Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Pajak Pernikahan


__ADS_3

Setelah melaksanakan shalat subuh, Qania langsung bergegas ke rumah Elin. Sahabatnya itu sedari tadi sudah menunggunya di rumah dan sudah mengirimkan ratusan pesan di ponsel Qania. Qania hanya bisa menghela napas dengan kelakuan sang sahabat. Untung saja rumah mereka berhadapan, jika tidak Qania akan melewati dinginnya subuh untuk menuju ke rumah Elin.


Qania berpapasan dengan anak, adik dan Papa-nya yang baru pulang dari Masjid. Mereka saling bersaliman kemudian Qania pergi menuju ke rumah Elin. Sementara Arqasa katanya akan kembali tidur.


Di depan rumah Elin sudah begitu ramai orang berlalu-lalang dengan kesibukan mereka masing-masing. Qania membalas sapaan mereka dan sambil berjalan menuju ke kamar Elin.


Tokk … tokk … tokk


“Masuk.” Elin menyahuti dari dalam.


Qania membuka pintu dan langsung tersenyum manis pada calon pengantin yang saat ini baru saja memulai proses pendandanannya. Elin memutar bola matanya jengah begitu Qania berjalan mendekatinya. Sementara Qania, ia hanya terkekeh melihat Elin yang sedang kesal kepadanya. Qania tahu itu dan ia semakin senang menjahili sahabatnya itu.


“Mbak, tolong rias sahabat saya ini dengan riasan yang sangat menakjubkan. Jadikan dia gadis tercantik hari ini. Saya ingin setiap pasang mata yang melihatnya berdecak kagum. Bisa kan, Mbak,” pinta Qania sambil menatap pantulan wajah Elin di cermin.


“Pasti bisa Mbak, serahkan saja kepada saya,” jawabnya dengan percaya diri.


Elin tersenyum malu, dalam hati ia sangat bahagia mendengar permintaan Qania itu.


“Aku tinggal dulu ya. Nanti kalau aku datang kamu udah harus cantik seperti Cinderella,” ucap Qania mengedipkan sebelah matanya.


“Mau kemana ih?” cegat Elin.


“Aku mau bantu-bantu lah. Bosan aku kalau harus nungguin kamu di make up,”  jawab Qania.


“Tapi kamu masih hutang penjelasan ke aku Qan,” rengek Elin.


“Ya aku nggak mungkin jelasin itu ke kamu saat kamu tengah di dandani. Ntar Mbak-nya kerepotan saat kamu terus mengoceh saat dia sedang bekerja. Nanti riasan kamu jadi jelek kalau kamu mendengar ceritaku. Nggak jadi cantik lagi. Ntar Yoga masuk ke kamar kamu malah nggak ngakuin kamu sebagai istrinya,” ledek Qania.


“Ngeles, terus aja cari alasan Qan,” sindir Elin.


“Hahaha, bye sayangku,” ucap Qania segera keluar dari kamar Elin sebelum sang sahabat semakin kesal padanya.


Elin mendengus kesal. Pintu kamar sudah ditutup kembali dan perias itu sudah mulai merias wajah Elin.


Di dapur Qania sedang bercengkrama dengan para tetangga dan keluarga Elin yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk acara akad nanti. Sesekali terdengar gelak tawa dari para ibu-ibu termasuk Mama Qania saat ibu-ibu kompleks bercerita.


“Kolombus lagi kita hari ini,” ucap bu Nia.


“Ya, kita memang kelompok ibu-ibu tukang bungkus, hihihi,” ucap Bu Anti.


“Benar. Saya juga sudah menandai makanan yang itu,” timpal Bi Eti.


“Kalau Mami Ar yang mana nih, biar Ibu kolombusin?” tanya Bu Anti.


“Saya mah kalau bisa semuanya aja Bu. Saya doyan makan soalnya,” jawab Qania.


“Wah cantik-cantik doyan makan tapi nggak gemuk-gemuk juga ya Qan,” ucap Bu Nia.


“Saya nggak percaya kalau Mami Arqasa itu doyan makan,” ucap bu Anti.


“Ibu-Ibu saja yang tidak tahu kalau non Qania itu sarapannya dua piring. Makan siang juga nambah. Sore ngemil dan makan malam pun nambah Bu,” ucap Mama Alisha.

