Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Keputusan Rapat


__ADS_3

💐 Himne Teknik


Qania dan semua teman-temannya yang sedang menunggu di luar mulai merasa bosan karena sudah hampir sejam tapi rapat para dosen itu belum juga selesai. Entah apa yang mereka bahas sehingga membutuhkan waktu selama ini. Padahal dari luar sini sama sekali tidak terdengar suara gaduh dari dalam sana atau pun seperti suara perdebatan sama sekali tidak ada.


“Apakah ruangan itu ada peredam suara sehingga tidak kedengaran apapun dari sana?” pikir Qania.


“Guys, himne yuk. Bosan nih” ajak Risti.


“Ide bagus, yuk” sambut Rey.


Abdi yang memang tengah memainkan gitar itu langsung memulai intronya.


Sebagai bakti padamu


Tanah air Indonesia


Akal budi kan ku kembangkan


Di dalam jiwa panji persatuan


Fakultas teknik nan jaya


Syukur padamu Tuhan


Karunia telah engkau berikan


Sebagai mahasiswa teknik


Pengemban mulia cita-cita bangsa


Fakultas teknik nan jaya


Pengemban mulia cita-cita bangsa


Fakultas teknik nan jaya


 


Beberapa mahasiswa dari jurusan berbeda yang masih tetap berada di sekitaran anak-anak teknik ini cukup takjub dengan kesolidan mereka.


“Gila, anak teknik keren ya”


“Gue nggak nyangka mereka ternyata sekeren ini”


“Gayanya kelihatan buruk, tapi ternyata mereka sangat kompak dan berani”


Dan masih banyak lagi pujian-pujian yang mereka ucapkan dan itu tak luput dari pendengaran beberapa mahasiswa teknik. Senyum tergambar di wajah mereka karena akhirnya fakultas lain mengakui kekaguman mereka.


“Qania, kamu sama teman-teman yang tadi silahkan masuk” panggil pak Angga.


“Baik pak” jawab Qania kemudian mengajak teman-teman yang dimaksud pak Angga tadi.


💐 Ruang rapat


Qania dan yang lainnya segera mengikuti pak Angga, dengan rasa gugup menanti hasil rapat dari para dosen tersebut.


Tak lama setelah mereka masuk, pintu yang sudah di tutup itu ada yang mengetuk.


Tok..

__ADS_1


Tok..


Tok..


“Silahkan masuk” sahut pak Angga.


Jreng..


Qania dan teman-temannya terkejut karena yang baru saja masuk itu adalah Larasati Devana Bramantio.


“Maaf sebelumnya, ada apa ya pak saya di panggil kemari?” Tanya Laras dengan memasang senyum termanisnya.


“Kamu silahkan duduk di sana dulu” tunjuk pak Angga ke arah Qania dan yang lainnya.


“Baik pak” ucap Laras.


Ketika Laras berbalik, ia sangat terkejut melihat Qania dan teman-temannya tengah berada di tempat yang akan ia datangi. Ia menatap ke arah Qania yang juga tengah menatapnya dengan tatapan sinis.


“Pelakor” sindir Qania dengan suara pelan namun masih terdengar oleh Laras dan juga teman-teman Qania.


Laras yang masih dendam dengan kejadian semalam hanya bisa mengepalkan kedua tangannya geram, kalau saja ini bukan di ruangan rapat dan ada banyak dosen di sana serta ada papanya, maka ia ingin sekali membalas perlakuan Qania padanya.


Laras menenangkan hatinya, ia langsung saja duduk di dekat Qania yang memang duduk di bangku ujung dan masih menyisahkan satu bangku yang kosong di sebelahnya.


“Harap tenang semua, rapat akan kita mulai kembali dan kali ini kita sudah akan membahas hasil akhir dari rapat kami tadi, jadi mohon simak baik-baik” ucap pak Haris menerangkan.


