasa aja, tapi saat kita lagi jalan dia gangguin, dia berjalan diantara Qania dan Arkana bahkan selalu menyambung pembicaraan kami. Ngeselin kan pa" cerita Qania sambil menopang kedua pipinya dengan kedua tangannya.


"Ya jelas dia kesal, ada pengacau sih. Bisa saja kan Arkana mau romantisan sama kamu terus rencananya gagal, siapa yang nggak kesal" ucap papanya.


"Iya pa, Qania ngerti. Terus Qania harus gimana?" tanya Qania putus asa.


"Emm gimana kalau kamu aja yang buat rencana, sekalian minta maaf karena mantan kamu sudah merusak suasana" usul papanya.


"Emang nggak apa-apa pa?" tanya Qania heran, kenapa papanya antusias pada hubungan mereka.


"Dia kan calon mantu papa dan papa tahu siapa orang tuanya. Jadi papa rasa kamu aman sama dia" jawab papanya sambil membelai rambut Qania.


"Oke deh pa, Qania pamit dulu" ucap Qania lalu memeluk papanya.


"Iya sayang" ucap papanya.


Qania kemudian pergi ke kamarnya, ia akan memikirkan rencananya disana.


"Janji kita akan segera terpenuhi, kamu tunggu lah saatnya tiba" ucap papa Qania entah apa maksudnya.

__ADS_1


Setelah mendapat ide, Qania berjalan kembali ke kamar Arkana. Ia mengetuk dan memanggil nama Arkana namun tidak ada jawaban. Sudah beberapa menit ia menunggu dan akhirnya ia mengirim pesan pada Arkana bahwa ia menunggunya di pantai dekat kafe penginapan.


Saat sampai di pantai, Qania melihat ada kerumunan orang yang sepertinya sedang terjadi sesuatu disana. Rasa penasaran mendorongnya untuk mendekat. Ternyata disana Arkana tengah berkelahi dengan seorang pria yang tidak lain adalah Fandy.


Dengan keras Qania berteriak sehingga membuat keduanya menghentikan pertikaiannya.


"BERHENTIIIII..!!!!" teriak Qania.


Saat Arkana menoleh ke arah Qania, dengan cepat sebuah tinju mendarat ke wajah Arkana sehingga meninggalkan bekas memar disana. Arkana tersungkur, untung saja salah satu pengunjung disana dapat meraih tubuhnya yang hampir saja jatuh.


"Fandy kamu jahat banget sih, sebenarnya mau kamu apa hah?" teriak Qania sudah sangat kesal.


"Aku mau kamu Qania" tegas Fandy.


"Kurang ajar" teriak Arkana emosi.


"Kamu dengar baik-baik ya, aku nggak akan mau sama kamu. Aku sudah punya pilihan yang jauh lebih baik daripada kamu. Jangan pernah mengganggu aku lagi" teriak Qania sambil berjalan ke arah Arkana kemudian memeluk erat tubuh Arkana di hadapan orang-orang disana.


"Lo lihat dan dengar sendiri bukan, jadi lo sebaiknya jangan merusak apa yang sedang baik-baik saja. Salah lo sendiri sudah meninggalkan dia. Dia pantas di bahagiakan dan itu bukan bersama lo" tegas Arkana.


Qania membawa Arkana menuju ke kamar Arkana. Setelah mereka duduk diatas tempat tidur barulah Qania melihat wajah Arkana yang memar itu. Ia panik karena disana tidak ada kotak obat untuk merawat Arkana.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Arkana yang heran melihat tingkah Qania yang terlihat gelisah.


"Aku mengkhawatirkan luka di wajahmu dan disini tidak ada kotak obat. Kamu tunggu saja disini dan aku akan mencarikannya di luar" ucap Qania kemudian berdiri, namun Arkana menarik tangannya hingga Qania kembali terduduk di sampingnya.


"Hei sayang aku hanya sebentar, kasihan lukamu jika di biarkan" bujuk Qania.


"Give me a candy, itu adalah obat yang manjur" pinta Arkana.


Qania merogoh tasnya yang belum lepas dari gandengannya itu berusaha mencari permen.


"Nggak ada permen sayang, aku beli dulu ya" ucap Qania polos sambil terus memeriksa tasnya.


Arkana terkekeh dengan ucapan Qania tersebut, kemudian ia mendekatkan wajahnya pada Qania hingga saat Qania menoleh ke arahnya wajah keduanya begitu dekat, hanya sekitar lima sentimeter saja.

__ADS_1


Arkana menghembuskan napasnya hingga membuat mata Qania tertutup. Arkana mengecup kening Qania, kemudian setelahnya Qania membuka matanya kembali.


Pandangan keduanya saling beradu hanya mata mereka yang saling bicara. Entah ada dorongan apa yang membuat keduanya saling mendekatkan wajahnya hingga bibir keduanya saling menyatu, mengekspresikan perasaan masing-masing dalam pagutan bibir itu. Ciuman yang sangat dalam dan cukup lama mereka lakukan.


Saat Qania merasa kehabisan oksigen barulah mereka melepas ciumannya itu. Arkana secepat mungkin mendekap tubuh Qania.


"Aku sangat mencintaimu, sangat menyayangimu" ungkapnya.


"Aku juga sangat-sangat mencintaimu dan sangat-sangat menyayangimu" balas Qania mempererat pelukannya.


"Maaf karena sudah sering mengecewakanmu dan membuatmu menangis" lirih Arkana.


"Maaf juga sudah membuatmu kesal sehingga kamu terluka seperti ini" ucap Qania menahan tangisnya.


Keduanya menyatu dalam pelukan erat itu cukup lama, saling melepas rindu dan mengekspresikan rasa sayang keduanya. Begitu lama hingga keduanya merasa sesak bersamaan.


"Yuk lanjutin yang sudah tertunda" ajak Qania.


"Maksudnya?" tanya Arkana.


"Buat malam ini berkesan hingga kita tidak akan bisa melupakan malam ini" ucap Qania.


"Tapi kalau dia mengikuti kita?" tanya Arkana.


"Anggap saja dia hanya hembusan angin yang datang dan pergi begitu saja" jawab Qania.


"Baiklah tuan putri, mari kita mengukur jalan kota ini semalaman" ajak Arkana.


"Naik motor ya" pinta Qania.


"Tapi aku nggak bawa motor" ucap Arkana.


"Aku sudah menyewa sebuah motor dan kuncinya sudah ada padaku. Ayo" ucap Qania kemudian berdiri dan menarik tangan Arkana.


Dengan tersenyum bahagia Arkana menuruti keinginan ratu di hatinya itu. Ia ingin menghabiskan malam ini dengan membahagiakan kekasihnya itu.

__ADS_1


........


__ADS_2