__ADS_1


“Masa sih Bu?” tanya Bu Anti tak percaya.


“Tanya aja sama Qania,” jawab Mama Alisha.


Seketika ibu-ibu yang ada disana menatap Qania dengan penuh tanya.


“Saya memang makannya banyak Bu. Emang badannya aja yang nggak mau gemuk. Kalau nggak percaya boleh deh saya tinggal di rumah ibu-ibu sehari semalam aja, buat jadiin bukti,” gurau Qania.


“Boleh dong. Saya akan menyediakan banyak makanan kalau Mami Ar mau nginap di rumah,” ucap Bu Nia.


“Bisa diatur Bu,” sahut Qania.


Mereka pun tertawa bersama sambil mempersiapkan masakan mereka. Bu Nia adalah koki kepercayaan kompleks mereka karena ia sudah sana-sini diundang untuk menjadi juru masak setiap kali ada hajatan. Rumahnya pun tak begitu jauh, disebelah rumah Nenek-nya Tosan.


 


.... . ....


 


“Saya terima nikah dan kawinnya Felin Renanda binti Dafa Lesmana dengan mahar tersebut dibayar tunai.”


“Bagaimana para saksi sah?” tanya penghulu.


“Saahhhh.”


Jawab para saksi diikuti oleh teriakan tamu yang ikut mendengarkan prosesi ijab qabul tersebut.


Sahabatnya yang dulu selalu putus cinta itu akhirnya melabuhkan hatinya pada Prayoga yang dulunya selalu ia hindari dan yang tidak tahu malunya terus saja menggombalinya dan akhirnya mereka berjodoh juga. Kutemukan jodohku di lokasi KKN adalah judul yang tepat untuk kisah Elin dan Yoga, pikir Qania.


“Selamat Lin, udah sah jadi istri orang,” ucap Qania setelah ia menyeka air matanya dan memasang senyuman terbaiknya.


“Makasih Qan, aku bahkan nggak nyangka dia yang bakalan jadi jodohku,” isak Elin. Bisa Qania lihat mata itu berkaca-kaca.


“No, jangan nangis di hari bahagia ini baby,” ucap Qania sambil mengusap bahu Elin.


“Selamat ya Dek, akhirnya kamu nikah juga sama Yoga,” ucap Kak Syifa yang juga turut menemani Elin di dalam kamar.


“Terima kasih Kak,” ucap Elin.


Tak lama kemudian pintu kamar dibuka, Mama Elin datang kemudian memeluk puteri satu-satunya itu.


“Selamat Nak, sekarang kamu udah sah menjadi istri orang. Tugas Mama dan Papa udah selesai. Kamu udah jadi tanggung jawabnya Yoga. Ingat, harus jadi istri soleha ya,” ucap Mama Tiara, Mama Elin sambil memeluk puterinya.


Elin terisak, ia baru merasakan ternyata menikah itu juga merupakan sebuah perpisahan. Ia akan berpisah dari kedua orang tuanya dan akan membangun rumah tangganya sendiri.


Terdengar suara MC yang mengatakan bahwa pengantin pria akan memasuki kamar untuk melaksanakan prosesi pembatalan wudhu.


Tak lama kemudian Prayoga, penghulu dan fotografer datang. Sesuai tradisi, jika pengantin pria bisa mendapat izin untuk memasuki kamar pengantin wanita, maka ia harus melemparkan uang dari ventilasi yang ada di pintu. Qania yang tadi tengah bersedih karena teringat pernikahannya yang tidak di hadiri oleh kedua orang tuanya kini menjadi bersemangat untuk menjaga pintu.


“Nggak boleh masuk kalau belum lemparin jajan ya Yog,” teriak Qania yang tengah bersandar di dinding pintu. Elin, Syifa dan Mama Tiara terkekeh melihat Qania. Tak lama Kak Syifa dan satu sepupu Elin turut bergabung bersama Qania.

__ADS_1


“Pajak Yog, pajak,” lanjut Qania.


“Qan, elo kan udah kaya raya, masih juga lo minta pajak dari gue,” keluh Yoga sambil merogoh saku celananya.


“Beda ceritanya tuh. Udah lempar aja, daripada aku nggak bukain,” teriak Qania.