Ruangan menjadi hening seketika setelah pak Haris mempersilahkan pak Bram untuk menyampaikan hasil rapat mereka.


“Terima kasih kepada rekan-rekan mahasiwa sekalian karena sudah memperjuangkan keadilan di kampus kita tercinta ini. Dari hati saya yang paling dalam, saya sangat kagum akan keberanian kalian yang tidak rela jika salah satu dari kalian mendapatkan ketidakadilan. Dan saya dengan sadar memuji kebersamaan dan kesolidan kalian dan saya mengakui itu hanya ada di fakultas Teknik”


Jeda, pak Bram menghela napas panjang. Senyum masih terus terukir di wajahnya, meski pun ia tahu saat ini nama baiknya tengah dipertanyakan.


“Saya tidak tahu pak” jawabnya acuh, ia hanya fokus dengan ponselnya.


“Baiklah kalau begitu nanti juga kamu akan tahu dengan sendirinya”


“Kembali lagi ke hasil rapat kami barusan, kami semua sepakat untuk memberikan Qania Salsabila kesempatan untuk kembali melakukan ujian final..”


“Appaaa..?” tanpa sadar Laras yang kaget tersebut menjadi pusat perhatian.


“Ada apa saudari Larasati Devana, apakah anda keberatan dengan ucapan saya barusan sehingga memotong pembicaraan saya?” Tanya pak Bram dengan bibir tersenyum kecut pada putrinya itu.


“Eh tid..tidak pak, maaf. Silahkan lanjutkan” jawab Laras malu.


“Apa yang papa lakukan? Sia-sia dong rencanaku, arghhh” batin Laras merintih.


“Oke saya lanjutkan, dan kamu Qania apakah benar kamu sudah menyelesaikan tugas besar dari mata kuliah yang di ajarkan oleh bu Intan?” Tanya pak Bram menatap Qania.


“Sudah pak, bahkan saya membawanya saat ini” jawab Qania mantap, ia memang sudah memperhitungkan hal ini jika akan dimintai bukti.


“Lo benar bawa Qan?” Tanya Rey berbisik.


“Tentu, aku sudah antisipasi memang Rey” jawab Qania sambil cekikikan.


“Good job sista” puji Rey.


“Boleh kami melihatnya?” Tanya pak Bram.


“tentu pak” jawab Qania, ia mengeluarkan tugas besarnya tersebut kemudian berjalan ke depan dan menyerahkannya pada pak Bram.

__ADS_1


“Nilai A plus, sungguh memuaskan” puji pak Bram. “Pak Haris saya ingin bertanya kepada anda sebagai dosen dari fakultas teknik sekaligus dekan. Apakah fungsi dari tugas besar ini?” Tanya pak Bram sambil menatap ke arah pak Haris yang berada di sebelah kirinya.


“Nilainya merupakan penentu dari lulus tidaknya mata kuliah tersebut pak. Jika pada mata kuliah saya, sempurna atau pun tidak nilai ujian final itu bukan pengaruh. Saya akan meluluskan mahasiswa saya jika tugas besarnya sudah selesai, dan terpaksa memberikan nilai D atau E jika tidak mengerjakannya” jawab pak haris dengan tegas.


“Terjawab sudah bukan, dengan ikut atau tidaknya Qania dalam ujian final tentu nilainya sudah ada. Lalu kenapa bisa kosong bu Intan?” Tanya pak Bram dengan lembut namun terdengar mengerikan dengan seringainya.


“Itu.. itu.. itu karena..”


“Itu karena anda melakukan tindak diskriminasi dengan tujuan nepotisme yang dibantu oleh saudari Larasati Devana” bentak pak Bram.


“Papa tahu dari mana?” gumam Laras yang kini menjadi gugup dan sangat panic.


“Saya bahkan malu menyebutmu anak Larasati” gumam pak Bram, ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sambil memejamkan matanya.


“Dan kau Intan, bisa-bisanya kau mengkhianati mahasiswamu hanya karena iming-iming dari mahasiwa yang sama sekali tidak memiliki status di jabatan rektorat, sungguh ironi” cibir pak Bram masih dengan mata tertutup.


Bu Intan hanya bisa menunduk, saat rapat tadi ia sudah di cerca habis-habisan oleh kakaknya ini. Dan saat ini ia kembali dipermalukan di hadapan mahasiswanya. Sungguh ia merasa nasibnya begitu malang, dan harga dirinya seolah diinjak-injak. Malu, itulah yang ia rasakan saat ini sehingga membuka mulutnya pun sudah tidak bisa. Ia merasa begitu bodoh karena sudah menuruti permintaan keponakannya itu tanpa menimbang bahwa mahasiswa yang akan di curangi ini merupakan mahasiswa paling berpengaruh di kampus.


“Pak Haris silahkan lanjutkan” lanjut pak Bram yang kini sudah kembali ke posisi duduknya, ia mengabaikan rasa malu yang diperbuat oleh adik dan anaknya.


“Baik pak. Jadi Qania, apabila kami memintamu untuk melakukan ujian final saat ini juga apakah kamu bersedia?” Tanya pak Bram.


“Tentu saja saya bersedia pak” jawab Qania tanpa ragu.


“Baiklah, tolong Abdi bawakan satu bangku untuk Qania. Kami akan melakukan ujiannya saat ini juga” pinta pak Haris.


“Baik pak” sahut Abdi, kemudian ia melangkah sambil mengangkat kursi dan meletakkannya di dekat Qania.


"Semangat Qan" bisik Abdi setelah meletakkan kursi tersebut.


"Thanks brother" ucap Qania sambil tersenyum manis.


“Silahkan duduk Qania” ucap pak Haris.


Ketika Qania duduk, pak Angga datang dan memberikan Qania kertas ujian serta soal ujian yang sudah di ambil dari ruangan bu Intan sebelumnya.


“Baik Qania, dari sepuluh soal tersebut kami hanya ingin kamu mengerjakan lima soal saja yaitu soal ke satu, empat, enam, delapan dan sepuluh dalam waktu dua puluh menit. Dimulai dari sekarang” ucap pak haris yang dijawab anggukan oleh Qania.


Dengan santai Qania mulai menuliskan jawabannya, sementara teman-temannya di belakang sangat gugup menunggu hasilnya.


"Semoga Qania bisa" bisik Rey kepada teman-temannya.


"Kita doakan semoga dia berhasil" sambung Baron.


"Aamiin" ucap mereka bersamaan.


“Kamu pasti bisa Qania, ibu yakin” batin bu Lira.


“Anak ini seolah tidak ada beban saat mengerjakannya, padahal saya sudah memilihkan soal dengan jawaban yang sangat sulit namun dengan santai dia menerimanya. Kamu memang hebat Qania, saya bangga memiliki kamu di fakultas saya. Kamu tidak ingin membiarkan dirimu di permalukan dan kamu menunjukkan taringmu. Hebat kamu Qania, sepertinya kamu memang menguasai materinya” puji pak Haris dalam hati.


“Aduh gimana nih kalau Qania berhasil, apa yang bakalan papa lakuin ke aku ya?” Laras terus berpikir dan pikirannya terus membuatnya panic dan semakin takut saat melihat papanya yang terus mengawasinya lewat tatapan mata.


“Maafkan ibu Qania, maaf ibu sudah membawamu ke masalah ini. Semua berimbas ke ibu, karier ibu dipertaruhkan saat ini. Semua karena gadis nakal itu” gurut bu Intan dalam hati.


“Lihat saja kalian berdua, kalian akan menerima balasan dari perbuatan kalian” pikir pak Bram sambil terus melirik anak dan adiknya yang diam membisu secara bergantian.


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


 

__ADS_1


__ADS_2