Yoga menghela napas kemudian ia melemparkan uang dari balik ventilasi. Qania, sepupu Elin dan Kak Syifa saling berebut uang tersebut. Padahal hanya pecahan uang seribu koin dan yang paling besar itu  hanya satu lembar uang seratus dan satu lembar uang lima puluh ribu. Sisanya uang koin. Ketiganya begitu heboh memunguti uang tersebut hingga Elin dan mama-nya tertawa.


“Udah boleh masuk belum? Atau pajaknya masih kurang?” tanya Yoga mulai kesal.


Qania tertawa kemudian ia membukakan pintu untuk Yoga dan rombonganya, “Silahkan,” ucapnya.


Prosesi pembatalan wudhu pun telah dilaksanakan diikuti penandatanganan buku nikah. Pengantin baru itu digiring menuju ke pelaminan.


Acara akad nikah itu berlangsung cukup meriah. Qania berulang kali mengambil foto bersama pengantin tersebut. Arqasa yang sedari tadi menunggunya sambil duduk di kursi tamu terus memanyunkan bibirnya. Ia sudah lelah tadi beberapa kali berfoto dan sekarang Mami-nya masih belum puas juga.


“Mami, Mami. Ar udah ngantuk banget nih,” keluhnya saat sang Mami sudah berjalan ke arahnya dan Qania hanya tertawa.


“Yuk pulang sayang,” ajak Qania sambil mengulurkan tangannya. Meskipun malas, Arqasa pun menyambut uluran tangan wanita cantik yang ia panggil Mami itu.


“Mami ih malu-maluin. Cuma Mami tahu yang heboh foto-foto di atas tadi,” ucap Arqasa saat mereka memasuki halaman rumah mereka. “Ih turunin Ar, Mi. Ar udah gede, berat Mi,” keluhnya saat Qania tanpa aba-aba langsung menggendongnya.


“Biarin aja, Mami mau puas-puasin gendong Ar sampai Mami udah nggak sanggup buat gendong Ar,” ucap Qania. Ia agak kesulitan saat menaiki tangga.


“Hmm, terserah Mami. Tapi ingat, nanti malam jangan foto-foto kayak tadi lagi,” peringat Arqasa.


“Kamu nggak tahu sih sayang, foto-foto itu seru lho. Ntar kalau kamu udah gede dan teman kamu nikah kamu pasti bakalan heboh juga kayak Mami,” ucap Qania.


“Nggak bakalan. Kecuali ….”


“Kecuali apa?” tanya Qania dengan penasaran karena melihat raut wajah Arqasa penuh binar. “Sayang tolong bukain pintu,” pinta Qania dan Arqasa pun membukakan pintunya dan langsung dibuka oleh anaknya.


“Kecuali di hari pernikahan Mami dan Om Tristan,” jawab Arqasa kemudian membenamkan kepalanya di bahu Qania. Sontak Qania memelototkan matanya.


“Hmm, terserah Ar aja. Mami hanya ingin kamu bahagia,” ucap Qania kemudian menurunkan anaknya di atas sofa.


“Bukan hanya Ar, tapi Mami juga harus bahagia,” ucap Arqasa.


Qania yang sedang berjongkok sambil membuka sepatu Arqasa pun mendongak, bibirnya menyunggingkan senyuman. “Kebahagiaan Mami adalah ketika Mami melihat Ar bahagia. Apapun akan Mami lakukan untuk Ar bahagia karena itu adalah sumber kebahagiaan Mami,” ucap Qania.


Arqasa membungkuk memeluk Mami-nya. Ia sangat bahagia memiliki Qania sebagai orang tua tunggalnya. “Makasih Mi. Mami yang terbaik,” ucap Arqasa.


Qania membalas pelukan hangat tersebut, “Dan Ar adalah yang terindah untuk Mami,” timpal Qania. “Ya udah, yuk bobo,” ajak Qania kemudian menggandeng tangan Arqasa ke tempat tidur.


Qania memeluk Arqasa untuk menidurkannya. Ar sangat suka ketika akan tidur punggungnya di elus ataupun ditusuk-tusuk. Qania mengecup puncak kepala Ar ketika melihat anaknya tersebut sudah terlelap.


“Kau menang Tristan. Kau berhasil merebutku melalui kelemahanku. Sangat pintar,” gumam Qania sambil melihat ponselnya yang sedang menampilkan pesan dari Tristan.


Hei calon makmum, aku merindukanmu


 

__ADS_1


__ADS_2